Sosok Inspiratif : Nicholas Saputra

Nicholas Saputra. Ga hanya ganteng dan memikat, tapi gw juga sepakat sama satu hal : dia mengutamakan pendidikan formal daripada segala hal yang ia tekuni. I mean, pendidikan formal disini adalah jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA dan Kuliah.

Banyak orang yang menekuni seni mengatakan bahwa mereka tidak mengutamakan pendidikan karena passion mereka bukan disitu, jangan dipaksakan. Ada yang sampe tiba2 cabut sekolah lah demi belajar musik, ato jadinya males-malesan. Okelah kalau mau konsentrasi penuh sama passion yang disukai, tapi percaya deh, meraih pendidikan yang baik juga akan menunjang keprofesian kalian sebagai seniman yang sukses. Dunia seni saat ini sudah sangat ketat persaingannya, orang2 yang punya bekal pendidikan yang baiklah yang bisa cerdik untuk bertahan, bahkan untuk melejitkan namanya.

Gw ga mengatakan ketika seseorang memprioritaskan pendidikan formal tuh berarti harus sukses di pendidikan, seperti punya IPK cumlaude, lulus cepet, atau yang masih SMA tuh dapet rengking 5 besar, trus masuk universitas favorit, dsb. Bukan itu. Memprioritaskan berarti mengusahakan sebaik-baiknya. Ketika memprioritaskan pendidikan, sudah seharusnya mengusahakan yang sebaik-baiknya di pendidikan. Mengusahakan sebaik-baiknya ya berarti rajin. Rajin itu bukan masalah bakat, tapi masalah sikap, dan semua orang bisa menjadi rajin dan tekun. Percaya deh, kasarnya sebego-begonya seseorang, pasti ada lah yang nyatol di otak kalau dia rajin. Belakang pisau pun jika diasah, niscaya tajam. Percaya atau ngga, sadar atau ngga sadar, orang yang serius, rajin dan tekun sama pendidikannya itu bakal keliatan pengaruhnya sama cara dia berpikir, cara dia berbicara pada situasi tertentu dan cara dia bertindak. Singkatnya, berpengaruh besar pada attitude.

Ga mungkin ada orang yang ga suka segala bidang apapun di pendidikan formal. Seni pun ada pendidikan formalnya. Maka pilihlah hal yang disukai di pendidikan formal, jadilah serius dan rajin. Ketika orang benci kuliah dengan dalih menghambat kreativitas, padahal jelas-jelas udah kuliah di jurusan yang sesuai dengan bakatnya, let’s think. Are you really serious on your passion or are you such a lazy person or are you just hate the rules? 😀

Kecuali ada orang yang secara tes psikologi terbukti IQnya kurang, namun bakat kreativitasnya tinggi. Itu adalah kasus yang berbeda.

Mungkin ada beberapa orang yang ngomong,”Ngapain sih kuliah, mending kaya gue langsung terjun kerja ke bakat yang gue punya,” atau ,”Ngapain sih kuliah kalau ujung2nya jadi pengangguran juga?”. Kalau ada pertanyaan kaya gitu, gw jadi inget sama kata-kata guru matematika SMA gw, Pak Tasripin :

Kalau memang pada akhirnya nasibnya menjadi pengangguran, jadilah seorang pengangguran yang sudah sarjana. 

Ngga ada ilmu pendidikan yang ngga berguna. Jangan hanya melulu memikirkan soal uang, passion atau popularitas. Milikilah pendidikan dan akhlak yang baik di tengah masyarakat saat ini, niscaya akan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Come on, man, negeri ini udah penuh sama orang-orang egois. 

Oke, sekian tulisan random tengah malam gw. Maaf kalau di tulisan ini gw terkesan sotoy. Gw cuman mau mengutarakan opini aja. Tirulah Nicholas Saputra, bukan Olga Syahputra *lho.

See you in another post. Bye!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s