Rasa Memiliki

Ditemani laptop yang batrenya masih penuh, segelas McFlurry Oreo dan lagu-lagu tahun 2000an, disinilah gw terdampar di No-Smoking Area McD BIP. Bukan terdampar sih, lebih tepatnya mendamparkan diri. Tumben banget disini lagi sepi. Mungkin karena sekarang hari Rabu, bukan malam minggu. Di ruangan gw sekarang cukup lengang, hanya ada satu geng yang nampaknya kumpulan anak-anak kuliah tingkat 1 ato 2, sekumpulan dua orang cewe yang nampaknya sahabatan, ada satu orang yang lagi asik makan sendirian dan (tentu saja) ada sepasang kekasih. Gw seneng kalo berada di tempat yang bisa bikin gw bebas sendirian dan ga usah khawatir ketemu orang yang gw kenal. BIP beberapa tahun lalu adalah salah satu tempat yang gw hindari kalau pengen jalan sendirian, atau minimal harus sama temen kalau mau kesini supaya ga keliatan kagok. Sekarang sih bodo amat. Atau inikah dunia yang harus gw hadapi menjelang dewasa? The world without friend, go everywhere as stranger. Tapi sebagai orang yang ga suka dengan kebisingan dan menikmati kesendirian, gw sih suka-suka aja.

Oke, Mc Flurry gw habis, mari saatnya gw menulis dengan serius, haha.

Gw akhir-akhir ini merenungkan tentang rasa memiliki. Kenapa kita sebagai manusia harus punya rasa memiliki, ketika kita tertarik akan sesuatu? Ketika ada seorang pujangga yang bilang kalau ‘Cinta itu tidak harus memiliki’, oke gw setuju, emang ga harus, tapi ga usah munafik deh, ketika kita cinta otomatis kita punya hasrat ingin memiliki kan? Itu adalah hukum alam yang dimana keduanya ga bisa dipisahkan.

Akhir-akhir ini gw melihat kejadian yang berhubungan dengan rasa memiliki.

Ada dua orang, pria dan wanita, secara status mereka bukan sepasang kekasih lagi, namun di satu pihak masih memiliki hasrat untuk terus memiliki, sedangkan pihak yang lain hasrat itu telah menguap dan ditelan angin. Hingga akhirnya hanya jarak yang mengungkapkan hasrat mereka yang sebenarnya. Hanya jarak yang bisa mengubah hati mereka itu menjadi 180 derajat dan sadar akan satu hal.

Ada seorang perempuan yang merasa dirinya biasa saja dan tidak ada yang istimewa dalam dirinya, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang bapak-bapak yang justru terkesan dengan dirinya yang biasa itu. Ternyata sang bapak tersebut tidak pernah merasakan kehadiran anak gadis dalam hidupnya, karena dia hanya punya satu anak laki-laki. Sang bapak secepat kilat mengutarakan perasaanya, ingin memperlakukan si gadis sebagai anaknya. Si gadis yang notabenenya bukan berasal dari keluarga broken home, malah keadaan keluarganya sangat baik, jadi bingung dan bertanya-tanya, ‘Aku harus bagaimana? Aku  ga mungkin punya dua bapak! Dan aku sayang sekali dengan orang tua kandungku yang sudah membesarkanku seumur hidupku. Aku ga bisa memperlakukan orang itu seperti orang tuaku karena aku baru mengenalnya beberapa hari ! Dan gilanya sekarang ia memintaku untuk memanggilnya Ayah???’.

Ada sesosok pria yang harus menelan kenyataan pahit, melihat mantan kekasihnya mempersiapkan pernikahan dengan orang lain. Dia sesungguhnya setuju kalau mantan kekasihnya itu bersanding dengan lelaki lain, namun apa dikata karena hasrat ingin memiliki itu belum pergi.

Ada seorang ibu yang memandang anak gadisnya dengan tatapan sendu. Si gadis tidak tahu bahwa seorang ibu yang menatapnya itu ternyata adalah ibu kandungnya. Karena satu dan lain hal, si gadis harus dibesarkan dengan orang lain. Ketika sekarang mereka kembali dipertemukan, seperti ada perjanjian tidak tertulis bahwa orang yang membesarkan si anak gadis tersebut lebih pantas disebut ibu dibanding dirinya yang terpaksa harus meninggalkan sang gadis saat belia. Tidak ada yang membolehkan gadis tersebut menyebut dirinya sendiri sebagai ‘ibu’, bahkan bumi dan langit pun setuju. Ditambah lagi tidak ada anak lain yang ia punya, sekedar pelipur lara dan menghilangkan rasa ingin memiliki yang semakin hari semakin menggebu akibat kodrat yang dimilikinya seorang ibu. ‘Bunda rela kamu bersama orang tua yang lain, tapi Bunda sayang sekali sama kamu, nak!”

Keempat contoh cerita di atas akan menjadi indah kalau rasa memiliki itu hadir di dalam hati semua pelaku. Tidak ada yang merasa bertepuk sebelah tangan, tidak ada yang merasa kehilangan dan tidak ada yang merasa tidak diacuhkan.

Gw? Gw senang melakukan hal-hal sederhana seperti olahraga bersama nyokap-bokap gw sabtu pagi di komplek rumah, trus pas pulang makan gorengan bareng. Nonton tivi bareng di ruang keluarga pas pulang kerja, trus ketawa-ketawa ngomongin ga penting. Atau bareng-bareng makan tempe goreng dadakan pake sambel kecap buatan papah. Kami bertiga punya rasa memiliki yang kuat satu sama lain. Gw ga sanggup ngebayangin kalau sampe harus kehilangan mereka.

Dekaplahlah rasa memiliki itu erat-erat, ketika orang yang kita harapkan ternyata juga memiliki rasa yang sama. Karena biasanya ada serpihan sesal yang mengisi ruang yang ditinggal oleh rasa memiliki. Jagalah rasa itu baik-baik.

Demikian perenungan singkat gw. Jalanilah hidup ini sebaik-baiknya karena hidup itu hanya satu kali. Nikmati setiap detik kebersamaan dengan orang yang kita sayangi. Serangkaian kata-kata klise yang kerap kali diremehkan banyak orang.

Bye readers!

wpid-img-20141005-wa0010.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s