Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 1-2)

Day 1, 27 Desember 2014. Tiga paragraf pertama ditulis ketika perjalanan pergi di dalam mobil pake hape butut gw. Sisanya dikembangkan sendiri di Bandung karena gw takut mabok kalo kelamaan liat layar hape dalam mobil dan karena gw terlalu menikmati liburan ini 🙂

Hello readers! Saat ini gw lagi dalam perjalanan menuju Jogja untuk berlibur. Tadi gw berangkat sekitar jam 07.30 dan cuaca masih mendung hingga saat ini. Dalam post kali ini sebisa mungkin gw akan merekam jejak gw selama di perjalanan, ataupun di tempat-tempat yang gw kunjungi selama liburan.

Jadi gini ceritanya. Gw, bokap, nyokap ikut liburan ke Jogja bareng rombongan keluarga besar dari pihak nyokap. Sejauh yang gw tau, di Jogja nanti bakalan ada beberapa agenda besar seperti reuni dengan keluarga besar Trah Wonoharjo Duto (gw curiga kalo gw bakalan ketemu temen gw di reuni ini!), ziarah ke makam Eyang Canggah Wonoharjo Duto, merayakan tahun baru di Kaliurang dan hari-hari liburan terakhir di jogja bakal ditutup dengan menghadiri acara nikah sodara gw, Mba Yemima. Sebagai tambahan mungkin gw akan kabur sendiri buat ngunjungin candi-candi yang ada di Jogja. Rencana liburan gw terdengar membosankan ya? hehehe. Tapi entah kenapa gw feeling excited banget sama liburan kali ini! Terutama gw penasaran sama reuni Trah besok, kira-kira temen gw yang mana nih yang ternyata masih ada hubungan sodara sama gw, hehe.

Posisi gw sekarang terduduk di kursi bagian belakang, sebelahan sama koper-koper. Untung gw bukan tipe orang yang gampang mabok. Gw seneng-seneng aja sih, setidaknya saat ini gw bisa menikmati menulis blog ini pake hape butut gw sambil ngedengerin playlist mp3 favorit gw, juga sambil menikmati pemandangan dari balik jendela mobil. Bahagia itu sederhana 🙂

Kami melewati Jalur Selatan Jawa untuk menuju Yogyakarta. Berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa perbedaan antara Jalur Selatan dan Jalur Utara a.k.a Pantura a.k.a jalur Anyer-Pamanukan 1000 km yang pembangunannya diprakasai oleh Daendles saat penjajahan Belanda :

– Kondisi jalan Jalur Selatan lebih mulus daripada jalan di Jalur Utara. Banyaknya jalan berlubang di Jalur Utara kemungkinan besar karena terlalu banyaknya truk-truk besar yang melintas disana.

– Pemandangan di Jalur Selatan lebih “hijau” daripada Jalur Utara. Sebetulnya menyenangkan juga kalau lewat Jalur Utara karena kita bisa melihat pemandangan pantai utara Jawa. Tapi kebayang dengan gersang dan teriknya kan kalau lagi dalam perjalanan siang bolong, belum lagi ditambah debu yang berterbangan kalau terbawa angin. Sedangkan pemandangan Jalur Selatan pada umumnya adalah perbukitan dan persawahan yang hijau 🙂

– Sebagian besar restoran di tempat pemberhentian atau Rest Area di Jalur Selatan pada umumnya terlihat lebih “resik” daripada restoran-retoran di Jalur Pantura. Entah kenapa restoran-restoran di Jalur Utara terkesan lebih jorok, mungkin karena sugesti yang melekat erat dengan tempat makan para supir truk 😛

Kalau lu perhatiin perbedaan yang gw deskripsikan, sudah jelas kalau gw lebih suka untuk melewati Jalur Selatan Jawa, hehe. Someday gw akan membeli mobil sendiri dan kembali melintasi Jalur Selatan Jawa dan mencari surga-surga yang tersembunyi, Amiinn 🙂

Sepanjang jalan gw memperhatikan banyak hal yang hanya akan gw temui di Indonesia. Ada beberapa rumah yang gw lewati sedang mengadakan hajatan, entah itu hajat nikah atau sunatan, tapi yang jelas semua acara hajat itu punya persamaan : musik dangdut dengan volume maksimal. Ada beberapa mesjid yang nampaknya sedang dibangun dan pasti di depannya ada sekumpulan pemuda yang meminta uang pake jaring sama pengendara mobil yang lewat sambil diiringi oleh musik kasidahan. Setiap beberapa ratus meter perjalanan pasti gw melihat ada tukang tambal ban (ga ada profesi tukang tambal ban di dunia ini selain di Indonesia!). Semakin mendekati Jogja, maka dapat terlihat kalau gaya atap rumah penduduk semakin menjurus ke arah gaya atap rumah pendopo Jawa. Yang gw paling bikin gw heran, kenapa di atap rumah penduduk yang gw lewatin sepanjang Jalur Selatan banyak yang pake parabola! Yang paling gw suka dari rumah-rumah penduduk tersebut adalah gw masih menemukan gaya kusen jendela yang kuno.

JendelaJendela 2

Perjalanan dari Bandung hingga Kaliurang, Yogyakarta memakan waktu hingga 16 Jam. Harusnya perjalanan ini bisa ditempuh hanya 10 jam, tapi karena Eyang Rahmi (orang tertua dalam rombongan) mabuk darat, maka kami sering berhenti, sehingga lamanya perjalanan menjadi lebih lama. Di Kaliurang kami menginap di suatu wisma, Wisma Millenium namanya. Tenyata Kaliurang tuh dingin banget ya, sebelas dua belas dibanding Lembang lah, tapi kayanya tetep dinginan Lembang sih. Wisma ini tergolong reccomended lah. Tempatnya bersih, tempat tidurnya oke, makanannya lumayan enak, ada fasilitas air hangat dan televisi, pokonya tempat ini menurut gw cocok banget untuk kumpul keluarga besar.

Day 2, 28 Desember 2014. Untuk post berikut ini akan banyak memakai istilah yang membingungkan. Pelan2 yo bacanya biar ngerti 🙂

Di hari ini gw pergi ke reuni Trah Wonoharjo Duto. Reuni keluarga super besar ini diselenggarakan di rumah Eyang Buyut Putri Ponco, di daerah Kulon Progo, Wates. Berbeda dengan Eyang Buyut Putri Ponco, Eyang Buyut gw yang bernama Eyang Pardjinah, sudah tidak memiliki tanah maupun jejak keturunan di Yogyakarta, karena hampir semuanya sudah pindah ke Jawa Barat. Dugaan gw kalo gw bakalan ketemu sama temen di reunian ini ternyata salah, ga ada satupun yang gw kenal disini. Canggung bgt rasanya ketika gw harus salaman sama banyak orang yang ga gw kenal, tapi ternyata orang-orang itu masih ada hubungan sodara sama gw.

Suasana Reuni Keluarga Besar Trah Wonoarjo Duto

Suasana Reuni Keluarga Besar Trah Wonohardjo Duto

Kalau dirunut dari Canggah gw, ternyata beginilah garis keturunan gw dari yang tertua:
– Eyang Canggah : Ki dan Nyi Wonoharjo Duto (konon katanya masih ada turunan ningrat Keraton Yogyakarta)
– Eyang Buyut Putri : Pardjinah (Anak ke lima dari sembilan bersaudara, pekerjaan sebagai carik / juru tulis desa, kakak dari Eyang Buyut Putri Ponco yang merupakan anak ke tujuh)
– Eyang Putri : Soedilah (Artinya ‘cahaya’, anak ke enam dari enam bersaudara, pekerjaan sebagai bidan. Harusnya ada gelar’Rr’ di depan nama Eyang Uti, cuman beliau ngerasa gelar ningrat itu gw penting)
– Ibu alis nyokap gw : Woeryanti Soemninaring Aju (Anak ke enam dari enam bersaudara, pekerjaan guru)
– Gw, Kristyarin Dwi Anggritya : (Anak ke dua dari dua bersaudara, pekerjaan Geologis #turunandarimanabro)

Jadi nomer yang gw dapet dari garis keturunan itu adalah 5662.

Overall, gada yang menarik sih di reunian ini. Gw juga ga dapet kenalan baru, lagi2 di reunian tu gw gaulnya sama sepupu gw sendiri. Palingan nyokap sama bokap gw aja sih yang kenalan sana sini. Tapi di acara ini akhirnya gw tahu, bahwa Keluarga Wonoharjo Duto adalah keluarga yang terpandang pada masanya. Selain karena masih adanya keturunan ningrat pada keluarga ini, anak-anak dari Eyang Canggah Wonoharjo Duto memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang baik, sehingga banyak di antara sembilan bersaudara itu menjadi guru, carik (juru tulis desa) atau lurah. Eyang Canggah Wonoharjo Duto konon dikenal sebagai seorang yang suka bertapa mendem (bertapa dengan menguburkan diri dalam tanah untuk sekian lama. Beliau bernafas melalui pipa bambu yang ditancap ke dalam tanah). Dan sejak lama juga gw tahu bahwa anak-anak dari Eyang Buyut Pardjinah, termasuk Eyang Putri gw sendiri, mengecap pendidikan yang terbaik pada masanya. Eyang Putri gw pernah cerita, kalau dia dan kakak-kakaknya adalah satu-satunya keluarga di desanya yang bisa membaca plus berbahasa belanda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Satu hal yang paling menarik di reunian kali ini adalah dimana MCnya yang bernama Mas Doni itu mirip banget sama Nicholas Saputra! Gilaa…kehadiran doi tuh ibarat oase di tengah teriknya Jogja! Gemesin banget lah, haha *kya. Gw ketemu Nicholas KW Super aja udah jerit2, gimana kalo ketemu sama yang asli ya? Mimisan trus pingsan kali gw, wkwk.

Sumpah ini foto bukan gue yang ngambil. Bude gw yang motret dem-diem. Sayang doi dipotret dari pinggir, jadi ga keliatan sisi nicsapnya :D

Sumpah ini foto bukan gue yang ngambil. Bude gw yang motret dem-diem. Sayang doi dipotret dari pinggir, jadi ga keliatan sisi nicsapnya 😀

Pulang dari reunian, gw dan kerluarga besar gw berziarah dan nyekar ke kuburan Eyang Canggah Wonoharjo Duto. Konon dulu katanya bangunan makamnya pake kelambu gitu. Tapi berhubung kelambunya udah rusak, maka kelambunya dibuang pas renovasi. Berikut foto makam Eyang Canggah saat ini:

P1060286

P1060285

Di tengah kompleks pemakaman yang kelam itu, berdirilah satu-satunya bangunan makam Eyang Canggah gw yang bercat hijau terang. Mungkin ini adalah bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang berketurunan ningrat. Kijing yang ada di atas makam Eyang Canggah bentuknya aneh, kaya bentukan perahu gitu dan terbuat dari kayu. Mungkin itu bentuk batu nisan yang lagi nge-trend kala itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Ada cerita lagi tentang Eyang Canggah gw yang lain yang gw denger dari Eyang Putri Surahmi, kakak dari Eyang Putri Sudilah. Eyang Canggah gw dari garis keturunan Eyang Buyut Kakung namanya Ki dan Nyi Moelyoprawiro. Berbeda dengan Eyang Canggah Wonoharjo Duto yang berasal dari kalangan menak, Eyang Canggah Moelyoprawiro berasal dari kalangan rakyat biasa, namun cerdas dan pekerja keras. Kenapa dibilang begitu? Eyang Canggah Kakung Wonoharjo Duto adalah seorang yang memiliki profesi yang langka pada zamannya, yakni yang berkaitan dengan pembangunan pendopo-pendopo besar dan penting pada saat itu (Seorang Arsitektur atau Insinyur Teknik Sipil kali ya). Eyang Rahmi bilang kalau Eyang Moelyoprawiro adalah seorang yang tangguh, dimana dia selalu bekerja keras untuk menghasilkan uang sendiri, berbeda dengan Eyang Wonoharjo Duto yang tidak perlu bersusah payah untuk mencari uang karena sebagai seorang ningrat beliau sudah kaya dari sananya. Hasil jerih payah Eyang Moelyoprawiro terlihat jelas dari rumah pendopo yang ia miliki yang begitu luas, luas sekali kata Eyang Rahmi. Eyang Rahmi menggambarkan penampilan Eyang Canggah Kakung sebagai seorang Jawa yang berjenggot panjang putih dengan rambut digelung (entah kenapa gw ngebayanginnya kaya pendekar silat, hehehe).

Hal penting yang gw dapet dari reuni ini adalah gw menyadari bahwa gw berasal dari keturunan yang terpandang akan pendidikan yang dimiliki. Eyang-eyang gw begitu semangat bersekolah dan tidak menyia-nyiakan kesempatan sekolah yang mereka miliki. Selain itu mereka juga bekerja keras supaya anak-anaknya bisa sekolah, termasuk Eyang Buyut kakung gw yang rela menjadi petani kelapa untuk mendapatkan uang. Dengan pendidikan, maka leluhur gw menapaki kehidupan yang lebih baik daripada penduduk kampung di sekitarnya.

Tidak cukup dengan bangga, gw yang seharusnya juga mewarisi sifat pekerja keras pun seharusnya meneladani para leluhur gw 🙂

Hari ini ditutup dengan selfie alay mampus sama sepupu gw yang udah akil baliq dan punya pacar, haha. Ya ampun dek, beda banget kamu dibanding tiga tahun yang lalu! ckck.

1419854242151

Sekian cerita gw di Jogja pada tanggal 27-28 Desember 2014, dilanjut pada post berikutnya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s