Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 7-8)

Day 7, 2 Januari 2015

Hari ini adalah hari pertama gw berjalan-jalan lagi di tahun 2015. Di hari ini gw, nyokap dan bokap memisahkan diri dari rombongan keluarga besar karena mau menghadiri acara pernikahan sepupu jauh gw yang diadakan esok harinya tanggal 3 Januari 2015. Maka gw, nyokap dan bokap memutuskan untuk menginap sehari di rumah teman nyokap gw, Tante Wiwin, yang berada di area Ambarukmo, Kabupaten Yogyakarta.

Pagi hari kami nge-drop tas di rumah Tante Wiwin, lalu dua jam kemudian langsung cabut lagi ke kota buat jalan-jalan. Hari itu gw langsung putuskan untuk berkujung ke situs Tamansari lantaran gw udah lama penasaran dengan tempat tersebut. Katanya sih tempatnya bagus.

Dari Ambarukmo kami berangkat menuju ke daerah Malioboro (again!), lalu dari sana kami bertiga naik becak untuk menuju ke Pasar Ngasem yang merupakan pasar tradisional.

Gw berdoa supaya Tuhan memberkati tukang becak itu lantaran kami bertiga cuman pake satu becak, trus tukang becaknya mau aja dibayar cuman Rp. 10.000,00 (Maaf ya paak). Dari Pasar Ngasem, kami berjalan melalu gang untuk menuju Situs Tamansari. Gang yang berada di antara pemukiman padat penduduk dan terkesan agak kumuh juga. Bokap gw cerita, terakhir dia kesini pas jaman kuliah, daerah pemukiman ini jauh lebih kumuh lagi.

Jpeg

Lorong menuju Situs Tamansari, Yogyakarta, yang berbentuk kubah melengkung

Ternyata tempatnya memang indah banget! Pintu gerbangnya penuh dengan ornamen ukiran yang antik, cukup membuat para pengunjung seperti gw jatuh hati pada langkah pertama. Tiket masuknya sangat murah, cukup Rp. 5000,00 saja (tanpa tour guide). Gw percaya, kepopuleran situs ini sudah mendunia, terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang mengunjungi tempat ini.

Jpeg

Pintu gerbang luar bagian timur Situs Tamansari, Yogyakarta. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Saat itu cuaca panas terik luar biasa, sukses membuat kulit gw menjadi gosong (padahal besoknya mau ke kondangan, hiks). Tapi hal itu ga menghentikan penasaran gw untuk berkeliling situs, mengamati setiap detailnya dan mengambil foto dari sudut pandang yang tepat. Langit biru cerah saat itu semakin mempercantik Situs Tamansari.

Jpeg

Gerbang dalam barat Situs Tamansari. Kamera : Android Asus Zenfone 4

 Jpeg

Jpeg

Kompleks pemandian Tamansari menghadap utara. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg

Jpeg

Menara di bagian tengah, konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara (Sorce : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114214_PN

“Umbul Binangun”, sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja (Source : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114017_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, berlatarkan langit biru. Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114048_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, terfokus pada kolamnya. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg Jpeg

Gerbang luar bagian timur. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Layaklah tempat ini disebut “Istana Air” karena pada situs ini terdapat beberapa kolam yang berfungsi sebagai tempat pemandian para raja keraton. Ketika memasuki gerbangnya, mata kita disegarkan oleh pemandangan air di kolam beserta suara gemericik airnya.

Dalam berwisata kali ini gw lebih menikmati keindahan, keantikan dan keunikan arsitektur bangunannya, tanpa menyewa jasa tour guide untuk mengetahui sejarahnya. Mungkin ini kebiasaan jelek yang harus gw rubah, seharusnya  kalau bisa berfokus pada cerita sejarahnya juga dalam setiap tempat wisata yang gw kunjungi. Buat yang pengen tahu sejarah Situs Tamansari lebih lengkap dapat mengunjungi website ini http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta.

Gw lega melihat bahwa situs bersejarah ini boleh terawat dengan baik oleh pemerintah setempat. Kalau tempatnya bersih, kan semakin enak diliat, semakin menambah daya tarik bagi para wisatawan.

Oiya, di sekitar situs ini dapat kita jumpai pohon yang menghasilkan Buah Kepel. Gw dikenalkan buah ini pertama kalinya oleh Pak A. T. Rahardjo a.k.a dosen pembimbing gw sendiri sekitar dua tahun yang lalu. Beliau yang tertarik dengan ilmu Biologi (karena ia adalah seorang ahli Palinologi) memperkenalkan buah itu sebagi “Buah Keraton”. Menurut Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepel), tumbuhan kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Dahulu penggunaannya secara tradisional terbatas di Kesultanan Yogyakarta. Hmm, mengingat khasiatnya yang unik, nampaknya gw akan menanam buah ini di halaman rumah gw sendiri nantinya.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Pada Hari Ke-7, gw, nyokap dan bokap menghadiri resepsi Mba Yemima, sepupu jauh gw. Kisah gw menjadi Pager Ayu disana diulas pada potingan blog gw yang berikut ini https://kristyarin.wordpress.com/2015/02/03/make-up-and-hair-do-november-2014-januari-2014/

Jpeg

Gereja tempat resepsi pernikahan Mba Yemima. Gw kapan yaa 😦

Nantikan postingan selanjutnya, travelling report terakhirn gw hari ke-9 di Yogyakarta. See you! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s