New Job, New Life

Hai readers! Hello friends! How’s ur life? I hope no news means good news, like me 🙂

Saat ini gw sedang berada di daerah Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Diperkirakan gw akan nge-kost di sini dalam waktu yang cukup lama, karena gw mendapatkan pekerjaan yang baru sebagai peneliti analisis palinologi di LEMIGAS. Baru dua hari yang lalu gw pindah ke sini, diantar kakak dan ipar tercinta dengan sedikit tatapan khawatir dan tidak tega melepas adiknya yang harus tinggal sendirian di ibu kota, mencicipi kerasnya Jakarta.

Sejak bulan lalu gw mulai membiasakan diri untuk menjelajahi ibukota. Demi mendapatkan pekerjaan disini, gw harus berdesak-desakkan di KRL bersama ribuan manusia lain saat pagi hari dan sore hari, harus beradaptasi dengan suhu lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan Bandung, harus naik ojek kesana-kemari di saat matahari sedang tinggi-tingginya, harus jadi wanita tangguh yang waspada akan sekitar gw dan harus mandiri dalam mencari petunjuk jalan. Gw menjalani semua itu sendirian, tanpa keluarga, apalagi pacar. Kakak gw yang berdomisili di Depok dan bekerja di daerah Pluit, Jakarta Utara hanya memantau gw via Whats App. Temen gw ga habis pikir kalau gw bisa keliling Jakarta sendiran, karena menurut dia itu menyeramkan. Keras memang, tapi percaya ata tidak, gw sungguh menikmatinya. Sesederhana gw menikmati stasiun demi stasiun yang gw lewati selama menaiki KRL. Sebagai orang Bandung, gw sama sekali tidak kaget menghadapi hal-hal yang seperti itu, hampir sama sekali tidak mengeluh. Atau mungkin faktanya gw sudah melewati hidup yang jauh lebih keras daripada itu? Mungkin juga. Haha.

Bukannya gw tidak suka tinggal di Bandung. Gw sangat mencintai Bandung dengan segala kenyamanannya. Banyak orang yang saklek hanya ingin kerja dan tinggal di Bandung dan sebisa mungkin menghidari Jakarta. Bahkan temen gw yang sedang tinggal di Jerman bilang kalau “Bandung is the most comfortable place in the world,”. Tidak perlu taksi apalagi limosin, kota Bandung bisa dijelajahi dengan nikmat bahkan dengan menggunakan angkutan umum. Hanya saja untuk seorang yang lahir dan besar di Bandung seperti gw, segala hal yang ada di dalamnya tidak spesial lagi. Gw ada di suatu titik gw jenuh dengan segala kenikmatan hidup di Bandung dan ingin keluar dari zona nyaman itu. Selama dua tahun kemarin gw kerja di konsultan eks dosen gw dengan gaji lumayan, tinggal bersama orang tua dan menikmati setiap titik di kota Bandung bersama teman-teman dekat setiap minggunya. Tapi cukup sudah, gw butuh tinggal dan kerja di tempat yang lebih menantang. Gw haus pengalaman baru. Gw khawatir, keterlenaan gw akan kenikmatan hidup tidak akan memecut gw untuk menggapai impian yang lebih tinggi lagi. Gw sadar, masih banyak yang harus gw kejar dan lakukan di hidup ini. Itu semua tidak akan terjadi kalau hidup gw stagnan di tempat yang sama. Iya gw tau gw perempuan, trus kenapa? Duduk manis di tengah hidup yang nyaman bukan tujuan hidup seorang perempuan. Dan bukan juga ,”Ah, kita kan perempuan, santai aja lah.”

Perempuan, meskipun pada akhirnya ia harus di rumah penuh waktu demi mengurus anak dan suaminya, bukan berarti dia menjadi pemalas. Menjadi ibu rumah tangga juga harus dilakukan dengan kerja keras. Bukan hanya mikirin diri sendiri, buang-buang duit suami dan jadi pengawas pembantu.

Maaf keluar topik, hehe. Lanjut. Titik jenuh gw akan kenyamanan itu bertepatan dengan gw harus berhenti dari tempat kerja gw sebelumnya karena proyek lagi sepi. Sedih? Tentu saja. Asal kau tahu, menjadi pengangguran itu mengerikan, karena harus menghadang belati yang berbentuk pertanyaan orang-orang, yang melukai lubuk hati. Kuping ini rasanya trauma ngedenger pertanyaan, “Sekarang kerja dimana, Rin?”. BOOM! Tapi gw berusaha untuk tetap berpengharapan dalam Tuhan. I’m pretty sure He has a master plan for me. Meskipun sebagai manusia seringkali gw khawatir dan hampir putus asa. Kali ini gw sangat berharap untuk bekerja atau melanjutkan sekolah di luar kota Bandung. Maka gw mengirimkan lamaran kemana-mana dan sebulan kemarin gw melakukan beberapa interview dengan beberapa perusahaan. Karena sulitnya mencari pekerjaan (akibat faktor harga minyak yang menurun drastis), gw melebarkan sayap tidak hanya sebagai geologis, namun juga sebagai tenaga pengajar (gw ga mau melamar sebagai pegawai bank atau management trainee, bukannya apa-apa, gw ngerasa ga bakat sama sekali di ranah tersebut). Puji Tuhan, gw kemarin sempat diterima menjadi pengajar fisika di sebuah bimbel yang cukup terkenal di Jabodetabek. Ceritanya cukup ajaib, karena campur tangan Tuhan di dalam proses penerimaannya. Ada senengnya, ada sedihnya. Senengnya karena disana gw langsung menjadi pengajar tetap dengan gaji yang cukup dan tunjangan yang lengkap. Sedihnya, berarti gw harus “gantung palu” alias tidak menjadi geologis dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. 😦

Ajaibnya lagi, di hari-hari terakhir, sesaat sebelum gw tanda-tangan kontrak sebagai pengajar bimbel, senior gw pas kuliah menghubungi gw bahwa ada lowongan di LEMIGAS sebagai peneliti analis palinologi. Gambling, gw memutuskan untuk tidak jadi tanda-tangan kontrak bimbel dan mengirimkan lamaran pekerjaan ke LEMIGAS walaupun belum tentu diterima (HRD di tempat bimbel itu bersedia untuk menerima gw lagi kalau gw gagal, tanpa harus tes lagi, baik banget!). Gw sangat mengharapkan pekerjaan ini, karena sesuai dengan ilmu yang gw pelajari selama kuliah, dan juga membuka kesempatan bagi gw untuk berkarir menjadi seorang geologis-mikropaleontologis—sebuah cita-cita yang sempat gw ucapkan dahulu kala. Lalu setelah menyampaikan berkas, gw menunggu dengan harap-harap cemas—salah—LUAR BIASA CEMAS! Di saat itulah gw belajar untuk berserah kepada Tuhan walaupun rasanya sangat amat sulit.

And finally, Praise The Lord! Gw diterima bekerja disana. Seneng banget rasanya. Seneng juga bikin orang tua seneng. 🙂

Gw mensyukuri, bahkan setiap hal yang sederhana yang ada di dalam sana. Cubicle gw yang baru di kantor berada tepat di samping jendela dengan pemandangan pohon yang besar, cukup untuk meredam kejenuhan ketika jenuh bekerja. Ada meja, kursi, poster gambar polen di tembok dan mikroskop (lemari segera menyusul). Ada minuman hangat setiap pagi yang diantarkan oleh office boy setiap pagi. Selain itu, gw sangat menyukai kompleks perkantoran LEMIGAS. Areanya asri dan luas sekali. Sekeras apapun kondisi jalan Ciledug Raya di luar sana dengan kemacetan yang semakin hari semakin menjadi, atmosfirnya langsung berganti menjadi teduh ketika memasuki area LEMIGAS. Dan yang paling penting adalah, senior-senior gw di sana ramah-ramah sekali dan mau menjawab segala pertanyaan gw. So far, I get very good first impression, Let’s see another suprise next 😀

DSCN0229

Maap ya meja gw berantakan banget, hehehe

Snapshot_20151118Snapshot_20151118_3

DSCN0138

Now here I am. Di kamar kost yang pengap, dimana kipas angin harus menyala terus tanpa henti. Kelaparan tengah malam, dan tiba-tiba rindu dengan masakan mama. Tapi gw belum ingin pulang untuk sementara waktu. Gw ingin menikmati Jakarta dengan segala hal yang ada di dalamnya dengan rasa syukur yang berlimpah 🙂

Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik. 🙂

Bye Bandung. See you when I see you! Until Christmas then!

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 3 : 18)

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana (Amsal 19 : 21)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s