For Mr. & Mrs. Lonely

Tulisan ini gw buat untuk siapapun yang kesepian, siapapun yang merasa kaku dan sulit bergaul, yang merasa sulit untuk diterima di pergaulan, sulit untuk mendapatkan teman…

Gw pernah merasakan hal itu kok.

Ngomong-ngomong kesepian…

Pertama kali gw merasa kesepian yang benar-benar sepi adalah ketika kelas 2 SMP. Jujur aja, saat itu gw adalah masa-masa tersulit di hidup gw dalam bergaul. Susah bagi gw untuk mendapatkan seorang teman.

SD gw adalah sekolah swasta katolik, dimana pertemanan terasa mudah karena mungkin semuanya punya kesamaan : beragama Kristen Katolik atau Protestan. Ada juga beberapa yang muslim, namun sebagian besar adalah Kristen. Gw termasuk minoritas karena gw bukan keturunan Tionghoa, tapi gw ga pernah merasa benar-benar beda. Di saat beranjak remaja, semua anak kelas 6 punya kesukaan yang sama, suka komik Detective Conan dan MTV. Semuanya berjalan baik-baik saja, sebagaimana anak SD pada umumnya.

Tunggu, pada umumnya?

Ternyata perkembangan anak-anak SD di sekolah gw termasuk yang agak “terlambat” dibandingin anak-anak SD negeri. Terbukti ketika gw masuk ke SMP negeri, gw kaget. Banyak yang udah punya pacar, udah ngerti memamerkan lekuk tubuh dengan baju seragam yang ketat, belum lagi disana-sini banyak geng. Gw shock, teramat shock. Mungkin bisa juga waktu itu gw terkena culture shock. Apa-apaan nih?? Gw masuk sekolah macem apa ini??

FYI, temen gw di kelas 3 SMP ada yang udah ML, dan dengan polosnya cerita ke banyak orang *tepok jidat*

Asal tau aja, menjadi independen ga akan pernah bisa diterima di sekolah negeri, karena lu pasti bakalan dianggap aneh. Supaya bertahan, lu harus gabung di salah satu geng, Inilah hal yang paling sulit gw lakukan, karena gw anak SD dari kota Bogor, sendirian, dan rata-rata geng yang sudah terbentuk adalah gabungan dari anak-anak yang berasal dari sekolah yang sama. Gimana caranya mau masuk geng coba? Gw gabisa bahasa sunda, logat gw aneh sok2an kaya anak Jakarta. Ditambah lagi gw cenderung nerd dan seragam gw ga dimodifikasi jadi gaul. Selain itu, gw juga bukan tipe orang yang mau diatur-atur, atau ngemis-ngemis supaya diterima di salah satu geng, atau rela menjadi sama dengan anak-anak geng yang lain. Big no no.

Jujur aja, ga diterima di geng mana-mana bikin gw merasa kesepian. Gw sampe minta sama Tuhan supaya dikasih temen yang asik (taunya sampe kelas 3 pun Tuhan ga kasih gw geng teman yang asik, haha). Gw tuh pengen banget gaul, tapi gatau harus mulai darimana. Tapi meski begitu, gw punya satu sahabat yang awet sampe setua ini, namanya Sari. Gw kenalan sama Sari dari hari pertama masuk SMP, dan dari semua sahabat yang gw punya, gw ngerasa hanya Sari yang paling cocok sama gw. Ibaratnya kaya botol ketemu tutup gitu, klik banget, hehe. Thank God I found you, Sar! We are best friend forever ever after! Waktu SMA pun akhirnya gw diterima oleh sekelompok teman yang menerima gw apa adanya, kami terus bersahabat sampai sekarang.

P1050438

“Geng” gw waktu SMA 😀

Masa SMP dan SMA merupakan waktu-waktu gw yang berharga untuk belajar bergaul, belajar tentang interpersonal, belajar apa yang gw suka dan sebagian orang ga suka. Masa itu adalah masa-masa pencarian jati diri gw. Yang dimana gw akhirnya tahu bahwa :

  1. Gw ga suka ngegeng, tapi setiap tahun Tuhan kasih gw sahabat satu orang yang cocok (atau seenggaknya hampir cocok lah, hehe). Maka dari itu gw belajar untuk supel, bisa nyambung kesana-kesini, dari anak kecil sampe orang tua
  2. Gw kurang cocok temenan sama cewe. Bukannya gabisa, I mean gw kurang suka berada di tengah-tengah cewe yang jumlahnya banyak, yang dimana masing2 berusaha menonjolkan diri (Gw udah pasti tenggelam, haha). Susah dijelasin, pokonya gitu deh. Gw merasa lebih gampang nyambung gabung sama cowo. Mungkin karena cowo ga neko-neko dan suka ngelawak, sedangkan cewe sukanya ngomongin orang (ngaku, wkwk). Ngobrol sama cowo tuh lebih seru.
  3. Butuh keluwesan untuk bergaul. Gw tuh bingung untuk mengeluarkan pendapat, bingung harus bersikap (khususnya di depan orang yang baru kenal), bingung ini bingung itu, pokoknya kaku banget deh!!

Dengan pembelajaran di atas, gw ga perlu cari perhatian orang dengan apa yang gw punya. Gw waktu itu ga punya duit, jadi ga ada juga yang dipamerin. Tampang sama otak biasa aja, tapi gw berusaha mengenal orang dengan pendekatan interpersonal.

Dan Puji Tuhan pada saat kuliah, Tuhan menempatkan gw di tempat yang amat tepat. Dari langkah pertama gw masuk kuliah, gw langsung bertemu dengan kelompok yang amat sangat cocok. Gw bisa gabung di banyak kelompok, tapi gw ga merasa terikat harus menjadi sama dengan kelompok tersebut, gw akhirnya bisa menjadi independen tanpa harus diomongin. Ketika (Puji Tuhan) masuk jurusan geologi, gw punya kesempatan buat temenan sama cowo banyaaaaakkkkk banget. Dan di saat kuliah lah gw belajar untuk menjadi seorang yang supel dan tahu menempatkan diri di depan siapapun. Tuhan membentuk watak dan kepribadian gw secara luar biasa di saat gw kuliah. Tuhan mengabulkan permintaan gw untuk punya banyak teman pada saat gw kuliah. Terimakasih ya Tuhan 🙂

Siapapun yang bilang kalau masuk ITB bakalan tambah cupu, menurut gw salah. Justru di kampus yang katanya gaul  itulah yang menurut cupu, karena kalian hanya berkembang di geng kalian masing-masing. Pergaulan kalian sempit, paling mentok nongkrong di kafe tanpa menghasilkan sesuatu (Gw no mention yaa btw, hehe). Di ITB kalian bisa aktif di berbagai organisasi dan unit yang menambah lingkup pergaulan kalian menjadi luas. Ga hanya satu atau dua organisasi, tapi buanyaaakkkk!! Jangan takut ga kebagian organisasi gara-gara si populer menguasai unit sana-sini, kaum tidak populer pun (seperti gw, haha) kebagian tempat untuk mengaktualisasi diri. Di organisasi itu  juga kalian pasti menjadi pintar karena pembicaraannya berbobot, syukur-syukur dari nongkrong-nongkrong itu malah menghasilkan sesuatu. Kalian bisa bebas menjadi diri sendiri tanpa harus ikut-ikutan (selama itu positif yaa). Dan yang paling unik disini, ITB adalah miniatur Indonesia, sangat-sangat plural, oleh karena itu kita bisa belajar menghargai satu sama lain disini, ga ada yang namanya mayoritas atau minoritas disini. Di sini semua orang sama, semua orang terbuka, inilah kami mahasiswa ITB.

Dan di ITB juga gw belajar, menjadi gaul itu bukan masalah modis atau tidaknya seseorang. Gaul itu erat hubungannya dengan cara menjalin relasi, bukan penampilan. Gaul itu bukan fashionable, tapi fleksible. Keren itu bukan masalah baju, tapi masalah otak.

Ayo kuliah di ITB aja adik2, hehe. Jangan takut mahal, banyak beasiswa kok J *promosi almamater ndiri

Sekian tulisan gw kali ini, semoga boleh memberikan kekuatan bagi siapapun yang membutuhkan teman. Gw tau rasanya itu ga enak kok, tapi nikmatin aja prosesnya. Berusahalah untuk belajar hal yang baru setiap harinya dan belajar untuk terbuka. Awali perubahan itu dengan senyum tulus. Ada saatnya kok kalian memiliki teman yang sejati pemberian Tuhan.

Life is tough, so be tough life 🙂

See you!

Advertisements

5 comments

  1. Ariiiiin akhirnya gue bisa baca tulisam2 kamu. So inspiring bgt. Simple but influence. Suka sama statement kalo Gaul itu masalah fleksibel dan keren itu masalah otak 👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s