April 2015

Yesus Ku Memerlukanmu

Apa yang Kau ijinkan terjadi
Terkadang membuatku tak mengerti
Dan semua yang tak kupahami
Namun tanganMu menyertai

Kudengar suara lembut memanggil
Bri damai sukacita di hati
Satu hal kutahu Tuhan hadir
‘Tuk mendatangkan kebaikan

Reff :

Kau mengenal hatiku
lebih dari yang kumengerti
Kau mengenal jalan-jalan dalam hidupku
Dan smua yang terjadi
Membuatku lebih dekat padaMu
Yesus kumemerlukanMu

Short Fun Solo Trip : Jakarta

Solo travelling adalah seni dalam menikmati jalan-jalan dan jalan-jalan dalam menikmati seni -Kristyarin D. A

Seperti yang sudah gw janjikan, gw akan menulis tentang perjalanan gw ke Jakarta tanggal 10-11 April kemarin. Gw menjalani solo travelling ini dengan niat dan persiapan yang sangat mantap, termasuk meminjam kamera Vian segala. Meskipun amatiran, gw berpikir sebaiknya skill fotografi gw harus terus diasah.

Pergi melarikan diri dari Kota Bandung pada hari Jumat siang itu rasanya agak sedikit aneh, mungkin karena hari itu bukan hari libur. Cuaca panas terik, tapi sepi. Suasana stasiun sangat kosong. Gw nikmatin aja, seenggaknya saat itu gw ga ketemu sama orang yang gw kenal. Dan gw saat itu juga berharap gw ga ketemu siapa-siapa selama solo travelling sampai esok harinya. Haha, mungkin tersengar aneh ya, berlagak menjadi turis di negeri sendiri.

DSCF1929   DSCF1931

Stasiun Bandung. Camera : Fujifilm Finepix S4300

Seperti yang gw bilang di post sebelumnya, gw mendapat tiket kereta promo sehingga gw bisa mendapat tiket dengan harga murah. Dua tahun yang lalu bahkan gw pernah dapet tiket kereta promo ke Jakarta, kelas eksekutif seharga Rp. 21.500,00 sekali berangkat, dan saat itu gw dapet tiket untuk pulang pergi! Sayangnya gw kemarin ga dapet tiket promo semurah itu, tapi lumayan lah.

Tiket kereta kelas eksekutif (promo), Rp 69.000,00

Paling nikmat memang naik kereta eksekutif yang nyaman di siang hari dan duduk di dekat jendela. Perjalanan jadi ga kerasa karena bisa menikmati pemandangan di balik jendela. Di tengah perjalanan, menurut informasi yang gw dengar dari speaker pengumuman kereta, kereta yang gw tumpangi melewati terowongan kereta api terpanjang di Indonesia sepanjang lebih dari 800 m yang bernama Jembatan Sasaksaat dan juga melintas di atas jembatan bagi jalur kereta api yang tertinggi di Indonesia yang bernama Jembatan Cisomang (lebih dari 100 m).

DSCF1957

Dari Atas Jembatan Cisomang. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF1946

Pemandangan di balik jendela kereta. Camera : Fujifilm Finepix S4300.

Gw mengira kalau ga bakalan ada orang yang notice gw yang lagi sendirian. Tahu-tahunya sang manajer kereta yang mengecek tiket gw nanya,”Sendirian aja, neng?”. Gw hanya nyengir aja.

Sayang, di tengah segala kenyamanan itu jg, kereta gw sempat terhenti sekitar 15 menit karena kereta sebelah menabrak sepeda motor yang ditumpangi oleh sepasang suami istri beserta anaknya dan mereka meninggal di tempat. Turut berduka. Guys, jangan sekali-kali buat menerobos palang kereta api ya kalau kereta api mau lewat (bokap gw juga pernah sih, tapi nanti kalo beliau menerobos lagi gw marahin deh).

Akhirnya setelah 3 jam lebih, kereta gw mau sampai Stasiun Gambir juga!

Tunggu. Sesaat sebelum berhenti, gw melihat kejauhan di atas (rel kereta api berada di jembatan) ada gedung Galeri Nasional Indonesia dengan tulisan tiga dimensinya yang besar dan bewarna merah mencolok, berdiri di pekarangan gedung. Hmm, kalo ga salah gedung ini juga masuk dalam wish list gw kalau berkunjung ke Jakarta (gw mencari tahu lewat browsing). Masih buka ga ya kalo gw sekarang ke sana? Filmnya kan diputer jam 17.00, sekarang masih 15.20.

Liat nanti deh.

Keluar dari kereta, gw langsung disambut oleh cuaca Jakarta yang sangat panas, meskipun saat itu sudah sore. Stasiun Gambir lain dahulu lain sekarang, keadaannya menjadi lebih nyaman dan lebih baik. Tetap dengan tembok-ubin nya yang hijau, namun keadaannya lebih bersih. Kedatangan gw disambut oleh musik keroncong betawi betulan yang menentramkan, yang dimainkan secara langsung oleh para musisi tradisional paruh-baya. Toiletnya juga bersih, tanpa dipungut biaya kebersihan. Dua jempol untuk Stasiun Gambir, so classic, clean and comfortable. Sayang, gw tidak memotret para pemain band keroncong dan keadaan Stasiun Gambir pada siang itu.

Dengan bermodalkan intuisi dan penasaran, gw mencari pintu gerbang yang paling dekat dengan Galeri Nasional. Di luar pintu gerbang selatan Stasiun Gambir terlihat sederet tukang ojek yang nongkrong menunggu penumpang dan juga Galeri Nasional di seberang sana. Sebenarnya gw tergoda untuk langsung ke Taman Ismail Marzuki untuk menonton, tapi gw juga pengen ke Galeri Nasional. Maka gw terus berjalan sedikit, maka sampailah gw di seberang jalan dari Galeri Nasional yang tersorot megah oleh matahari sore. Sebenernya gw agak ragu-ragu untuk masuk, karena takutnya galerinya sudah tutup. Gw bertanya sama bapak-bapak yang terlihat baik hati, lalu katanya dicoba aja, kayanya belum tutup deh. Merasa semakin dimantapkan, akhirnya gw berjalan menyeberang menuju Galeri Nasional.

Ga hanya manajer kereta yang bertanya tentang kesendirian gw, satpam Galeri Nasional juga ikut-ikutan nanya dengan nada menggoda, “Sendirian aja mba? Cemewew-nya mana?”. Gw menjawab dengan tertawa aja. Jodohya masih disimpen Tuhan pak, ketemunya ntar lagi paling. Berdasarkan informasi dari sang satpam, ternyata Galeri Nasional buka hingga jam 6 sore. Horeee, gw berarti bisa kesana dulu dong, Tuhan baik banget!!

DSCF2016

Bangunan Galeri Nasional, Jakarta. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF1994    DSCF2007DSCF2017DSCF1993

(Kiri) Wallstreet Art at Galeri Nasional

Gw ternyata hari itu sangat beruntung. Hari itu bertepatan dengan Pameran Seni Rupa KARYA Mahasiswa Indonesia 2015. Dan gw bisa melihat karya-karya para mahasiswa senirupa Indonesia secara GRATIS!!!

Setelah ditanya satpam depan, saat itu gw kembali ditanya oleh mas-mas penjaga buku tamu ,”Sendirian aja mba?”. Gw berharap itu adalah pertanyaan yang terakhir sampe gw besok pulang ke bandung.

Kalo lagi solo travelling gini dan ga ada siapapun di sekitar kita, maka itu adalah kesempatan untuk memalsukan identitas. Saat gw menulis di buku tamu, gw mengaku dari Universitas Tarumanegara (mas-masnya curiga ga ya? Haha). Setelah itu gw langsung masuk ke Galeri B. Lalu ke galeri C. Kemudian ke galeri A.

Meskipun gw kurang mengerti seni, sebenarnya gw sangat menikmati karya-karya seni. Asik aja untuk menebak maksud dan menangkap kesan dari lukisan atau karya seni yang gw lihat. Gw kadang beberapa kali mengunjungi galeri lukisan (salah satunya Galeri Affandy di Yogyakarta), mengunjungi museum yang terdapat lukisan dan beberapa kali juga mengunjungi galeri yang dibuat setiap tahunnya oleh anak FSRD ITB di kampus ITB. Tapi galeri yang gw kunjungi saat itu di Galeri Nasional adalah galeri terbaik yang pernah gw lihat dan nikmati seumur hidup. Masalah penataan, jangan ditanya, sangat apik. Pencahayaanya sangat baik. Ditambah lagi dengan kenyamanan ruangan galeri yang dilengkapi fasilitas AC yang baik. Galeri ini tidak hanya menarik untuk dinilai, namun juga untuk menghibur. Sepuluh jempol deh buat semua karya yang ada di Galeri Nasional! Ga hanya lukisan, tapi berbagai macam karya tiga dimensi, bahkan film pendek juga dipamerkan dalam galeri ini. Tidak heran, karena karya-karya ini dikumpulkan dari para seniman muda terbaik Indonesia. Salut!

Berikut adalah karya terbaik yang gw foto dari Galeri B :

DSCF1963 DSCF1964

“Paradigma Perubahan Zaman” by Vilda Samandaru Mulyadika

DSCF1960

“Ayo Jokowi, Bangun Jokowi!” by Galang Aldinur Masabi

Berikut adalah karya terbaik yang gw foto dari Galeri C :

DSCF1969 DSCF1967

“Speed of Fashion” by Chatibah Silmi

DSCF1976

“Pilihan Untuk Bebas Keramik” by Ni Luh Gede Dewi Suputri

Berikut adalah karya terbaik yang gw foto dari Galeri A :

DSCF2004

“Mlampah Sasarengan” by Wahyu Sulehman

DSCF2012

“Hentakan Amarah” by Yohana

Kalau mau dan sempet, dateng aja ke Galeri Nasional. Pameran ini akan berlangsung hinggal 23 April (Tinggal hari ini loh, cepetan!!)

Gw pribadi menilai kalau galeri yang terbaik dalah galeri C.

Oya, sebagai penggemar toilet yang bersih, gw kasih nilai 9 deh buat toilet di Galeri Nasional dari skala 1-10. Haha.

Ya ampun, ga kerasa udah satu jam lebih gw berada di Galeri Nasional, dan jam sudah menunjukkan pkl 16.35. Panik, gw langsung setengah berlari mencari tukang ojek dan langsung meluncur ke Taman Ismail Marzuki (ongkos : 20ribu). Sampe di TIM, agak kebingungan juga mencari ruang bioskop Kineforum lantaran posisinya ada di area belakang banget. Tapi biar di pojokan begitu, gw agak sedikit kaget karena ada banyak pecinta film Indonesa yang berkunjung kesana. And guess what? Pas gw kesana tiketnya tinggal satu! Puji Tuhan bangeeettt…hampir aja, fyuhhh…Usut punya usut, ternyata kapasitas bioskopnya kecil, hanya 45 orang saja (tiba-tiba gw jadi inget bioskop kecil dekat SMP gw dulu di Jalan Lengkong bernama “Regent”). Gapapa deh duduk di kursi paling depan, yang penting gw dapet tiket! Ga lucu juga udah dateng jauh-jauh dari Bandung, taunya ga dapet tiket.

Saat itu sebenernya gw merasa kalo gw adalah cewe paling kucel sedunia (dari Bandung, pake ransel, baru naek ojek, rambut berantakan, muka kucel, napas ngos-ngosan), di tengah orang-orang Jakarta yang necis. Untung ga ada yang gw kenal, jadi ya bodo amaat.

DSCF2255

Tiket bioskop Kinefoum, SWITBOSH, Rp 25.000,00 saja!

Film yang gw tonton di bioskop Kinefoum pada saat itu adalah Someone’s Wife In The Boat Of Someone’s Husband. Hmmm…selama menonton film ini, gw sibuk menerka-nerka maksudnya di tengah pemandangan eksotis Pulau Sawai, Maluku. Ga ngerti. Film ini hanya berdurasi kurang lebih 45 menit, namun flow-nya yang sangat lambat membuatnya serasa 2 jam. Namun akhirnya kesimpulan yang gw tangkap adalah sebagian besar dari film ini menceritakan tentang merasakan perasaan cinta. Ketika kita jatuh cinta, seakan panca indera kita bisa merasakan dan mereguk aliran dari perasaan “aneh” itu. Lihat, dengar, rasakan. Duduklah di atas pasir tepi pantai, berdirilah di atas perahu, melayanglah di dalam air laut. Nikmatilah apa yang ada disana dengan menggunakan keenam panca inderamu. Mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan hati. Cerita filmnya sesungguhnya sesederhana itu.

Imagine a man, that you could feel, hear and sense through everything….everything

Gw menyimpulkan cerita film itu setelah keluar dari ruang bioskop. Sepertinya gw harus menonton untuk yang ke dua kalinya supaya gw mengerti.

Setelah pemutaran film ada sesi tanya jawab dengan sutradara, Edwin. Gw kira hanya gw sendiri yang ga ngerti maksud film ini, tahu-tahunya ada banyak orang yang sama seperti gw (gw menangkap dari pertanyaan yang mereka lontarkan pada sang sutradara). Pertanyaannya dan komentarnya pada kocak dan aneh-aneh. Seperti, “Thank you for showing me Mariana’s butt” (Itu cewe loh yang ngomong), “Apakah sengaja alur filmnya dibuat flat seperti dadanya Mariana Renata?”, “Kenapa shooting-nya harus di Pulau Sawai?”, “Kenapa pengambilan gambarnya sebagian besar statis, tidak dinamis,”, “Kenapa filmnya sangat minim dialog?”. Dan lain-lain. As usual, gw pengen nanya tapi malu, haha.

Dari sesi Q&A itu gw tau kalau film ini dibuat selama 10 hari. Sang sutradara nampaknya mengerjakan film ini sebagaimana halnya seperti mengerjakan suatu karya seni. Untuk mengekspresikan diri dan demi kepuasan diri. Dia tidak ambil pusing tentang persepsi orang-orang yang menonton karyanya, biarlah masing-masing orang memiliki kesannya sendiri-sendiri.

Film semacem ini memang ga ditayangkan di bioskop umum kaya empire XXI / Cinema 21 atau Blitz Megaplex. Hanya ditayangkan secara gerilya di bioskop kecil pada momen tertentu atau di kalangan komunitas pecinta film. Dan gw terharu ternyata banyak orang yang mencintai film-film Indonesia. Bravo!

Untitled

Suasana Q&A setelah pemutaran Someone’s Wife In the Boat of Someone’s Husband pkl 17.00 bersama @babibutafilm (source : twitter @kineforum) —–> gw duduk di pojok kanan depan 😦

Dari Taman Ismail Marzuki, gw naik bajaj biru BBG (Bahan Bakar Gas) menuju Stasiun Cikini untuk menuju rumah Eyang gw di Bogor. Lumayan nyaman juga naik bajaj di malam hari sambil menikmati belaian angin Jakarta. Suara dan getarannya ga sekeras bajaj jaman dulu yang bewarna orange (gw naik itu waktu SD!).

Naik kereta commuter line dari Stasiun Cikini menuju Bogor hanya Rp. 5000,00 saja. Namun berhubung saat itu bertepatan dengan peak hour, maka saat itu kereta penuh banget! Terpaksa gw harus berdiri sampe Stasiun Depok. Gw sampai di rumah eyang gw dalam keadaan tepar. Jarang-jarang gw menikmati mandi senikmat malam itu. Lalu gw tidur hingga esok pagi dengan sangat pulas.

DSCF2022

Mungkin ini alasannya gw menyukai gaya jendela kuno pada suatu bangunan antik : ternyata gw melihatnya setiap hari di waktu masih kecil. Camera : Fujifilm Finepix S4300

(Tulisan dilanjutkan tanggal 30 April 2015)

Keesokan harinya gw semangat bangun pagi untuk melakukan petualangan selanjutnya di Jakarta. Jam 9 pagi gw pamit lalu cabut dari rumah eyang, kemudian sarapan bubur dulu di dekat stasiun Bogor. Sampe di depan loket tiket kereta pun sebenernya gw masih bingung mau kemana dulu sebelum nonton film Kineforum jam 17.00. Bukan berarti gw belum searching sebelumnya dari internet, tapi karena gw sulit untuk memilih. Tapi akhirnya gw putuskan untuk ke Stasiun Gondangdia dulu aja, baru deh abis itu gw bakalan mikir lagi mau kemana. Tiket kereta dari Stasiun Bogor-Stasiun Cikini Rp. 5.000,00.

Kontras dengan waktu jam pulang kantor, naik kereta commuter line di siang hari tuh rasanya lega dan adem banget. Enak lah pokonya. Saking menikmatinya perjalanan dalam kereta commuter line, gw tidur dari Stasiun Bogor sampe Stasiun Cikini, satu stasiun sebelum Stasiun Gondangdia. Ternyata insting gw untuk bangun di deket tempat pemberhentian sangat akurat sekali, hihi. Maklum, jam terbang gw dalam naek angkot udah tinggi.

Masih dalam keadaan setengah nyawa gara-gara kebangun dari tidur siang, secara random gw memutuskan untuk ke Museum Nasional alias Museum Gajah yang konon katanya melegenda itu. Gw merogoh kocek sebesar Rp. 20.000,00 untuk naik ojek dari Stasiun Gondangdia ke Museum Nasional. Kalo masih ada waktu, setelah dari Museum Nasional mungkin gw akan berkunjung ke Museum Tekstil, atau ke museum-museum yang dekat dari Taman Ismail Marzuki.

Ternyata prediksi gw salah. Gw butuh waktu 3 jam penuh untuk berkeliling di Museum Nasional! That was the biggest museum building that I’ve ever seen! 

DSCF2225

Museum Nasional, Jakarta. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF2227

Camera : Fujifilm Finepix S4300

Kenapa gw suka banget wisata museum? Alesannya adalah bukan karena gw suka menelusuri sejarah. Gw hanya senang menikmati jejak dan hasil dari sejarah yang uniknya ga ada duanya. Selain itu, tidak lain dan tidak bukan karena berkunjung ke museum itu tiketnya pasti murah. Untuk standar Museum Nasional aja tiket masuknya Rp. 5.000,00.

DSCF2254

Tiket Museum Nasional

Untuk sekarang mungkin kocek gw hanya sanggup buat jalan-jalan murah. Tapi di masa depan gw yakin, pasti Tuhan kasih gw kesempatan untuk jalan-jalan mahal di dalam negeri maupun luar negeri, baik mahal akomodasinya (hotel, kendaraan, makanan, dll), maupun karena aksesnya yang sulit sehingga butuh peralatan yang ngga murah. Amiiinn.

DSCF2220

Siluet Ganesha. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF2068

Kenampakan Museum Nasional bagian dalam. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF2026

Lorong. Camera : Fujifilm Finepix S4300

Tiket masuk yang murah tidak mempengaruhi kenyamanan pengunjung museum. Segalanya serba terawat, rapi dan adem. Toiletnya juga bersih banget. Sama halnya dengan Stasiun Gambir, alunan musik tradisional juga menggema di Museum Nasiona, menambah suasana  asri. Good job Pemprov DKI!

Gw perhatiin banyak turis mancanegara yang berkunjung ke museum ini. Cuman bedanya sama turis lokal (kaya gue), mereka benar-benar menikmati melihat-lihat objek yang dipajang di museum tanpa memotretnya. Kalo gue saat itu ambil foto untuk melatih skill fotografi gw. Kalo sama temen mungkin gw akan sering groufie di dalam museum, kaya anak SMA ababil yang sering gw temui disana, haha.

Masuk Museum Nasional itu berasa berkunjung ke beberapa museum sekaligus dan serasa dibawa menjelajah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam satu waktu. Di dalamnya ada bagian yang memajang arca-arca dari berbagai situs purbakala di Indonesia, berbagai macam kain dan baju adat, peninggalan arkeologi zaman paleozoikum hingga neozoikum, replika rumah adat, berbagai macam keramik yang indah-indah dan berbagai macam accesoris yang sarat akan sentuhan etnik dari suku-suku yang ada di Indonesia. Ayo rame-rame datangi Museum Nasional! Dijamin kamu bakalan bangga tinggal di negara besar yang penuh oleh kebudayaan yang berbeda-beda!

DSCF2217

DSCF2031

DSCF2073

DSCF2129

DSCF2098

DSCF2193

DSCF2188

Keterangan gambar dari atas ke bawah : 1) Deretan pajangan arca di Museum Nasional 2)Baju adat wanita masyarakat Toraja 3)Patung kecil Ganesha 4)Replika rumah adat Minangkabau 5) Teko kecil keramik dari masa Dinasti Ming 6) Boneka anyaman bambu dari Bali 7) Satu set peralatan gamelan Banjar (Camera : Fujifilm Finepix S4300)

Sebenernya banyak banget foto yang gw ambil, maaf ya ga semuanya di-upload di postingan ini. Biar kalian penasaran dan mau datang ke Museum Nasional.

Masih penasaran?

DSCF2082

Ruang Rupa-Rupa Keramik. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF2169

Ruang Budaya Nasional. Camera : Fujifilm Finepix S4300

DSCF2136

Jendela. Camera : Fujifilm Finepix S4300

Dari Museum Nasional gw melenggang santai ke Taman Ismail Marzuki (lagi-lagi naik ojek, Rp. 20.000,00) dan makan siang disana. Kali itu gw belajar dari hari kemarin, gw ga mau ngantri tiket mepet dari waktu tayang filmnya. Dan kali ini lagi-lagi gw sangat beruntung. Biarpun gw ngantri dari satu jam sebelumnya, pas gw mau beli tiket ternyata tinggal tersisa tiga tiket lagi! Fyuhh…Puji Tuhan…nyaris aja gw pulang ke Bandung dengan kecewa :(.

DSCF2252

Tiket bioskop Kinefoum, PFTZ, Rp 25.000,00

Selama menunggu filmnya diputar, gw sempet ngobrol sama cewe yang namanya Dila. Doi merantau dari Flores dan kuliah di univ. swasta di Jakarta. Dia cerita kalau baru akhir-akhir ini aja dia suka dengan film Indonesia gara-gara pernah ikutan semacem festival film Indonesia. Film Indonesia tuh bagus-bagus loh, readers, jadi ayo kita dukung perkembangan film nasional!

Film Postcard From The Zoo ceritanya seru! Berbeda dengan film yang gw tonton sehari sebelumnya (Someone’s Wife In The Boat Of Someone’s Husband), kali ini gw mengerti dengan jalan ceritanya, walaupun gw yakin masing-masing penonton berbeda-beda menangkap maksud dari filmnya. Ciri khas dari sutradara Edwin.

Adalah seorang gadis yang sederhana bernama Lana, tumbuh hingga dewasa di kebun binatang. Lingkungan yang kecil membuat standar mimpinya sederhana : menyentuh perut jerapah. Suatu saat dia memiliki kesempatan untuk keluar dari lingkungannya melalui seorang pemuda yang ia perhatikan sejak lama. Mengenalnya membuat ia lupa akan mimpinya yang sederhana, menyangka dunia luar menawarkan mimpi-mimpi yang lebih menarik. Namun bukan sesuatu menarik yang ia raih, hanya ada realita yang menyakitkan. Sang pemuda menghilang begitu saja meninggalkan kehampaan di tengan kerumitan hidup. Namun kekosongannya berganti menjadi penuh harapan ketika ada mobil kebun binatang yang muncul di hadapannya, membawanya pulang….ke kebun binatang. Tidak hanya membawanya pulang, namun juga membawanya menuju mimpi sederhananya : menyentuh perut jerapah.

Cerita ini sungguh seperti hidup gw sendiri di masa lalu. Keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Sudah banyak mimpi-mimpi sederhana yang bisa gw capai, but the best is yet to come 🙂

Gw ga ikutan sesi tanya jawab karena gw udah keburu kehausan (aer mana aeerr…), jadi gw dari sana langsung cabut ke Stasiun Gambir dengan Bajaj BBG (Rp 15.000,00). Di Gambir gw sempetin buat foto-foto dulu.

DSCF2237

Stasiun Gambir. Camera :  Fujifilm Finepix S4300

DSCF2257

Tiket kereta kelas bisnis (promo), Rp 59.000,00

Kereta kelas bisnis memang ga senyaman kereta kelas eksekutif, tapi gw seneng banget lantaran ada colokan buat ngecas hape. Lumayan, jadi bisa ngegosip sama temen gw, biar jomblonya ga kerasa-kerasa amat di malem minggu, hehe :p

Puji Tuhan, gw sampai dengan selamat di Bandung pkl. 23.30.

Sekian cerita perjalanan gw di Jakarta kemarin bersama kesendirian, semoga informatif buat kalian yang mau berkunjung ke tempat-tempat yang unik di Jakarta secara ekonomis.

Tunggu postingan gw selanjutnya tentang perjalanan gw di Gunung Papandayan bersama temen-temen gw. See you! 🙂

Swallowed In The Sea

You cut me down a tree
And brought it back to me
And that’s what made me see
Where I was going wrong
You put me on a shelf
And kept me for yourself
I can only blame myself
You can only blame me

And I could write a song
A hundred miles long
Well, that’s where I belong
And you belong with me

And I could write it down
Or spread it all around
Get lost and then get found
Or swallowed in the sea

You put me on a line
And hung me out to dry
And darling that’s when I
Decided to go to see you

You cut me down to size
And opened up my eyes
Made me realize
What I could not see

And I could write a book
The one they’ll say that shook
The world, and then it took
It took it back from me

And I could write it down
Or spread it all around
Get lost and then get found
And you’ll come back to me
Not swallowed in the sea

Ooh…

And I could write a song
A hundred miles long
Well, that’s where I belong
And you belong with me

The streets you’re walking on
A thousand houses long
Well, that’s where I belong
And you belong with me

Oh what good is it to live
With nothing left to give
Forget but not forgive
Not loving all you see

Oh the streets you’re walking on
A thousand houses long
Well that’s where I belong
And you belong with me
Not swallowed in the sea

You belong with me
Not swallowed in the sea
Yeah, you belong with me
Not swallowed in the sea

by : Coldplay

Ku Istimewa

Dunia boleh katakan ku tak berarti
Dunia boleh katakan ku bukan siapa-siapa
Tapi ku hanya dengar apa kata Yesus
Dia katakan ku istimewa

Ku istimewa, kar’na aku milikNya
Ku istimewa, berharga di mataNya
Ku istimewa, Yesus mengasihiku
Dia lahir dalam hati ku dan jadikanku
ISTIMEWA

Ketika gw menulis tentang kebaikan Tuhan, selalu ada yang baru untuk gw tuliskan setiapkan setiap harinya.

Minggu lalu (lagi-lagi) gw menghadapi deadline besar di hari Jumat, karena akan meeting bersama perwakilan dari P*rt*m*n*. Bagian yang paling menyebalkan adalah, berita meeting itu datang kurang dari satu minggu sebelumnya, bersamaan dengan datangnya data tambahan baru dari sang klien yang meminta untuk diolah.

Ini adalah project kedua dari P*rt*m*n* yang gw kerjakan kawan-kawan Geodin. Dua-duanya ga ada yang beres karena, satu : datanya jelek dan databasenya buruk, dua : sang klien maunya banyak. Nampaknya gue sama anak-anak Geodin di masa depan harus turun tangan dalam membenahi segala kebobrokan dalam P*rt*m*n* nih #cailah.

Dalam project kali ini, keadaan yang dihadapi tim gw adalah yang terparah dibandingkan dengan yang dihadapi oleh tim yang lain. Data sedikit, kualitasnya jelek, persebarannya ga merata, kurang referensi dari penelitian sebelumnya dan sebagian besar datanya belum pernah dianalisis. Dan lucunya kami harus mengejar target yang sama seperti tim lain yang keadaan datanya jauh lebih baik. Gw yang menganalisis data sumur harus puter otak berkali-kali buat gimana caranya supaya bisa bekerja semaksimal mungkin dari data yang sangat seadanya.

Jujur aja, minggu lalu gw ngerasa under pressure banget. Gw sempet ngalamin software yang error di suatu malam, yang artinya kerjaan gw dari siangnya belum disimpan. Dari Senin malam hingga Kamis malam waktu jam tidur gw semakin berkurang. Puncaknya ketika Kamis malam gw ngga tidur sama sekali, lalu Jumat paginya langsung meeting. Belum lagi perasaan intimidasi yang gw rasakan ketika dituntut oleh tim yang lain untuk mengejar target yang sama seperti mereka, tanpa mereka prihatin melihat keadaan gw, ga peduli, ga mau tahu dan sama sekali tidak solutif, padahal gw udah bertanya (warning : untuk anak ITB yang membaca, ayo kita belajar untuk empati dan solutif terhadap masalah orang lain, jangan hanya mikirin kerjaan diri sendiri. Mau sampai kapan kita di cap individualis oleh banyak pihak? Akan lebih baik kalau kita punya otak yang katanya cemerlang dan punya teamwork yang sangat baik).

Gw bener-bener ngerasa mentok dan ga tau harus gimana caranya mengolah data yang keadaannya seperti itu. Gw cuman bisa berdoa dalam hati.

Tapi setelah Jumat pagi menjelang, memandangi langit subuh dan pepohonan hijau dari balkon kantor, gw merasa semuanya bisa selesai secara ajaib. Kerjaan gw selesai, dan Tuhan ngasih gw waktu untuk melakukan yang terbaik, meskipun gw harus mengorbankan waktu tidur. Meeting boleh berjalan lancar dan gw pun pulang ke rumah dengan perasaan sangat tenang. Matur sembah suwun sanget, Gusti 🙂

Besoknya Tuhan menyegarkan kondisi jasmani dan rohani gw dengan mengikuti ret-ret guru sekolah minggu. Oya, gw belom pernah cerita ya? Saat ini prioritas pelayanan gw di gereja adalah anak-anak.

Untuk gue pribadi, melayani dengan mengajar anak-anak Sekolah Minggu adalah tantangan yang tersulit. Kenapa? Satu, karena gw super bingung menghadapi anak kecil. Bukannya gue ga suka sama anak kecil. Gue selalu suka anak kecil karena kepolosan dan ketulusan mereka yang tidak dibuat-buat, lucu aja dengan segala tingkah laku dan perkataan yang mereka lakukan. Tapi karena faktor gue adalah anak bungsu, jarang main sama anak kecil juga, trus ponakan juga baru dua, jadinya ya kaku aja kalo ngadepin anak kecil. Susah banget merendahkan diri supaya menjadi sama dengan mereka. Dua, karena bagi gue sangat sulit menarik perhatian anak kecil (gue jadi ngerasa bersalah dulu pas waktu bocah suka ga merhatiin guru pas lagi ngajar, maaf ya buu). Karena kepolosannya, anak kecil ga akan segan-segan untuk membuang segala atensinya kalau lu membosankan, ga peduli lu sakit hati lantaran dicuekin, bagi mereka ya bodo amat! Tiga, susah banget buat melayani pertanyaan mereka satu per satu. Gimana caranya menyederhankan kata-kata jawaban pertanyaan yang mudah dimengerti oleh mereka sendiri.

Tapi biar bagaimanapun, anak kecil itu sungguh menggemaskan ! 😀

Lanjut. Tanggal 18-19 April kemarin ret-ret Sekolah Minggu diadakan di El Shaddai, Jl. Kolonel Masturi no. 59, Lembang. Disana gw belajar sangat banyak tentang cara menceritakan alkitab di hadapan anak-anak dan manajemen kelas. Tapi pada saat mengikuti ret-ret ada satu hal yang membuat gw bertanya-tanya kepada Tuhan dan diri sendiri. Kenapa gw bisa ‘terjebak’ di pelayanan ini ya? Lebih dari terjebak, gw sekarang bahkan dipercayakan untuk menjadi wakil ketua Sekolah Minggu. Seperti yang gw katakan sebelumnya, menangani anak-anak juga bukanlah kelebihan gw. Selain itu, bahkan gw sama sekali lupa gimana awalnya gw bisa jadi guru sekolah minggu. Ini sama halnya kalo ditanya, gimana awalnya gw bisa bersahabat sama si A ato si B? Gw sama sekali tidak ingat.

Pada saat renungan tengah malam, ada ritual pembasuhan kaki, seperti yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap murid-muridnya. Untuk gw, ini adalah pertama kalinya kaki gw dibasuh oleh Pendeta dan para guru senior Sekolah Minggu. Di saat itulah gw merasa sangat tidak layak dalam melayani. Gw ini najis, penuh dosa, punya masa lalu yang buruk, pokoknya gw jelas-jelas bukan murid Tuhan yang baik. Siapakah gw ini, yang Tuhan panggil dan utus untuk menjadi pelayan-Nya?

IMG-20150420-WA0004

Dulu, saat gw mempersiapkan diri untuk mengajar sekolah minggu di dalam perenungan yang panjang, gw membaca firman yang sangat mengena dengan diri gw sendiri :

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk kehidupan yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa,” (Yohanes 12 : 25-26)

Melayani adalah suatu kehormatan, sama seperti halnya kita membasuh kaki Raja. Hidup gw sudah dibayar lunas dengan darah Kristus, maka hidup gw bukan milik gw lagi, maka hidup gw harus melayani yang membutuhkan. Gw hanyalah seorang hamba yang harus menurut apa kata Tuannya.

Gw sama sekali ga mengerti dengan jalan hidup yang gw alami sekarang, bayangan masa depan pun terasa gelap. Maka saat ini gw membiarkan diri gw mengalir, sambil menikmati Tuhan memperbesar kapasitas gw untuk pelayanan yang Ia kehendaki kedepannya, dan tidak lupa dengan terus bersyukur dan terus belajar untuk rendah hati. Karena gw yakin, gw terlibat dalam pelayanan ini bukan karena suatu kebetulan. Ada maksud Tuhan di balik semuanya ini.

Dua tahun yang lalu, tepat di saat gw melepaskan hal terbesar dalam hidup gw (sekarang tidak lagi), Tuhan kembali menarik gw untuk melayani, sampe sekarang. Seperti menarik gw dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Berkali-kali gw jatuh, berkali-kali gw menjauh dari Tuhan, berkali-kali gw merasa tidak layak untuk melayani, berkali-kali salah dalam melayani, berkali-kali harus diperhadapkan dengan rasa sakit yang mengganggu, tapi Tuhan sendiri yang menguatkan gw untuk tidak menyerah. Gw juga belajar sangat banyak dari orang yang gw layani. Gw adalah bejana yang dihancurkan oleh Tuhan, lalu kembali dibentuk oleh tangan-Nya sendiri. Tangan-Nya selalu menggenggam tangan gw erat, gw ga pernah berada di luar lingkaran kasih karunia-Nya, dan gw selalu berada di dalam perlindungan-Nya.

Kalau memang ini caranya untuk menjadi semakin sempurna dan kudus seperti-Mu, baiklah Tuhan, aku menerima. Karena gw yakin, kalo gw terus mencari Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan (Matius 6 : 33), maka jangan khawatir.

Ketika Tuhan mempercayakan gw sekarang untuk melayani anak-anak, remaja, pemuda, hingga dewasa, gw semakin hari harus semakin menyadari, bersyukur dan melakukan yang terbaik atas apa yang Tuhan yang percayakan hingga sekarang, termasuk pekerjaan yang gw miliki untuk pemenuhan kebutuhan jasmani gw. Meskipun sangat lelah, tapi pasti semuanya bisa terlewati. Semuanya bukan karena kuat gagah gw, tapi karena Roh-Nya. Bukan untuk kemuliaan gw, tapi semua kemuliaan-Nya saja.

Terimakasih Tuhan, terimakasih, Engkau sungguh baik 🙂

IMG-20150420-WA0003

Guru Sekolah Minggu GKJ Bandung

My candle burns at both ends

It will not last the night

But ah my foes and oh my friends

It gives a lovely night

(Roald Dahl)

I Really Like You

I really wanna stop
But I just got the taste for it
I feel like I could fly with the boy on the moon
So honey hold my hand, you like making me wait for it
I feel I could die walking up to the room, oh yeah

Late night, watching television
But how’d we get in this position?
It’s way too soon, I know this isn’t love
But I need to tell you something

I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?
I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

Oh, did I say too much?
I’m so in my head
When we’re out of touch
I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

It’s like everything you say is a sweet revelation
All I wanna do is get into your head
Yeah we could stay alone, you and me, in this temptation
Sipping on your lips, hanging on by thread, baby

Late night, watching television
But how’d we get in this position?
It’s way too soon, I know this isn’t love
But I need to tell you something

I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?
I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

Oh, did I say too much?
I’m so in my head
When we’re out of touch (When we’re out of touch)
I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

Who gave you eyes like that?
Said you could keep them?
I don’t know how to act
Or if I should be leaving
I’m running out of time
Going out of my mind
I need to tell you something
Yeah, I need to tell you something

(YEAAAAAAH!) I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?
I really really really really really really like you (Oh, oh, ohh!)
And I want you. Do you want me? Do you want me too? (Do you want me, too?)

Oh, did I say too much? (Did I say too much?)
I’m so in my head (I’m so in my head)
When we’re out of touch (When we’re out of touch!)
I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

(YEAAAAAAH!) I really really really really really really like you
And I want you. Do you want me? Do you want me too? (Yeah, I need to tell you something)
I really really really really really really like you (Oh, yeah!)
And I want you. Do you want me? Do you want me too?

by : Carly Rae Jepsen

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 9)

Ketika dua hari kemarin gw jalan-jalan di Jakarta sendirian dan hari ini gw mengistirahatkan fisik gw (dengan tidur) dan mental gw (dengan ke gereja) di Bandung, rasa-rasanya seperti mimpi. Rasanya pengen langsung aja nulis tentang perjalanan gw ke Jakarta, tapi hati gw masih terbeban dengan travelling report sebelumnya yang nyatanya belum rampung juga.

Oke, ditemani oleh lagu-lagu yang super keren dari Gugun and The Blues Shelter, malam ini juga gw akan menuntaskan travelling report di hari terakhir liburan gw di Jogja pas liburan akhir tahun kemarin :

Day 9 : Minggu, 4 Januari 2015

Gw inget banget, minggu pagi di hari itu berat banget bagi gw untuk membuka mata karena sehari sebelumnya gw jadi pager ayu seharian. Capenya bukan kepalang. Rasanya hari itu gw ga pengen kemana-mana selain di tempat tidur. Tapi sayang, hari itu adalah hari terakhir gw di Jogja dan sorenya gw harus pulang. Maka dengan berat hari gw mandi dan kembali packing. Seperti biasa, bawaan pergi selalu lebih ringan daripada bawaan yang dibawa pulang.

Sebelum kemnali ke Bandung, gw dan keluarga gw sempatkan untuk berkunjung ke Candi Boko. Tiket masuknya mahal (sekitar 100 ribuan bagi kami berempat plus satu mobil), namun tak seberapa untuk keindahannya yang tak ternilai. Tak heran (lagi-lagi) gw melihat beberapa turis mancanegara yang berkunjung kesana. Tapi anehnya di sana suasananya cukup sepi, kontras dengan keadaan Jogja saat itu yang padat oleh manusia karena sedang waktu liburan.

Cuaca hari itu panas terik sekali (lebih terik daripada dua hari sebelumnya saat gw di Situs Taman Sari). Matahari bersinar tanpa penghalang di atas sana, di tengah langit biru dan awan putih. Saking terpesonanya, untuk kali ini gw tidak terlalu banyak mengambil foto. Gw bener-bener menikmati segala hal yang ada disana.

Jpeg

Istana di atas bukit. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Kenampakan kompleks Situs Candi Boko dari atas. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Speechless. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Scenery look from the highest place at Candi Boko Site. Camera : Asus Zenfone 4


Khusus post kali ini, gw ga harus berkata-kata banyak tentang Situs Cadi Boko. Silakan menikmati keindahannya melalui foto yang gw ambil 🙂

Saran gw, jangan lupa bawa minum yang banyak kalau mau kesini. Selain karena tempatnya panas banget, beli air di sini harganya bisa sampe dua kali lipat. Jangan lupa juga bawa payung atau topi untuk kalian yang ga kuat panas matahari.

Sayang, gw hanya punya sedikit waktu yang tersisa buat menikmati candi-candi yang ada di daerah Prambanan sana, padahal disana ada banyak candi-candi yang bertebaran. Kayanya asik banget buat menjelajah dari satu candi ke candi yang lain dengan bersepeda melintasi jalan dengan pemandangan persawahan dan perbukitan yang luas. Ok, I’ll throw it into my bucket list 🙂

Meninggalkan Jogja di sore itu membawa suasana sendu karena hati gw sudah mulai melekat disana, sehingga melangkahkan kaki untuk keluar dari sana terasa berat sekali. Seminggu pertama di Bandung semenjak kepulangan gw rasanya masih terbayang-bayang dengan Jogja. Sepertinya ada bagian hati gw yang ketinggalan di sana.

Biarlah hati itu terus tertinggal hingga nanti ku kembali lagi, di hari yang lebih baik 🙂

Saat itu gw pulang ke Bandung dengan menggunakan bis malam (karena tiket kereta pasti sudah habis dan kalau ada pun harganya pasti mahal banget). Tiket per orangnya sebesar Rp. 270.000,00. Perjalanan ditempuh dari pkl. 16.00 hingga pkl. 06.00. Puji Tuhan, tidak seperti supir yang lainnya, supir bis yang kami tumpangi bisa membawakan bis dengan sangat baik. Langit Bandung pagi beserta udara dinginnya menyambut kedatangan kami.

Tuntas sudah travelling report gw di Yogyakarta, semoga bisa memberi sedikit gambaran bagi para traveller yang mau kesana.

Bye! 🙂

Hati Hamba

Ku tak dapat lupakan

kebaikan yang ku terima

pengorbananMu yang mulia

jadikanku berharga

Kau tulus menerima

aku apa adanya

kekuatan kasihMu nyata

memulihkan hidupku

Kau bukan Tuhan yang melihat rupa

Kau bukan Tuhan yang memandang harta

hati hamba yang selalu Kau cari

biar Kau temukan di dalamku

Slama ku hidup

ku mau menyembahMu

sbab Engkau sangat berarti bagiku

yang terbaik yang ada padaku

kupersembahkan kepadaMu Yesusku

by : Sari Simorangkir