April 2016

Dia Ada

Ketika warna tidak harus dilihat melalui mata

Ketika maksud tidak harus diucapkan melalui bibir

Ketika bisik tidak harus didengarkan melalui telinga

Ketika ada dan tiadanya kata

Ketika hening diucapkan

 

Dia ada

 

Ketika lelah bisa ditunjukkan terang-terangan

Ketika terpukau di hadapan pemandangan yang indah

Ketika hanya ingin duduk dan minum kopi minus perbincangan

Ketika sengaja menyesatkan diri di suatu tempat

 

Dia ada

 

Inikah rasanya menjadi satu?

 

Rasakan denyut semesta, di manapun itu

 

Aku juga ada

Menunggu di Bonbin Tamansari Bandung

Apa? Nungguin di kebon binatang? Ngapain??

Hahaha…iya, kebon binatang. Tanggal 25 Maret 2016 gw mengunjungi tempat yang tepat berada di sebelah kampus tercinta gw, ITB. Sebenernya gw pengen banget maen-maen kesini waktu jaman kuliah, tapi bagi gw waktu itu tiket masuk sebesar 15ribu tuh kayanya mahaalll banget, alhasil waktu itu gw gajadi masuk deh. *sedih amat ya*

Sebenernya gw tanggal 25 Maret itu ga ada rencana kesini juga sih, random aja gitu masuk sini gara-gara kelamaan nungguin temen gw. Karena gw tau galat ketepatan waktu temen gw itu minimal 2 jam, maka dari itu gw memutuskan untuk killing time disana. Sekalian belajar fotografi juga, hehe.

Gw selalu merindukan udara pagi daerah Dago yang dingin, bonus aroma daun dan tanah basah. Gw selalu mencium ini dulu ketika jam kuliah pagi. Kebun binatang Tamansari Bandung saat itu pun seperti itu. Banyak anak-anak yang melihat-lihat binatang bersama ayah ibunya. Gw pengen banget memotret ekspresi mereka yang lucu dan polos, hanya saja gw ga ga enak hati sama orang tua mereka, nanti gw disangka oknum penculik anak lagi, hehe.

DSC_0072

Berikut objek binatang yang gw tangkap dengan kamera, dengan ilmu fotografi seadanya yang gw punya. Hope you enjoy these B)

DSC_0109

DSC_0113

DSC_0119DSC_0152DSC_0141

 

DSC_0160

 

Entah gw salah liat atau gimana, tapi entah kenapa gw merasa binatang disini kaya kurang perhatian. Badannya kurang gemuk, lesu, sebagai pengunjung gw merasa kebun binatang disini suram dan perlu pembaruan disana-sini. Misalnya, jalan setapaknya nampaknya harus diganti konblok yang baru karena sudah ditumbuhi lumut yang sangat licin, sangat bahaya untuk anak-anak, ibu hamil dan orangtua yang rawan terpeleset. Sayang sekali, padahal kebun binatang ini bisa dijadikan potensi wisata yang bagus bagi masyarakat kota Bandung.

DSC_0154

Suatu saat gw pasti akan ke kebun binatang Ragunan Jakarta, kebun binatang Gembiraloka Jogjakarta dan kebun binatang Surabaya, untuk membandingkan keadaan kebun binatang populer yang ada di negeri ini. Gw sangat berharap apa yang gw yang liat nanti sesuai dengan harapan gw, negeri ini butuh peran pemerintah dalam perawatan kebun binatang yang perkepribinatangan (yang memperhatikan nasib binatang maksudnya, ga hanya sekedar ekploitasi untuk menambah pemasukan kas pemda aja). Taman Safari jangan ditanya karena pengelolaannya oleh pihak swasta (yang tentunya hasilnya jauh lebih keren).

DSC_0128

Karena gw jalan sendirian disana (hanya ditemani kamera, jadi hanya fokus foto-foto tanpa mengobrol), gw mengelilingi area kebun binatang sekitar 2 jam. Lumayan, olahraga pagi, hehe.

Segitu dulu aja cerita gw di kebun binatang tamansari Bandung. Nantikan cerita gw di kebun binatang yang lain (di luar negeri juga, maybe? Amen!)

See you!

*All picture in this post was taken with Nikon DSLR D3200

Perfect

I might never be your knight in shining armour
I might never be the one you take home to mother
And I might never be the one who brings you flowers
But I can be the one, be the one tonight

When I first saw you
From across the room
I could tell that you were curious,
Oh, yeah
Girl, I hope you’re sure
What you’re looking for
‘Cause I’m not good at making promises

But if you like causing trouble up in hotel rooms
And if you like having secret little rendezvous
If you like to do the things you know that we shouldn’t do
Then baby, I’m perfect
Baby, I’m perfect for you
And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you’ve been dreaming about
Then baby, you’re perfect
Baby, you’re perfect
So let’s start right now

I might never be the hands you put your heart in
Or the arms that hold you any time you want them
But that don’t mean that we can’t live here in the moment
‘Cause I can be the one you love from time to time

When I first saw you
From across the room
I could tell that you were curious,
Oh, yeah
Girl, I hope you’re sure
What you’re looking for
‘Cause I’m not good at making promises

But if you like causing trouble up in hotel rooms
And if you like having secret little rendezvous
If you like to do the things you know that we shouldn’t do
Then baby, I’m perfect
Baby, I’m perfect for you
And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you’ve been dreaming about
Then baby, you’re perfect
Baby, you’re perfect
So let’s start right now

And if you like cameras flashing every time we go out,
Oh, yeah
And if you’re looking for someone to write your break-up songs about
Baby, I’m perfect
Baby, we’re perfect

If you like causing trouble up in hotel rooms
And if you like having secret little rendezvous
If you like to do the things you know that we shouldn’t do
Then baby, I’m perfect
Baby, I’m perfect for you
And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you’ve been dreaming about
Then baby, you’re perfect
Baby, you’re perfect
So let’s start right now

By : One Direction

Posted from WordPress for Android

Merenung Dari Kekesalan

Beberapa hari ini saya merasa agak kesal dengan beberapa teman saya. Tapi sebenarnya mereka ga salah apa2 sih, haha. Begini ceritanya :

Teman 1
Dengan teman yang satu ini saya sudah bersahabat cukup lama. Sejak saya menginjakkan kaki di Jakarta, saya ingin sekali bertemu dengan dia, hanya sekedar ngopi2 cantik barang sejam dua jam juga ga masalah. Tapi sudah 6 bulan berlalu, dia masih enggan juga untuk bertemu. Selama ini adaaa aja alasannya gabisa ketemuan. Dan sedihnya selalu saya yang mengajak ketemuan, dia sama sekali ga terbeban belum bertemu dengan saya di Jakarta. Kadang2 line sama whatsapp saya hanya di read saja. Sekalinya saya bertanya frontal di grup, dia ngasih jawabannya kurang enak. Terlepas dari masalah pribadi yang dia punya, terlepas dia berhak untuk terbuka pada orang tertentu, sebenernya dia masih menganggap saya sahabatnya atau bukan?? 😦

Teman 2
Teman yang satu ini baru saya kenal beberapa bulan. Orangnya pemalu. Terlihat mandiri, tapi sebenernya dia ga setangguh itu. Dia ga pernah minta tolong secara terang2an, tapi suka memberikan kode kalau sebenernya dia butuh pertolongan. Tapi entah kenapa kalau di hadapan orang tertentu, dia bisa terus terang. Apa saya segalak itu ya sampe bikin dia ga terbuka?? Padahal saya sudah membuka diri selebar2nya, dengan senang hati menawarkan bantuan anytime and  anywhere.

Begitulah cerita kekesalan saya. Tapi entah kenapa dari kekesalan itu juga saya bertanya2, apa begitu juga ya perasaan Tuhan terhadap saya?

Tuhan ingin sekali bertemu dengan saya dalam doa, tapi saya terkadang malas untuk meluangkan waktu teduh dengan Dia. Dan parahnya terkadang saya “lempeng” aja gitu kalau belum berdoa seharian. Roh kudus seringkali menghubungi saya lewat hati nurani, tapi seringkali saya abaikan dan saya lebih memilih keinginan daging. Saya tahu kalau Tuhan sudah tahu apa yang saya pinta, tapi akhirnya saya mengerti mengapa Tuhan ingin saya memintanya secara langsung.

Saya kesal dengan kedua teman saya itu karena saya sesungguhnya saya sayang dengan mereka, sedih rasanya ketika rasa sayang ini seolah tidak terbalas karena mereka tidak terbuka dan meminta secara jelas kepada saya. Tuhan pun menunggu kita untuk terbuka kepada-Nya karena Dia sayang sama kita. Dan akhirnya saya mengerti, keterbukaan adalah manifestasi dari hubungan yang erat dengan Bapa kita, dan sebagai cara kita untuk merespon kasih-Nya. Tuhan pasti senang sekali kalau kita menghadap Ia apa adanya, itu berarti kita masih menganggap Dia sahabat dan Tuhan kita.

Kalau dipikir-pikir, Tuhan sabar sekali menunggu saya selama ini, yang jatuh berkali2, yang memilih untuk berharap pada manusia alih2 bersandar kepada-Nya, yang menikmati perasaan senang dan sedih sendirian alih2 berdoa dan bersyukur.

Mazmur 119:147-148 “Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu.
Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.”

Mazmur 4:2 “Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!”

Matius 6:8 “…karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”

Yohanes 16:24 “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”

Terimakasih Tuhan sudah menunggu saya selama ini, dengan tangan terbuka dan penuh kasih.

Thank for reading. Jesus bless us!

image

Posted from WordPress for Android

For Mr. & Mrs. Lonely

Tulisan ini gw buat untuk siapapun yang kesepian, siapapun yang merasa kaku dan sulit bergaul, yang merasa sulit untuk diterima di pergaulan, sulit untuk mendapatkan teman…

Gw pernah merasakan hal itu kok.

Ngomong-ngomong kesepian…

Pertama kali gw merasa kesepian yang benar-benar sepi adalah ketika kelas 2 SMP. Jujur aja, saat itu gw adalah masa-masa tersulit di hidup gw dalam bergaul. Susah bagi gw untuk mendapatkan seorang teman.

SD gw adalah sekolah swasta katolik, dimana pertemanan terasa mudah karena mungkin semuanya punya kesamaan : beragama Kristen Katolik atau Protestan. Ada juga beberapa yang muslim, namun sebagian besar adalah Kristen. Gw termasuk minoritas karena gw bukan keturunan Tionghoa, tapi gw ga pernah merasa benar-benar beda. Di saat beranjak remaja, semua anak kelas 6 punya kesukaan yang sama, suka komik Detective Conan dan MTV. Semuanya berjalan baik-baik saja, sebagaimana anak SD pada umumnya.

Tunggu, pada umumnya?

Ternyata perkembangan anak-anak SD di sekolah gw termasuk yang agak “terlambat” dibandingin anak-anak SD negeri. Terbukti ketika gw masuk ke SMP negeri, gw kaget. Banyak yang udah punya pacar, udah ngerti memamerkan lekuk tubuh dengan baju seragam yang ketat, belum lagi disana-sini banyak geng. Gw shock, teramat shock. Mungkin bisa juga waktu itu gw terkena culture shock. Apa-apaan nih?? Gw masuk sekolah macem apa ini??

FYI, temen gw di kelas 3 SMP ada yang udah ML, dan dengan polosnya cerita ke banyak orang *tepok jidat*

Asal tau aja, menjadi independen ga akan pernah bisa diterima di sekolah negeri, karena lu pasti bakalan dianggap aneh. Supaya bertahan, lu harus gabung di salah satu geng, Inilah hal yang paling sulit gw lakukan, karena gw anak SD dari kota Bogor, sendirian, dan rata-rata geng yang sudah terbentuk adalah gabungan dari anak-anak yang berasal dari sekolah yang sama. Gimana caranya mau masuk geng coba? Gw gabisa bahasa sunda, logat gw aneh sok2an kaya anak Jakarta. Ditambah lagi gw cenderung nerd dan seragam gw ga dimodifikasi jadi gaul. Selain itu, gw juga bukan tipe orang yang mau diatur-atur, atau ngemis-ngemis supaya diterima di salah satu geng, atau rela menjadi sama dengan anak-anak geng yang lain. Big no no.

Jujur aja, ga diterima di geng mana-mana bikin gw merasa kesepian. Gw sampe minta sama Tuhan supaya dikasih temen yang asik (taunya sampe kelas 3 pun Tuhan ga kasih gw geng teman yang asik, haha). Gw tuh pengen banget gaul, tapi gatau harus mulai darimana. Tapi meski begitu, gw punya satu sahabat yang awet sampe setua ini, namanya Sari. Gw kenalan sama Sari dari hari pertama masuk SMP, dan dari semua sahabat yang gw punya, gw ngerasa hanya Sari yang paling cocok sama gw. Ibaratnya kaya botol ketemu tutup gitu, klik banget, hehe. Thank God I found you, Sar! We are best friend forever ever after! Waktu SMA pun akhirnya gw diterima oleh sekelompok teman yang menerima gw apa adanya, kami terus bersahabat sampai sekarang.

P1050438

“Geng” gw waktu SMA 😀

Masa SMP dan SMA merupakan waktu-waktu gw yang berharga untuk belajar bergaul, belajar tentang interpersonal, belajar apa yang gw suka dan sebagian orang ga suka. Masa itu adalah masa-masa pencarian jati diri gw. Yang dimana gw akhirnya tahu bahwa :

  1. Gw ga suka ngegeng, tapi setiap tahun Tuhan kasih gw sahabat satu orang yang cocok (atau seenggaknya hampir cocok lah, hehe). Maka dari itu gw belajar untuk supel, bisa nyambung kesana-kesini, dari anak kecil sampe orang tua
  2. Gw kurang cocok temenan sama cewe. Bukannya gabisa, I mean gw kurang suka berada di tengah-tengah cewe yang jumlahnya banyak, yang dimana masing2 berusaha menonjolkan diri (Gw udah pasti tenggelam, haha). Susah dijelasin, pokonya gitu deh. Gw merasa lebih gampang nyambung gabung sama cowo. Mungkin karena cowo ga neko-neko dan suka ngelawak, sedangkan cewe sukanya ngomongin orang (ngaku, wkwk). Ngobrol sama cowo tuh lebih seru.
  3. Butuh keluwesan untuk bergaul. Gw tuh bingung untuk mengeluarkan pendapat, bingung harus bersikap (khususnya di depan orang yang baru kenal), bingung ini bingung itu, pokoknya kaku banget deh!!

Dengan pembelajaran di atas, gw ga perlu cari perhatian orang dengan apa yang gw punya. Gw waktu itu ga punya duit, jadi ga ada juga yang dipamerin. Tampang sama otak biasa aja, tapi gw berusaha mengenal orang dengan pendekatan interpersonal.

Dan Puji Tuhan pada saat kuliah, Tuhan menempatkan gw di tempat yang amat tepat. Dari langkah pertama gw masuk kuliah, gw langsung bertemu dengan kelompok yang amat sangat cocok. Gw bisa gabung di banyak kelompok, tapi gw ga merasa terikat harus menjadi sama dengan kelompok tersebut, gw akhirnya bisa menjadi independen tanpa harus diomongin. Ketika (Puji Tuhan) masuk jurusan geologi, gw punya kesempatan buat temenan sama cowo banyaaaaakkkkk banget. Dan di saat kuliah lah gw belajar untuk menjadi seorang yang supel dan tahu menempatkan diri di depan siapapun. Tuhan membentuk watak dan kepribadian gw secara luar biasa di saat gw kuliah. Tuhan mengabulkan permintaan gw untuk punya banyak teman pada saat gw kuliah. Terimakasih ya Tuhan 🙂

Siapapun yang bilang kalau masuk ITB bakalan tambah cupu, menurut gw salah. Justru di kampus yang katanya gaul  itulah yang menurut cupu, karena kalian hanya berkembang di geng kalian masing-masing. Pergaulan kalian sempit, paling mentok nongkrong di kafe tanpa menghasilkan sesuatu (Gw no mention yaa btw, hehe). Di ITB kalian bisa aktif di berbagai organisasi dan unit yang menambah lingkup pergaulan kalian menjadi luas. Ga hanya satu atau dua organisasi, tapi buanyaaakkkk!! Jangan takut ga kebagian organisasi gara-gara si populer menguasai unit sana-sini, kaum tidak populer pun (seperti gw, haha) kebagian tempat untuk mengaktualisasi diri. Di organisasi itu  juga kalian pasti menjadi pintar karena pembicaraannya berbobot, syukur-syukur dari nongkrong-nongkrong itu malah menghasilkan sesuatu. Kalian bisa bebas menjadi diri sendiri tanpa harus ikut-ikutan (selama itu positif yaa). Dan yang paling unik disini, ITB adalah miniatur Indonesia, sangat-sangat plural, oleh karena itu kita bisa belajar menghargai satu sama lain disini, ga ada yang namanya mayoritas atau minoritas disini. Di sini semua orang sama, semua orang terbuka, inilah kami mahasiswa ITB.

Dan di ITB juga gw belajar, menjadi gaul itu bukan masalah modis atau tidaknya seseorang. Gaul itu erat hubungannya dengan cara menjalin relasi, bukan penampilan. Gaul itu bukan fashionable, tapi fleksible. Keren itu bukan masalah baju, tapi masalah otak.

Ayo kuliah di ITB aja adik2, hehe. Jangan takut mahal, banyak beasiswa kok J *promosi almamater ndiri

Sekian tulisan gw kali ini, semoga boleh memberikan kekuatan bagi siapapun yang membutuhkan teman. Gw tau rasanya itu ga enak kok, tapi nikmatin aja prosesnya. Berusahalah untuk belajar hal yang baru setiap harinya dan belajar untuk terbuka. Awali perubahan itu dengan senyum tulus. Ada saatnya kok kalian memiliki teman yang sejati pemberian Tuhan.

Life is tough, so be tough life 🙂

See you!

Menikmati Indonesia

Hari ini (mumpung mood), gw merampungkan tiga blog gw sekaligus. Atau mungkin lebih, haha.

Tanggal 26 Maret 2016, gw pulang dari Bandung menggunakan kereta ekonomi. Berbeda dengan kereta kelas bisnis yang bertolak dari Stasiun Hall Bandung ke Stasiun Gambir, kereta ekonomi berangkat dari Stasiun Kiaracondong dan berakhir di Stasiun Pasar Senen. Harganya tiketnya cukup terjangkau, yaitu Rp 70.000,00.

IMG_20160327_123148

Stasiun KA Kiaracondong

Sambil menunggu keberangkatan kereta, gw duduk di ruang tunggu. Dan entah kenapa gw sangat-sangat ingin mengobrol dengan ibu-ibu paruh baya di sebelah gw. Gw lupa nama ibunya siapa, beliau bilang mau pulang kampung ke Sukoharjo. Sebenernya sang ibu ga pengen pulang kampung karena masih ingin terus bekerja di Jawa Barat, namun karena beliau terkena penyakit hepatitis B, maka dia harus pulang untuk beristirahat (sang majikan juga kurang berkenan menerima beliau untuk bekerja di rumahnya lagi). Ibu ini terkena penyakit hepatitis B gara-gara transfusi darah beberapa bulan lalu. Transfusi ini waktu itu dilakukan karena ibu ini menderita anemia yang parah sehingga pengobatannya harus dengan jalan transfusi. Majikannya kurang memperhatikan apa yang beliau makan, dan parahnya lagi ga dikasih uang makan juga.

Sedih banget ya ceritanya? Tuhan memberkatimu ya buu…dimanapun anda berada sekarang

Akhirnya gw masuk juga ke kereta untuk berangkat. Satu hal yang tidak gw suka dari kereta ekonomi : posisi kursinya permanen berhadap-hadapan. Untuunggg banget di depan gw waktu itu anak kecil. Kalau orang dewasa, cowo, trus ganteng kan salah tingkah gw, haha *apasih. Tapi overall gw merasa nyaman karena full AC. Terimakasih PT. KAI yang memperhatikan kereta kelas ekonomi.

IMG_20160327_140728

Pulas.

Pemandangan hijau dari balik jendela menyambut gw di awal perjalanan. Deretan sengkedan persawahan, perbukitan, perkebunan, sungai, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi dengan Indonesia. Walaupun saat itu gw ngantuk, walaupun gw sudah melihat pemandangan yang sama berkali-kali, gw ga rela untuk memejamkan mata, seakan takut ada pemandangan indah yang terlewat.

Sekitar dua jam kemudian, kereta berhenti sejenak di sekitar Stasiun Purwakarta. Ada tempat yang sangat unik dan menarik : tumpukan gerbong kereta api tua, entah itu kereta tahun berapa. Entah kenapa gw merasa tempat itu romantis, cocok untuk mengambil gambar dengan efek dramatis, atau efek horor kalau mau, hehe. Sayang sekali, gw ga bisa keluar dari gerbong karena pintunya dikunci, padahal gw bawa kamera DSLR.

Ada hal unik lain lagi yang gw liat dalam perjalanan : komplek perumahan dengan antena yang mencuat. Antena ini dipasang di ujung bambu yang panjang supaya bisa menangkap sinyal televisi yang lebih baik. Gw ga yakin orang-orang di luar negeri akan sekreatif itu dalam mencari sinyal televisi yang lebih baik. Orang Indonesia memang kreatif! Hehehe.

IMG_20160327_160042

Ketika kereta mendekati Stasiun Pasar Senen, gw malah melihat pemandangan yang miris. Kanan kiri kereta dipenuhi oleh pemukiman kumuh masyarakat pinggiran. Tempatnya jauh dari bersih dan gw heran mereka bisa bertahan hidup. Segera gw merekam keadaan ini dan upload di Instagram untuk melapor ke Bapak Ahok. Namun katanya wilayah ini merupakan ranahnya PT. KAI dan gubernur kurang berperan disana. Gw udah mention juga PT. KAI-nya, semoga mereka baca.

IMG_20160327_171037

Tempat tinggal kumuh di pinggir rel kereta

Dari Pasar Senen, gw kembali menggunakan kereta KRL untuk menuju kostan gw. Senja di Stasiun Manggarai ternyata indah juga.

IMG_20160327_181153

Senja di Stasiun Manggarai

Yah, beginilah pengalaman gw naik kereta ekonomi kemarin, yang bagi gw menyenangkan. Ada sensasi  tersendiri dalam melihat Indonesia dari balik kaca jendela kereta (sambil makan pop mie, mantap!). Buat kamu yang pengen sekali-kali mencoba, pesanlah tempat duduk di dekat jendela, sebelah kanan menurut arah jalannya kereta. Sampai di Jakarta pasti kamu memiliki pandangan yang baru tentang Indonesia.

Udah dulu deh ceritanya. Terimakasih sudah membaca dan melihat-lihat fotonya. Bye!

Paint My Love

From my youngest years
till this moment here
I’ve never seen
such a lovely queen

From the skies above
to the deepest love
I’ve never felt
crazy like this before

[Chorus:]
Paint my love
you should paint my love
it’s the picture of a thousand sunsets
it’s the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love

Been around the world
then I met you girl
It’s like comming home
to a place I’ve known

[Chorus:]
Paint my love
you should paint my love
it’s the picture of a thousand sunsets
it’s the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love

Since you came into my life
the days before all fade to black and white
Since you came into my life
Everything has changed

[Chorus:]
Paint my love
you should paint my love
it’s the picture of a thousand sunsets
it’s the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love

[Chorus:]
Paint my love
you should paint my love
it’s the picture of a thousand sunsets
it’s the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love

 

by : Michael Learns To Rock

Jatuh cinta dengan lagu ini setelah seorang pengamen di Metromini menyanyikannya dengan sepenuh hati. Suaranya biasa aja, tapi penghayatannya keren. 😀