August 2014

Whataya Want From Me

Hey, slow it down
Whataya want from me
Whataya want from me
Yeah, I’m afraid
Whataya want from me
Whataya want from me

There might have been a time
When I would give myself away
(Ooh) Once upon a time
I didn’t give a damn
But now here we are
So whataya want from me
Whataya want from me

Just don’t give up
I’m workin’ it out
Please don’t give in
I won’t let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around
Hey, whataya want from me
Whataya want from me
Whataya want from me

Yeah, it’s plain to see
That baby you’re beautiful
And there’s nothing wrong with you
It’s me, I’m a freak
But thanks for lovin’ me
Cause you’re doing it perfectly

There might have been a time
When I would let you slip away
I wouldn’t even try but I think
You could save my life

Just don’t give up
I’m workin’ it out
Please don’t give in
I won’t let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around
Hey, whataya want from me
Whataya want from me
Whataya want from me

Just don’t give up on me
I won’t let you down
No, I won’t let you down

So
Just don’t give up
I’m workin’ it out
Please don’t give in
I won’t let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around
Hey, whataya want from me

Just don’t give up
I’m workin’ it out
Please don’t give in
I won’t let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around
Hey, whataya want from me
(Whataya want from me)
Whataya want from me
Whataya want from me

 

by : Adam Lambert

Everybody’s Fool

Perfect by nature.
Icons of self-indulgence.
Just what we all need,
More lies about a world that…

…never was and never will be.
Have you no shame? Don’t you see me?
You know you’ve got everybody fooled.

Look, here she comes now.
Bow down and stare in wonder.
Oh, how we love you.
No flaws when you’re pretending.

But now I know she…

…never was and never will be.
You don’t know how you’ve betrayed me.
And somehow you’ve got everybody fooled.

Without the mask, where will you hide?
Can’t find yourself lost in your lie.

I know the truth now,
I know who you are,
And I don’t love you anymore.

It never was and never will be.
You don’t know how you’ve betrayed me.
And somehow you’ve got everybody fooled.

never was and never will be.
You’re not real and you can’t save me.
Somehow now you’re everybody’s fool.

 

by : Evanescence

Small Act, Big Impact : Salt and Light

Hai umat manusia, dengan ini saya mengucapkan selamat malam minggu (iya2 gw tau itu ga penting). Untuk pertama kalinya ini gw posting pake hape butut gw, hehehe. Biar butut tapi gw sayang ko :* #rayuanbocahkere

Sekarang gw lagi terdampar sendirian di kamar. Bukan kamar gue,tapi kamar bude gw di kota bekashit. Konon katanya bude gw ini tetanggaan sama si Jono,artis bule yang suka ngelenong itu. Gw ke kota ini dalam rangka menghadiri pernikahan sodara gw. Sekarang gw tepar,males ngapa2in,akhirnya sekarang gw dalam posisi tengkurep di atas kasur sambil megang hape. Sayang kurang cemilan.

Well…gw gatau mw nulis apa. Tapi gw tiba2 teringat sesuatu.

Sekitar dua bulan lalu, gw dan temen gw, Andre Simorangkir, setelah belajar bareng, kita makan di Kantin Salman. Buat yang belum tau, kantin itu adalah kantin di Masjid Salman, yang dimana notabene-nya orang2 disitu kebanyakan adalah orang2 muslim. Setelah kami mengambil makan siang dan cari tempat duduk yang paling nyaman,otomatis kita langsung berdoa. Tunduk kepala, tutup mata dan lipat tangan. Gw tau, gaya berdoa kami itu terlihat sangat mencolok di tempat seperti itu,tapi ya kami cuek aja. Setelah selesai berdoa dan siap2 mau makan, seorang bapak yang duduk di sebelah Andre langsung bertanya sesuatu.

“Kalau adek berdoa sebelum makan supaya apa?” tanya sang bapak, matanya tertuju langsung sama gw.  Menurut gw, nada bicaranya antara penasaran sama ngetes. Kontan gw gelagapan.

“Emm…supaya Tuhan memberkati, Pak,”jawab gw lemah, nada ga percaya diri. Jawaban macam apa itu, Kristyarin!

“Hoo, supaya makanannya bebas dari penyakit gitu ya?”balas si bapak, kali ini dengan nada sangsi

“Sebenernya bukan itu sih pak,” sanggah si Andre dengan logat bataknya, “Sebenernya kami berdoa lebih kepada untuk mengucap syukur untuk makanan ini. Kalau kita makan makanan yang kotor, di pinggir jalan misalnya, bukan berarti setelah kita berdoa, makanan itu jadi bebas penyakit. Begitu pak,”

Saat itu juga gw kagum sama jawaban si Andre : sederhana, mudah dimengerti dan tepat. Akhirnya, kemampuan lu sebagai presiden Navigator terbukti, Ndre, wkwk. Gw lega kalau akhirnya si bapak itu mendapat jawaban yang tepat

Readers, gw gatau kalian tau rasanya menjadi minoritas di suatu lingkungan ato ngga. Tapi gw cuman mw kasitau aja kalau jadi kaum minoritas itu rasanya sedikit seperti diabaikan, tapi sebenernya setiap langkah yang kami buat itu diperhatikan. Bingung kan? Ya kira2 rasanya seperti itu lah.

Yok kita baca ayat di bawah ini

Matius 5:13-16
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Kadang gw berpikir terlalu rumit untuk menjadi garam dan terang dunia. Gw berpikir masalah jumlah dan kompleksitas. Ternyata bukan seperti itu.

Dalam satu takaran makanan, tidak dibutuhkan banyak garam untuk memberikan cita rasa. Garam dan lilin bukan suatu benda yang mewah, tetapi garam sungguh dicari ketika orang merasa hambar dan lilin sangat dicari ketika orang di tengah kegelapan.

Kalau saja setiap orang melakukan tindakan yang sederhana dan berarti, gw percaya akan berdampak besar pada dunia. Tersenyum, menyapa, selalu tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, setia melakukan hal kecil, dll…adalah tindakan yang sangat sederhana. Dan bayangkan kalau setiap orang melakukannya…wow, indah banget dunia ini!

Tapi nyatanya hanya sedikit orang yang seperti itu. Tak apa, garam itu tidak usah banyak2, kalo kebanyakan justru keasinan, wkwk. Bukan itu sih maksud gw. Optimis aja dalam setiap tindakan sederhana yang kita lakukan itu pasti membawa pengaruh yang berarti bagi lingkungan kita, meskipun tidak dilihat oleh orang. Jadilah jawaban bagi pertanyaan setiap orang.

Sekian postingan singkat gw di malam minggu ini. Have a nice dream, folks!

Ain’t It Fun

I don’t mind letting you down easy
But just give it time
If it don’t hurt now then just wait, just wait a while

You’re not the big fish in the pond no more
You are what they’re feeding on

So what are you gonna do when the world don’t orbit around you?
So what are you gonna do when the world don’t orbit around you?

Ain’t it fun living in the real world
Ain’t it good being all alone

Where you’re from
You might be the one who’s running things
Well, you can ring anybody’s bell to get what you want

You see, it’s easy to ignore a trouble
When you’re living in a bubble

So what are you gonna do when the world don’t orbit around you?
So what are you gonna do when nobody wants to fool with you?

Ain’t it fun living in the real world
Ain’t it good being all alone

Ain’t it good to be on your own
Ain’t it fun you can’t count on no one
Ain’t it good to be on your own
Ain’t it fun you can’t count on no one

Ain’t it fun living in the real world

Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world

Ain’t it fun
Ain’t it fun
Baby, now you’re one of us
Ain’t it fun
Ain’t it fun

Ain’t it fun

Ain’t it fun living in the real world
Ain’t it good, ain’t it good being all alone

Ain’t it fun living in the real world
(‘Cause the world don’t orbit around you)
Ain’t it good, ain’t it good being all alone (oh)

Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
(Down to your mama)
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
(Don’t go crying to your mama)
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
(Oh, this is the real world)
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
(Don’t go crying to your mama)
This is the real world
This is the real world

Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world
Don’t go crying to your mama ’cause you’re on your own in the real world

by : Paramore

A person Who Has Made a Difference : My Grandfather

To celebrate my country’s independence day, I will write about someone who I think has made a difference : my lovely grandfather, Ir. Imam Satoto Dermoredjo. Now he is 87. He still healthy and do everything independently, but he becomes deaf and seems getting “shrunk” day by day. He reads newspaper and fills crossword puzzle everyday. He never forgets to lock every door and window in his big house. He seldom forgets to turn off the electricity too. He always remembers the birthday of his son, daughter in law, and grandkids. I feel salute of him because he always makes him active and never let him to be senile. Hmm…I think I will follow his way of spending retired time when I get old. FYI, He is smart and can speak several languanges. He always looked tidy eventough he is in his house.

Foto Kakung Uti

My grandfather was born on May 28th, 1927 at Mojowarno, East Java. His father’s name is Soeponjono Dermoredjo, worked as a ‘Sekolah Rakyat’ (School for Indonesian) teacher. This situation makes an opportunity for my grandfather to study at that school. (The colonizer only allow certain Indonesian to get formal education at that time). He studied there until he was around 18, after that he joined ‘Tentara Republik Indonesia Pelajar’ (Army of Indonesia Republic Student). I’ve ever heard a sad story about that. One day, his neighbor told a bad issue to his mother that he had died in the middle of the war. His mother was really shock, because my grandfather was the child that she loved most. She didn’t want to eat since that time, wish my grandfather would back. Sadly, finally she died in grief. Everything was too late when my grandpa came back again to his house.

At 1950, he got a scholarship from Ministry of Agriculture to study at Agriculture Academy, now it is part of University of Gadjah Mada. After he was graduated, he was married by grandmother and moved to Bogor. He worked as an agriculture researcher at Ministry of Agriculture office, to make a new better variety of rice plant. At 1970, he was moved to Jakarta at Division of Protection of Food Plant. He was retired at 1982.

He was really active in a church community to helped people at GPIB Zebaoth Bogor. Many dutch involved in the community too. He was one of influencing person, so he could give a name for the church ‘Zebaoth’ (in hebrew means ‘army’) . If you ever go to Bogor and see a  church with europe style near ‘Istana Bogor’ (The Bogor Palace) with a big word ‘Zebaoth’ on its wall, yeah, that’s what I mean. While it was going, he formed a church community for Javanesse too in that city. Finally, at 1984, ‘Gereja Kristen Jawa Bogor’ (Church of Javanesse Christian) was established

2010-04-25 11-15-03 - SAM_1125_resize images

2010-04-25 11-16-57 - SAM_1130_resize

Maybe there was nothing special that my grandfather did for this country and Bogor city, but I feel amazed of his achievement. He was a veteran altough only for 3 years in a battle. He was very well known as a discipline, thorough and honest person, so he often got reward for his loyality at his work. He was one of volunteers to make several kind of rice plant like Citanduy, PB 5, PB 8  , etc. He loved to help other people trough church community. And the best thing that he did is : he worked very hard to maintain his family. He could sent all of his children to the best school until they get bachelor degree. He loves my grandmother until the death separated them.

My grandfather’s story shows us about the importance of being loyal in every circle where my grandfather had been. He persisted to do the best in every single thing he did. I believe It makes a quite difference for his vicinity.

I proud indeed with my Grandpa and I will follow his way to make a difference, especially for my lovely Indonesia. Amen.

Happy Independence Day, Indonesia! I will serve you until the day I die!

bendera

 

Mengampuni Tujuh Kali Tujuh Puluh Kali

Seperti biasa, Sabtu pagi selalu berjalan tentram damai di rumah gw yang berada di kawasan perumahan yang isinya orang2 pensiunan. Gw bisa bangun agak siang dan santai2 sambil sekarang menulis, diiringi kicauan burung dan angin sepoi-sepoi. Waktu yang tepat untuk merenung.

Gw udah lama ga nulis rubrik ‘Christian Spiritual’. Sebenernya bukan hal yang mudah mengisi rubrik ini karena harus bersamaan dengan intropeksi diri. Atau terkadang terbeban juga kalau membaca postingan yang sebelumnya, karena ternyata gw ga sempurna juga menjalani apa yang gw tulis atau gw bener2 sama sekali jatuh. Gw kadang ngatain diri sendiri kalau gw adalah munafik. Gw juga tahu kalau ada orang yang setelah membaca postingan gw trus setelah itu dia bakal ngumpat, “Muka dua lu, Rin!”. Sori banget kalau gw tidak mencerminkan apa yang gw tulis. Atau mungkin kadang ada yang kecewa setelah melihat kelakuan gw yang tidak mencerminkan seorang Kristen yang seharusnya. Readers, sebenernya apa yang gw tulis ini semata-mata hanya untuk berbagi berkat yang gw dapet dengan kalian. Yok, kita intropeksi bareng.

Jujur aja, pergumulan terbesar gw saat ini adalah mengampuni orang lain. Mengampuni itu bukan hanya satu kali proses, tetapi kadang kita diperhadapkan dengan berkali-kali proses.

Mari kita membaca Matius 8 : 21-35 yang berjudul ‘Perumpamaan Tentang Pengampunan’

18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? 18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Satu perikop ayat ini sungguh sangat menegur gw. Kalau kalian udah pernah baca postingan gw sebelumnya di rubrik ini yang berjudul ‘Mengampuni Musuh’, gw dulu memegang prinsip : mengampuni itu cukup sekali aja di awal, abis itu gw kabur jauh2 sampai hilang kontak, trus nanti setelah bertahun ga ketemu, gw akhirnya bener2 bisa mengampuni dan ngobrol lagi sama orang itu karena gw lupa sama masalahnya. Menurut akal sehat gw, itu efektif.

Trus sekarang semakin dewasa, Tuhan memperhadapkan gw dengan masalah yang lebih kompleks lagi : gw sering dipertemukan dengan orang-orang yang gw benci. Semakin gw liat orang itu, semakin gw jadi ingat lagi kepahitan yang gw pendam dalam-dalam. Ibarat endapan di dasar kolam yang terangkat dan membuat airnya keruh kembali. Menguji gw lagi dan lagi, apakah gw udah benar-benar mengampuni mereka seutuhnya?

Tuhan Yesus berkata, : “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali….”. Itu artinya kita harus menguji berkali-kali-kali-kali-kali lagi hati kita, apakah kita benar-benar mengampuni seseorang yang menyakiti kita luar dalam? Apakah kita tidak mengingat-ingat lagi atas perbuatannya di masa lalu? Apakah kita sudah melakukan rekonsiliasi dengannya?

Tuhan Yesus sudah mengampuni dosa seutuhnya, bahkan dia memberi gw hidup kekal dengan menebus gw lunas dengan kuasa darah-Nya. Sebesar dan sehina apapun dosa gw, Tuhan sudah mengampuni gw, dengan jaminan darah-Nya sendiri. Gw ini siapa sampai gw tega ga mengampuni orang yang bersalah sama gw, sedangkan Tuhan Yesus aja yang keagungan-Nya melebihi segala-galanya, Ia mengampuni bahkan rela memberikan nyawa-Nya sendiri untuk manusia yang dikasihinya? Betapa ga tau dirinya gue kalau gw gabisa mengampuni orang yang menyakiti gw, sedangkan gw dosa gw sudah ditebus Tuhan Yesus dengan darahNya hingga lunas!

Ada ayat yang menarik lagi dari Matius 5 : 23-26

5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Tuhan Yesus mengajarkan bagi kita untuk berinisiatif suatu rekonsiliasi dengan musuh, bukannya menghabiskan waktu untuk menunggu orang itu untuk berkonsiliasi dengan kita. Kita harus menjadi pribadi yang rendah hati, bukannya penuh gengsi. Ga ada gunanya kita rajin beribadah, rajin berdoa dan membaca firman, memberikan persembahan, melakukan pelayanan, namun masih ada sesuatu yang belum diselesaikan dengan sesama kita. Karena Tuhan melihat hati.

Mengampunilah atas dasar karena kita mengasihi Tuhan dan sesama. Lukas 10 : 27-18

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Ga ada firman yang bilang, “Gengsilah, maka engkau akan hidup,” NO!. Perbuatlah demikian (apa yang Tuhan perintahkan—termasuk mengampuni), maka engkau akan hidup, bukan mati.

Bagaimanakah cara mengasihi Allah? Yohanes 14 : 21

14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Nobody’s perfect dan Tuhan tahu kita banyak kelemahan. Pasti kita terjatuh lagi dan lagi dalam mengampuni seseorang. Tapi sejauh kita mencoba, Tuhan pasti memampukan, asal kita bergantung pada hikmat Tuhan, bukan bersandar pada pengertian sendiri.

Amsal 3 : 5

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri

Saat ini secara ga langsung di blog ini gw ingin meminta maaf sedalam-dalamnya bagi orang yang bermasalah atau merasa punya masalah dengan gw. Maaf kalau dalam prakteknya ga sempurna, tapi sungguh gw udah mencoba. Peace 🙂

Selamat berjuang dalam mengampuni, melupakan dan membuka tangan bagi musuh saudara-saudaraku! Ada upah bagi kita yang mengasihi Dia 🙂

unduhan