Geology

To Be Presenter at IAGI 2016

Haloooo…akhirnya rubrik geologi ini terisi kembali, haha. Tanggal 10-13 Oktober alias dua bulan yang lalu gw menghadiri konferensi IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), yaitu suatu event tahunan bagi seluruh geologist di Indonesia. Perhelatan ini diadakan di Trans Studio Hotel, Bandung.

Di konferensi ini Puji Tuhan gw bisa mengirimkan paper dan mempresentasikannya. Papernya masih berasal dari penelitian tugas akhir gw tiga tahun lalu, hehe. Gw lega, akhirnya gw tuntas mempublikasikan tugas akhir gw berupa dua paper.

Berikut adalah abstrak paper gw :

Exposed Basement Characteristics of Northern Barito Basin, Siung Malopot Area, Central Kalimantan
Anggritya K D (1), Priadi B (2)
1 Stratigraphy Group, Exploration Division, LEMIGAS
2 Geological Engineering Department, Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut of Technology Bandung
Abstract

Borneo island has a complex geological history, it can be seen from its basement lithology as a result of tectonic events at a certain age, particularly the Pre-Tertiary. Meta-andesite, breccia, and granodiorite as exposed basement lithology in the research area, allegedly uplifted and eroded due to compressional phase during the Miocene and Plio-Pleistocene. Research area that located in the Siung Malopot Area, Central Borneo, geologically is part of the northern Barito Basin.

The authors present the results of petrographic study of basement lithology in research area that has been metamorphosed, microscopically visible the presence of secondary minerals of prehnite and zeolite, and the presence of other characteristics that indicate strong deformation in the basement rocks. In addition, some mysterious limestone boulders found in the research area contains larger foraminifera fossil of Late Pennsylvanian-Early Permian, which is suspected derived from reworked fossil of older lithology.

Keywords : Borneo, Barito Basin, basement, larger foraminifera, metamorphic facies..

Link proceeding paper gw bisa diunduh di link berikut :

https://drive.google.com/file/d/0B20SAfyzcCfBNTcyaWVXLWc3WWc/view?usp=docslist_api

Entah kenapa sepanjang tahun ini gw sering diingatkan tentang kebaikan Tuhan di masa lampau. Setiap gw mengingat perjuangan menyelesaikan tugas akhir gw yang berdarah-darah, gw selalu beryukur punya Tuhan yang amat sangat baik. Ketika rintangan demi rintangan masa lalu sudah Tuhan atasi, gw percaya rintangan-rintangan di masa depan pun demikian. Gw tidak perlu khawatir, walaupun rasanya sulit untuk tidak khawatir.

Percayalah seperti di saat kamu khawatir.

img-20161012-wa0002img_20161012_075101

Selain presentasi, di event IAGI ini gw juga menjaga booth LEMIGAS, kalau-kalau ada geologist yang berkunjung, antara ingin tahu tentang LEMIGAS atau syukur-syukur ngasih project :p. Lucunya, stand LEMIGAS berdiri di sebelah booth Geodin. Alhasil di saat giliran jaga booth kadang-kadang gw main ke booth sebelah. Gw turut senang melihat geodin masih bisa berjalan sampai sekarang.

img-20161013-wa0012

img_20161011_133145

Booth LEMIGAS sama Geodin yang bersebelahan, hehe

Di saat acara penutupan, hoki gw lagi bagus, gw mendapatkan doorprize berupa power bank (lumayaaann). Di acara penutupan juga gw berbincang dengan seorang professor dari suatu universitas di Myanmar, namanya Miss Cho. Ssaat itu gw berniat menemani beliau yang sedang sendirian, sekalian melatih skill bahasa Inggris gw juga. Tidak disangka, di akhir percakapan beliau memberikan gelang dari batu giok. Suka banget sama model gelangnya! Terimakasih Mrs Cho! Suatu saat saya akan mengunjungi Myanmar dan bertemu dengan anda lagi, juga bertemu dengan para profesor geologi yang lain dari Myanmar. Pasti.

img_20161013_131934

Zed bracelet from Mrs. Cho. Thank you!

Demikian cerita gw kali ini di konferensi tahunan IAGI 2016. Bersyukur punya Tuhan yang luar biasa baik.

Bye bye readers!!

My Masterpiece = God’s Grace

Hello guys! This is my first post in 2016, yuhuuu!

Tadi siang gw baru dapet email dari Pak Yudi Rosandi, M.Si. Beliau selaku ketua PEDISGI 2015 (baca pengalaman gw jadi kontributor PEDISGI 2015 di sini), mengabarkan bahwa paper gw berhasil dipublish di IOP Conference Series : Earth and Environmental Science. Entah kenapa gw seneng banget paper gw ini bisa dipublikasikan di jurnal internasional seperti IOP. Mungkin karena untuk pertama kalinya gw bisa mempublikasikan hasil penelitian gw, rasanya ternyata sangat menyenangkan. Bangga. Saking senengnya, gw post di Path (padahal gw jarang2 norak kaya gitu, ga gw banget deh, haha). Rasanya seperti menutup lembaran perjuangan Tugas Akhir gw dua tahun lalu dengan sangat manis. Terimakasih Tuhan 🙂

Link paper gw bisa didownload di sini

Tugas Akhir gw selalu membuat gw teringat sama kasih Tuhan yang luar biasa di saat gw susah. Mari kita bernostalgia kembali pada waktu gw memulai Tugas Akhir yang perjuangannya cukup membuat gw “berdarah-darah” waktu itu.

Semuanya berawal dari perkenalan gw dengan Pak Tjipto pada awal tahun 2012, seorang dosen senior di Prodi Teknik Geologi ITB yang sebenarnya sudah pensiun, namun saat itu masih dikaryakan karena belum ada dosen pengganti mata kuliah Palinologi. Gw cuman tau sepintas aja kalo Palinologi itu mempelajari fosil spora dan serbuk sari. Titik. Gw ga punya pikiran kalau gw akan mendalami ilmu tersebut.

Waktu itu gw berkenalan dengan beliau karena gw ambil matakuliah mikropaleontologi lanjut. Saat itu gw lagi seneng banget sama fosil foraminifera, gw merasa gw cemerlang di antara temen seangkatan gw karena bisa mendeterminasi fosil foraminifera dengan baik. Lalu perkenalan dengan Pak Tjipto berlanjut seiring dengan seringnya gw nongkrong di lab. palinologi bersama anak-anak unsud (mba Anna, mba Ani, Prabu), Mika dan Mba Anggi. Sering banget gw nitip barang disana hingga menumpuk saking gw menganggap lab itu sebagai rumah kedua gw). Nongkrongnya bukan sembarang nongkrong lhoo…gw jadi asisten praktikum saat itu, jadi ada pembicaraan yang berbobot lah di lab, haha. Seringkali Pak Tjipto mentraktir kami makan di tempat mahal (anugrah banget buat mahasiswa!). Hingga akhirnya gw menganggap rekan-rekan gw di lab palinologi, juga Pak Tjipto, adalah keluarga.

Hingga suatu saat di pertengahan semester 6 saat itu (sebelum gw kuliah lapangan Karang Sambung), Pak Tjipto menawarkan gw ide gila : untuk memulai Tugas Akhir secepatnya. Ada perusahaan batu bara yang bersedia mensponsori dan beliau menawarkan diri sebagai dosen pembimbing gw. Gw kaget setengah mati. Ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba gw dapet rejeki nomplok. Tapi jangan salah, saat itu gw bingung juga, ga kebayang ngerjain tugas akhir tuh kaya gimana. Gw tipe mahasiswa yang santai, IP biasa aja, menikmati setiap detik kehidupan di kampus, tiba-tiba disuruh ngebut lulus. Selain itu, gw saat itu pun punya prioritas lain, yaitu menjadi ketua seminar GSC (program besar himpunan). Setelah gw berkonsultasi dengan nyokap gw, akhirnya gw mengambil keputusan untuk mengambil kesempatan tugas akhir, karena kesempatan ga akan datang dua kali, lagipula duit darimana juga untuk melakukan tugas akhir mandiri. Saat itu gw tahu bahwa kedepannya tantangan yang gw hadapi pasti akan berat.

Ternyata jauh lebih berat, hiks.

Gw merasa bersalah banget karena gw meninggalkan tanggung jawab gw sebagai ketua seminar GSC (Maaf ya guys, sampe sekarang gw suka ngerasa ga enak kalo nginget2 hal ini), tapi untungnya temen seangkatan gw cukup mengerti. Saat itu banyak yang bilang gw egois, maunya cari enak sendiri. Percaya deh, yang ngejalaninnya ga enak banget.

Setelah menjalani kuliah Karang Sambung, gw hanya punya dua minggu untuk persiapan mapping di Kalimantan (itu juga kepotong bikin laporan kulap). Saat itu gw hanya bisa membuat peta secara manual, gw sama sekali ga bisa pake software apapun. Sebenernya agak males minta bantuan pacar gw saat itu buat dibikinin peta kontur pake global mapper dan autocad (entah apa yang ada di pikirannya, dia mensupport gw setengah hati), tapi ya mau gimana lagi. Belum lagi persiapan ini itu yang harus dibawa kesana. Sisa-sisa cape kulap Karang Sambung + kurang tidur gara2 siap2 = CAPE BANGET.

Akhirnya gw jadi juga ke Borneo. Sendirian. Supir kantor yang mensponsori gw saat itu hanya mengantar gw sampai selasar depan gerbang bandara penerbangan domestik. Membawa koper dan tas yang gede-gede untuk naik pesawat pertama kalinya, gw ngerasa kesepian yang paling sepi walaupun Bandara Soetta saat itu ramai orang lalu-lalang (*sigh). Untung gw ga dikira anak ilang

Puji Tuhan, sebulan di tanah Borneo dijalani dengan menyenangkan (perjalanan gw bisa dilihat di postingan sebelumnya di sini). Meskipun ga ada temen, apalagi pacar, gw ditemani oleh para geologis yang sangat baik (Bang Samson, Mas Ricky, Mas Insan, Bang John, Mas Arif, sama satu lagi gw lupa namanya siapa, haha), pembimbing lapangan yang baik (Pak Amar), juga driver dan helper yang siaga menjaga gw. Sebulan di lapangan tidak terasa, rasanya seperti putri yang dilayani kanan kiri.

Tetapi setibanya gw di Bandung, banyak kenyataan pahit yang harus dihadapi. Data lapangan yang gw bawa jauh2 dari Kalimantan ke Bandung nggak gw olah2 selama satu semester karena gw ga menguasai software kebumian sama sekali. Gw terlalu takut untuk memulai, di pikiran gw tugas akhir ini rumit dan mengerikan banget (emang iya sih, hahaha). Minta diajarin pacar gw saat itu dianya ga mau. Minta tolong ke temen seangkatan pada belum bisa. Mau minta tolong senior malah di “cie-ciein”—antara muji ato sebel karena adik kelas mereka yang satu ini sok-sokan banget mau buru-buru lulus. Akhirnya gw jadi buronan dosen pembimbing gw, beliau mencari gw kemana2 lewat temen2 gw.  Rasanya sendiri banget.

Di semester 8 akhirnya gw memulai tugas akhir gw, di tengah badai rintangan yang semakin kencang. Saat itu nyokap gw sakit keras, gw putus sama pacar gw, temen-temen gw pada ke lapangan. Rasanya kesendirian saat itu semakin menggigit. Gw seringkali harus begadang sendirian di lab. Palinologi yang kelam, karena gw ga sanggup buat bayar kosan. Belum lagi kedinginan waktu preparasi sampel malem-malem. Gw harus muka badak tanya ke senior gw sana-sini, lantang-luntung sendirian, untuk diskusi tentang lapangan gw atau teknis software. Ditambah lagi gw menginterpretasi fosil pollen dan spora sendirian karena ga ada satupun senior yang ada di lab—bahkan gw harus ke Jakarta untuk bertanya sama mba Anna di Lemigas tentang teknis untuk membuat Diagram Palinologi. Gw inget waktu itu laptop gw sempet crush dan harus direparasi, lalu gw minta tolong ke asisten di lab. GMB buat pinjem salah satu komputernya (untuk pertama kalinya gw nginep di gedung lama prodi geologi sendirian, sumpah itu serem banget!). Ga hanya laptop, printer gw pun ikutan rusak juga dan harus masukkin kertasnya satu per-satu saat ngeprint (siksa banget rasanya!). Dan hambatan yang lain-lain, yang kalau dihitung rasanya ga habis-habis. Kalau udah begitu rasanya mau nangis aja gabisa.

So far, It was the lowest point in my life.

Tetapi di kala kesesakan seperti itu gw melihat kebaikan Tuhan yang lebih dari cukup, besarnya mengalahkan segala kesulitan yang ada. My God is absolutely bigger than my problems. Semua orang yang gw mintain bantuan selalu aja dengan senang hati membantu, ga pake ribet (bagi gw itu ajaib!). Meskipun jomblo, tapi dukungan yang gw dapatkan berlimpah dari sana-sini. Ketika duit lagi cekak untuk ngeprint peta, ada aja cara Tuhan buat membantu gw secara finansial (Gw inget tiba2 ditawarin jadi pengajar olimpiade kebumian dengan gaji yang lumayan dan juga dikasi duit dari LIPI dengan cuma-cuma gara2 nama gw disertakan dalam penelitian tertentu, padahal gw ga kerja apa2!). Dan ketika akhirnya gw lulus kolokium dan sidang dengan nilai A, gw melihat semuanya bisa selesai secara ajaib. Bukan karena kekuatan gw, tapi oleh karena Dia yang menolong gw dengan lengan-lengan-Nya yang kekal. How great You are, Lord. *speechless

Betapa gw amat-sangat bersyukur. Saking gw berlimpah rasa syukur, gw membuat lembar ucapan terimakasih di buku skripsi gw sebanyak empat lembar! Haha. Silakan dibaca 🙂

1

2

3

4

Pengalaman gw mengerjakan tugas akhir ini sungguh mengajarkan gw untuk mengandalkan Tuhan. Seberat, semenyakitkan, semenyedihkan apapun itu masalahnya, Tuhan selalu menopang gw. Dia ga membiarkan gw sampai tergeletak, tangan-Nya selalu memegang dan menuntun gw. Berharap kepada manusia pasti sedikit banyak akan mengecewakan, tetapi tidak dengan mengandalkan Tuhan. Dia selalu ada untuk gw. Selalu.

Selain itu pengalaman mengerjakan Tugas Akhir ini dipakai Tuhan untuk membentuk gw menjadi pribadi yang Ia kehendaki—yang jelas menjadi pribadi yang jauh lebih kuat.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” -Roma 8 : 28

Tugas akhir ini mengingatkan gw akan kebesaran Tuhan, bukan kebesaran gw. Gw mengerjakan Tugas Akhir ini dengan penuh passion, mengerjakannya seolah-olah ini adalah masterpiece gw. Gw mengerjakannya sesungguh-sungguh mungkin, sejujur mungkin, serapi mungkin, semetodis mungkin. Di pertengahan gw suka bertanya-tanya, sebenarnya apa yang gw lakukan. Tapi lagi-lagi Roh kudus menguatkan gw untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan luar biasa baik. Kalau dengan kekuatan sendiri, rasa-rasanya gw ga akan pernah sanggup. Maka  ternyata Tuhan memberi kesempatan untuk mengakhirinya tidak hanya dengan sekedar lulus kuliah, namun juga kesempatan untuk mempublikasikannya di jurnal internasional dua tahun kemudian.

Praise The Lord! 🙂

Tugas Akhir ini selalu mengingatkan gw di kala menghadapi masalah, atau ketika kesepian. Ketika Tuhan telah menolong gw di masa lalu, maka Ia pun senantiasa akan selalu menolong gw di masa-masa yang akan datang.

See you again, folks!

Travel Back In Time : Memories in Borneo

Hai readers! Do you still alive?

Post kali ini saya ingin bernostalgia tentang perjalanan saya ke Kalimantan tiga tahun yang lalu, karena rindu.

Kesempatan untuk menjejakkan kaki di Kalimantan waktu itu saya dapatkan dalam rangka kepentingan mengambil data lapangan untuk Tugas Akhir saya. Saat itu saya mengambil kuliah jurusan Geologi. Saya ingat, betapa gugupnya saya ketika mendapat kesempatan ini. Pertama, saya tidak pernah bepergian keluar Pulau Jawa. Kedua, saya terbayang-bayang oleh suasana hutan hujan tropis yang akan saya masuki nantinya untuk mengambil data. Ketiga,karena saat itu adalah kali pertama saya naik pesawat, seorang diri pula! Biarpun gugup, saya penasaran sekaligus semangat juga.

Ternyata sensasi naik pesawat itu tidak seburuk yang saya bayangkan. Betapa leganya saya waktu itu ketika akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Kedatangan saya saat itu disambut oleh sinar matahari yang sangat terik.

Bandar Udara Tjilik Riwut, Samarinda, Kalimantan Timur

Selamat Datang di Bandar Udara Tjilik Riwut, Samarinda, Kalimantan Timur

Kesan pertama saya saat melintasi Kota Palangkaraya adalah satu kata : sepi. Hal ini sangat kontras dengan Kota Bandung, tempat saya dibesarkan, dengan segala kepadatan, kesibukan dan hiruk pikuknya setiap hari. Jalanan kota ini lengang di siang hari, terkesan sangat lega dan jarang terdapat gedung tinggi. Tata Kota Palangkaraya (termasuk bandaranya) masih terbilang sederhana dan menurut saya masih butuh banyak pembaruan dalam pembangunan. Saya yakin banyak keunikan yang tersembunyi dalam kota ini, namun sayangnya saya saat itu tidak punya banyak waktu. Salah satu perusahaan batubara yang membiayai Tugas Akhir saya hanya memberikan jangka waktu yang terbatas bagi saya untuk mengambil data, dengan urut-urutan jadwal yang harus dipatuhi. Saya yakin suatu saat saya akan punya kesempatan untuk kembali menjelajahi kota ini.

2

3

Kondisi jalanan yang sepi di Palangkaraya

Untuk menuju lokasi pengambilan data, saya harus menggunakan mobil dalam waktu kurang lebih 6 jam. Ingatan saya masih merekam dengan baik akan hal-hal yang saya lihat sepanjang perjalanan. Tidak lupa saya mengambil foto untuk setiap hal yang unik yang saya temui.

Banyaknya jembatan yang saya lewati di perjalanan membuat saya terkagum-kagum memandang sungai-sungai besar dengan warna air yang cokelat dari kejauhan. Selain itu, entah kenapa saya merasa langit Pulau Kalimantan terasa jauh lebih biru dibandingkan dengan langit di Pulau Jawa, membuat saya tidak bosan untuk memandangnya terus menerus sepanjang perjalanan. Apakah mungkin karena belum tercemar polusi? Saya kurang tahu. Uniknya, saya melihat tanah di kanan kiri saya yang berwarna putih, sehingga terkesan seperti salju.

11

12

Jembatan Kalahien

8

Bukan, itu bukan salju 🙂

Jalanan sangat sepi, terkadang berpapasan dengan satu atau dua mobil. Terkadang menemui sedikit keramaian pada warung-warung di tepi jalan, yang dikunjungi oleh pengendara mobil yang hendak beristirahat. Atau terkadang juga melintasi desa kecil tempat pemukiman penduduk. Sisanya perjalanan terasa lengang sekali seperti jalan tol (hanya saja bedanya badan jalan kurang mulus), diapit oleh hutan-hutan yang masih tersisa. Saya tidak berani melihat speedometer mobil, karena sang supir membawakan mobil dengan ngebut sekali. Kebanyakan orang biasanya melintasi jalan ini di waktu siang. Perjalanan malam dirasa berbahaya oleh karena minimnya penerangan dan terlalu sepi, sehingga sulit mendapatkan bantuan jika terjadi apa-apa.

7

5

Papan jalan yang menunjukkan arah “Buntok” membuat saya lega, karena kota itu dekat dengan lokasi pengambilan data yang akan saya lakukan. Pemukiman penduduk yang lebih besar terlihat di tempat ini. Sesekali saya melihat truk pengangkut air yang menyiram badan jalan untuk mengurangi debu jalanan yang berterbangan yang bisa mengganggu kesehatan penduduk sekitar dan mengurangi jarak pandang pengguna jalan. Setelah lebih dari 6 jam, akhirnya saya sampai pada site penambangan batubara, basecamp yang akan saya tinggali selama sebulan kedepan yang berada di Kabupaten Barito Selatan

10

14

15

Pemandangan Sungai Barito, sungai terpanjang ke-2 di Kalimantan. Sungai yang sangat lebar ini banyak digunakan oleh banyak perusahaan batubara sekitar untuk mengangkut batubara dengan kapal-kapal tongkang. Banyak penduduk setempat yang memancing pada sungai ini dan mendapatkan ikan yang besar-besar!

Keesokan harinya saya diajak berkeliling area pertambangan untuk sekedar melihat-lihat. Saat itu aktivitas eksploitasi sedang berlangsung, banyak truk-truk pengangkut batubara yang hilir mudik.  Truk-truk tersebut besarnya bukan main! Di beberapa tempat terdapat stockpile, tempat untuk menimbun batubara yang sudah dikeruk dari singkapan batuan. Berikut pemandangan area pertambangan dan sekitarnya yang saya tangkap dengan kamera :

16

17

18

Stockpile batubara

19

20

Tiba saatnya bagi saya untuk mengambil data lapangan. Tempat saya mengambil data lapangan bukanlah di site pertambangan yang baru saja saya ceritakan, tetapi di hutan! Ya, begitulah tugas seorang Geologist, tangan pertama yang menjelajah suatu area yang baru demi mencari cadangan sumber daya alam yang baru, salah satunya adalah batu bara. Aktivitas eksplorasi ini tergolong eksplorasi tahap awal. Data yang saya ambil nantinya dipakai untuk membuat peta geologi, untuk memetakan persebaran batuan beserta struktur geologi yang ada pada suatu area. Peta geologi ini nantinya akan dipakai bagi kepentingan ekplorasi lanjut.

Tenang, saya tidak akan berbicara lebih jauh lagi tentang ilmu geologi, hehe. Saya akan bercerita lebih lanjut tentang apa yang saya temui di dalam hutan. Hutan yang saya masuki bersama teman-teman porter ternyata bukan hutan yang virgin, hutan ini sudah terjamah oleh tangan manusia. Selama melakukan pemetaan, terkadang saya melewati sepetak tanah hutan yang dibakar seseorang dalam upaya membuka lahan untuk ditanam menjadi perkebunan karet. Terkadang juga saya melihat ada orang yang terang-terangan menebang pohon secara sembarangan (kayu ulin yang terkenal kuat paling dicari oleh para penebang). Jujur, saya merasa miris dengan kenyataan tersebut. Namun sebenarnya kalau dipikir-pikir, saya sebagai seorang geologis pun berkontribusi dalam perusakan lingkungan. Kalau kami tidak menemukan cadangan energi dan mineral, maka aktivitas eksploitasi tidak akan terjadi. Demi kepentingan hidup orang banyak, maka kerusakan lingkungan tidak dapat dihindari. Semoga pemerintah bersama masyarakat bisa mengatasi permasalahan ini dengan baik dan tahan akan godaan suap yang membuka jalan bagi oknum-oknum nakal yang hanya memikirkan perutnya sendiri.

30

44

Pembukaan hutan untuk perkebunan karet yang baru

Terlepas dari aktivitas perusakan hutan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, saya masih melihat keindahan hutan yang tersisa. Saya bersyukur bisa melakukan pemetaan di antara pepohonan tinggi yang teduh, menyusuri sungai yang berair jernih, diiringi kicauan burung yang merdu. Saya juga beberapa kali melewati air terjun, meskipun airnya tidak terlalu deras. Terkadang sekilas saya melihat ada burung besar yang terbang, ular yang merayap, kera yang bergelantungan atau bahkan biawak! Binatang-binatang itu melintas dengan sangat cepat, bahkan saya tidak sempat untuk mengabadikannya dengan kamera. Namun saya sempat memotret beberapa jenis jamur dan tumbuhan aneh yang saya temui (akhirnya saya melihat tumbuhan Kantung Semar! Dulu saya hanya melihatnya di buku IPA, hehehe), juga beberapa jenis serangga (kaki seribu, kupu-kupu, dan semut yang berukuran besar). Sebagai orang kota yang sama sekali belum pernah masuk hutan, saya sangat mengagumi setiap hal yang ada di dalam hutan, bahkan hal yang terkecil sekalipun. Saya bersyukur bisa menghirup aroma udara di dalam hutan yang sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

21

23

24

32

Kantung Semar (Nepenthes alanta)

33

34

Semut seukuran jempol!

35

Kaki seribu sepanjang spidol whiteboard, amazing!

36

37

38

39

Kupu-kupu besar cantik yang hingga di jendela, menemani saya saat sedang mengolah data di basecamp

27

Dalam satu waktu, saya juga menemukan rumah panggung kosong yang tak berpenghuni. Rumah ini unik, terdapat unsur etnik dalam pembangunannya, khas Suku Dayak. Tentu saja saya sempatkan untuk mengambil gambar, sembari beristirahat makan siang.

Ada yang masih penasaran, apa yang sesungguhnya saya lakukan di dalam hutan? Hehe

Dalam melakukan pemetaan geologi, saya mencari sebanyak mungkin singkapan batuan dalam area tertentu. Biasanya seorang geologist akan mencari sungai, karena tingkat erosi tertinggi adalah di sungai. Jika tingkat erosi tinggi, maka lapisan tanah akan cepat tergerus dan menyingkapkan batuan yang ada di bawahnya. Singkapan yang saya temui akan saya observasi, lalu hasil observasi tersebut saya catat di buku lapangan. Setelah itu, saya melakukan pengukuran kedudukan lapisan batuan beserta struktur yang terdapat pada tubuh batuan dengan menggunakan kompas geologi. Jika ada singkapan batuan yang penting, saya ambil sampel batuannya dengan menggunakan palu geologi. Tidak lupa singkapan batuannya pun harus difoto. Nah, biasanya saya senang hati menjadi komparator dari suatu singkapan batuan alias bernarsis-ria, hehehe.

29

Saya difoto secara tidak sengaja oleh teman saya sesama geologis. Saat itu saya sedang mendeskripsi singkapan batubara yang saya duduki, sambil membiarkan kaki saya “bernapas” setelah sekian lama terendam air saat menyusuri sungai

singkapan

P1060824

31

Batubara, harta hitam terpendam Borneo

26

Menikmati bekal makan siang di tengah hutan

Tidak hanya di tepi sungai, kita juga dapat mencari singkapan batuan pada tebing yang curam dan pada puncak bukit yang tinggi, dimana tingkat erosi juga tinggi pada tempat-tempat tersebut

28

Berpose bersama pembimbing lapangan saya di atas singkapan batubara yang berkualitas tinggi

IMG_1011

Singkapan batupasir pada tebing yang nyaris 90 derajat.

Selain dari tempat-tempat yang telah disebutkan, singkapan batuan juga dapat mudah ditemui di tepi jalan. Batuan ini tersingkap akibat aktivitas manusia dalam membuka jalan. Singkapan batuan di area pertambangan juga bisa diobsevasi jika diperlukan

IMG_2044

singkapan 2

25

Suatu ketika bersama pembimbing, para geologis dan para porter. Miss u all badly 🙂

Sepulang dari lapangan saya selalu mengambil gambar langit sore. Saya selalu terkagum-kagum dengan pemandangan langit di senja hari. Foto-foto berikut tidak seutuhnya menggambarkan keindahan langit senja yang terekam dengan baik di benak saya.

40

41

43

Setelah sebulan lamanya menjelajahi hutan, tiba saatnya bagi saya untuk kembali ke kehidupan nyata saya di kota Bandung. Banyak cerita dan kesan yang saya dapatkan selama mengeksplorasi hutan hujan tropis Kalimantan, sayang saya belum punya kesempatan untuk mengeksplorasi bidang yang lain selain keadaan geologinya. Suatu saat saya pasti kembali dengan tujuan yang berbeda, untuk menyingkap sisi indah yang lain dari Borneo.

47

Finally, goodbye 🙂

48

Ga sengaja ketemu papan iklan yang ambigu di Palangkaraya 😀

Sebagai penutup yang manis pada post kali ini, saya mengedit video yang saya ambil dari dalam mobil pada saat perjalanan dari hotel menuju bandara, menghampiri pesawat yang akan membawa saya pulang ke Bandung. Video ini diambil pada saat dini hari, sekitar pukul 05.00, dimana kota masih sunyi dan penduduknya masih terlelap. Lagu Suara Awan dari Layur membawa pikiran saya bernostalgia lebih jauh lagi tentang pulau yang menakjubkan ini.

See you when I see you, Borneo!

To Be Contributor at PEDISGI 2015

Hello! Jarang-jarang nih gw ngisi rubrik geologi, haha

Akhirnya setelah sekian lama gw kembali membangkitkan minat gw dalam menulis jurnal ilmiah. Membangkitkannya agak susah sebenernya, agak sedikit dipaksa, tapi akhirnya bisa juga. Waktu bulan Februari yang lalu gw ngirim abstrak ke PEDISGI (Padjajaran Earth Dialogue : International Symposium On Geophysical Issues). Gw bikin abstrak dari hasil penelitian Tugas Akhir gw dua tahun yang lalu. Ternyata diterima. Gw akan membawakan hasil penelitian gw dengan oral presentation pada bagian Geophysical Exploration (Walaupun penelitian gw murni dari data geologi).

Berikut abstrak yang gw kirimkan :

Palaeoecology and Palaeoclimate of Tanjung Formation Deposition, Based On Palinological Data From Siung Malopot, Central Borneo

Anggritya K. D.a, Rahardjo A. T.a, Priadi B.a

a Study Program of Geology, Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandun, Indonesia, 40132

Abstract

The northern part of Barito Basin is exposed around Siung Malopot area (Central Kalimantan), showing the basement of andesite lavas and granite intrusion of Late Cretaceous age. The basement is unconformably overlied by the rocks of Tanjung Formation of Middle to Late Eocene age. Compressive phase during Miocene and Plio-Pleistocene folded and uplifted all existing rocks, made the rocks became relatively north-south structurally oriented. The exposed Tanjung Formation consists of sandstone, mudstone, siltstone with intercalation of coals and thin layers of limestone. These lithologies may represent the upper parts of Tanjung Formation.

Palynology quantitative study is an approach to identify the palaeoclimate and palaeoecology of a certain sedimentation system. Analyses from 18 samples taken from lithologies of Tanjung Formation show the presence of pollen fossils associated in Proxapertites operculatus zonation indicating the P18-P20 age intervals, or Late Eocene age. The ratio of  spore and non-spore percentage, as well as the comparison between arboreal pollen (AP) and non-arboreal pollen (NAP) show the significant change of environment from time to time during the deposition of the Tanjung Formation, also indicating the climate humidity that became more stabile to the younger ages. From 25 observed taxon in the samples, the ratio of marine versus non-marine taxon indicates the influent of sea-water influx in the sedimentation system, explaining the possible presence of thin limestone intercalations in the upper parts of Tanjung Formation.

Palynology quantitative study on Tanjung Formation indicates that the sedimentation of this formation was in backmangrove environment that tends to become more influenced by marine conditions.

Keywords : Tanjung Formation, Barito Basin, geological mapping, palynology, palaeoecology, palaeoclimatology

Gw berangkat ke sana dengan bis yang disediakan panitia dari Dipati Ukur, bertemu dengan panitia dari angkatan 2013, wow, muda banget, tapi mereka ramah-ramah kok. Berangkat seorang diri ke Jatinangor UNPAD rasanya penuh keragu-raguan dan kekhawatiran. Rasanya kaya mau ke negeri antah-berantah. Kira-kira kegalauan gw saat berangkat bisa diliat di sini.

Seminar yang ada seluruhnya bertemakan Geoscience, condong ke Geophysics. Overall, konten semua seminarnya menarik (kecuali tentang geokomputasi ya, hehehe, gw ga ngerti), mengundang pembicara dari luar negeri, bahkan ada yang dari Argentina. Tapi dari semua pembicara yang ada, gw sangat terkagum dengan satu pembicara dari kampus sendiri : Prof. Dr. Sriwidiyantoro. Cara menyampaikannya tenang dan enak banget, bahkan gw yang seorang geologist pun ngerti isi pembicarannya. Ternyata dia dekan FTTM. Sebenernya namanya pernah disebut-sebut sama Pak Bambang sih (dosen pembimbing gw), tapi gw baru nyadar kemarin. Dua jempol buat Pak Sriwidyantoro! Selain Pak Sriwidyantoro, gw juga kagum dengan Dr. Irwan Meilano, dosen ITB juga. Lulusan geodesi yang mengambil magister dan Phd di Jepang tentang Geosciece, dan sekarang dia menjadi ahli gempa di Indonesia, padahal dia bukan geologist! Woww…cara membawakannya juga enak banget, santai banget, anak muda banget, kaya Raditya Dika padahal beliau sudah berumur 40 tahun…Salut! Payah deh gw baru tau sekarang ada dosen-dosen hebat kaya begitu.

Semangat ikut seminar dari pagi sampe sore, tanpa ngantuk, bahkan pake nanya-nanya segala bikin gw sadar akan satu hal : gw rindu banget buat kuliah :(. Please Tuhan, kasih aku kesempatan buat melanjutkan sekolah lagi. Amin.

Gw presentasi oral keesokan harinya, dengan penonton yang sedikit. Tak apalah, yang penting punya pengalaman presentasi. Selesai presentasi, ada pertanyaan yang datang dari geologist juga dari UGM. Hal yang gw kagumi dari sang penanya ini adalah, dia hanya seorang ibu rumah tangga, namun haus ilmu. Mantap!

DSC_0693

Suasana di UNPAD beda dengan suasana di ITB. Bedanya, di UNPAD lebih kerasa atmosfir tanah sundanya, sedangkan di ITB ga ada etnis yang menonjol. Lucu aja ngeliat junior yang manggil “Teh” atau “Kang” dengan nada ramah.

Ada satu kejadian yang bikin gw gw sempet sedih : Seminar Kit gw ilang, padahal bukunya penuh catatan selama seminar. Tapi dengan hilangnya seminar kit itu, gw jadi bisa kenalan dengan Rexa, anak Teknik Geofisika 2009, sama Andre, anak S2 ITB Teknik Air Tanah, lumayan nambah koneksi, hehe. Selain itu, gw juga dapet gantinya berupa majalah National Geographic berjumlah empat. Wow, lumayan, Terimakasih Tuhan!

Sekian pengalaman gw menghadiri konferensi ilmiah kemarin, semoga ada konferensi-konferensi lainnya yang bisa gw hadiri. Bye!

1434026183254

Outcrop at Karangawen, Central Java

Terkadang rindu ke lapangan…
Menghirup wangi tanah dan dedaunan, terbelai oleh angin sepoi-sepoi basa
Menapaki sungai yang mengalir air deras
Mendengar kicauan burung yang bersahut-sahutan
Memandang cerahnya langit biru atau kelamnya awan mendung
Menganalisis singkapan yang misteri
Merasakan lelahnya menapakin jalanan menanjak atau menurun
Dan pada akhirnya tersenyum melihat matahari tenggelam

Adalah kombinasi sempurna yang hanya bisa dideskripsikan oleh seorang geologis,