January 2016

Another Solo Trip :Pulau Kelor, Onrust dan Cipir

Untuk kedua kalinya gw melakukan travelling sendirian. Ga jauh-jauh kok, masih dekat dari Jakarta, tepatnya ke wilayah Kepulauan Seribu. Cerita perjalanan solo trip gw  yang pertama bisa dibaca di sini. Sebenernya gw pengen melakukan solo trip ini sejak Desember 2015, namun karena satu dan lain hal akhirnya gw bisa melakukannya pada 10 Januari 2016.

Open trip yang gw ikutin ini sebenernya gabungan dari beberapa agen yang tergabung di Backpacker Indonesia. Gw pribadi mendaftar lewat agen Kili-Kili Adventure. Peserta lain ada yang dari Mahalang Wisata. Sekali-kali cobain travelling sendirian deh, ikutan open trip, lumayan dapet kenalan temen baru, syukur2 kenal sama yang ganteng *lho.

Semua peserta berumpul di pelabuhan nelayan kecil di teluk utara Jakarta yang bernama Muara Kamal. Suasananya kurang lebih sama dengan pelabuhan Muara Angke, banyak kios pedagang ikan segar. Kalo gw udah jadi ibu-ibu kayanya gw bakalan borong ikan dan udang dari sana, haha. Gw tiba disana tepat pukul 07.30 menggunakan ojek. Sambil menunggu pemberangkatan, gw menyempatkan diri untuk sarapan dan berkenalan dengan peserta lain.

IMG_20160110_080128

Pelabuhan Muara Kamal di pagi hari.

Sebenernya sempet ngerasa agak bete karena peserta dibikin nunggu selama satu jam di atas kapal karena adanya kesalahan teknis mesin kapal. Tapi ya sudahlah, dinikmatin aja (padahal sempet sewot dikit pas nanya sama nelayannya, haha, maap ya pak). Akhirnya pukul 9 kami bertolak dari pelabuhan Muara Kamal menuju Pulau Kelor. Perjalanan menuju pulau tersebut hanya setengah jam lebih, cukup dekat ternyata.

IMG_20160110_104419

Selamat datang di Pulau Kelor! Tiny but beautiful.

Pulau Kelor adalah pulau yang sangat kecil, dengan sedikit pohon pula. Kita bisa melihat seluruh tepi pulau cukup dengan berdiri di tengahnya. Namun yang membuat pulau ini unik adalah adanya bangunan bersejarah berupa benteng kecil yang dibangun dari batu bata merah, peninggalan dari zaman penjajahan Belanda. Sejarah lengkapnya baca aja sendiri di Wikipedia yee! hehe.

IMG_20160110_101527

Pemandangan di dalam benteng

DSCN0780

Mati gaya banget. Yang lain angkat tangan, gw enggak! haha

Setelah puas berfoto-foto di Pulau Kelor selama kurang lebih satu jam, kami kembali berlayar menuju Pulau Onrust. Pulau ini tiga kali lebih besar daripada Pulau Kelor dan lebih kerasa “Belandanya”. Suasana di tengah pulau agak kelam, ternyata rupanya ada kompleks kuburan orang Belanda dan juga ada pondasi bangunan yang dahulunya adalah tempat karantina haji. Hmm…bukan objek foto yang menarik, hehe. Tetapi gw senang mendapati objek sejarah di pulau ini cukup terawat dengan baik. Gw sangat menikmati suasana pulau ini dengan meminum es kelapa muda di tengah teduhnya pepohonan, ditiup angin laut sepoi-sepoi di siang hari. Mantap!

IMG_20160110_115613

IMG_20160110_123936     IMG_20160110_122607    DSCN0800

Saat itu di pulau ini ada sekumpulan fotografer professional yang sedang melakukan fotografi dengan objek beberapa model yang memakai baju bikini dengan perut selurus papan. Cukup membuat banyak cowo di antara kami menjadi betah berlama-lama di pulau ini, haha.

Sekitar pukul 13.00, kami mengunjungi destinasi terakhir, yaitu Pulau Cipir. Dibandingkan Pulau Onrust, suasana pulau ini jauh lebih kelam lagi. Hmmm…wajar saja, ternyata di tengah-tengahnya terdapat bekas bangunan rumah sakit pada waktu zaman penjajahan Belanda. Gw sempat melintas sebentar saja di tengah-tengah bangunan tak beratap itu, lalu gw berfoto-foto di tepian pulau. Pemandangan pantai nya cukup indah, kalau saja airnya jernih (maklum, konsentrasi polutan di Teluk Jakarta sangat tinggi). Sebetulnya ada jembatan peninggalan zaman Belanda yang menghubungkan pulau Onrust dan pulau Cipir, hanya saja jembatan tersebut ditutup karena terpengaruh abrasi sehingga dikhawatirkan membahayakan siapapun yang berjalan di atasnya. Tapi gw bersama Vidia dan Laila tetap saja berjalan-jalan di atas jembatan itu (dasar bandel! hehe). Pemandangannya indah banget!

IMG_20160110_133211

Jembatan penghubung Pulau Cipir – Onrust

IMG_20160110_144020

DSCN0815   DSCN0809

Cuaca saat itu cerah luar biasa, padahal masih di bulan Januari. Kepulauan Seribu sepi pengunjung berhubung kebanyakan orang memperkirakan khawatir ombak akan pasang di musim penghujan. Tapi bagi gw sangat sangat sangat menyenangkan. Cuaca yang cerah membuat pencahayaan fotografi yang sangat bagus dan memanjakan mata gw sendiri ketika menikmati pemandangan yang ada disana.  Pulau Cipir jadinya berasa pulau sendiri, hehe.

Oya, tour guide kami adalah penduduk lokal dari kepulauan seribu, namanya Ibu Ayu. Kulitnya yang gelap mencerminkan ketangguhannya dalam mencari nafkah sehari-hari di pantai atau di tengah laut. Dia bercerita, selama ini dia bertahan hidup hingga membiayai sekolah anak-anaknya dengan menjalani usaha catering untuk para wisatawan seperti kami, menyewakan perahu dan menjadi pemandu dari pulau ke pulau. Seorang ibu yang luar biasa!

IMG_20160110_145806

Ibu Ayu

Akhirnya menit-menit berlibur di Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust berakhir juga. Dalam perjalanan pulang di atas kapal, gw mengamati banyak bambu yang ditancap di tengah air (mungkin airnya cukup dangkal). Ternyata bamboo-bambu yang malang melintang itu berguna untuk budidaya kerang hijau. Hmmm…kalau kerang hijau dibudidayakan di Teluk Jakarta yang sarat polutan seperti itu, apakah kerang hijau tersebut layak untuk dikonsumsi?

DSCN0833

Kumpulan bambu, tempat budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta.

Kawanan burung putih besar yang gw lihat di Taman Mangrove (ceritanya bisa dibaca di sini), juga gw lihat di perairan Teluk Jakarta. Teruslah bertahan kawan, di tengah lingkungan yang semakin rusak.

DSCN0837

Pemandangan langka kawanan burung putih di Teluk Utara Jakarta. 

Akhirnya kami berpisah satu sama lain di Muara Kamal, kembali ke realita bahwa kami harus bekerja di keesokan harinya. Terimakasih Tuhan untuk cuaca yang baik, dan bersama teman-teman baru yang baik juga.

IMG_20160110_104916

Selfie sama temen baru, Vidia (tengah) dan Laila (kanan)

Sampai jumpa di solo trip berikutnya!

Saturday Fun Day at Taman Mangrove, PIK

Ini adalah postingan keempat gw di minggu ini, wow! Rajin amat ya nulis, ketauan banget gw lagi kurang kerjaan, hahaha. Btw, I’m in a very good mood 🙂

Kali ini gw mau cerita lagi tentang tempat baru yang gw kunjungi bersama temen-temen gw : Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Gw ke sana bersama sohib kuliah gw : Della dan Fetty pada tanggal 9 Januari 2016.

Sebenernya kami waktu itu ga ada rencana sama sekali untuk mengunjungi tempat tersebut. Bener-bener random aja gitu. Awalnya kita bertiga ketemuan di mall Grand Indonesia Jakara Pusat, niatnya hanya nongkrong2 cantik aja disana. Della udah dandan total, Fetty udah cantik banget, gw yah…udah mentok segini aja, berusaha berpakaian yang sewajar mungkin, haha. Setelah kami “update status” tentang kehidupan kehidupan kami (dicampur sama ngegosip, haha), tiba2 gw nanya,”Udah gini aja nih? Cuman disini aja?”. Lalu Della jadi ngomongin tempat yang lagi ngehits di Jakarta, namanya Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Dan berhubung di Fetty udah punya mobil sendiri, ya sudah, tanpa berpikir panjang kami langsung cabut ke PIK like a boss B)

Tiket masuk Taman Mangrove ternyata hanya Rp. 25.000,00 per orang (lumayan murah juga). Setiba di sana cuacanya kelewat cerah, bikin kami sadar kalo kami salah kostum. Untung aja gw pake sepatu kets. Yang paling kasian tuh si Della. Doi jadi susah jalan di jembatan kayu bakau lantaran pake sepatu hak tinggi. Belum lagi doi disepet sama orang yang disana “Salah kostum kali tante,” BOOM! Sabar yaa Della, hehehe.

Sebagai anak yang suka banget sama wisata alam, gw sangat menikmati Taman Mangrove. Suasananya jelas sangat asri. Biarpun cuaca panas, tapi teduh karena dedaunan bakau di sepanjang jalan setepaknya. Tapi berhubung kalo foto bagusnya di tempat yang terbuka, kami rela panas-panasan demi dapet foto selfie yang terbaik. Alhasil kulit gw gosong dengan sukses!

20160109_150746

Gw (kiri), Fetty (tengah) dan Della (kanan)

Walaupun hanya berbekal kamera HP, sebisa mungkin gw abadikan pemandangan indah di Taman Mangrove. Dedaunan yang hijau dan langit biru yang bersih adalah kombinasi sempurna untuk foto landscape. Sayang, di sudut-sudutnya masih ada aja orang Indonesia yang norak buang sampah sembarangan.

IMG_20160109_151148

IMG_20160109_153323

20160109_162905

Serasa di Kyoto!

Tidak hanya melihat-lihat muara sungai yang ditutupi tanaman bakau, gw juga sempet liat satwa yang berhabitat disana seperti burung dan biawak. Gw memandangnya dengan penuh kagum. Senang, ternyata masih ada tempat seperti ini di Jakarta yang lekat dengan pencitraan “Hutan Beton”

IMG_20160109_165858

IMG_20160109_171255

Pemandangan burung putih besar (gw gatau namanya) yang hinggap di pohon mangrove, terlihat dari menara pengamat. Kontras dengan pemandangan crane dan jembatan di belakangnya.

Itu aja cerita singkat dari gw pas pergi ke Taman Mangrove. Ayo kesini, ga bakalan nyesel deh! Wawasan kalian akan bertambah tentang ekosistem Mangrove. Jangan ke mall mulu guys, hehe.

Sampai bertemu di post selanjutnya ya! 😀

Ngopi-Ngopi Cantik Di Bandung

Halo readers! Piye kabare??

Kali ini gw mau cerita tentang momen ngopi-ngopi cantik di kafe bernuansa alam di kawasan dago pakar, Bandung (ga usah sebut nama yeee, ntar dikira promosi lagi, haha). Gw, bersama temen-temen naik gunung gw yaitu Mba Saras, Dega, Adit, Ester, dan Andre (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) berkunjung ke kafe ini pada tanggal 26 Desember 2015, tepat sehari setelah Natal. Setelah ngomongin beberapa wacana ini-itu (pernah kita ngomongin muluk-muluk mau naik Gunung Cikurai tapi ga jadi, hiks), akhirnya wacana ke natural cafe ini yang kesampean. Kita ga mau cape, suasana alamnya dapet, refreshingnya dapet, yang penting bisa makan, ngobrol, ketawa-ketawa dan foto-foto, haha. Maklum, sebagian besar dari kami bekerja di ibukota, jadi udah muak dengan suasana perkotaan dan pengen melihat yang hijau-hijau, tapi ga mau cape lantaran energi kami sudah terkuras habis di kantor.

Dasar gw dodol ga nyimak diskusi grup Whatsapp dengan baik, bayangan gw tuh kita harus hiking dulu untuk mencapai café itu. Maka gw dengan santainya pakai kaos dagadu, sepatu kets dan ransel. Dan ternyata gw salah kostum banget!! Si Ester dan Mba Saras pake baju cantik (pake dandan segala lagi), Si Adit udah kaya cover boy, si Andre pake poloshit. Sedangkan gw rambut aja lepek banget (sengaja ga keramas, kirain mau hiking). Haduuhh, kalo gagal fokus jadinya begitu kan. Untung gw ga pake baju gembel ala-ala anak lapangan gitu.

Tapi gapapa, gw tetep ikutan foto-foto cantik. Epriting is gonna bi olllrait! 😀

Kami mencapai lokasi  dengan mobil pribadi pada pukul 08.30 (padahal kafenya buka jam 9, haha, kerajinan ). Ternyata ada untungnya juga dating kepagian, soalnya kalo datengnya lewat dari jam 9 langsung masuk waiting list!

Ketika masuk ke dalam kafenya, ternyata gw baru nyadar kalau gw kangen sama suasana alam seperti itu. Udaranya sejuk, sekaligus hangat oleh sinar matahari pagi. Meja kami langsung menghadap hutan pinus di perbukitan. Wangi rerumputan yang sedap terhirup oleh hidung gw. Ditambah lagi bersama teman-teman yang seru dan sarapan yang hangat. Perfect.

DSCN0661

DSC_6563IMG_20151226_095501DSC_6597IMG-20151227-WA0012IMG_20151226_104827

Tapi menit-menit surgawi itu hanya bisa dirasakan hingga jam 10, setelah itu panasnya minta ampuunn.

DSC_6656

Dandanan udah tomboy, tapi tetep aja pake payung. Manja ga tahan panas. Dasar Kristyarin!

Oya, gw sempet juga belajar pake kamera DSLR, tutorial sebentar sama mba Saras. Hasilnya lumayan juga, terbukti dengan dipakainya hasil jepretan gw itu di profpic-nya Mba Saras dan Si Ester (parameter keberhasilan yang aneh). Berikut jepretan gw hasil tutorial singkat ga nyampe 10 menit bareng Mba Saras :

DSC_6624

DSC_6631

Segitu aja cerita gw refreshing sebentar sambal temu kangen dengan temen-temen gw di natural cafe. Semoga bisa jadi referensi buat pembaca sekalian yang pengen liburan ke Bandung namun dengan suasana yang berbeda.

See you again, readers!

 

Masih di #kamitidaktakut

Di pertengahan bulan ini, tepatnya tanggal 14 Januari 2016, Indonesia mendadak dibuat panas oleh teror bom di Jalan Thamrin, tepatnya di pos polisi depan Mall Sarinah dan di kafe Starbucks Coffee (berita selengkapnya bisa dibaca di sini). Hari ini tepat dua minggu sejak kejadian tersebut, namun rasanya orang-orang Indonesia cepat melupakan suasana teror hari itu yang cukup mencekam. Tidak heran, kelemahan rakyat Indonesia ini seringkali digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengalihkan isu.

Post gw kali ini bukan ingin menyoroti kejadian di TKP atau analisis penyebab terjadinya peledakan dan penembakan pada saat itu. Gw hanya ingin menggambarkan ketegangan yang dialami mayoritas penduduk Jakarta—bahkan Indonesia—saat teror tersebut terjadi. Saat itu gw sedang bekerja di balik meja kantor saya. Walaupun TKP cukup jauh dari kantor gw, namun konsentrasi gw cukup terganggu dengan pemberitaan yang saya baca melalui media online, melalui televisi (kolega saya langsung menyalakan TV keras-keras hingga suaranya bergaung hingga ke seluruh penjuru ruangan kantor, menambah suasana kelam saat itu), dan juga melalui grup WhatsApp dan Line.

Jujur, saat itu gw resah dan cemas sekali. Setiap menit ada saja isu yang benar maupun tidak benar beredar (kebanyakan yang beredar adalah yang tidak benar, bayangkan!). Belum lagi foto TKP dan para korban yang membuat perut gw agak mulas. Mata gw terus memantau smartphone saya, sambil berdoa.

Berikut adalah pesan yang gw kopi langsung (tanpa edit) beberapa  grup di WhatsApp dan Line, yang saat itu (bodohnya) gw percayai sebagai live report :

  • [1/14, 11:20] pedro ginanjar: Jangan ada yg keluar kantor dulu guys, ada terios hijau sama motor trail bawa2 ak 47 nembak
    [1/14, 11:21] pedro ginanjar: Nembakin pengguna jalan membabi buta
  • Hindari tmpt2 makan/minum yg merupakan franchise dr Amerika…
    Karena saat ini ada ancaman bbrp titik tmpt2 tsb sudah dipasangin bom…Stay aja di rumah, lebih baik…
  • Sdh terjadi peledakan di 5titik…
    – Sarinah
    – Pondok Indah
    – Alam Sutera
    – Palmerah
    – Kedutaan Perancis…Terjadi Baku Tembak juga…
  • Dari orang BIN: Might be like paris attack.. Jd better gak usah do any unnecessary travel utk hari ini……. Go straight home….. Lagi expecting several bom menyusul…. 7 kali ledakan soalnya dan baku tembak
  • Info pak Andi Kapolsek , hari ini ada rencana 53 titik peledakan bomb di jakarta..mohon waspada , please share to all your staff…Kapolsek pademangan
  • Kebon jeruk dan cikini baru saja ada peledakan
  • Info dr teman di kemenlu sehub dgn JAKARTA UNDER ATTACK!

Info OHSE: Bapak dan Ibu sekalian.

Mhn bisa dijalankan Instruksi ini dan disebarkan kepada pihak lain yg membutuhkan.

Hindari bepergian ke arah mall, lokasi restaurant atau caffee, lokasi hang out atau apapun saat ini juga.  Kurangi dahulu activitas bertemu dengan pihak ke 2 bak itu relasi maupun customer.

Lakukan monitoring berita dengan valid dan update. Hindari dengan sosmed dan info satu dengan lainnya yg kurang mendasar sumber nya. Ini bisa menyesatkan dan membingungkan.

Sekali lagi tetap tenang dan waspada. Jgn terpancing kepada apapun apalagi memposting, melihat dan ikut serta membantu. Cukup tenang dan jaga kondisi selalu.

Pihak kami msh terus koordinasi dengan beberapa pihak yg berhubungan dengan hal tsb.

Demikian  update nya. Thanks

  • Irjen Anton Charliyan call interview di metro nih skrg, ktnya ledakan di Slipi, Kuningan, Cikini tdk benar. Jd teroris jg melakukan teror lewat sosmed. Beware!
  • Pesan dari grup sebelah:
    Prinsip terorisme adalah “membunuh satu orang untuk menyebarkan ketakutan kepada jutaan orang.” Jangan bantu teroris dengan turut menyebarkan ketakutan dan foto korban berlebihan. Mereka ingin kita overreact dan hidup dalam ketakutan. Tetap waspada dan terus berdoa.
  • Transkrip Jokowi

di Rumah Kerang Jalan Ki Ageng Tapa, Kab. Cirebon, Jawa Barat, Kamis (14/1/2016).

Tadi kurang lebih 40 menit yang lalu. Saya mendapatkan laporan, mendapatkan informasi mengenai kejadian ledakan dan penembakan di Jalan Thamrin di Jakarta.

Kita semuanya tentu saja berduka atas jatuhnya korban dari peristiwa ini. Tapi kita semuanya juga mengecam tindakan yang mengganggu keamanan masyarakat, mengganggu ketenangan rakyat, dan menebar teror pada masyarakat.

Saya telah perintahkan pada kapolri, menkopolhukam, untuk kejar, untuk tangkap, baik yang di peristiwa maupun yang ada di jaringan2 ini.

Negara, bangsa, dan rakyat, kita, agar tidak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini. saya berharap masyarakat tetap tenang karena semuanya terkendali

  • Guys menanggapi aksi pengeboman di 6 lokasi di Jakarta. PLEASE, Jangan bikin hastag. Jangan bikin hastag. Jangan mau jadi buzzer gratisan. Ini tujuannya world attentions. NO #PRAYFORJKT.
    Makin kalian bikin, rupiah bisa 17rb.
    >Kalian semua bikin hastag.
    >Trending
    >Worldwide
    >Investor cemas Direct invest flow ditarik
    >Uang beredar naik Saving turun
    >Suku bunga naik
    >Kredit gagal bayar
    >Rupiah lemah
    >Inflasi
    >Krisis
    Jangan bikin psikologi netizen dunia rusak. Kalo mau social campaign bikin yg positif.
  • Dapat dari Teman:

Hindari mal kokas, fx, alam sutera dan palmerah
Tempat yg disebut tadi, dikonfirmasi oleh polisi.
Ancaman bom itu sdh sejak sebulan lalu
Himbauan dari rekan dari Dit.Intel Polda Metro…agar menghindari utk singgah dan mendekat ke semua tempat mkn dan minum American Branded…ada bbrp titik yg sdh dipasang bom…dan saat ini gegana sedang operasi

  • [1/14, 11:20] Fe (Nebengers): Jangan ada yg keluar kantor dulu guys, ada terios hijau sama motor trail bawa2 ak 47 nembak
    [1/14, 11:21] Fe (Nebengers): Nembakin pengguna jalan membabi buta
  • Himbauan dari rekan dari Dit.Intel Polda Metro…agar menghindari utk singgah dan mendekat ke semua tempat mkn dan minum American Branded…ada bbrp titik yg sdh dipasang bom…dan saat ini gegana sedang operasi
  • [14/01 12:02] SM Mas Suryo: ISIS sdh warning bahwa akan ada “konser” di indonesia — Anton Charliyan (kadiv humas polri)
  • [14/01 12:02] ‪+62 856-5917-5545: Palmerah confirmed bom, senayan confirmed bom, belakang dpr lapangan tembak cofirmed bom, alam sutra dibom confirmed..
  • [1/14, 11:32 AM] ‪+62 852-7153-8857: Info dr grup sebelah: Salah satu pelaku lari kearah semanggi. Masih nenteng senjata. Maka semanggi diutup. Pakai tril, infonya baju putih masih bawa senjata laras panjang.
  • [1/14, 11:36 AM] ‪+62 852-7153-8857: Info lain
    Jangan ada yg keluar kantor dulu guys, ada terios hijau sama motor trail bawa2 ak 47 nembak
    Nembakin pengguna jalan membabi buta

 

See? Kerasa ga hawa mencekam saat itu, HANYA DARI BACA GROUP CHAT.

Begonya gw, gw lebih percaya dengan setiap kata dari pesan broadcast yang menyebar dengan sangat cepat itu daripada media online yang terpercaya. Gw pikir media online lambat atau kurang update daripada pesan broadcast.

Teman-teman gw yang di Bandung bahkan juga terkena virus yang sama. Mereka bertanya tentang kabar gw, mereka mengaku kalau mereka juga sangat khawatir. Gw semakin panik waktu gw tau kalau kakak gw lagi ada di Kantor Pajak Jakarta Pusat dan dekat dengan lokasi kejadian.

Entah apakah orang lain merasakan hal yang sama dengan gw, tiba-tiba gw pengen pulang. Gw inget bokap nyokap gw dan gw jadi sangat merindukan mereka. Gw meminta mereka untuk mendoakan gw dan kakak gw. “Mama sayang ade,” balas nyokap gw begitu. Gw jadi sedih.

Jakarta dirundung mendung. Suasananya tegang dan mencekam. Akhirnya Polisi mengatakan bahwa situasi sudah terkendali dan pelaku sudah ditangkap. Tegang berganti rileks, lalu lemas. What a day!

Setelah tahu kenyataannya bahwa ledakan hanya terjadi di sekitar Mall Sarinah, mendadak gw merasa konyol dan bodoh sekali. Kok bisa-bisanya gw percaya broadcast yang menyerbu group chat seperti virus dan gw mempercayainya tanpa menyaringnya sama sekali? Dasar teroris k*mpr*t!!!

Tetapi saat itu gw bersyukur dengan perasaan lega yang terkira. Sebenarnya weekend minggu ini gw berencana untuk ke Thamrin City untuk berbelanja sama temen gw. Bersyukur teror tersebut tidak terjadi di kala weekend. Tuhan, Engkau sungguh baik!

Tidak hanya gw, rakyat Indonesia pun merasakan kelegaan yang sama ketika situasi sudah terkendali. Maka selanjutnya, pemberitaan yang menegangkan berganti dengan lelucon yang konyol. Inilah orang Indonesia, situasi apapun bisa dijadikan bahan untuk melucu. Dan pada dasarnya orang Indonesia itu susah untuk serius dalam waktu yang lama, kadang bercandaannya kelewatan. Beberapa lawakan yang gw salin dari group chat, beserta beberapa meme (kok bisa yang kepikiran? Haha)

  • Yang lucu :
    Ini bukan hoax ..
    Bagi teman teman yg bekerja dihimbau untuk tidak keluar kantor dulu…kecuali sudah pasti diterima di kantor lain..
  • Dari group sebelah : Jangan ke mall dulu ya semuanya, karena sekarang apapun bisa dibeli online di www.lazada.co.id
  • Himbauan :

Agar menghindari tempat mkn dan minum American Branded…di sarankan mendekat ke rumah makan padang setempat

Ttd
RM Sederhana

  • Manteman hati-hati di jalan yaa. Barusan banget aku keluar dari rumah. Tetiba ada yang ngancem pake gunting. Alhamdulilah aku sigap kasih batu. Kalau aku kasih kertas pasti menang.
  • Barusan dapet info dari temen, di daerah bandara Soekarno-Hatta juga ada penembakan.Tapi si ceweknya nolak dengan tegas dan pergi meninggalkan si pria.

Belum lagi dengan meme-meme yang ada :

IMG-20160114-WA0016

IMG-20160114-WA0017

 

Yah itulah orang Indonesia. Situasi apapun bisa dijadikan objek untuk melucu. Ohhh…I love Indonesia!

Setelah ketegangan sepanjang siang hari itu, gw merenung. Teroris itu berhasil membuat rakyat panik, cemas, takut dan resah saat itu, dengan menyebarkan isu yang tidak benar melalui sosmed. Namun gw, bersama jutaan rakyat Indonesia yang lain, tidak akan merasa takut untuk seterusnya. Kami tidak takut dengan kalian, hai teroris. Apapun yang kalian lakukan, kalian tidak akan berhasil membuat kami terpecah belah!

Maka selanjutnya, gw teringat dengan lagu Pandji Pragiwaksono yang berjudul “Kami Tidak Takut,”. Mendengar lagu itu, keberanian gw menjadi terbangun. Lagunya bisa didengerin di sini

Keep praying for our country guys! God bless us!

My Masterpiece = God’s Grace

Hello guys! This is my first post in 2016, yuhuuu!

Tadi siang gw baru dapet email dari Pak Yudi Rosandi, M.Si. Beliau selaku ketua PEDISGI 2015 (baca pengalaman gw jadi kontributor PEDISGI 2015 di sini), mengabarkan bahwa paper gw berhasil dipublish di IOP Conference Series : Earth and Environmental Science. Entah kenapa gw seneng banget paper gw ini bisa dipublikasikan di jurnal internasional seperti IOP. Mungkin karena untuk pertama kalinya gw bisa mempublikasikan hasil penelitian gw, rasanya ternyata sangat menyenangkan. Bangga. Saking senengnya, gw post di Path (padahal gw jarang2 norak kaya gitu, ga gw banget deh, haha). Rasanya seperti menutup lembaran perjuangan Tugas Akhir gw dua tahun lalu dengan sangat manis. Terimakasih Tuhan 🙂

Link paper gw bisa didownload di sini

Tugas Akhir gw selalu membuat gw teringat sama kasih Tuhan yang luar biasa di saat gw susah. Mari kita bernostalgia kembali pada waktu gw memulai Tugas Akhir yang perjuangannya cukup membuat gw “berdarah-darah” waktu itu.

Semuanya berawal dari perkenalan gw dengan Pak Tjipto pada awal tahun 2012, seorang dosen senior di Prodi Teknik Geologi ITB yang sebenarnya sudah pensiun, namun saat itu masih dikaryakan karena belum ada dosen pengganti mata kuliah Palinologi. Gw cuman tau sepintas aja kalo Palinologi itu mempelajari fosil spora dan serbuk sari. Titik. Gw ga punya pikiran kalau gw akan mendalami ilmu tersebut.

Waktu itu gw berkenalan dengan beliau karena gw ambil matakuliah mikropaleontologi lanjut. Saat itu gw lagi seneng banget sama fosil foraminifera, gw merasa gw cemerlang di antara temen seangkatan gw karena bisa mendeterminasi fosil foraminifera dengan baik. Lalu perkenalan dengan Pak Tjipto berlanjut seiring dengan seringnya gw nongkrong di lab. palinologi bersama anak-anak unsud (mba Anna, mba Ani, Prabu), Mika dan Mba Anggi. Sering banget gw nitip barang disana hingga menumpuk saking gw menganggap lab itu sebagai rumah kedua gw). Nongkrongnya bukan sembarang nongkrong lhoo…gw jadi asisten praktikum saat itu, jadi ada pembicaraan yang berbobot lah di lab, haha. Seringkali Pak Tjipto mentraktir kami makan di tempat mahal (anugrah banget buat mahasiswa!). Hingga akhirnya gw menganggap rekan-rekan gw di lab palinologi, juga Pak Tjipto, adalah keluarga.

Hingga suatu saat di pertengahan semester 6 saat itu (sebelum gw kuliah lapangan Karang Sambung), Pak Tjipto menawarkan gw ide gila : untuk memulai Tugas Akhir secepatnya. Ada perusahaan batu bara yang bersedia mensponsori dan beliau menawarkan diri sebagai dosen pembimbing gw. Gw kaget setengah mati. Ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba gw dapet rejeki nomplok. Tapi jangan salah, saat itu gw bingung juga, ga kebayang ngerjain tugas akhir tuh kaya gimana. Gw tipe mahasiswa yang santai, IP biasa aja, menikmati setiap detik kehidupan di kampus, tiba-tiba disuruh ngebut lulus. Selain itu, gw saat itu pun punya prioritas lain, yaitu menjadi ketua seminar GSC (program besar himpunan). Setelah gw berkonsultasi dengan nyokap gw, akhirnya gw mengambil keputusan untuk mengambil kesempatan tugas akhir, karena kesempatan ga akan datang dua kali, lagipula duit darimana juga untuk melakukan tugas akhir mandiri. Saat itu gw tahu bahwa kedepannya tantangan yang gw hadapi pasti akan berat.

Ternyata jauh lebih berat, hiks.

Gw merasa bersalah banget karena gw meninggalkan tanggung jawab gw sebagai ketua seminar GSC (Maaf ya guys, sampe sekarang gw suka ngerasa ga enak kalo nginget2 hal ini), tapi untungnya temen seangkatan gw cukup mengerti. Saat itu banyak yang bilang gw egois, maunya cari enak sendiri. Percaya deh, yang ngejalaninnya ga enak banget.

Setelah menjalani kuliah Karang Sambung, gw hanya punya dua minggu untuk persiapan mapping di Kalimantan (itu juga kepotong bikin laporan kulap). Saat itu gw hanya bisa membuat peta secara manual, gw sama sekali ga bisa pake software apapun. Sebenernya agak males minta bantuan pacar gw saat itu buat dibikinin peta kontur pake global mapper dan autocad (entah apa yang ada di pikirannya, dia mensupport gw setengah hati), tapi ya mau gimana lagi. Belum lagi persiapan ini itu yang harus dibawa kesana. Sisa-sisa cape kulap Karang Sambung + kurang tidur gara2 siap2 = CAPE BANGET.

Akhirnya gw jadi juga ke Borneo. Sendirian. Supir kantor yang mensponsori gw saat itu hanya mengantar gw sampai selasar depan gerbang bandara penerbangan domestik. Membawa koper dan tas yang gede-gede untuk naik pesawat pertama kalinya, gw ngerasa kesepian yang paling sepi walaupun Bandara Soetta saat itu ramai orang lalu-lalang (*sigh). Untung gw ga dikira anak ilang

Puji Tuhan, sebulan di tanah Borneo dijalani dengan menyenangkan (perjalanan gw bisa dilihat di postingan sebelumnya di sini). Meskipun ga ada temen, apalagi pacar, gw ditemani oleh para geologis yang sangat baik (Bang Samson, Mas Ricky, Mas Insan, Bang John, Mas Arif, sama satu lagi gw lupa namanya siapa, haha), pembimbing lapangan yang baik (Pak Amar), juga driver dan helper yang siaga menjaga gw. Sebulan di lapangan tidak terasa, rasanya seperti putri yang dilayani kanan kiri.

Tetapi setibanya gw di Bandung, banyak kenyataan pahit yang harus dihadapi. Data lapangan yang gw bawa jauh2 dari Kalimantan ke Bandung nggak gw olah2 selama satu semester karena gw ga menguasai software kebumian sama sekali. Gw terlalu takut untuk memulai, di pikiran gw tugas akhir ini rumit dan mengerikan banget (emang iya sih, hahaha). Minta diajarin pacar gw saat itu dianya ga mau. Minta tolong ke temen seangkatan pada belum bisa. Mau minta tolong senior malah di “cie-ciein”—antara muji ato sebel karena adik kelas mereka yang satu ini sok-sokan banget mau buru-buru lulus. Akhirnya gw jadi buronan dosen pembimbing gw, beliau mencari gw kemana2 lewat temen2 gw.  Rasanya sendiri banget.

Di semester 8 akhirnya gw memulai tugas akhir gw, di tengah badai rintangan yang semakin kencang. Saat itu nyokap gw sakit keras, gw putus sama pacar gw, temen-temen gw pada ke lapangan. Rasanya kesendirian saat itu semakin menggigit. Gw seringkali harus begadang sendirian di lab. Palinologi yang kelam, karena gw ga sanggup buat bayar kosan. Belum lagi kedinginan waktu preparasi sampel malem-malem. Gw harus muka badak tanya ke senior gw sana-sini, lantang-luntung sendirian, untuk diskusi tentang lapangan gw atau teknis software. Ditambah lagi gw menginterpretasi fosil pollen dan spora sendirian karena ga ada satupun senior yang ada di lab—bahkan gw harus ke Jakarta untuk bertanya sama mba Anna di Lemigas tentang teknis untuk membuat Diagram Palinologi. Gw inget waktu itu laptop gw sempet crush dan harus direparasi, lalu gw minta tolong ke asisten di lab. GMB buat pinjem salah satu komputernya (untuk pertama kalinya gw nginep di gedung lama prodi geologi sendirian, sumpah itu serem banget!). Ga hanya laptop, printer gw pun ikutan rusak juga dan harus masukkin kertasnya satu per-satu saat ngeprint (siksa banget rasanya!). Dan hambatan yang lain-lain, yang kalau dihitung rasanya ga habis-habis. Kalau udah begitu rasanya mau nangis aja gabisa.

So far, It was the lowest point in my life.

Tetapi di kala kesesakan seperti itu gw melihat kebaikan Tuhan yang lebih dari cukup, besarnya mengalahkan segala kesulitan yang ada. My God is absolutely bigger than my problems. Semua orang yang gw mintain bantuan selalu aja dengan senang hati membantu, ga pake ribet (bagi gw itu ajaib!). Meskipun jomblo, tapi dukungan yang gw dapatkan berlimpah dari sana-sini. Ketika duit lagi cekak untuk ngeprint peta, ada aja cara Tuhan buat membantu gw secara finansial (Gw inget tiba2 ditawarin jadi pengajar olimpiade kebumian dengan gaji yang lumayan dan juga dikasi duit dari LIPI dengan cuma-cuma gara2 nama gw disertakan dalam penelitian tertentu, padahal gw ga kerja apa2!). Dan ketika akhirnya gw lulus kolokium dan sidang dengan nilai A, gw melihat semuanya bisa selesai secara ajaib. Bukan karena kekuatan gw, tapi oleh karena Dia yang menolong gw dengan lengan-lengan-Nya yang kekal. How great You are, Lord. *speechless

Betapa gw amat-sangat bersyukur. Saking gw berlimpah rasa syukur, gw membuat lembar ucapan terimakasih di buku skripsi gw sebanyak empat lembar! Haha. Silakan dibaca 🙂

1

2

3

4

Pengalaman gw mengerjakan tugas akhir ini sungguh mengajarkan gw untuk mengandalkan Tuhan. Seberat, semenyakitkan, semenyedihkan apapun itu masalahnya, Tuhan selalu menopang gw. Dia ga membiarkan gw sampai tergeletak, tangan-Nya selalu memegang dan menuntun gw. Berharap kepada manusia pasti sedikit banyak akan mengecewakan, tetapi tidak dengan mengandalkan Tuhan. Dia selalu ada untuk gw. Selalu.

Selain itu pengalaman mengerjakan Tugas Akhir ini dipakai Tuhan untuk membentuk gw menjadi pribadi yang Ia kehendaki—yang jelas menjadi pribadi yang jauh lebih kuat.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” -Roma 8 : 28

Tugas akhir ini mengingatkan gw akan kebesaran Tuhan, bukan kebesaran gw. Gw mengerjakan Tugas Akhir ini dengan penuh passion, mengerjakannya seolah-olah ini adalah masterpiece gw. Gw mengerjakannya sesungguh-sungguh mungkin, sejujur mungkin, serapi mungkin, semetodis mungkin. Di pertengahan gw suka bertanya-tanya, sebenarnya apa yang gw lakukan. Tapi lagi-lagi Roh kudus menguatkan gw untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan luar biasa baik. Kalau dengan kekuatan sendiri, rasa-rasanya gw ga akan pernah sanggup. Maka  ternyata Tuhan memberi kesempatan untuk mengakhirinya tidak hanya dengan sekedar lulus kuliah, namun juga kesempatan untuk mempublikasikannya di jurnal internasional dua tahun kemudian.

Praise The Lord! 🙂

Tugas Akhir ini selalu mengingatkan gw di kala menghadapi masalah, atau ketika kesepian. Ketika Tuhan telah menolong gw di masa lalu, maka Ia pun senantiasa akan selalu menolong gw di masa-masa yang akan datang.

See you again, folks!

Where Are You Now?

I need you (the) I need you
I need you (the) I need you
I need you, you, you, you, you, you
I need you (the) I need you
I need you (the) I need you
I need you, you, you, you, you, you
You, you, you
I need you the most

I gave you the key when the door wasn’t open, just admit it
See, I gave you faith, turned your doubt into hoping, can’t deny it
Now I’m all alone and my joys turned to moping
Tell me, where are you now that I need you?
Where are you now?
Where are you now that I need you?
Couldn’t find you anywhere
When you broke down I didn’t leave you
I was by your side
So where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?

Where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?

I gave you attention when nobody else was paying
I gave you the shirt off my back, what you saying?
To keep you warm
I showed you the game everybody else was playing, that’s for sure
And I was on my knees when nobody else was praying, oh Lord

Where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?

I need you (the) I need you
I need you (the) I need you
I need you, you, you, you, you, you
Where are you now that I need you?
I need you (the) I need you
I need you (the) I need you
I need you, you, you, you, you, you
I need you the most

Where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?
Where are you now that I need you?
I need you the most (I need you the most, I need you the most)

 

by : Jack U feat. Justin Bieber