July 2015

Five Four Second

[Verse 1: Rihanna]
I think I’ve had enough, I might get a little drunk
I say what’s on my mind, I might do a little time
Cause all of my kindness, is taken for weakness

[Hook: Rihanna]
Now I’m Four Five Seconds from wildin’
And we got three more days ’til Friday
I’m just tryna make it back home by Monday, mornin’
I swear I wish somebody would tell me
Ooh thats all I want

[Kanye West]
Woke up an optimist, sun was shining I’m positive
Then I heard you was talkin’ trash
Hold me back I’m bout’ to spaz

[Hook]
Now I’m Four Five Seconds from wildin’
And we got three more days ’til Friday
I’m just tryna make it back home by Monday, mornin’
I swear I wish somebody would tell me
Ooh thats all I want

[Bridge]
And I know that you’re up tonight
Thinkin’ how could I be so selfish
But you called bout a thousand times wondering where I been
Now I know that your up tonight
Thinkin’ how could I be so reckless
But I just can’t apologize, I hope you can understand

[Kanye West]
If I go to jail tonight, promise you’ll pay my bail
See they want to buy my pride, but that just ain’t up for sale
See all of my kindness, is taken for weakness

[Hook]
Now I’m Four Five Seconds from wildin’
And we got three more days ’til Friday
I’m just tryna make it back home by Monday, mornin’
I swear I wish somebody would tell me
Ooh thats all I want

Now I’m Four Five Seconds from wildin’
And we got three more days ’til Friday
I’m just tryna make it back home by Monday, mornin’
I swear I wish somebody would tell me
Ooh thats all I want
by : Rihanna

La La La

La la, la la la la la na na na na na,
La la na na, la la la la la na na na na na,
La la, la la la la la na na na na na,
La la na na, la la la la la na na na na na

Hush, don’t speak
When you spit your venom, keep it shut I hate it
When you hiss and preach
About your new messiah ’cause your theories catch fire

I can’t find your silver lining
I don’t mean to judge
But when you read your speech, it’s tiring
Enough is enough

I’m covering my ears like a kid
When your words mean nothing, I go la la la
I’m turning up the volume when you speak
‘Cause if my heart can’t stop it,
I’ll find a way to block it, I go
La la, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na,
I’ll find a way to block it, I go
La la na na, la la la la la na na na na na,
La la na na, la la la la la na na na na na

If our love is running out of time
I won’t count the hours, rather be a coward
When our worlds collide
I’m gonna drown you out before I lose my mind

I can’t find your silver lining
I don’t mean to judge
But when you read your speech, it’s tiring
Enough is enough

I’m covering my ears like a kid
When your words mean nothing, I go la la la
I’m turning up the volume when you speak
‘Cause if my heart can’t stop it,
I’ll find a way to block it, I go
La la, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na,
I find a way to block it, I go
La la, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na,
I find a way to block it, oh
La la, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na,
I find a way to block it, I go
La la na na, la la la la la na na na na na,
La la na na, la la la la la na na na na na,

I’m covering my ears like a kid
When your words mean nothing, I go la la la
I’m turning up the volume when you speak
‘Cause if my heart can’t stop it,
I’ll find a way to block it, I go

I’m covering my ears like a kid
When your words mean nothing, I go la la la
I’m turning up the volume when you speak
‘Cause if my heart can’t stop it,
I’ll find a way to block it, I go
La la, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na
La la na na, la la la la la na na na na na

by : Naughty Boy feat. Sam Smith

Siraman Kata

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri” – R.A. Kartini


Dua garis rel itu seperti kau dan aku

Hanya bersama-sama, tapi tak bertemu

Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan

Terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain

Begitu pula aku

Kau akan jadi kemarin

Kukenang sebagai pengantar siangku

– KERETA – Sitok Strengenge


Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri, menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka car. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri

Menikmati Akhir Pekan, M. Aan Mansyur


“Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” – Sujiwo Tedjo


Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Sia-Sia, Chairil Anwar


Jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih
sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara
sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah
lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut
“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”
demikian senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab
juga taring waktu yang runcing

kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar
dan aku hanya melukismu di tebing batu-batu
kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai
ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi petang
“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”
sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau seakan berlari
di antara ilalang dan batang-batang

sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih
meski ceritanya selalu saja tentang perih

Percintaan Hulu dan Muara, Iyut Fitra


Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan dan membuatnya berwarna-warni. Mereka memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap jadi mata air di halaman.

Orang-orang melintas membawa kendaraan. Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba tepat waktu.

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu. Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan mengenang orang-orang yang hilang.

Sudah tanggal berapa sekarang?

Menyaksikan Pagi Dari Beranda, M. Aan Mansyur


Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku akan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka
yang berusaha mendekatiku
seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku
Pulanglah ke dirimu
aku tak kemana mana

Cintamu, Mustofa Bisri

My Privat Space

Saat ini gw menulis di kamar sendiri, ditemani alunan mp3 kesayangan dan sayup-sayup adzan dari masjid sebelah. Selamat Hari Raya Lebaran bagi para pembaca sekalian! Mohon maaf lahir batin yaa!

Wait…di kamar sendiri?

Yup, hari ini gw akhirnya merasakan nikmatnya di kamar sendiri, bahkan untuk pertama kalinya sejak memiliki kamar ini. Gw punya kamar sendiri sejak kelas 1 SMP. Problem gw dari dulu adalah bingung menata kamar ini. Kamar gw tergolong sempit, jadi sulit bagi gw untuk berekspresi *cailah.

By the way, gw jadi inget tempo dulu, jaman SD sampe SMA. Kalau main ke rumah temen, gw suka iri ngeliat ukuran kamar mereka yang besar dengan ornamen dekorasi yang lucu-lucu. Kadang suka kesel sama temen yang rumahnya punya kamar banyak, tapi dia ga mau punya kamar sendiri.

Sejak memiliki kamar ini, gw berkali-kali mengganti dekorasi kamar gw. Gw sangat suka melakukannya, dengan harapan bisa membuat gw lebih nyaman untuk belajar dan “menggila” di kamar. Pada dasarnya gw adalah tipe orang yang mudah bosan untuk tinggal di suatu suasana yang sama untuk waktu yang lama. Ditambah lagi, cara belajar gw adalah visual banget, jadi tempat bekerja gw haruslah di tempat yang enak diliat. Berikut sejarah dekorasi gw waktu itu :

1. Gw sempet memasang tempat tidur tingkat di kamar gw, tempat tidur bersejarah bagi masa kecil gw dan kakak gw. Gw memasang tempat tidur ini dengan alasan kalau saudara atau teman menginap bisa ikut tidur di kamar gw. Ternyata pada kenyataannya jarang ada orang yang nginep di kamar dan tempat tidur tingkat itu menjadi sasaran empuk sarang laba-laba dan debu. Maka atas nama kesehatan, gw memutuskan melipat tempat tidur tingkat itu dan menyimpannya di gudang.

2. Gw pernah juga mencopot kerangka tempat tidur, sehingga hanya menggelar kasur kapuk gw di lantai, dengan dialasi karpet terlebih dahulu.

3. Setelah kakak gw hijrah ke Jakarta, gw mengambil kerangka tempat tidur single beserta meja dari kamarnya. Awalnya sih seneng, tapi lama-lama bosen karena kamar gw jadi sempit. Berikut fotonya yang sempet gw ambil waktu itu :

P1000060

3 Mei 2008, sempit banget ya kamar gw?

4. Mau bagaimanapun dekorasi kamarnya, pokoknya di kamar gw WAJIB hukumnya harus ada radio! Waktu jaman dulu gw paling update sama lagu-lagu yang lagi in pada zamannya. Radio langganan gw waktu itu adalah radio CBL 91.7 fm. Kadang gw suka request lagu gitu sambil titip salam buat gebetan, hihihi. Agak norak, tapi ya sudahlah. Radio ini juga yang menemani gw tertidur hingga subuh (kadang dimarahin nyokap gara-gara pemborosan listrik katanya). Bisa dibilang masa remaja gw akrab dengan radio dan gw bersyukur lagu-lagu yang nge-trend kali itu keren banget kalo dibandingin lagu-lagu jaman sekarang.

5. Ada saatnya gw gemar mengoleksi pernak-pernik dan boneka lucu untuk dipajang di kamar, ala-ala kamar cewe. Kebanyakan hiasan ini adalah souvenir kondangan atau dikasih orang atau bikin sendiri, haha (maklum, waktu itu uang jajannya pas-pasan). Tapi karena gw kesel sama debu dan sarang laba-laba yang menempel di pernak-pernik itu dan harus sering dibersihin, maka gw memutuskan untuk menyingkirkan pernak-pernik itu (yang sekarang entah dimana).

6. Ada saatnya juga gw suka bikin kliping dari majalah bekas, kertas kado dan kertas warna. Waktu itu akses internet masih terbilang mahal dan terbatas, jadi gabisa seenaknya ngambil gambar, print, lalu tempel di dinding kamar. Jadi waktu itu gw seneng banget gunting foto-foto idola, gambar-gambar unik dan quotes dari majalah untuk ditempel di kamar (atau kadang jadi sampul buku binder). Waktu itu gw ngalamin juga sengaja beli poster Linkin Park, Britney Spears dan Michael Jackson, lalu menempelkannya di tembok kamar. Pernah juga gw menulis ayat hapalan di satu kertas manila lalu ditempel (maksudnya supaya dibaca dan dihapal, tapi ternyata usaha ini gagal, haha). Yang paling konyol adalah gw menempelkan sms gebetan gw di kamar. Gw sengaja menulis ulang semua sms yang gebetan gw kirim, lalu dihias-hias, lalu ditempel. Konyol banget!

Dari SMP sampe SMA gw betah banget diem di kamar ini. Gw inget dulu gw sangat menikmati “menyendiri” di kamar ini, bahkan sampe begadang segala. Kadang suka takut tidur sendiri sih, trus pindah tidurnya ke kamar Eyang Putri gw. Tapi overall, gw dulu betah tinggal di kamar, masa remaja gw sempat dihabiskan di kamar ini. Kemudian datanglah kebiasaan “nomaden” alias pindah-pindah kamar sejak kelas 3 SMA. Waktu kelas 3 SMA mungkin karena udah terlalu suntuk belajar buat nyiapin SNMPTN, maka gw mulai pindah belajar di ruang santai keluarga, kadang di ruang tamu juga, sampai-sampai buku-buku berceceran di seluruh penjuru rumah. Waktu kuliah gw lebih banyak menghabiskan waktu di kampus, maka fungsi kamar mulai saat itu hanyalah tempat untuk tidur semata, kalaupun harus belajar di rumah gw akan belajar di ruang tamu. Kebiasaan “nomaden” ini terus berlanjut hingga lulus kuliah.

Setelah lulus kuliah, gw sempet punya kamar sendiri di rumah orang lain alias nge-kost. Lalu karena sempet sakit, gw disuruh pulang ke rumah dan sejak saat itu gw ga tidur lagi di kamar gw sendiri, melainkan tidur di kamar mama-papa (Orangtua gw pindah ke kamar Eyang). Maka sejak saat itu kamar gw beralih fungsi menjadi semacam wardrobe untuk menyimpan baju dan tas.

Selain masalah luas, sedari dulu juga gw bermasalah dengan kerapihan. Karena banyak hal yang harus dikerjakan, maka waktu itu bagi gw kerapihan kamar bukanlah prioritas. Maka sekarang pada saat ini, dimana gw merasa lebih fleksibel dalam mengatur waktu, plus punya duit sendiri, maka gw mencoba menata ulang kamar. Gw berusaha membuat suasana yang baru dan membongkar semua yang lama. Gw ingin menikmati kembali berlama-lama di kamar ini, walaupun sempit tapi semoga merangsang inspirasi baru. Dekorasi sederhana aja kok.

Berikut foto kamar gw setelah didekorasi ulang, maaf kalau resolusi fotonya kurang bagus :

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Sebagai pemanis, gw mengantungkan pengharum ruangan, yang wanginya membuat gw semakin betah di dalam kamar 🙂

Semoga di dalam kamar ini boleh tercetus karya-karya, dalam bidang sastra khususnya. Seperti Roald Dahl yang memiliki gubuknya sendiri untuk beliau berkonsentrasi ketika menulis.

Hoahm…besok gw dan sekeluarga akan berlibur ke Lembang. Semoga ada inspirasi baru sepulang gw dari sana. Gw sangat butuh berlibur saat ini. Percuma juga dipaksakan bekerja atau menulis, ga ada satupun yang berjalan ketika jenuh melanda.

Have a nice holiday, guys! Happy Eid Mubarak! 😀

Ego

Lama Wanita itu duduk disana. Memandang layar ponselnya yang terus berdering.

Hatinya ingin mengangkat panggilan itu, tetapi tangannya tidak.

Tujuh kali. Tujuh kali sang penelpon belum menyerah untuk menghubunginya. Wanita itu tetap memandang layar ponselnya dengan tatapan kosong.

Para pengunjung kafe—bahkan para pelayan—mulai menatap Sang Wanita dengan tatapan curiga, mungkin merasa terganggu dengan suara dering ponselnya. Namun Wanita itu tidak peduli. Sekarang matanya menatap ke luar jendela, mengamati orang-orang yang hilir mudik, sambil setengah berharap dering ponselnya berhenti. Setengah berharap juga seseorang yang menelepon di seberang sana tetap menghubungi.

Akhirnya suara dering itu berhenti juga. Sekarang wanita itu kembali menatap layar ponselnya yang gelap. Beban di dadanya terasa lebih berat dibandingkan tadi, entah mengapa hatinya belum juga lega. Tangannya meraih cangkir kopi dengan gemetar, lalu menyeruputnya.

Seorang laki-laki tiba-tiba saja duduk di hadapannya. Bak petir di siang bolong.

“Kenapa ga diangkat?” katanya sang lelaki pelan. Wanita itu mendadak gagu, seakan ada tali yang mencekik lehernya. Kaget bukan kepalang.

Wanita itu berusaha terlihat tenang, walaupun hatinya sama sekali tidak. Matanya enggan melihat ke arah sang lelaki. Sedangkan Lelaki itu berharap tatapannya dibalas oleh Sang Wanita. Sinar matanya sarat akan penyesalan yang mendalam.

“Untuk apa ke sini?,” tanya Wanita itu, akhirnya, setelah sekian lama hening yang panjang, “Tempat ini sangat jauh, kamu tahu darimana?”

“Kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa tadi telponnya ga diangkat?”

Wanita itu kini balas menatapnya tajam, sambil menghela nafas.

“Aku bahkan gatau kenapa belum juga membuang nomor ini, Mas, jangan tanya aku kenapa tadi aku ga ngangkat telepon kamu,”jawabnya sambil tertawa getir, “Aku udah pergi dari sebulan yang lalu. Untuk apa kamu kesini?”

“Aku kesini…yah, siapa tahu masih ada kesempatan,”

“Kesempatan apa?”

“Kesempatan untuk minta maaf sama kamu. Tapi aku tahu kok, aku ga boleh berharap banyak,”

“Coba saja kamu seperti ini waktu sebulan yang lalu, sebelum aku pergi. Di bandara,”

Kembali hening.

“Kita jalan-jalan aja yuk di luar,” kata si Wanita sambil menghela nafas panjang, mengisyaratkan lelah. Kemudian mereka berdua keluar dari kafe dan berjalan menyusuri trotoar jalan. Keduanya berjalan dalam diam, diam seribu bahasa, dalam waktu yang cukup lama. Diselimuti aura rindu namun sendu.

Kejadian seperti ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi. Akhirnya Sang Wanita memutuskan.

“Aku bisa minta tolong, Mas?” kata Wanita itu dengan langkah terhenti.

“Minta tolong apa?” dahi Pria itu mengernyit.

“Jangan hubungin aku lagi ya. Jangan berusaha temui aku lagi. Demi kebaikan kita berdua,”

Akhirnya permintaan ini terlontar juga. Sang Pria hanya bisa tertegun. Langkahnya benar-benar terhenti dan sekarang tubuhnya bersandar pada tepi jembatan. Matanya memandang pemandangan kota dari kejauhan.

“Aku tahu kamu bisa kok. Hari ini adalah terakhir kali kita ketemu ya. Setelah itu jangan cari tahu lagi aku dimana.“

Sang Pria menggangguk.

“Janji?”

“’Kan kamu tahu, dari dulu aku ngga bisa menepati janji,”

Tembok pada ujung jalan buntu masih menjulang tinggi, tak nampak ujung atasnya, tak nampak pula celah retak pada temboknya. Namun masih ada hati yang bertahan tinggal disana tanpa kepastian.

Atau mungkin hanya disanalah tempat yang paling pasti?

“Kalau begitu, jangan biarkan aku sadar ketika kamu nanti melanggar janji ya. Oke?”

http://4.bp.blogspot.com/

You Are My King

I’m forgiven because you were forsaken
I’m accepted, You were condemned
I’m alive and well
Your spirit is within me
Because you died and rose again

I’m forgiven because you were forsaken
I’m accepted, you were condemned
I’m alive and well
Your spirit is within me
Because you died and rose again

Amazing love, how can it be?
That you, my king. would die for me
Amazing love, I know it’s true
Its my joy to honor you
Amazing love how can it be?
That my king would die for me
Amazing love I know it’s true
Its my joy to honor you
In all I do
I honor you

I’m forgiven because you were forsaken
I’m accepted, you were condemned
I’m alive and well
Your spirit is within me
Because you died and rose again

Amazing love how can it be
That you, my king would die for me
Amazing love, I know its true
It’s my joy to honor you
Amazing love how can it be?
That you, my king, would die for me
Amazing love, I know its true
Its my joy to honor you
In all I do I honor you

You are my king
You are my king
Jesus, You are my king
Jesus, You are my king

Amazing love, how can it be?
That you, my king, would die for me
Amazing love, I know it’s true
Its my joy to honor you
Amazing love, how can it be?
That you, my king would die for me
Amazing love I know it’s true
Its my joy to honor you
In all I do I honor you
In all I do honor you

by : Chris Tomlin