May 2015

Stronger

People tell me to be cautious
People tell me not to lose my self control
People tell me to be flawless
People tell me not to let myself evolve

And I think I don’t really get it
I think it’s all just a peculiar game
And soon I’ll wake up and I’ll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger
I wanted to be everything for you
If I could be stronger would you believe
That I could love you like you want me to?

Love me like you want me to
Like you want me to
Love me like you want me to
Like you want me to

I held my breath every time
I tried to keep myself dry
But did I ask too much?
If I could do it again
Would you believe what I said
That I still won that rush

And I think I don’t really get it
I think it’s all just a peculiar game
And soon I’ll wake up and I’ll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger
I wanted to be everything for you
If I could be stronger would you believe
That I could love you like you want me to?

I want to be strong for you
(Love me like you want me to, like you want me to)
I want be strong for you
(Love me like you want me to)
I want be strong for you
And I can, yes I can
If only you could promise that you will try too
I’ll be there, I’ll be there

I want to be strong for you
If only you could promise that you will try too
I’ll be there, I’ll be there

I wanted to be stronger
I wanted to be everything for you
If I could be stronger would you believe
That I could love you like you want me to?

I wanted to be stronger
I wanted to be everything for you
If I could be stronger would you believe
That I could love you like you want me to?

Love me like you want me to
Like you want me to
Love me like you want me to
Like you want me to

by : Clean Bandit

Immortal

They say we are what we are
But we don’t have to be.
I’m bad behavior but I do it in the best way.
I’ll be the watcher (watcher) of the eternal flame.
I’ll be the guard dog of all your fever dreams.

Oooooooh
I am the sand in the bottom half of the hourglass (glass, glass)
Oooooooh,
I try to picture me without you but I can’t

‘Cause we could be immortals, immortals
Just not for long, for long.
And live with me forever now,
You pull the blackout curtains down
Just not for long, for long.

We could be immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals.

Sometimes the only pay-off for having any faith
Is when it’s tested again and again everyday.
I’m still comparing your past to my future.
It might be your wound but they’re my sutures.

Oooooooh
I am the sand in the bottom half of the hourglass (glass, glass)
Oooooooh,
I try to picture me without you but I can’t

‘Cause we could be immortals, immortals
Just not for long, for long.
And live with me forever now,
You pull the blackout curtains down
Just not for long, for long.

We could be immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,

Immortals,
And live with me forever now,
Pull the blackout curtains down,

We could be immortals, immortals
Just not for long, for long.
We could be immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,
Immooooooo- immortals,
(Immortals)

by : Fall Out Boy

Gone But Not

Yesterday I woke up to the news
I was very very sad to hear
My favourite show would disappear, and
Today I’m filling up with blues
Though I’m happy that her tummy’s growing
A DJ that we love is going

How’m I gonna make it from 10 through to 1?
And how’m I gonna tell her we’ll miss her a tonne?
How to tell her thanks for the records she played?
Thanks for introducing us to Lana del Rey
Thanks for the stories and all the good times
Festival tales, Kilimanjaro climbs
Thanks for all the mornings, in the Lounge we’d arrive
And sweetly you’d tell us, “No swearing, we’re live!”

Oh Fearne you made all of my mornings fly
Like the sun bursting through a cloudy sky
And you’ll be great at anything that you wanna try
Now it’s hard, but it’s time for us to say goodbye

Goodbye
Goodbye

by : Coldplay

Happy Birthday To Me

Selamat Ulang Tahun

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

by : Dewi Lestari

Terimakasih Tuhan, Engkau terus menyertaiku hingga di umur 24. Meskipun kadang menjalaninya dengan tertatih, tapi aku tahu kalau Engkau selalu ada di sampingku. Terimakasih untuk kasih-Mu yang mengalir deras di hidupku, tercurah melalui orang-orang yang ada di sekitarku 🙂

Tiramisu dari Novian :)

Tiramisu dari Novian 🙂

Dari jauh-jauh hari, sebenernya gw berdoa supaya sebisa mungkin temen-temen ga usah pada inget ulang tahun gw (facebook gw udah lama banget gw deactivate). Gw pengen semuanya berjalan serba natural aja, ga usah ada surprise yang “dipaksakan”. Tapi konyolnya, temen gw, si Ramade dan Novian malah ngucapin ulang tahun gw di hari yang salah, gara-gara si Vian salah nge-set tanggal (doi kebanyakan main Candy Crush). Haha. Disini sebenernya gw merasa  sangat lega.

IMG-20150519-WA0003IMG-20150519-WA0002Hadiah ulang tahun yang ternorak yang pernah gw dapet, dari Ramade

Malam harinya, si Ramade ngajak anak-anak satu tim project NSB (North Sumatera Basin) buat nonton, dalam rangka bersenang-senang sebelum dia pemetaan di Sumatera selama 2 bulan. Sebagai orang yang mau ulang tahun keesokan harinya, gw bukannya nraktir, malahan ditraktir. Hahaha. Terimakasih Ramade, semangat melapangnya!

IMG-20150520-WA0018

Besoknya si Karin bawain kue cheesecake harvest. Sebenernya agak terharu dia mau ngebela-belain ke Cimbuluit di siang hari yang panas. Terimakasih Karin, Della, Fetty untuk kuenya. Terimakasih untuk tidak lupa akan hari ulang tahun gw 🙂

1432103269910

Tidak terhitung ucapan selamat yang gw dapet dari teman-teman, baik itu disampaikan dari pribadi ke pribadi, atau lewat chat group.  Tahukah kalian? Ucapan ulang tahun, sesederhana apapun bentuknya, hal itu sangat berarti.

Malam harinya, waktu ulang tahun gw dihabiskan bersama keluarga tercinta. Bukan makan malam yang mewah, yang terpenting adalah rasa kekeluargaannya 🙂

Sekarang gw genap berumur 24 tahun. Umur yang masih muda kata orang, masih panjang dalam menanti masa depan. Gw terus percaya dan berharap akan tuntunan tangan Tuhan dalam masa penantian ini.

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia : semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia,” (1 Korintus 2 : 9)

Bapa t’rimakasih, Bapa t’rimakasih

Bapa di dalam surga, ku b’ri trimakasih

Amin.

1432113493777

1432113391973

N.B. : Ternyata rambut gw udah panjang banget. Gw masih merasa sayang buat potong rambut.

Ini film action tergila yang pernah gw tonton, bikin adrenalin naek. Mungkin ini film yang sanggup bikin lutut gw lemes pas keluar dari bioskop. Masih kebayang-bayang “kegilaannya” sampe keesokan harinya. Reccomended! What a movie! This will make you mad to the max!

Weekend on Mt. Papapandayan

Hai! Semoga yang baca gw doakan pada sehat semua yaa.

Seminggu terakhir ini time management gw sangat sangat buruk. Karena terlalu banyak yang gw pikirkan dan banyak yang harus gw kerjakan, mental gw malah jadi kena gitu. Kebanyakan mikir untuk memutuskan sesuatu yang besar itu bener-benar bikin otak korslet.Semacam agak stress gitu lah. Kalo gw stress biasanya pilihannya ada dua : antara badan gw minta makan terus atau tidur terus. Maka seminggu ini gw jadinya kebanyakan tidur dan kurang produktif. Bisa ditebak, maka terbengkalailah semua pekerjaan. Malah bikin nambah stress lagi.

Liburan bukanlah hal yang gw butuhkan saat ini. Gw hanya pengen semua kerjaan gw selesai, maka gw bisa tenang.

Entahlah, ada saatnya semangat gw ada di titik terendah, yang sebenernya masalahnya bersumber dari diri sendiri. Kalo pikiran gw bermasalah, efeknya terasa sangat berimbas ke fisik gw. Gw mencoba untuk berpikir positif, terus berdoa dan beriman. Di titik seperti ini biasanya seolah-olah gw ga menemukan Tuhan maunya apa, semuanya kerasa gelap aja. Pesimis, khawatir, takut, sedih, semua rasa-rasa yang ga enak jadi satu.

But I keep on praying. Because I know I only can rely on him.

Siapapun yang rela mendoakan gw, mohon sekali doanya untuk hidup gw yang lagi ga fokus ini.

Maka untuk mengusir segala kejenuhan yang ada, maka gw sekarang mencoba untuk menulis. Kembali mengingat pejalanan liburan gw dua bulan yang lalu bersama teman-teman, diiringi kebersamaan yang menghangatkan.

Akhirnya Papandayan!

Sebenernya ide naik gunung ini agak random sih. Perjalanan ke Tebing Keraton sebelumnya (ada di postingan gw sebelumnya) sepertinya belom bikin gw, Andre, Adit, sama Ester ngerasa puas. Tadinya malah pengennya ke Gunung Gede, tapi nampaknya ngga realistis, haha. Maka kami berempat bersepakat buat ke gunung yang paling dekat aja dari Bandung, dengan jalur yang konon katanya cocok untuk pemula yang tujuannya hanya untuk kemping ceria aja.

Kebetulan juga ada temen gereja yang ngajak naik Gunung Papandayan. Berhubung gw bilang kalo gw udah janji sama temen-temen dari Navigator, gw menolak. Ceritanya panjang, sampai akhirnya dua orang temen gereja gw itu (Mba Saras dan Dega) malah ikutan gabung sama anak-anak Navigator. Maka jadilah kami akan mendaki Gunung Papandayan berenam 😀

Perjalanan dimulai dari tanggal 25 April 2015, dengan melakukan koordinasi dulu sebelumnya lewat grup WhatsApp. Kami berenam kumpul di Dunkin Donut Leuwi Panjang. Gw agak heran sebenernya, karena temen-temen gw langsung nge-blend gitu aja, seolah-olah kami dari komuitas yang sama. Syukurlah.

Ada satu momen yang paling kocak. Jadi begini, waktu itu kan Mba Saras dianterin sama kakaknya, Mas Daton. Sebagai seorang penjelajah alam yang pro, dia ngeliatin barang-barang bawaan kami berenam (kami re-packing dulu sebelum berangkat), lalu langsung komentar, “Kalian mau kemping berapa bulan sih?”. Haha, gw agak malu sebenernya, katauan banget sih kalo kita-kita ini pemula :p

Hingga saat ini, kami masing-masing sudah mengeluarkan uang sekitar Rp. 40.000,00 untuk membeli keperluan kelompok.

Saat itu pukul 01.00. Setelah berdoa bersama, kami memutuskan untuk menyewa sebuah mobil carry, dengan biaya masing-masing per kepala sebesar Rp. 70.000,00. Agak mahal memang, tapi tak apalah demi alasan safety. Gw berharap bisa tidur dulu sejenak di mobil, nyimpen energi sebelum mendaki. Tapi kenyataannya gw malah ngobrol sama Mba Saras hingga mobilnya berhenti di Cisurupan, Garut.

Keluar dari dalam mobil yang hangat, kami langsung disambut udara subuh kaki Gunung Papandayan yang sangat dingin. Tapi kami tetap terus ketawa-ketiwi, kebanyakan ngetawain yang ga penting. Bener-bener deh si Andre jadi badut kita semua. Selain udara dingin, kita juga langsung ‘disambut’ mang-mang ojek dan kol buntung. Kami langsung waspada, takut ditodong sama harga yang mahal. Terakhir, kita ‘disambut’ juga sama mang-mang yang jualan batu akik. Aje gileee…pagi-pagi udah rame aja!

Huffttt…tapi ada satu masalah kecil yang mengganggu : si Adit lupa beli beras. Gara-gara ini kita harus nunggu selama dua jam nungguin pasar buka. Dan jadi mengganggu perkiraan waktu juga (tapi untung yang lain selow). Ini pelajaran sangat penting buat kita para traveller, kita harus disiplin dalam manajemen perjalanan. Liburan juga perlu kedisiplinan, demi menghemat waktu, biaya dan tenaga. Kecuali kalo kita sekaya Mark Zuckenberg yang bisa beli ini-itu, ya boleh lah kita liburan dengan gaya sesuka hati, hehe.

Sambil menunggu selama dua jam, gw mencoba tidur. Tapi karena dinginnya minta ampun, gw jadi cuman tidur-tiduran ayam aja. Ya ampun, gw ga kebayang gimana dinginnya di atas sana. Jaket tebel gw jadi berasa cuman setipis kain kaos. Pas toko sekitar buka, gw langsung beli sarung tangan (Rp. 10.000,00). Sarung tangan ini seterusnya menyelamatkan gw dari dinginnya Gunung Papandayan yang menggigit.

DSCN1947

Tidur sejenak menunggu pagi

Kami semua akhirnya naik mobil pick-up dari Cisurupan sekitar pukul 5.45, membutuhkan waktu sekitar setengah jam hingga sampai starting point untuk pendakian. Cuaca saat itu berkabut dan agak gerimis, tapi ha ini tidak menghalangi pemandangan indah Gunung Guntur dan Gunung Ciremai yang kami lihat dari atas mobil pick-up. Kami berenam ketawa-ketawa terus sepanjang perjalanan, sedangkan penumpang yang lain pada cemberut, mungkin nyawanya masih belum ngumpul di pagi hari. Untuk naik mobil pick-up, kami membayar Rp. 25.000,00. Ada tiket masuk juga sebesar Rp. 7.500,00

Hmm…sesampainya di starting point, ternyata cuaca kurang bersahabat. Entah itu hujan atau hanya kabut yang basah, tapi kondisi cuaca saat itu dirasa kurang mendukung untuk hiking. Nampaknya cuaca yang buruk ini sudah berlangsung sejak subuh, terbukti dari banyaknya pendaki yang keburu mendirikan tenda disana, menunda pendakian sementara waktu. Sebenernya disitu kami agak bersyukur tadi pagi menunggu dulu di Cisurupan, setidaknya kami sampai di starting point dalam keadaan terang walau cuaca buruk. Dan setidaknya suhu udara di Cisurupan tidak sedingin disini. Terimakasih Tuhan 🙂

Maka kami sebelum mendaki menunggu cuaca yang lebih baik di pondok kosong yang agak rusak berlabel “VOLUNTEER”. Sebenernya pondoknya agak mencrigakan, soalnya ada police line terhampar di lantai. Pernah ada apa ya disitu?

DSCN1949

Arrived at starting point

DSCN1957

Di depan pondok “VOLUNTEER”

Di dalam pondok “VOLUNTEER” gw mengamati keadaan sekitar. Ada parkiran yang penuh akan motor, kalo kata Dega udah kaya parkiran UNIKOM, haha. Tak jauh dari sana juga ada toilet yang antriannya cewenya panjang banget. Gw sebenernya agak kecewa juga melihat Gunung Papandayan yang dirasa saat itu terlalu ramai. Gw ga kebayang pasti penuh sesak sama orang di tempat camp di atas sana. Hmmm…tipe pertapa kaya gw berlibur itu butuh tempat yang sunyi, sepi, bukan ramai kaya begitu. Naik gunung sekarang ngga ekslusif lagi.

Tapi ya ambil positifnya aja deh. Berarti udah banyak orang yang mencintai keindahan alam Indonesia 🙂

Kalo mau sepi? Liburan di hari kerja. Tapi rasa-rasanya susah deh, haha.

Berhubung cuaca tidak kunjung membaik, kami memutuskan untuk mulai mendaki pkl.07.30 (menurut gw itu terlalu siang, tapi ya namanya juga kemping ceria, jadi nikmatin aja, haha). Gw memutuskan utuk tidak memakai jas hujan, karena bikin pergerakan jadi ngga leluasa. Gapapa deh basah dikit juga,

Semangat banget gw saat itu. Hap hap!

DSCF5267

Memandang bukit bekas pertambangan Sulfur

DSCF5287

Tanjakan pertama Gn. Papandayan. Lumayan juga.

Namanya juga kemping ceria, isinya beneran ketawa-ketawa melulu sama anak-anak, plus selfie per lima menit, haha. Jalur yang harusnya bisa ditempuh selama satu setengah jam hingga ke tempat camp, kali itu kami menjalaninya selama empat jam. Kebayang kan leletnya? haha

Pokonya bener-bener fun tracking deh!

DSCF5294

Yang ngeliat foto ini pasti seolah-olah bisa ngerasain dinginnya Gn. Papandayan saat itu.

Btw, gw saat itu ga bawa kamera sama sekali, karena udah ada tukang foto yang baru beli kamera mirrorless baru, Pandega Putra. Jangan bandingin hasil jepretan gw sama dia, pasti hasilnya kalah jauh. Adit juga bawa kamera pocketnya. Untuk urusan selfie, kami semua membajak hapenya Mba Saras :p

Buruknya cuaca saat itu bikin hasil foto jadi kurang maksimal. Tak apalah, yang penting ketawa maksimal terus sampe sakit perut!
DSCN1998DSCN2007

DSCF5314
DSCF5323

Sebenernya secara umum jalur pendakian ini ga terlalu sulit, sangat cocok buat pemula atau buat siapapun yang niatnya hanya having fun dan ga mau terlalu cape. Paling hanya satu tanjakan yang gw rasa paling sulit, jalurnya sangat terjal karena kami harus potong kontur (supaya perjalanan jadi lebih cepat), lumayan lah bikin paha panas. Percaya ato ngga, beberapa kali gw liat beberapa orang naik ke atas pake motor! Sumpah, gw sih kasian sama motornya, kaga rusak apa ya gitu caranya?

Ternyata motor-motor inilah yang memungkinkan semangkuk cuanki, pop mie ato indomie, plus gorengan hangat dan minuman berwarna berasa bisa sampe di perkemahan. Believe it or not, you can find it all there! Selain itu, ga disangka-sangka ada toilet juga di perkemahan. Gila!

Bisa jadi di masa depan ada orang yang bikin hotel di perkemahan papandayan, trus orang-orang ga usah cape-cape hiking karena ada fasilitas helikopter.

Dasar manusia pemalas!

Semakin mendaki ke atas, hujannya semakin deras. Gw bertahan ga pake jas hujan, soalnya ga mau ribet. Sampai di tanah lapang tempat berkemah yang bernama “Tegal Panjang”, kami langsung menentukan tempat untuk mendirikan tenda di bawah pepohonan. Bikin tenda saat itu bisa dibilang di tengah suasana agak panik, karena saat itu dinginnya minta ampun. Tangan gw sampe kebas lantaran saking dinginnya. Tanahnya yang becek juga bikin tambah repot. Dari dua tenda yang kami bikin, hanya satu yang benar-benar kokoh berdiri, yang lainnya reyot entah kenapa, padahal langkah mendirikannya sama. Suasana sempet tegang juga karena semuanya panik. Cuman Adit yang keliatan paling tenang (soalnya doi udah kaya ninja hatori, gunung lembah samudra udah dilintasi). Andre juga keliatan ceria-ceria aja, salut gw dia bisa ketawa-ketawa di saat kaya gitu.

Setelah itu kami berusaha membuat api dengan kompor parafin, kompor spiritus dan kompor gas. Gw agak berharap kompor gasnya yang nyala, tapi apa daya kompor gasnya gak mau nyala (mungkin karena saat itu kompor portablenya kebasahan). Akhirnya kami bikin mie pake kompor spiritus campur parafin. Panas yang ga merata bikin mie yang kami masak rasanya aneeehhhh (jadi nget pas diksar dulu, huhu), mana kecampur sama rasa-rasa parafin gitu, huks.

DSCN2016

Selfie + ketawa-ketawa dalam tenda = pertolongan pertama mencari kehangatan

Hari udah mau gelap, suhu udara juga semakin dingin, udah saatnya membuat api yang besar. Maka Adit dan Andre mulai bergerilya mencari kayu bakar. Sedangkan gue berinisiatif buat mencuci misting di sumber mata air terdekat.

DSCF5332

Kelakuan dua temen gue pake baju ala pantai di perkemahan yang super dingin. Sakit jiwa! Nb : Ini foto terakhir clurit gw yang disita oknum petugas yang ga bertanggung jawab, huhu

Ada dua kejadian yang ngeselin sore itu. Pertama, pas nyuci misting gw ngeliat ada pemuda-pemudi centil yang bisa-bisanya cuci muka pake sabun dan sikat gigi pake odol TANPA ngerasa bersalah. Mereka tuh tau ga sih kalo dilarang menggunakan produk detergen kalo menjelajah alam? Mencemari lingkungan tau ga! Ini bukan lagi di hotel dan bukan tempat buat ngeceng woooiii, kalo pas naek gunung mah ga usah berharap ganteng ato cantik…Dua, clurit bokap gw diambil sama oknum petugas yang ngga bertanggung jawab, karena katanya ga boleh membawa senjata tajam di wilayah Gn. Papandayan. Dan sampe detik gw menulis ini pun cluritnya raib entah dimana, huhu.

DSCF5326

Balik ke perkemahan, entah kenapa saat itu rasanya susaaahhh bgt buat api yang gede, mungkin karena lingkungannya terlalu lembap dan kayu bakarnya basah. Di saat hampir kehabisan akal, gw minta Pandega kembali mencoba menyalakan kompor gas portabelnya. Dan ternyata berhasil! Puji Tuhaannn…Kami langsung masak nasi, goreng nugget dan sosis. Kami berenam selamat dari kedinginan dan kelaparan. Tips : kalo kemping mending bawa kompor portable dengan beberapa tabung gas aja ya guys, apinya cepet nyala dan tahan angin, asal ngga basah aja. Kompor spiritus dan kompor parafin are not reccomended.

Setelah makan malam dan mengobol sesaat, kami memutuskan untuk bersiap tidur (kepala gw mulai pusing karena belum tidur di malam sebelumnya). Pssstttt…sebelum tidur gw curi-curi pipis di pohon, haha *penting banget. Supaya ga kedinginan, Gw, Ester, Mba Saras sama Dega tidur di tenda berempat, sedangkan Adit dan Andre tidur di tenda sebelah yang reyot. Maaf yaa kalo kalian kedinginan wahai cowo-cowo tangguh, hehe.

Di tengah malam gw sempet kebangun karena kedinginan samai menggigil. Si Ester juga sama. Sialnya, sleeping bag gw ketuker sama Ester dan gw ga bisa menarik tudungnya sampai kepala. Tapi gw bersyukur tenda kami berdiri di antara pohon-pohon yang berguna sebagai wind breaker, bukan di tanah lapang, jadi anginnya ga kerasa terlalu kenceng.

Akhirnya pagi datang juga. Sebenernya gw pengennya bangun subuh bareng-bareng, trus naik lagi ke tegal alun yang konon katanya ada padang bunga edelweiss. Berhubung pas gw bangun jam 5 anak-anak masih pada tidur, gw akhirnya ngantri toilet dulu buat pipis. Butuh waktu 1 jam buat antri! Anginnya dingin banget, gw dan Mba Saras  sampe menggigil dan tangan mati rasa. Pas balik lagi ke tenda, hmpftt, ternyata masih juga belom pada bangun. Bye-bye Tegal Alun 😦

Pelajaran kedisiplinan nomer dua di kala travelling selain jangan ketinggalan beras : jangan males bangun pagi. Time is diamond when travelling.

Sarapan pagi kami waktu itu cream soup dan bubur sum-sum, plus sosis goreng yang tersisa. Setelah itu kami packing untuk bersiap pulang selama 4 jam (lelet banget yak, haha). Pelajaran kedisiplinan nomer tiga di kala travelling : kudu sigap. Tapi ya sudahlah, namanya juga kemping ceria anti stress, santai kaya di pantai, selow kaya di pulow, haha.

DSCF5341

Siap-siap pulang!

DSCF5343

Siap-siap turun gunung!

Saat kami turun, kami baru menyadari ada pemandangan sangat indah di kanan kiri jalan, yang sebelumnya tertutup kabut putih. Maka tentu saja kami foto-foto dulu sesuka hati :).

Terimakasih Tuhan, mata ini masih bisa melihat keindahan cptaan-Mu yang luar biasa!

DSCF5351

Pemandangan hutan mati dari kejauhan

DSCF5362

DSCF5366

DSCF5369

DSCF5373

Kawah Gn. Papandayan yang berasap

 

DSCN2028

DSCF5401 Di depan air terjun mini


DSCF5426

DSCF5406

DSCF5471

DSCF5437

Akhirnya kami kembali ke Bandung pada hari Minggu, 26 April 2015 sekitar pukul 15.00 dari Cisurupan. Perjalanan Cisurupan-Bandung kami tempuh dengan menggunakan mobil elf seharga 35ribu saja (murah banget kan gileeee)

Demikian travel report gw dari Gn. Papandayan. Mungkin gw kembali akan melakukan trip ke Pekalongan – Semarang di bulan Agustus nanti. Doakan gw dalam menghadapi hari-hari yang super sibuk selama dua bulan kedepan yaa. Salam semangat buat kita semuanya!

Bye readers!

Hilang

Kembali lagi, diriku disini

Harapkan arti yang tak lagi bersemi

Dan kini kau beri ku celah tuk berlari

Lalui waktu yang hilang kembali
Ratapmu satu,ku takkan berhenti

Hindari semua nyata yang terjadi kini

Akui inilah hari yang kunanti

Lalui waktu yang hilang kembali

Tak lagi redup ku meragu

Letih hariku hindari bayangmu

Sepi melanda saat ku terjaga

Kan ku nikmati kesendirian ini
Kuiring kembali langkahku kini

Harapkan arti yang tak lagi bersemi

by : Homogenic

Dope

Corks off, it’s on
The party’s just begun
I promise this
Drink is my last one
I know I fucked up again
‘Cause I lost my only friend
God forgive my sins

Don’t leave me, I
Oh, I’d hate myself until I die

[Chorus:]
My heart would break without you
Might not awake without you
Been hurting low from living high for so long
I’m sorry, and I love you
Stay with me, “Bell Bottom Blue”
I’ll keep on searching for an answer ’cause I need you more than dope

[Post-Chorus:]
I need you more than dope
Need you more than dope
I need you more than dope
I need you more than dope

[Verse 2:]
Toast one last puff
And two last regrets
Three spirits and
Twelve lonely steps
Up heaven’s stairway to gold
Mine myself like coal
A mountain of his soul

Each day, I cry
Oh, I feel so low from living high

[Chorus]
[Post-Chorus]

[Outro:]
I need you more
Need you more
I need you more than dope

by : Lady Gaga