Pastime

Menunggu di Bonbin Tamansari Bandung

Apa? Nungguin di kebon binatang? Ngapain??

Hahaha…iya, kebon binatang. Tanggal 25 Maret 2016 gw mengunjungi tempat yang tepat berada di sebelah kampus tercinta gw, ITB. Sebenernya gw pengen banget maen-maen kesini waktu jaman kuliah, tapi bagi gw waktu itu tiket masuk sebesar 15ribu tuh kayanya mahaalll banget, alhasil waktu itu gw gajadi masuk deh. *sedih amat ya*

Sebenernya gw tanggal 25 Maret itu ga ada rencana kesini juga sih, random aja gitu masuk sini gara-gara kelamaan nungguin temen gw. Karena gw tau galat ketepatan waktu temen gw itu minimal 2 jam, maka dari itu gw memutuskan untuk killing time disana. Sekalian belajar fotografi juga, hehe.

Gw selalu merindukan udara pagi daerah Dago yang dingin, bonus aroma daun dan tanah basah. Gw selalu mencium ini dulu ketika jam kuliah pagi. Kebun binatang Tamansari Bandung saat itu pun seperti itu. Banyak anak-anak yang melihat-lihat binatang bersama ayah ibunya. Gw pengen banget memotret ekspresi mereka yang lucu dan polos, hanya saja gw ga ga enak hati sama orang tua mereka, nanti gw disangka oknum penculik anak lagi, hehe.

DSC_0072

Berikut objek binatang yang gw tangkap dengan kamera, dengan ilmu fotografi seadanya yang gw punya. Hope you enjoy these B)

DSC_0109

DSC_0113

DSC_0119DSC_0152DSC_0141

 

DSC_0160

 

Entah gw salah liat atau gimana, tapi entah kenapa gw merasa binatang disini kaya kurang perhatian. Badannya kurang gemuk, lesu, sebagai pengunjung gw merasa kebun binatang disini suram dan perlu pembaruan disana-sini. Misalnya, jalan setapaknya nampaknya harus diganti konblok yang baru karena sudah ditumbuhi lumut yang sangat licin, sangat bahaya untuk anak-anak, ibu hamil dan orangtua yang rawan terpeleset. Sayang sekali, padahal kebun binatang ini bisa dijadikan potensi wisata yang bagus bagi masyarakat kota Bandung.

DSC_0154

Suatu saat gw pasti akan ke kebun binatang Ragunan Jakarta, kebun binatang Gembiraloka Jogjakarta dan kebun binatang Surabaya, untuk membandingkan keadaan kebun binatang populer yang ada di negeri ini. Gw sangat berharap apa yang gw yang liat nanti sesuai dengan harapan gw, negeri ini butuh peran pemerintah dalam perawatan kebun binatang yang perkepribinatangan (yang memperhatikan nasib binatang maksudnya, ga hanya sekedar ekploitasi untuk menambah pemasukan kas pemda aja). Taman Safari jangan ditanya karena pengelolaannya oleh pihak swasta (yang tentunya hasilnya jauh lebih keren).

DSC_0128

Karena gw jalan sendirian disana (hanya ditemani kamera, jadi hanya fokus foto-foto tanpa mengobrol), gw mengelilingi area kebun binatang sekitar 2 jam. Lumayan, olahraga pagi, hehe.

Segitu dulu aja cerita gw di kebun binatang tamansari Bandung. Nantikan cerita gw di kebun binatang yang lain (di luar negeri juga, maybe? Amen!)

See you!

*All picture in this post was taken with Nikon DSLR D3200

Menikmati Indonesia

Hari ini (mumpung mood), gw merampungkan tiga blog gw sekaligus. Atau mungkin lebih, haha.

Tanggal 26 Maret 2016, gw pulang dari Bandung menggunakan kereta ekonomi. Berbeda dengan kereta kelas bisnis yang bertolak dari Stasiun Hall Bandung ke Stasiun Gambir, kereta ekonomi berangkat dari Stasiun Kiaracondong dan berakhir di Stasiun Pasar Senen. Harganya tiketnya cukup terjangkau, yaitu Rp 70.000,00.

IMG_20160327_123148

Stasiun KA Kiaracondong

Sambil menunggu keberangkatan kereta, gw duduk di ruang tunggu. Dan entah kenapa gw sangat-sangat ingin mengobrol dengan ibu-ibu paruh baya di sebelah gw. Gw lupa nama ibunya siapa, beliau bilang mau pulang kampung ke Sukoharjo. Sebenernya sang ibu ga pengen pulang kampung karena masih ingin terus bekerja di Jawa Barat, namun karena beliau terkena penyakit hepatitis B, maka dia harus pulang untuk beristirahat (sang majikan juga kurang berkenan menerima beliau untuk bekerja di rumahnya lagi). Ibu ini terkena penyakit hepatitis B gara-gara transfusi darah beberapa bulan lalu. Transfusi ini waktu itu dilakukan karena ibu ini menderita anemia yang parah sehingga pengobatannya harus dengan jalan transfusi. Majikannya kurang memperhatikan apa yang beliau makan, dan parahnya lagi ga dikasih uang makan juga.

Sedih banget ya ceritanya? Tuhan memberkatimu ya buu…dimanapun anda berada sekarang

Akhirnya gw masuk juga ke kereta untuk berangkat. Satu hal yang tidak gw suka dari kereta ekonomi : posisi kursinya permanen berhadap-hadapan. Untuunggg banget di depan gw waktu itu anak kecil. Kalau orang dewasa, cowo, trus ganteng kan salah tingkah gw, haha *apasih. Tapi overall gw merasa nyaman karena full AC. Terimakasih PT. KAI yang memperhatikan kereta kelas ekonomi.

IMG_20160327_140728

Pulas.

Pemandangan hijau dari balik jendela menyambut gw di awal perjalanan. Deretan sengkedan persawahan, perbukitan, perkebunan, sungai, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi dengan Indonesia. Walaupun saat itu gw ngantuk, walaupun gw sudah melihat pemandangan yang sama berkali-kali, gw ga rela untuk memejamkan mata, seakan takut ada pemandangan indah yang terlewat.

Sekitar dua jam kemudian, kereta berhenti sejenak di sekitar Stasiun Purwakarta. Ada tempat yang sangat unik dan menarik : tumpukan gerbong kereta api tua, entah itu kereta tahun berapa. Entah kenapa gw merasa tempat itu romantis, cocok untuk mengambil gambar dengan efek dramatis, atau efek horor kalau mau, hehe. Sayang sekali, gw ga bisa keluar dari gerbong karena pintunya dikunci, padahal gw bawa kamera DSLR.

Ada hal unik lain lagi yang gw liat dalam perjalanan : komplek perumahan dengan antena yang mencuat. Antena ini dipasang di ujung bambu yang panjang supaya bisa menangkap sinyal televisi yang lebih baik. Gw ga yakin orang-orang di luar negeri akan sekreatif itu dalam mencari sinyal televisi yang lebih baik. Orang Indonesia memang kreatif! Hehehe.

IMG_20160327_160042

Ketika kereta mendekati Stasiun Pasar Senen, gw malah melihat pemandangan yang miris. Kanan kiri kereta dipenuhi oleh pemukiman kumuh masyarakat pinggiran. Tempatnya jauh dari bersih dan gw heran mereka bisa bertahan hidup. Segera gw merekam keadaan ini dan upload di Instagram untuk melapor ke Bapak Ahok. Namun katanya wilayah ini merupakan ranahnya PT. KAI dan gubernur kurang berperan disana. Gw udah mention juga PT. KAI-nya, semoga mereka baca.

IMG_20160327_171037

Tempat tinggal kumuh di pinggir rel kereta

Dari Pasar Senen, gw kembali menggunakan kereta KRL untuk menuju kostan gw. Senja di Stasiun Manggarai ternyata indah juga.

IMG_20160327_181153

Senja di Stasiun Manggarai

Yah, beginilah pengalaman gw naik kereta ekonomi kemarin, yang bagi gw menyenangkan. Ada sensasi  tersendiri dalam melihat Indonesia dari balik kaca jendela kereta (sambil makan pop mie, mantap!). Buat kamu yang pengen sekali-kali mencoba, pesanlah tempat duduk di dekat jendela, sebelah kanan menurut arah jalannya kereta. Sampai di Jakarta pasti kamu memiliki pandangan yang baru tentang Indonesia.

Udah dulu deh ceritanya. Terimakasih sudah membaca dan melihat-lihat fotonya. Bye!

Travelling Rules

Hai readers!! Udah lama banget yaa gw ga nulis, hehe. Entahlah, gw kurang mood untuk menulis sesuatu di kamar kosan gw yang panas. Boro-boro nulis, ngurus keringet sendiri aja repot (seriusan deh keringet gw makin lama makin lebay aja, netes-netes kaya lagi sauna gitu, huhu, Jakarta keras!). Pengen ngansos di kafe, tapi pasti ada temen gw (FYI, ga mungkin bagi gw menulis di sebelah orang lain). Yah, paling memungkinkan emang nulis di kantor, tapi bawaannya mikirin kerjaan, ga mood nulis deh. Emang belom ada mental jadi penulis professional nih, apa-apa dibawa perasaan, huhu

Kali ini gw mau nulis tentang peraturan apa aja yang dibutuhkan untuk Fun Travelling. Peraturan ini muncul aja di kepala gw berdasarkan pengalaman gw bepergian bersama berbagai macam orang. Mau tau? Let’s check this out!!

  1. Jangan suka ngeluh

Seperti halnya dengan kebencian, “virus” mengeluh juga bisa menular dengan cepat loh kepada teman-teman sekitar kita. Ketika kami mengucapkan keluhan yang bikin kuping temen-temen kamu pegel (aduh cape, aduh kok gini, aduh kok gitu, kok jelek sih tempatnya, kok jorok sih, bla, bla, bla…), percaya deh, itu akan memberikan atmosfir negatif pada momen perjalanan yang sedang dilakukan. Tidak hanya dengan perkataan, muka yang mengeluh pun memberikan sumbang sih yang sama. Perjalanan selanjutnya kalau kamu mengeluh terus bakalan kerasa ga asik lagi karena yang kamu lihat sisi buruknya aja, padahal kalau dilihat lebih jeli, pasti ada sisi menariknya kok. Teman-teman sekitar kamu juga jadi males deket-deket dengan kamu kalau kita ngeluh terus karena kamu dianggep ga asik—bahkan mereka kapok untuk mengajak kamu lagi. You’re not only can smile when you’re happy, but you’re also can be happy when you’re smile, so, memang sukacita itu adalah keputusan dari dalam diri kita sendiri kok. Liat segala sesuatu dari sisi positifnya dan enjoy aja!

  1. Jangan terlalu mikirin duit.

Terkadang ngirit sama pelit beda-beda tipis. Tapi kalo apa-apa serba perhitungan di kala travelling, kamu akan kehilangan momen-momen yang menyenangkan. Ingat, hal yang kamu temui di kala travelling belum tentu akan temukan di perjalanan yang lain. Contohnya, ketika kamu menemukan makanan, cinderamata atau pertunjukkan kesenian yang unik di suatu daerah, tidak ada salahnya kalau kamu membelinya, mumpung kamu sedang berada di sana. Tapi bukan berarti boros dan tanpa perhitungan ya. Maksud gw disini adalah, hal unik yang kamu bayar dalam perjalanan adalah sebanding dengan pengeluaran yang kamu lakukan. Meskipun rasa makanannya ga enak, bahannya jelek, pemandangannya kurang bagus atau acaranya biasa aja, setidaknya harga sebuah pengalaman itu tak ternilai, sist! Kapan lagi coba??

Dan bagi gw pribadi, temen yang serba pengiritan dan perhitungan tuh ga asik banget diajak jalan-jalan. Bukan karena dia ga punya duit, justru karena dia jauh lebih kaya dari gw makanya gw jadi sebel. #cuhatmodeon #byebye #cukupsekaliajajalansamalo #kapok

  1. Lihatlah sekelilingmu.

Peraturan ini juga berlaku untuk solo traveller : berusahalah membaur dengan orang-orang sekitar kamu. Meskipun kamu lagi jalan-jalan sendirian, kamu tetep butuh makan makanan yang dibikin sama orang lain kan? Perbanyak senyum, jangan lupa ramah. Jika kamu menghargai semesta, maka semesta pun akan menghargaimu. Lebih bagus lagi kalau temanmu bertambah selama perjalanan.

Kalau lagi jalan-jalan bersama teman-teman, sebisa mungkin jaga temannya. Bukan berarti kamu act like a baby sitter, tapi ya berikan perhatian sewajarnya sebagai seorang teman, jangan egois, dan bertoleransi tinggi. Gw sendiri berpendapat kalau kepribadian seseorang akan benar-benar terlihat ketika melakukan backpacker, dimana orang itu akan keluar dari zona nyaman dan somehow ada pressure tersendiri. Namun hal itu baik untuk membentuk kepribadian seseorang sehingga menjadi pribadi yang mandiri, supel dan fleksibel. Bagi gw, itu adalah seni dalam berjalan-jalan. Jangan kaget kalau sifat asli temen kamu keluar pas lagi jalan-jalan, itu wajar. Kita harus menyikapinya dengan bertoleransi tinggi.

DSCN1960

Itu aja tips gw untuk melakukan perjalanan yang menyenangkan. Pasti perjalananmu akan indah dan menyenangkan kalau tips gw di atas dilakukan, I guarantee it. Jangan sampai pengalaman perjalananmu dirusak oleh keadaan yang kita temui di perjalanan, tapi ubahlah mindset kita untuk menemukan hal-hal yang menyenangkan di setiap hal yang kita temui. Sekali lagi, sukacita adalah keputusan dari diri kita sendiri, bukan bergantung dari apa yang kita lihat dan rasakan. #haseeekkk

Have a nice trip, folks!

 

Another Solo Trip :Pulau Kelor, Onrust dan Cipir

Untuk kedua kalinya gw melakukan travelling sendirian. Ga jauh-jauh kok, masih dekat dari Jakarta, tepatnya ke wilayah Kepulauan Seribu. Cerita perjalanan solo trip gw  yang pertama bisa dibaca di sini. Sebenernya gw pengen melakukan solo trip ini sejak Desember 2015, namun karena satu dan lain hal akhirnya gw bisa melakukannya pada 10 Januari 2016.

Open trip yang gw ikutin ini sebenernya gabungan dari beberapa agen yang tergabung di Backpacker Indonesia. Gw pribadi mendaftar lewat agen Kili-Kili Adventure. Peserta lain ada yang dari Mahalang Wisata. Sekali-kali cobain travelling sendirian deh, ikutan open trip, lumayan dapet kenalan temen baru, syukur2 kenal sama yang ganteng *lho.

Semua peserta berumpul di pelabuhan nelayan kecil di teluk utara Jakarta yang bernama Muara Kamal. Suasananya kurang lebih sama dengan pelabuhan Muara Angke, banyak kios pedagang ikan segar. Kalo gw udah jadi ibu-ibu kayanya gw bakalan borong ikan dan udang dari sana, haha. Gw tiba disana tepat pukul 07.30 menggunakan ojek. Sambil menunggu pemberangkatan, gw menyempatkan diri untuk sarapan dan berkenalan dengan peserta lain.

IMG_20160110_080128

Pelabuhan Muara Kamal di pagi hari.

Sebenernya sempet ngerasa agak bete karena peserta dibikin nunggu selama satu jam di atas kapal karena adanya kesalahan teknis mesin kapal. Tapi ya sudahlah, dinikmatin aja (padahal sempet sewot dikit pas nanya sama nelayannya, haha, maap ya pak). Akhirnya pukul 9 kami bertolak dari pelabuhan Muara Kamal menuju Pulau Kelor. Perjalanan menuju pulau tersebut hanya setengah jam lebih, cukup dekat ternyata.

IMG_20160110_104419

Selamat datang di Pulau Kelor! Tiny but beautiful.

Pulau Kelor adalah pulau yang sangat kecil, dengan sedikit pohon pula. Kita bisa melihat seluruh tepi pulau cukup dengan berdiri di tengahnya. Namun yang membuat pulau ini unik adalah adanya bangunan bersejarah berupa benteng kecil yang dibangun dari batu bata merah, peninggalan dari zaman penjajahan Belanda. Sejarah lengkapnya baca aja sendiri di Wikipedia yee! hehe.

IMG_20160110_101527

Pemandangan di dalam benteng

DSCN0780

Mati gaya banget. Yang lain angkat tangan, gw enggak! haha

Setelah puas berfoto-foto di Pulau Kelor selama kurang lebih satu jam, kami kembali berlayar menuju Pulau Onrust. Pulau ini tiga kali lebih besar daripada Pulau Kelor dan lebih kerasa “Belandanya”. Suasana di tengah pulau agak kelam, ternyata rupanya ada kompleks kuburan orang Belanda dan juga ada pondasi bangunan yang dahulunya adalah tempat karantina haji. Hmm…bukan objek foto yang menarik, hehe. Tetapi gw senang mendapati objek sejarah di pulau ini cukup terawat dengan baik. Gw sangat menikmati suasana pulau ini dengan meminum es kelapa muda di tengah teduhnya pepohonan, ditiup angin laut sepoi-sepoi di siang hari. Mantap!

IMG_20160110_115613

IMG_20160110_123936     IMG_20160110_122607    DSCN0800

Saat itu di pulau ini ada sekumpulan fotografer professional yang sedang melakukan fotografi dengan objek beberapa model yang memakai baju bikini dengan perut selurus papan. Cukup membuat banyak cowo di antara kami menjadi betah berlama-lama di pulau ini, haha.

Sekitar pukul 13.00, kami mengunjungi destinasi terakhir, yaitu Pulau Cipir. Dibandingkan Pulau Onrust, suasana pulau ini jauh lebih kelam lagi. Hmmm…wajar saja, ternyata di tengah-tengahnya terdapat bekas bangunan rumah sakit pada waktu zaman penjajahan Belanda. Gw sempat melintas sebentar saja di tengah-tengah bangunan tak beratap itu, lalu gw berfoto-foto di tepian pulau. Pemandangan pantai nya cukup indah, kalau saja airnya jernih (maklum, konsentrasi polutan di Teluk Jakarta sangat tinggi). Sebetulnya ada jembatan peninggalan zaman Belanda yang menghubungkan pulau Onrust dan pulau Cipir, hanya saja jembatan tersebut ditutup karena terpengaruh abrasi sehingga dikhawatirkan membahayakan siapapun yang berjalan di atasnya. Tapi gw bersama Vidia dan Laila tetap saja berjalan-jalan di atas jembatan itu (dasar bandel! hehe). Pemandangannya indah banget!

IMG_20160110_133211

Jembatan penghubung Pulau Cipir – Onrust

IMG_20160110_144020

DSCN0815   DSCN0809

Cuaca saat itu cerah luar biasa, padahal masih di bulan Januari. Kepulauan Seribu sepi pengunjung berhubung kebanyakan orang memperkirakan khawatir ombak akan pasang di musim penghujan. Tapi bagi gw sangat sangat sangat menyenangkan. Cuaca yang cerah membuat pencahayaan fotografi yang sangat bagus dan memanjakan mata gw sendiri ketika menikmati pemandangan yang ada disana.  Pulau Cipir jadinya berasa pulau sendiri, hehe.

Oya, tour guide kami adalah penduduk lokal dari kepulauan seribu, namanya Ibu Ayu. Kulitnya yang gelap mencerminkan ketangguhannya dalam mencari nafkah sehari-hari di pantai atau di tengah laut. Dia bercerita, selama ini dia bertahan hidup hingga membiayai sekolah anak-anaknya dengan menjalani usaha catering untuk para wisatawan seperti kami, menyewakan perahu dan menjadi pemandu dari pulau ke pulau. Seorang ibu yang luar biasa!

IMG_20160110_145806

Ibu Ayu

Akhirnya menit-menit berlibur di Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust berakhir juga. Dalam perjalanan pulang di atas kapal, gw mengamati banyak bambu yang ditancap di tengah air (mungkin airnya cukup dangkal). Ternyata bamboo-bambu yang malang melintang itu berguna untuk budidaya kerang hijau. Hmmm…kalau kerang hijau dibudidayakan di Teluk Jakarta yang sarat polutan seperti itu, apakah kerang hijau tersebut layak untuk dikonsumsi?

DSCN0833

Kumpulan bambu, tempat budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta.

Kawanan burung putih besar yang gw lihat di Taman Mangrove (ceritanya bisa dibaca di sini), juga gw lihat di perairan Teluk Jakarta. Teruslah bertahan kawan, di tengah lingkungan yang semakin rusak.

DSCN0837

Pemandangan langka kawanan burung putih di Teluk Utara Jakarta. 

Akhirnya kami berpisah satu sama lain di Muara Kamal, kembali ke realita bahwa kami harus bekerja di keesokan harinya. Terimakasih Tuhan untuk cuaca yang baik, dan bersama teman-teman baru yang baik juga.

IMG_20160110_104916

Selfie sama temen baru, Vidia (tengah) dan Laila (kanan)

Sampai jumpa di solo trip berikutnya!

Saturday Fun Day at Taman Mangrove, PIK

Ini adalah postingan keempat gw di minggu ini, wow! Rajin amat ya nulis, ketauan banget gw lagi kurang kerjaan, hahaha. Btw, I’m in a very good mood 🙂

Kali ini gw mau cerita lagi tentang tempat baru yang gw kunjungi bersama temen-temen gw : Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Gw ke sana bersama sohib kuliah gw : Della dan Fetty pada tanggal 9 Januari 2016.

Sebenernya kami waktu itu ga ada rencana sama sekali untuk mengunjungi tempat tersebut. Bener-bener random aja gitu. Awalnya kita bertiga ketemuan di mall Grand Indonesia Jakara Pusat, niatnya hanya nongkrong2 cantik aja disana. Della udah dandan total, Fetty udah cantik banget, gw yah…udah mentok segini aja, berusaha berpakaian yang sewajar mungkin, haha. Setelah kami “update status” tentang kehidupan kehidupan kami (dicampur sama ngegosip, haha), tiba2 gw nanya,”Udah gini aja nih? Cuman disini aja?”. Lalu Della jadi ngomongin tempat yang lagi ngehits di Jakarta, namanya Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Dan berhubung di Fetty udah punya mobil sendiri, ya sudah, tanpa berpikir panjang kami langsung cabut ke PIK like a boss B)

Tiket masuk Taman Mangrove ternyata hanya Rp. 25.000,00 per orang (lumayan murah juga). Setiba di sana cuacanya kelewat cerah, bikin kami sadar kalo kami salah kostum. Untung aja gw pake sepatu kets. Yang paling kasian tuh si Della. Doi jadi susah jalan di jembatan kayu bakau lantaran pake sepatu hak tinggi. Belum lagi doi disepet sama orang yang disana “Salah kostum kali tante,” BOOM! Sabar yaa Della, hehehe.

Sebagai anak yang suka banget sama wisata alam, gw sangat menikmati Taman Mangrove. Suasananya jelas sangat asri. Biarpun cuaca panas, tapi teduh karena dedaunan bakau di sepanjang jalan setepaknya. Tapi berhubung kalo foto bagusnya di tempat yang terbuka, kami rela panas-panasan demi dapet foto selfie yang terbaik. Alhasil kulit gw gosong dengan sukses!

20160109_150746

Gw (kiri), Fetty (tengah) dan Della (kanan)

Walaupun hanya berbekal kamera HP, sebisa mungkin gw abadikan pemandangan indah di Taman Mangrove. Dedaunan yang hijau dan langit biru yang bersih adalah kombinasi sempurna untuk foto landscape. Sayang, di sudut-sudutnya masih ada aja orang Indonesia yang norak buang sampah sembarangan.

IMG_20160109_151148

IMG_20160109_153323

20160109_162905

Serasa di Kyoto!

Tidak hanya melihat-lihat muara sungai yang ditutupi tanaman bakau, gw juga sempet liat satwa yang berhabitat disana seperti burung dan biawak. Gw memandangnya dengan penuh kagum. Senang, ternyata masih ada tempat seperti ini di Jakarta yang lekat dengan pencitraan “Hutan Beton”

IMG_20160109_165858

IMG_20160109_171255

Pemandangan burung putih besar (gw gatau namanya) yang hinggap di pohon mangrove, terlihat dari menara pengamat. Kontras dengan pemandangan crane dan jembatan di belakangnya.

Itu aja cerita singkat dari gw pas pergi ke Taman Mangrove. Ayo kesini, ga bakalan nyesel deh! Wawasan kalian akan bertambah tentang ekosistem Mangrove. Jangan ke mall mulu guys, hehe.

Sampai bertemu di post selanjutnya ya! 😀

Ngopi-Ngopi Cantik Di Bandung

Halo readers! Piye kabare??

Kali ini gw mau cerita tentang momen ngopi-ngopi cantik di kafe bernuansa alam di kawasan dago pakar, Bandung (ga usah sebut nama yeee, ntar dikira promosi lagi, haha). Gw, bersama temen-temen naik gunung gw yaitu Mba Saras, Dega, Adit, Ester, dan Andre (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) berkunjung ke kafe ini pada tanggal 26 Desember 2015, tepat sehari setelah Natal. Setelah ngomongin beberapa wacana ini-itu (pernah kita ngomongin muluk-muluk mau naik Gunung Cikurai tapi ga jadi, hiks), akhirnya wacana ke natural cafe ini yang kesampean. Kita ga mau cape, suasana alamnya dapet, refreshingnya dapet, yang penting bisa makan, ngobrol, ketawa-ketawa dan foto-foto, haha. Maklum, sebagian besar dari kami bekerja di ibukota, jadi udah muak dengan suasana perkotaan dan pengen melihat yang hijau-hijau, tapi ga mau cape lantaran energi kami sudah terkuras habis di kantor.

Dasar gw dodol ga nyimak diskusi grup Whatsapp dengan baik, bayangan gw tuh kita harus hiking dulu untuk mencapai café itu. Maka gw dengan santainya pakai kaos dagadu, sepatu kets dan ransel. Dan ternyata gw salah kostum banget!! Si Ester dan Mba Saras pake baju cantik (pake dandan segala lagi), Si Adit udah kaya cover boy, si Andre pake poloshit. Sedangkan gw rambut aja lepek banget (sengaja ga keramas, kirain mau hiking). Haduuhh, kalo gagal fokus jadinya begitu kan. Untung gw ga pake baju gembel ala-ala anak lapangan gitu.

Tapi gapapa, gw tetep ikutan foto-foto cantik. Epriting is gonna bi olllrait! 😀

Kami mencapai lokasi  dengan mobil pribadi pada pukul 08.30 (padahal kafenya buka jam 9, haha, kerajinan ). Ternyata ada untungnya juga dating kepagian, soalnya kalo datengnya lewat dari jam 9 langsung masuk waiting list!

Ketika masuk ke dalam kafenya, ternyata gw baru nyadar kalau gw kangen sama suasana alam seperti itu. Udaranya sejuk, sekaligus hangat oleh sinar matahari pagi. Meja kami langsung menghadap hutan pinus di perbukitan. Wangi rerumputan yang sedap terhirup oleh hidung gw. Ditambah lagi bersama teman-teman yang seru dan sarapan yang hangat. Perfect.

DSCN0661

DSC_6563IMG_20151226_095501DSC_6597IMG-20151227-WA0012IMG_20151226_104827

Tapi menit-menit surgawi itu hanya bisa dirasakan hingga jam 10, setelah itu panasnya minta ampuunn.

DSC_6656

Dandanan udah tomboy, tapi tetep aja pake payung. Manja ga tahan panas. Dasar Kristyarin!

Oya, gw sempet juga belajar pake kamera DSLR, tutorial sebentar sama mba Saras. Hasilnya lumayan juga, terbukti dengan dipakainya hasil jepretan gw itu di profpic-nya Mba Saras dan Si Ester (parameter keberhasilan yang aneh). Berikut jepretan gw hasil tutorial singkat ga nyampe 10 menit bareng Mba Saras :

DSC_6624

DSC_6631

Segitu aja cerita gw refreshing sebentar sambal temu kangen dengan temen-temen gw di natural cafe. Semoga bisa jadi referensi buat pembaca sekalian yang pengen liburan ke Bandung namun dengan suasana yang berbeda.

See you again, readers!

 

THROW ME BACK TO BORNEO, TERIOS!

Halo pembaca dari seluruh tanah air! Selamat merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke 70!

Di hari yang sangat spesial ini, saya akan membuat post yang spesial karena akan dilombakan dalam Lomba Blog Borneo Adventure. Tiga blogger terbaik akan berkesempatan menjelajahi Kalimantan bersama Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure, dengan Grand Prize berupa Macbook Pro. Hadiah yang ditawarkan sangat berarti bagi saya yang sangat menyukai jalan-jalan lintas alam dan menulis.

19-08-2015 11-56-36

Ada gairah tersendiri ketika saya hendak menulis tentang Borneo. Kalimantan memiliki tempat di hati saya sejak saya pertama mengunjungi pulau ini untuk pertama kalinya tiga tahun yang lalu di bulan Agustus. Pengalaman perjalanan tersebut (menjelajah Palangkaraya dan sekitarnya) bisa dilihat pada pada post saya sebelumnya yang berjudul Travel Back In Time : Memories In Borneo. Setelah perjalanan yang mengesankan tersebut, saya ingin sekali kembali ke pulau terbesar di Indonesia itu.

Saya sama sekali belum pernah mengunjungi tempat-tempat yang digadang-gadang akan dikunjungi selama perjalanan Terios 7 Wonders, kecuali Palangkaraya, itu pun bisa dibilang saya hanya “sekadar lewat”. Saya yakin semua tempat yang akan dikunjungi tersebut indah, menarik dan punya kesan tersendiri. Tidak sabar rasanya saya mendapat kesempatan itu, mereguk semuanya dan menuliskannya pada blog saya, untuk bercerita kepada dunia bahwa Indonesia itu indah !

Melakukan riset tentang destinasi yang akan dikunjungi dalam Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure membuat saya semakin bersemangat untuk berandai-andai tentang apa saja yang ingin saya lakukan selama mengunjungi tempat-tempat tersebut.

1. Palangkaraya

Destinasi pertama pada perjalanan ini akan mengunjungi kota terbesar di Indonesia : Palangkaraya. Banyak wacana yang timbul untuk memindahkan ibukota negara Indonesia ke Palangkaraya, bahkan wacana ini adalah mimpi Presiden Soekarno sejak 1950. Secara geologi, Palangkaraya aman untuk dijadikan ibukota negara, karena wilayah Kalimantan yang berada pada kerak benua yang stabil, sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi gempa bumi dan jauh gunung berapi. Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah ini juga sangat luas, sehingga diperkirakan mampu menampung pertumbuhan penduduk yang tak terkendali di ibukota. Letaknya pun strategis karena terletak di tengah-tengah negara Indonesia.

Saya baru mengetahui ada tempat konservasi orang-utan di dekat Palangkaraya. Tempat konservasi ini terletak di Arboretum Nyaru Menteng, yang katanya dapat dicapai sekitar 30 km dari kota Palangkaraya. Tempat konservasi ini bertujuan untuk menyelamatkan orangutan dan translokasi, perawatan dan pelayanan kesehatan, rehabilitasi dan reintroduksi (orangutan.or.id).  Tempat ini menitik beratkan sebagai tempat reintroduksi –pelepasan dan adaptasi dengan alam liar bagi orangutan.  Selama ini saya hanya melihat orangutan secara langsung di kebun binatang dengan tujuan hanya murni untuk berwisata dan melihat-lihat. Sangat meyenangkan rasanya jika saya diajak serta untuk mengunjungi tempat konservasi orangutan, melihat fasilitas pada tempat konservasi, turut praktek langsung  akan semua proses yang ada di dalamnya, dan kalau boleh saya ingin memegang orangutan secara langsung (mungkin agak sedikit ngeri, tapi patut untuk dicoba setidaknya sekali seumur hidup).

Mengunjungi tempat penyelamatan dan pelestarian orangutan seperti ini sangat penting untuk mengedukasi kita semua, termasuk saya, yang masih belum begitu peduli betapa menyedihkannya melihat kondisi fauna kita yang keberadaannya terancam. Kita terlalu nyaman tinggal di kota, tanpa sadar kalau orang-orang kota pun secara langsung merusak hutan. Tingginya kebutuhan orang-orang kotalah yang memancing para oknum untuk mengeruk kekayaan hutan dan menjualnya ke kota.  Ketika hutan menjadi rusak, maka rusak pula lah habitat orangutan dan fauna yang lain. Menumbuhkan rasa cinta alam ini penting. Jangan sampai binatang eksotis ini punah dan akhirnya menjadi legenda di masa depan.

2. Kruing-Banjarmasin

Durian menjadi komoditas unggulan di Kruing, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Saya melihat artikel menarik di internet tentang Bupati dan Wakil Bupati dari daerah tersebut dengan gaya low profile-nya sengaja menyantap durian di pinggir jalan. Jelas bahwa buah ini menjadi kuliner kesukaan dan kebanggaan warga Katingan.

4

Bupati dan Wakil Bupati Tapin HM Arifin Arpan dan H Sufian Noor duduk santai di pinggir Jalan Hasan Basri sambil menyantap buah durian di warung Pedagang Kaki Lima (PKL) (http://banjarmasin.tribunnews.com/2013/11/29/arifin-arpan-dan-wakilnya-santap-dan-borong-durian-di-pinggir-jalan)

Sejujurnya saya tidak suka dengan buah berduri ini karena baunya yang sangat menyengat dan bikin mual, mungkin karena orangtua tidak membiasakan saya untuk memakannya sejak kecil. Kalau saya mendapat kesempatan ke tempat ini bersama Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure, saya akan memberanikan diri memakan buar Durian. Sama halnya dengan memegang orangutan, hal ini juga patut dicoba setidaknya sekali seumur hidup :). Musim durian di Katingan biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga Januari. Mengingat perjalanan akan dilakukan pada bulan September, semoga saat kita sudah sampai disana sudah terjadi musim durian (sebenarnya saya setengah berharap belum tiba musimnya dan tidak ada yang berjualan durian, hehe *peace)

Dari Kruing, Kalimantan Tengah, perjalanan dilanjutkan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang terkenal akan julukan “Kota Seribu Sungai”. Wajar saja, karena kota ini banyak dilalui oleh sungai-sungai yang besar dan meliuk-liuk. Pasar Terapung langsung melintas di benak saya ketika mengingat kata Banjarmasin. Konon Pasar Terapung yang paling terkenal berada di muara Sungai Barito, yang juga menjual berbagai macam makanan. Berwisata kulinersambil memperhatikan pemandangan aktivitas jual beli di Pasar Terapung yang unik sepertinya menantang dan mengasyikkan !

3

Pasar Terapung Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (http://www.wisatamu.com/wisata-banjarmasin.html)

Wisata kuliner selanjutnya di kota ini adalah Lontong Orari. Konon, makanan khas Kota Banjarmasin ini dinamakan karena tempat yang menjual lontong ini menjadi tempat nongkrong para briker—Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI).  Berbeda dengan lontong kari yang ada di Pulau Jawa, Lontong Orari ini berbentuk segitiga dengan kuah santan kuning kecoklatan, lengan lauk daging ayam, telur bulat dan ikan haruan. Katanya rasanya pedas dan gurih. Hmmm…makanan berkolesterol tinggi yang menggoda selera, hehe.

5

Lontong Orari, kuliner yang diburu wisatawan yang bertandang ke Banjarmasin. (http://www.tourismwatchnews.com/berburu-kuliner-di-kota-banjarmasin/)

3. Pulau Kaget dan Kandangan

Masih di daerah Kalimantan Selatan, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kaget. Pulau ini adalah habitat asli dari binatang maskot Kalimantan Selatan, kera Bekantan. Kera besar ini sering disebut sebagai Kera Belanda karena hidungnya yang panjang dan wajahnya yang merona merah. Primata unik ini mengingatkan saya pada maskot Dunia Fantasi (Dufan).

Pulau Kaget terletak di Sungai Barito, terbentuk oleh endapan sedimen sungai yang membentuk seperti pulau di tengah-tengah sungai. Kondisi pulau yang ditumbuhi hutan lebat ini sangat menarik bagi saya yang memiliki jiwa petualang. Sudah tiga tahun saya tidak menjejakkan kaki ke hutan dan saya sangat rindu untuk kembali ke sana :(. Sebagai pecinta tanaman, saya pun ingin melihat-lihat hutan anggrek indah yang ada di pulau ini.

Pulau Kaget dilihat dari angkasa (tripmondo.com)

Pulau Kaget dilihat dari angkasa
(tripmondo.com)

Pulau Kaget dijadikan cagar alam oleh Kementrian Kehutanan pada tahun 1976. Tidak hanya Bekantan, pulau ini pun menjadi rumah alami bagi berbagai macam satwa dilindungi yang lain seperti parkit, elang bondol, king fisher, elang laut, dll. Saya ingin merasakan “sensasi kaget”nya Pulau Kaget dengan dikejutkan oleh suara binatang-binatang eksotis tersebut.

Masih ada yang seru di Kalimantan Selatan. Setelah dari Pulau Kaget, Kandangan akan menjadi destinasi selanjutnya dari Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure. Saya menduga kita akan kembali melakukan wisata kuliner di ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini, karena kota ini adalah pusat kuliner khas Suku Banjar.

Makanan yang paling terkenal dari kota ini adalah Ketupat Kandangan yang disajikan dengan harawan (sejenis lele sungai) panggang dan santan yang diberi perasan jeruk nipis. Saya ingin mencicipinya dengan cara warga lokal menikmatinya, yaitu dengan tangan telanjang tanpa sendok. Hmmm…pasti awalnya terasa aneh karena saya kurang terbiasa, hehe. Selain Ketupat Kandangan, Lamang dan Dodol Kandangan juga terkenal di kota ini.

11

12

13

Makanan khas Kandangan, berurutan dari atas ke bawah : Ketupat Kandangan, Lemang, dan Dodol Kandangan (http://www.indonesia.travel/id/destination/918/loksado/article/284/tasty-culinary-attractions-of-kandangan)

4. Amuntai dan Balikpapan

Kalimantan Selatan belum juga habis dijelajahi, masih ada Amuntai yang menjadi tujuan selanjutnya.  Kota ini berdiri di tengah rawa-rawa yang luas. Saya tertarik melihat kehidupan perkampungan yang tinggal di atas rawa-rawa tersebut, dimana banjir menutupi daerah tersebut jika hujan datang. Tentu rawa-rawa bukanlah pilihan tempat tinggal yang biasa bagi kebanyakan orang.

Wilayah rawa-rawa menjadi habitat alami bagi kerbau air dan kerbau rawa, fauna yang unik dari wilayah Amuntai ini. Saya penasaran untuk melihat perbedaan kerbau rawa ini dengan kerbau yang sering saya temui di Pulau Jawa. Populasi kerbau rawa ini dikabarkan semakin menurun, bahkan terancam punah akibat rentan terhadap berbagai jenis penyakit serta tingginya kematian anak kerbau yang baru lahir. Sejauh ini pemerintah terus menghimbau para peternak kerbau untuk membudidayakan binatang ini, tidak hanya mengambil dan menjualnya.

Wilayah Amuntai ini sebenarnya menarik dikonservasi. Tidak hanya rawa, wilayah ini pun masih terdapat hutan yang luas dan banyak fauna yang unik seperti menjangan besar, burung baruh dan buaya kuning. Di daerah Amuntai juga terdapat situs sejarah, berupa candi agung sebagai peninggalan kerajaan Dipa. Semoga orang yang hidup di sana boleh menjaga kelestarian wilayah Amuntai ini dengan baik 🙂

Setelah dari Amuntai, perjalanan Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure dilanjutkan menuju Kalimantan Timur, tepatnya ke kota Balikpapan, kota dengan biaya hidup termahal se-Indonesia. Maklum saja, hal itu salah satunya disebabkan karena banyak perusahaan minyak yang berdiri di tempat ini. Maka tidak heran kota ini mendapat julukan Kota Minyak (Banua Patra). Kota ini juga terkenal dengan pertambangan dan kayunya. Kota yang makmur ini berkembang dengan pesat dan modern.

Pemandangan Kota Balikpapan dari kejauhan (http://medianusantara.com/travel/wajah-transformasi-kalimantan/)

Pemandangan Kota Balikpapan dari kejauhan
(http://medianusantara.com/travel/wajah-transformasi-kalimantan/)

Di tengah Kota Balikpapan, tepatnya di Desa Teritip, terdapat penangkaran buaya terbesar di Kalimantan Timur. Penangkaran Buaya Teritip ini melindungi dua spesies buaya yang nyaris punah, yaitu buaya buaya air tawar (Crocodylus siamensis) dan buaya supit (Tomistoma segellly), sedangkan jenis buaya lainnya ialah buaya muara (Crocodylus porosus). Saya ingin mencoba memberi makan buaya secara langsung dan menyaksikan sendiri keganasannya.

Satu bucket list lagi bagi saya pribadi (setelah memegang orangutan dan makan durian) jika diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat ini : mencicipi sate buaya. Kuliner ekstrim ini konon dapat meningkatkan vitalitas pria. Bagaimana efeknya kalau dimakan oleh wanita ya? Hmm…

Selain menjual sate buaya, di penangkaran ini juga menjual aneka suvenir berbahan kulit buaya. Tentunya ini akan menggoda insting wanita saya untuk berbelanja.

5. Samarinda

Dari Balikpapan perjalanan diteruskan menuju Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Di kota ini kita dapat menikmati wisata budaya di desa Pampang yang dihuni oleh Suku Dayak Kenyah. Melalui desa ini wawasan kita akan diperluas dengan budaya setempat dengan menyaksikan pertunjukkan seni tari di gedung pertemuan desa yang kental dengan ornamentasi ukiran khas suku Dayak. Sebagai penggemar aksesoris etnik, jika berkunjung ke desa ini saya harus membeli cinderamata, khususnya kalung dan gelang, hasil kerajinan warga setempat. Selain itu, saya ingin menyewa baju adat dan berfoto dengan warga setempat.

18

19

20

Taman Budaya Pampang (http://www.indonesia.travel/id/destination/580/taman-budaya-pampang)

Kota Samarinda berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai, Kartanegara. Di Kabupaten ini, tepatnya di daerah Tanjung, merupakan daerah produsen Kayu Ulin, kayu Borneo yang terkenal dengan kekuatannya.

7. Pulau Maratua

Petualangan Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure berakhir pada surga dunia yang berada di batas terluar Indonesia : Pulau Maratua. Pulau ini merupakan satu dari banyak pulau di Kepulauan Derawan. Karena kecantikannya yang terkenal hingga ke mancanegara, sekaligus menjadi habitat bagi bayak binatang langka dan eksotis, Kepulauan Derawan dicalonkan untuk menjadi situs warisan dunia UNESCO pada 2005. Akses menuju Pulau Maratua beserta akomodasi selama tinggal disana bisa dibilang sudah tersentuh oleh tangan-tangan modern, karena adanya speedboat dan villa resort disana, namun penduduk sekitar pun menyediakan fasilitas home stay yang lebih murah

Pulau ini menawarkan banyak pesona, seperti wisata bahari, wisata gua dan danau. Kita dapat melihat kehidupan di terumbu karang serta hutan bakau (mangrove). Sebaik apapun saya mendeskripsikan pulau surga ini ketika saya melihat foto-fotonya selama riset, atau bahkan ketika saya diberikan kesempatan untuk melihatnya secara langsung, saya tidak akan sanggup untuk menggambarkan kecantikan pulau ini dengan kata-kata. This is more than beautiful. This is amazing.

Saya membayangkan suatu saat akan menikmati keindahan tempat ini dalam ketenangan alam yang belum terganggu oleh tangan-tangan manusia yang serakah.

Saya pernah melakukan snorkeling, namun belum pernah menyelam sebelumnya. Kalau ada kesempatan bersama Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure, saya ingin menyelam di sekitar Pulau Maratua. Selain itu, saya ingin menyentuh Penyu Hijau (Chelonia mydas) atau Penyu Sisik (Erethmochelys fimbriata) yang berhabitat di sekitar pulau ini. Selain itu, saya juga ingin berenang di Danau Ubur-Ubur dan menyentuh binatang ini (semoga tidak aman dan tidak menyengat ya, hehe).

Semoga alam disini boleh dijaga dengan baik oleh pemerintah, masyarakat sekitar dan para pengunjung Derawan, jangan samapai terusik oleh para pemilik modal yang lagi-lagi hanya memikirkan perutnya sendiri. Ayo rakyat Indonesia, cintailah alammu, demi anak cucu kita!

Bayangan perjalanan dalam petualangan Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure yang akan dilakukan pada 14-23 September 2015 dapat dilihat seperti berikut ini :

6

Perjalanan Darat Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure (https://maps.google.co.id/)

7

Titik-titik destinasi perjalanan Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure (https://maps.google.co.id/)

Mungkin perjalanan ini akan lebih seru kalau dimulai dari Kalimantan Barat, sehingga kita bisa betul-betul menjelajahi Kalimantan dari barat hingga ke timur. Itu pendapat saya saja sih, hehe.

Spesifikasi Terios

Yang saya sukai dari New Daihatsu Terios, khususnya Terios R-Adventure adalah desain interior dan eksteriornya yang keren dan sporty, sangat cocok untuk anak muda, jauh dari kesan desain mobil keluarga pada umumnya yang membosankan. Mobil ini cocok untuk digunakan dalam Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure, yang pada sebagian perjalanannya ditempuh perjalanan darat dengan medan yang lumayan menantang. Ketika saya bertanya pada para kolega saya di kantor yang menggunakan Terios, sebagian besar dari mereka mengaku suka dengan rem dan tarikannya yang kencang. Hal ini menunjukkan performa mesin Terios yang baik. Selain itu, mesin berkapasitas 1480 cc yang dimiliki oleh Terios membuatnya menjadi kendaraan yang hemat energi.

unduhan TERIOS R ADVENTURE SILVER BLKNG

New Daihatsu Terios memiliki keunggulan dalam interiornya. AC Double Blower yang menyejukkan mobil akan memuat perjalanan jauh menjadi lebih nyaman bagi penumpang yang ada di dalamnya. Ditambah juga oleh fitur Audio / Video Double Din yang mendukung untuk USB & HDMI connector akan membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Selain itu, kapasitas dalam mobil juga besar (untuk 7 orang) dengan posisi bangku yang bisa disesuaikan untuk mengangkut orang dan barang.Tidak perlu khawatir untuk tersesat karena adanya GPS navigation pada mobil ini, yang juga akan mengarahkan kita pada Daihatsu Dealer terdekat jika terjadi apa-apa dengan mobil.

Untuk fitur keamanan dapat dilihat sebagai berikut :

  • Dual SRS Airbag membuat pengemudi dan penumpang semakin aman terlindungi ketika terjadi benturan
  • Pretensioner & Force Limiter Seatbelt, adalah seatbelt yang dirancang khusus untuk mengurangi potensi cidera saat airbag mengembang
  • Immobiliser & Alarm, kunci anti maling yang mengamankan mobil dari aksi pencurian yang dilengkapi oleh alarm
  • Window Jam Protection, membuat kaca mobil otomatis turun ketika ada benda yang mengenai kaca, memberikan keamanan lebih bagi penumpang
  • Side Impact Beam dan Anti Lock Braking System, memberikan perlindungan lebih jika terjadi tabrakan dari samping
  • All Row Seatbelt & Headrest, membuat semua penumpang mobil semakin aman

Untuk melihat kelengkapan semua fitur New Daihatsu Terios dapat dilihat di http://daihatsu.co.id/product/terios

New Daihatsu Terios memiliki segala fitur kenyamanan dan keamanan yang dibutuhkan ketika berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan siap untuk dibawa dalam perjalanan yang jauh.

Berikut adalah bukti saya mengikuti twitter @DaihatsuInd @VIVA_log dan like fanpage Facebook Daihatsu Indonesia :


FB 1FB 2
follow twitter_2follow twitter

Bukti screenshot saya sudah membagikan artikel ini di twitter :

19-08-2015 12-14-28

Sekian tulisan saya tentang riset tempat-tempat indah di Kalimantan, setidaknya menambah pengetahuan tentang “surga tersembunyi” di pulau Borneo ini. Semoga Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure memberikan saya kesempatan untuk kembali untuk menjelajahi pulau ini. Tidak sabar rasanya menemukan hal-hal yang spesial di kota ini, baik kulinernya, adat isitiadatnya maupun tempat wisatanya, lalu menuliskannya kembali dalam blog ini.

Nb : Blog ini adalah riset yang disadur dari berbagai sumber.

Saya bangga menjadi warga Indonesia, bagaimana dengan kamu?

Please, throw me back to Borneo, Terios!

Notes (27 Agustus 2015) :

Blog ini berhasil masuk ke dalam 50 besar (http://log.viva.co.id/news/read/665722-ini-dia-50-finalis-lomba-blog-terios-7-wonders), namun tidak berhasil membuat saya menjadi pemenang lomba Terios 7 Wondes Borneo Wild Adventure. Selamat kepada para pemenang! 😀