Bandung

Menunggu di Bonbin Tamansari Bandung

Apa? Nungguin di kebon binatang? Ngapain??

Hahaha…iya, kebon binatang. Tanggal 25 Maret 2016 gw mengunjungi tempat yang tepat berada di sebelah kampus tercinta gw, ITB. Sebenernya gw pengen banget maen-maen kesini waktu jaman kuliah, tapi bagi gw waktu itu tiket masuk sebesar 15ribu tuh kayanya mahaalll banget, alhasil waktu itu gw gajadi masuk deh. *sedih amat ya*

Sebenernya gw tanggal 25 Maret itu ga ada rencana kesini juga sih, random aja gitu masuk sini gara-gara kelamaan nungguin temen gw. Karena gw tau galat ketepatan waktu temen gw itu minimal 2 jam, maka dari itu gw memutuskan untuk killing time disana. Sekalian belajar fotografi juga, hehe.

Gw selalu merindukan udara pagi daerah Dago yang dingin, bonus aroma daun dan tanah basah. Gw selalu mencium ini dulu ketika jam kuliah pagi. Kebun binatang Tamansari Bandung saat itu pun seperti itu. Banyak anak-anak yang melihat-lihat binatang bersama ayah ibunya. Gw pengen banget memotret ekspresi mereka yang lucu dan polos, hanya saja gw ga ga enak hati sama orang tua mereka, nanti gw disangka oknum penculik anak lagi, hehe.

DSC_0072

Berikut objek binatang yang gw tangkap dengan kamera, dengan ilmu fotografi seadanya yang gw punya. Hope you enjoy these B)

DSC_0109

DSC_0113

DSC_0119DSC_0152DSC_0141

 

DSC_0160

 

Entah gw salah liat atau gimana, tapi entah kenapa gw merasa binatang disini kaya kurang perhatian. Badannya kurang gemuk, lesu, sebagai pengunjung gw merasa kebun binatang disini suram dan perlu pembaruan disana-sini. Misalnya, jalan setapaknya nampaknya harus diganti konblok yang baru karena sudah ditumbuhi lumut yang sangat licin, sangat bahaya untuk anak-anak, ibu hamil dan orangtua yang rawan terpeleset. Sayang sekali, padahal kebun binatang ini bisa dijadikan potensi wisata yang bagus bagi masyarakat kota Bandung.

DSC_0154

Suatu saat gw pasti akan ke kebun binatang Ragunan Jakarta, kebun binatang Gembiraloka Jogjakarta dan kebun binatang Surabaya, untuk membandingkan keadaan kebun binatang populer yang ada di negeri ini. Gw sangat berharap apa yang gw yang liat nanti sesuai dengan harapan gw, negeri ini butuh peran pemerintah dalam perawatan kebun binatang yang perkepribinatangan (yang memperhatikan nasib binatang maksudnya, ga hanya sekedar ekploitasi untuk menambah pemasukan kas pemda aja). Taman Safari jangan ditanya karena pengelolaannya oleh pihak swasta (yang tentunya hasilnya jauh lebih keren).

DSC_0128

Karena gw jalan sendirian disana (hanya ditemani kamera, jadi hanya fokus foto-foto tanpa mengobrol), gw mengelilingi area kebun binatang sekitar 2 jam. Lumayan, olahraga pagi, hehe.

Segitu dulu aja cerita gw di kebun binatang tamansari Bandung. Nantikan cerita gw di kebun binatang yang lain (di luar negeri juga, maybe? Amen!)

See you!

*All picture in this post was taken with Nikon DSLR D3200

Menikmati Indonesia

Hari ini (mumpung mood), gw merampungkan tiga blog gw sekaligus. Atau mungkin lebih, haha.

Tanggal 26 Maret 2016, gw pulang dari Bandung menggunakan kereta ekonomi. Berbeda dengan kereta kelas bisnis yang bertolak dari Stasiun Hall Bandung ke Stasiun Gambir, kereta ekonomi berangkat dari Stasiun Kiaracondong dan berakhir di Stasiun Pasar Senen. Harganya tiketnya cukup terjangkau, yaitu Rp 70.000,00.

IMG_20160327_123148

Stasiun KA Kiaracondong

Sambil menunggu keberangkatan kereta, gw duduk di ruang tunggu. Dan entah kenapa gw sangat-sangat ingin mengobrol dengan ibu-ibu paruh baya di sebelah gw. Gw lupa nama ibunya siapa, beliau bilang mau pulang kampung ke Sukoharjo. Sebenernya sang ibu ga pengen pulang kampung karena masih ingin terus bekerja di Jawa Barat, namun karena beliau terkena penyakit hepatitis B, maka dia harus pulang untuk beristirahat (sang majikan juga kurang berkenan menerima beliau untuk bekerja di rumahnya lagi). Ibu ini terkena penyakit hepatitis B gara-gara transfusi darah beberapa bulan lalu. Transfusi ini waktu itu dilakukan karena ibu ini menderita anemia yang parah sehingga pengobatannya harus dengan jalan transfusi. Majikannya kurang memperhatikan apa yang beliau makan, dan parahnya lagi ga dikasih uang makan juga.

Sedih banget ya ceritanya? Tuhan memberkatimu ya buu…dimanapun anda berada sekarang

Akhirnya gw masuk juga ke kereta untuk berangkat. Satu hal yang tidak gw suka dari kereta ekonomi : posisi kursinya permanen berhadap-hadapan. Untuunggg banget di depan gw waktu itu anak kecil. Kalau orang dewasa, cowo, trus ganteng kan salah tingkah gw, haha *apasih. Tapi overall gw merasa nyaman karena full AC. Terimakasih PT. KAI yang memperhatikan kereta kelas ekonomi.

IMG_20160327_140728

Pulas.

Pemandangan hijau dari balik jendela menyambut gw di awal perjalanan. Deretan sengkedan persawahan, perbukitan, perkebunan, sungai, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi dengan Indonesia. Walaupun saat itu gw ngantuk, walaupun gw sudah melihat pemandangan yang sama berkali-kali, gw ga rela untuk memejamkan mata, seakan takut ada pemandangan indah yang terlewat.

Sekitar dua jam kemudian, kereta berhenti sejenak di sekitar Stasiun Purwakarta. Ada tempat yang sangat unik dan menarik : tumpukan gerbong kereta api tua, entah itu kereta tahun berapa. Entah kenapa gw merasa tempat itu romantis, cocok untuk mengambil gambar dengan efek dramatis, atau efek horor kalau mau, hehe. Sayang sekali, gw ga bisa keluar dari gerbong karena pintunya dikunci, padahal gw bawa kamera DSLR.

Ada hal unik lain lagi yang gw liat dalam perjalanan : komplek perumahan dengan antena yang mencuat. Antena ini dipasang di ujung bambu yang panjang supaya bisa menangkap sinyal televisi yang lebih baik. Gw ga yakin orang-orang di luar negeri akan sekreatif itu dalam mencari sinyal televisi yang lebih baik. Orang Indonesia memang kreatif! Hehehe.

IMG_20160327_160042

Ketika kereta mendekati Stasiun Pasar Senen, gw malah melihat pemandangan yang miris. Kanan kiri kereta dipenuhi oleh pemukiman kumuh masyarakat pinggiran. Tempatnya jauh dari bersih dan gw heran mereka bisa bertahan hidup. Segera gw merekam keadaan ini dan upload di Instagram untuk melapor ke Bapak Ahok. Namun katanya wilayah ini merupakan ranahnya PT. KAI dan gubernur kurang berperan disana. Gw udah mention juga PT. KAI-nya, semoga mereka baca.

IMG_20160327_171037

Tempat tinggal kumuh di pinggir rel kereta

Dari Pasar Senen, gw kembali menggunakan kereta KRL untuk menuju kostan gw. Senja di Stasiun Manggarai ternyata indah juga.

IMG_20160327_181153

Senja di Stasiun Manggarai

Yah, beginilah pengalaman gw naik kereta ekonomi kemarin, yang bagi gw menyenangkan. Ada sensasi  tersendiri dalam melihat Indonesia dari balik kaca jendela kereta (sambil makan pop mie, mantap!). Buat kamu yang pengen sekali-kali mencoba, pesanlah tempat duduk di dekat jendela, sebelah kanan menurut arah jalannya kereta. Sampai di Jakarta pasti kamu memiliki pandangan yang baru tentang Indonesia.

Udah dulu deh ceritanya. Terimakasih sudah membaca dan melihat-lihat fotonya. Bye!

Ngopi-Ngopi Cantik Di Bandung

Halo readers! Piye kabare??

Kali ini gw mau cerita tentang momen ngopi-ngopi cantik di kafe bernuansa alam di kawasan dago pakar, Bandung (ga usah sebut nama yeee, ntar dikira promosi lagi, haha). Gw, bersama temen-temen naik gunung gw yaitu Mba Saras, Dega, Adit, Ester, dan Andre (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) berkunjung ke kafe ini pada tanggal 26 Desember 2015, tepat sehari setelah Natal. Setelah ngomongin beberapa wacana ini-itu (pernah kita ngomongin muluk-muluk mau naik Gunung Cikurai tapi ga jadi, hiks), akhirnya wacana ke natural cafe ini yang kesampean. Kita ga mau cape, suasana alamnya dapet, refreshingnya dapet, yang penting bisa makan, ngobrol, ketawa-ketawa dan foto-foto, haha. Maklum, sebagian besar dari kami bekerja di ibukota, jadi udah muak dengan suasana perkotaan dan pengen melihat yang hijau-hijau, tapi ga mau cape lantaran energi kami sudah terkuras habis di kantor.

Dasar gw dodol ga nyimak diskusi grup Whatsapp dengan baik, bayangan gw tuh kita harus hiking dulu untuk mencapai café itu. Maka gw dengan santainya pakai kaos dagadu, sepatu kets dan ransel. Dan ternyata gw salah kostum banget!! Si Ester dan Mba Saras pake baju cantik (pake dandan segala lagi), Si Adit udah kaya cover boy, si Andre pake poloshit. Sedangkan gw rambut aja lepek banget (sengaja ga keramas, kirain mau hiking). Haduuhh, kalo gagal fokus jadinya begitu kan. Untung gw ga pake baju gembel ala-ala anak lapangan gitu.

Tapi gapapa, gw tetep ikutan foto-foto cantik. Epriting is gonna bi olllrait! 😀

Kami mencapai lokasi  dengan mobil pribadi pada pukul 08.30 (padahal kafenya buka jam 9, haha, kerajinan ). Ternyata ada untungnya juga dating kepagian, soalnya kalo datengnya lewat dari jam 9 langsung masuk waiting list!

Ketika masuk ke dalam kafenya, ternyata gw baru nyadar kalau gw kangen sama suasana alam seperti itu. Udaranya sejuk, sekaligus hangat oleh sinar matahari pagi. Meja kami langsung menghadap hutan pinus di perbukitan. Wangi rerumputan yang sedap terhirup oleh hidung gw. Ditambah lagi bersama teman-teman yang seru dan sarapan yang hangat. Perfect.

DSCN0661

DSC_6563IMG_20151226_095501DSC_6597IMG-20151227-WA0012IMG_20151226_104827

Tapi menit-menit surgawi itu hanya bisa dirasakan hingga jam 10, setelah itu panasnya minta ampuunn.

DSC_6656

Dandanan udah tomboy, tapi tetep aja pake payung. Manja ga tahan panas. Dasar Kristyarin!

Oya, gw sempet juga belajar pake kamera DSLR, tutorial sebentar sama mba Saras. Hasilnya lumayan juga, terbukti dengan dipakainya hasil jepretan gw itu di profpic-nya Mba Saras dan Si Ester (parameter keberhasilan yang aneh). Berikut jepretan gw hasil tutorial singkat ga nyampe 10 menit bareng Mba Saras :

DSC_6624

DSC_6631

Segitu aja cerita gw refreshing sebentar sambal temu kangen dengan temen-temen gw di natural cafe. Semoga bisa jadi referensi buat pembaca sekalian yang pengen liburan ke Bandung namun dengan suasana yang berbeda.

See you again, readers!

 

One Day Trip : Tebing Keraton


Sabtu kemarin gw menikmati Sabtu Sunyi dengan cara yang berbeda : pergi ke alam bebas.

Dari awal minggu lalu gw pengen banget ke Tebing Keraton. Gw ‘merengek-rengek’ ngajak anak-anak Geodin (tempat kerja gw) dan pada ga mau. Kata mereka tempatnya biasa aja, ngga oke, dan rata-rata udah pada pernah kesana juga. Tapi tetep aja gw penasaran.

Gw semakin menyadari kalau Tuhan mengerti segala keinginan gw dan mengabulkannya dengan cara yang sama sekali ga terduga.

Pas Jumat malamnya gw cek chat grup anak-anak Navigator 2009. Topik malem itu adalah pengen ketemuan dan jalan-jalan. Ada yang ngajakin lari pagi. Ada yang ngajakin makan. Ada yang ngajak ke Tebing Keraton.

Wah ini.

Tiba-tiba gw teringat kalo gw nampaknya gabisa ke Tebing Keraton besok Sabtunya karena gw harus ikutan persapan gladi resik acara Paskah Sekolah Minggu, kalo ke Tebing Keraton dulu mah mana sempet. Hufftt…antara sedih tapi masih berharap bisa ikutan pergi.

Saat membaca percakapan selanjutnya, gw membaca ada yang ngusulin buat pergi subuh supaya liat matahari terbit. Gw langsung respon chat dan bilang kalo berangkatnya subuh gw pasti ikutan. Sebenernya tujuan pribadi gw bukan untuk liat sunrise sih, tapi supaya gw bisa ikutan aja, kalo perginya siang gw kan gabisa ikut 😦 .Anak-anak lalu chatting ngalor ngidul, mulai ga jelas, lama-lama gw pesimis kalo rencana ini bisa terwujud. Akhirnya gw taro lagi hape gw dan kembali tidur-tiduran.

Lalu jam 11 malem pas gw buka hape lagi…

Adit : Aku udah tanya bapakku katanya boleh pinjem mobil. Jadi besok ke Tebing Keraton kumpul jam setengah 5 di mcD. Pada oke ngga?
Gw : Seriusan??
Ester (pacarnya Adit) : Serius kaka
Adit : Sius, Rin. Gimana Arin? Kumpulnya di mcD
Gw : Baliknya jem brapa, Diit??
Adit : Jam 11
Gw : Beneran ya Diitt

Gw sempet melongo gitu, agak-agak ngga percaya. Ketika lu dapetin hal yang lu pengen banget tuh rasanya…gila! Rasanya pengen loncat.

Iya iya, gw tau gw lebay. Tapi terlepas apa omongan orang tentang Tebing Keraton, gw saat itu pengen banget kesana.

Pas dapet kabar kepastian itu gw langsung beres-beres dengan super semangat. Yang paling penting adalah ransel, sendal gunung, jaket, topi, dompet dan minum. Selesai beres-beres jam 12, lalu tidur, lalu bangun lagi jam 3.30. Sampe tempat janjian, ternyata ngga ada orang.

Pasti pada ngaret, aarrrgghhh…

Si Adit langsung minta maaf sampe bungkuk sama gw gara-gara doi telat bangun banget. Karena lagi hepi, gw sama sekali gabisa marah. Ambil hikmahnya aja deh, dengan mereka terlambat gw jadi bisa sarapan dulu. Soalnya pas sampe tempat buat hikingnya, ternyata tempatnya….nanjak abis. Anak penyakit darah rendah kaya gw mah kalo belom sarapan pasti semaput deh.

1526695_1429644753998753_5317412138600685963_n

Pose dulu sebelum hiking 🙂

Di kala orang lain pada pake ojek, gw sama anak-anak (Andre, Adit, Ester, Apul) memilih untuk jalan dari tempat parkir mobil ke Tebing Keraton (2.5 km, lumayaann, olahraga pagi :p). Sayang, jalan yang kami tempuh adalah jalan yang juga dilalui oleh pengendara motor, jadi kami harus ekstra hati-hati dalam berjalan supaya ga ketabrak. Selain itu kondisi badan jalannya bisa dbilang buruk, gw sih ngeri aja ngebayangin motornya bakal rusak kalo lewat trek situ.

11121778_1429645487332013_1012310701259411870_n

Dan paha pun mulai panaasss, badan mulai gerahhh

Di saat sudah setengah perjalanan dan muka-muka kami sudah mengeluh, haha, maka tukang-tukang ojek pun menggoda : “Masih jauh loh neng, lima tanjakan lagi!,” Sialan, bikin turun mental aja tuh tukang ojek. Tapi mental gw naik lagi ketika menghirup udara pagi yang sangat sega, langit mendung yang sangat indah, dan perkebunan yang hijau. Terima kasih Tuhan, untuk cuaca yang luar biasa baik 🙂

11138152_1429645387332023_5677872364043197139_n

Kehidupan di bawah langit mendung. Kamera : Nikon Coolpix S32

10928204_1429645133998715_6902767121103811120_n

Kamera : Nikon Coolpix S32

Beberapa meter sebelum mencapai obyek wisata Tebing Keraton, kami menemukan tempat yang indaaahhh banget yang ada di kanan kiri atas jalan. Kami berlima sepakat bahwa tempat itu bagus, ga ada yang bilang biasa aja apalagi jelek. Si Andre bahkan bilang, “Mungkin Norwegia itu mirip seperti ini ya…,”.  Herannya, orang-orang tidak menyadari ada spot yang bagus dan gratisan itu (keren banget buat foto-foto).

IMG_2763

Pemandangan Cekungan Bandung. Camera : Canon EOS 500 D

 

IMG_2747

Tebing Keraton. Camera : Canon EOS 500 D

 

IMG_2788

Standalone Tree. Camera : Canon EOS 500 D

 

Tapi akhirnya gw mengerti, kenapa temen-temen di kantor pada bilang Tebing Keraton itu biasa aja dan kenapa gada orang yang foto-foto di depan pemandangan seperti foto kami di atas : karena mereka tidak menikmati perjalanan dengan berjalan kaki. Bagi gw pribadi, ada sensasi tersendiri setelah berlelah-lelah menuju tempat yang paling tinggi, lalu melihat pemandangan yang ada di atas. Gw merasa mendapat semacam reward dan menghargai pemandangan tersebut jauh lebih baik daripada orang biasa yang tidak ada usaha untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya dari dulu gw lebih menyukai daerah pegunungan dan perbukitan daripada pantai. Sekarang akhirnya gw bisa menguraikan salah satu alasan yang sebenarnya mengapa gw lebih menyukai dataran tinggi, selain karena kalau ke daerah pegunungan itu ga bikin kulit gw gosong seperti kalau gw ke pantai, hehe.

Sebenernya foto-foto di depan pemandangan yang gratisan itu cukup, hanya saja kami penasaran dengan objek wisata Tebing Keraton itu seperti apa. Akhirnya kami berlima masuk ke objek wisata tersebut (ternyata pengelolanya sama dengan Taman Hutan Raya Juanda) dengan membayar tiket sebesar Rp. 11.000,00 (Wisman Rp. 76.000,00, jauh banget yak). Ternyata memang dari atas Tebing Keraton, gw bisa melihat pemandangan cekungan Bandung lebih indah lagi!

IMG_2810

IMG_2827

IMG_2896

Camera : Canon EOS 500 D


IMG_2869

IMG_2895

Camera : Canon EOS 500 D

 

Gw memaknai Sabtu Sunyi hari itu dengan mengagumi ciptaan Allah yang luar biasa, di tengah kicauan burung dan embun pagi. How great is my God.

Termyata waktu yang dibutuhkan untuk hiking ke atas Tebing Keraton, berfoto-foto ria sampe overlimit, lalu kembali berjalan turun ke parkiran mobil hanya 2 jam saja. Wisata yang singkat tapi sangat sangat sangat menyegarkan pikiran dan tubuh gw. Indah dan menginspirasi.

IMG_2912

Camera : Canon EOS 500 D

 

11136670_1429648517331710_4314212981893482497_n

Siap-siap pulang, bye-bye Tebing Keraton 🙂

Pulangnya kami brunch dulu di rumah makan ‘Tjiang’ di daerah Pasir Kaliki (Warning! Makanan haram, hehe :p). Tempatnya unik karena ada display banyak mainan Gundam (semacam robot-robotan), kuat dengan dekorasi khas etnis Tionghoa. Selain itu yang gw suka dari tempatnya adalah sepi. Sayang gw ga berani untuk berfoto di depan pajangan Gundamnya.

10933860_1429648607331701_2843804241746579597_n

Sekian cerita perjalanan gw kali ini yang singkat, murah dan menyegarkan. Besok gw harus bangun pagi buat pergi ke Jakarta buat nonton film indie di Kineforum. Tiga minggu lagi gw akan mendaki Gunung Papandayan bersama Andre, Adit, Ester dan Mba Saras, hehe. Pokonya tungguin aja catatan seru petualangan gw yang lain.

Salam petualang! 🙂