Cerpen

Siratan Yang Tersurat

Kali ini tolong jangan buat saya kecewa. Kenyataannya kamu sekali lagi…mengecewakan

Kamu ingin saya gamblang? Oke, semoga ini bisa menjawab

Waktu itu saya tanya kabar kamu, lalu kamu respon dua hari kemudian dengan santainya seolah-olah semua berjalan baik-baik saja…kamu pikir itu lucu?

Saya tidak berhak marah, saya ini siapa? Saya memilih diam dan pergi. Ternyata kamu juga tidak mencari

Kamu ingin saya menunggu, tapi kamu tidak pernah meminta saya untuk menunggu…kamu pikir kamu siapa?

Maaf, saya memilih untuk tinggal atau pergi, bukan berada di antaranya

Kalau memang benar hati saya sedemikian sulitnya untuk ditaklukkan, coba bertanya dahulu kepada dirimu sendiri, seberapa besar usahamu

Saya sangat peka, saya hampir mengerti isi dan jalan pikiranmu…saya hanya ingin melihat kamu melakukan apa yang kamu angan-angankan

Kalau kamu memang ingin dimengerti, tolong kamu juga mengerti keinginan saya…kalau belum mengerti juga, setidaknya bertanyalah!

Tolonglah mengerti, saya seorang wanita, sampai kapanpun saya tidak akan bisa menjadi wanita yang selama ini biasa kau temui…keberanian saya hanya sampai sebatas menunggu, dan menanggapi

Dan di atas semuanya itu, usahamu harus dua kali lebih keras karena saya pernah dibuat kecewa, karena saya pernah dibuat berharap, dan saya pernah jatuh sejatuh-jatuhnya

Iya, saya pernah jatuh hati. Namun ketika saya sudah bangkit, kamu datang lagi…dan sekarang semuanya sudah berbeda

Padahal dahulu sebenarnya caranya sederhana sekali

Paham?

Teriaklah sekali-sekali di hadapanku sekencang-kencangnya, makilah sekalian, buatlah aku terkejut dan terperangah…itu jauh lebih baik, karena aku benci dengan teka-teki

Ketika saya memikirkan betapa rumitnya jalan di antara kita yang semakin meredupan cahaya masa depan, saya mulai bertanya-tanya

Apa betul kita ini berjodoh?

Posted from WordPress for Android

Kesepian dan Harapan

Kawan lama datang kembali,

Namanya Kesepian,

Akhir-akhir ini ia sering menghampiri,

Tanpa diundang, ia malah menjamuku dan berusaha menyenangkanku,

Berdua kami menikmati matahari sore, juga memandang terang bulan,

Lihat, betapa asiknya ia berceloteh, sedangkan aku bungkam tenggelam sendiri,

Mendengarkan senandungnya tentang masa lalu ,

Sambil menyesap manisnya suguhan kenangan yang sudah lewat,

Sesekali ia mengalunkan lagu tentang rindu,

Untuk para sahabat yang menari di seberang lautan,

Untuk kekasih yang berjanji untuk datang, namun tak berjanji kapan ia akan tiba,

Untuk mimpi-mimpi yang tak kunjung jua menjadi nyata,

Untuk orang yang disini dan orang yang ada disana,

Huh, temanku ini sama sekali tidak berguna!

Untuk apa dia membuat lagu seperti itu? Menyakitkanku saja!

Maka kusiram saja dia dengan air kenangan yang ada di gelasku,

Aku benci, aku muak, aku marah dengannya,

Pergilah dari sini! Jangan datang lagi!

Kesepian terkesiap, pintu kubanting di depan matanya,

Ia bingung, merasa bersalah, lalu ia mencari cara,

Keesokan harinya ada yang mengetuk pintu di pagi hari,

Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur,

Adalah Harapan, kerabat si Kesepian,

Membawakanku seikat bunga tulip,

Lengkap dengan kartu ucapan maaf dari Kesepian,

Kesepian tidak bisa datang di kala pagi, katanya,

Namun ia tidak bisa menunggu lama untuk meminta maaf padaku,

Lalu kupeluk erat Sang Harapan hingga tersedu,

Mengadu, tentang betapa jahatnya Si Kesepian,

Sekarang giliran aku yang bercerita dan Harapan yang memasang telinga,

Setelah semua keluh kesah berganti dengan kelegaan,

Harapan membuka telapak tangan dan memberiku benang dan jarum pintal,

Harapan mengajariku cara menyulam mimpi ,

Aku senang sekali merenda angan bersama Harapan,

Aku bisa tersenyum kembali,

Air mataku tidak mengalir lagi,

Apakah kamu suka melakukan ini? tanya Harapan,

Tentu saja, kataku langsung tanpa berpikir,

Sebenarnya, katanya lagi, Kesepian akan kembali lagi kemari,

Dia teman yang baik dan juga setia,

Dia bermaksud untuk menemani, hanya saja ia tidak mengerti,

Kenakanlah sulaman ini ketika ia tiba,

Supaya kamu tidak kedinginan,

Supaya air matamu bisa diseka,

Supaya kau ingat juga akan aku,

Aku berjanji aku akan datang setiap pagi,

Seketika mukaku muram, kugenggam kain rajut yang sudah jadi itu erat-erat,

Lalu Harapan pergi seiring senja datang,

Benar saja, tak lama Kesepian datang lagi,

Seperti biasa, aku tidak menyambutnya, dan dia menyiapkan segala sesuatunya sendiri,

Namun aku mau berdamai dengannya,,

Kuterima saja dia dalam diam,

Kudengarkan saja celotehannya yang dingin, menusuk dan mengigit,

Terimakasih kepada Harapan,

Aku tetap hangat dalam rajutan angan,

Hangat kurasa hingga terlelap saat Si Kesepian berbicara,

Diam-diam kuhapus air mataku ketika Kesepian tidak melihat,

Aku akan sabar menunggu malam ini lewat,

Dan menyambut esok pagi bersama ia yang membuatku bersemangat,

Walaupun hari-hari terasa berjalan amat sangat lambat,

Selalu kupegang kata-kata Sang Harapan,

Percayalah, Kesepian pun suatu saat akan bosan membual,

Ia juga akan pergi ketika waktu dan jarak bersepakat untuk memisahkan kalian.

Ego

Lama Wanita itu duduk disana. Memandang layar ponselnya yang terus berdering.

Hatinya ingin mengangkat panggilan itu, tetapi tangannya tidak.

Tujuh kali. Tujuh kali sang penelpon belum menyerah untuk menghubunginya. Wanita itu tetap memandang layar ponselnya dengan tatapan kosong.

Para pengunjung kafe—bahkan para pelayan—mulai menatap Sang Wanita dengan tatapan curiga, mungkin merasa terganggu dengan suara dering ponselnya. Namun Wanita itu tidak peduli. Sekarang matanya menatap ke luar jendela, mengamati orang-orang yang hilir mudik, sambil setengah berharap dering ponselnya berhenti. Setengah berharap juga seseorang yang menelepon di seberang sana tetap menghubungi.

Akhirnya suara dering itu berhenti juga. Sekarang wanita itu kembali menatap layar ponselnya yang gelap. Beban di dadanya terasa lebih berat dibandingkan tadi, entah mengapa hatinya belum juga lega. Tangannya meraih cangkir kopi dengan gemetar, lalu menyeruputnya.

Seorang laki-laki tiba-tiba saja duduk di hadapannya. Bak petir di siang bolong.

“Kenapa ga diangkat?” katanya sang lelaki pelan. Wanita itu mendadak gagu, seakan ada tali yang mencekik lehernya. Kaget bukan kepalang.

Wanita itu berusaha terlihat tenang, walaupun hatinya sama sekali tidak. Matanya enggan melihat ke arah sang lelaki. Sedangkan Lelaki itu berharap tatapannya dibalas oleh Sang Wanita. Sinar matanya sarat akan penyesalan yang mendalam.

“Untuk apa ke sini?,” tanya Wanita itu, akhirnya, setelah sekian lama hening yang panjang, “Tempat ini sangat jauh, kamu tahu darimana?”

“Kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa tadi telponnya ga diangkat?”

Wanita itu kini balas menatapnya tajam, sambil menghela nafas.

“Aku bahkan gatau kenapa belum juga membuang nomor ini, Mas, jangan tanya aku kenapa tadi aku ga ngangkat telepon kamu,”jawabnya sambil tertawa getir, “Aku udah pergi dari sebulan yang lalu. Untuk apa kamu kesini?”

“Aku kesini…yah, siapa tahu masih ada kesempatan,”

“Kesempatan apa?”

“Kesempatan untuk minta maaf sama kamu. Tapi aku tahu kok, aku ga boleh berharap banyak,”

“Coba saja kamu seperti ini waktu sebulan yang lalu, sebelum aku pergi. Di bandara,”

Kembali hening.

“Kita jalan-jalan aja yuk di luar,” kata si Wanita sambil menghela nafas panjang, mengisyaratkan lelah. Kemudian mereka berdua keluar dari kafe dan berjalan menyusuri trotoar jalan. Keduanya berjalan dalam diam, diam seribu bahasa, dalam waktu yang cukup lama. Diselimuti aura rindu namun sendu.

Kejadian seperti ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi. Akhirnya Sang Wanita memutuskan.

“Aku bisa minta tolong, Mas?” kata Wanita itu dengan langkah terhenti.

“Minta tolong apa?” dahi Pria itu mengernyit.

“Jangan hubungin aku lagi ya. Jangan berusaha temui aku lagi. Demi kebaikan kita berdua,”

Akhirnya permintaan ini terlontar juga. Sang Pria hanya bisa tertegun. Langkahnya benar-benar terhenti dan sekarang tubuhnya bersandar pada tepi jembatan. Matanya memandang pemandangan kota dari kejauhan.

“Aku tahu kamu bisa kok. Hari ini adalah terakhir kali kita ketemu ya. Setelah itu jangan cari tahu lagi aku dimana.“

Sang Pria menggangguk.

“Janji?”

“’Kan kamu tahu, dari dulu aku ngga bisa menepati janji,”

Tembok pada ujung jalan buntu masih menjulang tinggi, tak nampak ujung atasnya, tak nampak pula celah retak pada temboknya. Namun masih ada hati yang bertahan tinggal disana tanpa kepastian.

Atau mungkin hanya disanalah tempat yang paling pasti?

“Kalau begitu, jangan biarkan aku sadar ketika kamu nanti melanggar janji ya. Oke?”

http://4.bp.blogspot.com/

Dialog Senja

“Bosan. Kapan ya kita punya banyak uang, foya-foya sampe bego, plesiran semaunya?”

“Pertanyaan lo klise deh. Semua orang juga punya pertanyaan yang sama kali,”

“Oya? Ga semuanya kali. Paman gue bilangnya cita-cita doi tuh masuk Surga,”

Mereka berdua tertawa. Lalu kembali meneguk minuman soda dalam diam.

“Hidup masih gini-gini aja. Membosankan,” Anton tiba-tiba berkata sambil tertawa getir. Astrid mengangguk.

“Tapi sebosan-bosannya hidup, gw masih belum bosan ngeliat matahari sore dari sini,” ujar Astrid sambil menunjuk semburat warna jingga di ufuk barat yang indah.

“Kalo gw, sebosan-bosannya hidup, untung ada rokok. Rokok adalah teman terbaik. Gatau deh kalo ntar gw udah kaya, mungkin uang kali jadi teman terbaik gw”

“Kadang kita ga tau ya yang baik itu seperti apa. Ada yang nikmat, tapi diam-diam merusak. Ada yang rasanya biasa aja, tapi ternyata kita butuh banget. Ada yang ga enak, tapi ternyata menyembuhkan.”

Anton menatap Astrid sambil menghembuskan asap rokoknya. Sekarang giliran dia yang mengangguk.

“Gw memang bukan cenayang. Tapi gw yakin kita di masa depan pasti bisa ngobrol lagi, berdua kaya gini, tapi di kafe mahal di Swiss. Yah, sekarang mah kita baru mampu beli soda murah dan ngobrol-ngobrol di balkon sore hari.”

“Obrolannya bakalan lebih berbobot ga nih nanti pas di Swiss?”

“Nah itu dia, kayanya sama aja kopongnya kaya sekarang,”

Keduanya tertawa keras.

“Atau mungkin bedanya nanti kita bakalan sok-sok British kali ya ngomongnya, belagu dikit,” giliran Astrid menebak-nebak, “Sama bawa pasangan masing-masing kali,”

“Oya?”

“Iya,”

Hanya angin sore yang tahu, yang mana yang tidak setuju.

sst3

Senandung Mendung

We will meet at where we had our first date
Please wear the same clothes as same as we wore at that moment, if you remember
See you at 16.00
Sherly.

Ini bukan hari yang sama seperti dulu, tetapi rasanya sama. Bahkan John ingat bahwa waktu itu pun cuacanya mendung seperti ini. Ia mendapati dirinya memakai kaos abu-abu dan celana jeans belel yang sudah lama tidak terpakai—ia harus membongkar isi lemarinya untuk mengenakan setelan itu. Hanya saja dia tidak lagi memakai sepatu bututnya yang berwarna putih karena sudah saking jeleknya dan tidak bisa dipakai lagi. John berkali-kali melihat jam tangannya dan menatap cemas pemandangan lalu lintas yang macet melalui kaca jendela mobilnya.

Ini bukan hari yang sama seperti dulu, tetapi sensasinya tetap sama. Jantung John berdetak tidak teratur dan berulang kali ia menghela nafas panjang. Gugup. Atau takut. Tetapi juga ada sentuhan rasa senang menyelimuti dadanya. Waktu itu juga sungguh sama seperti ini.

Meskipun semuanya sama, ia khawatir semua ini akan berujung berbeda.

Masih pukul 15.30. John sudah memarkir mobilnya serta mematikan mesinnya, namun ia masih duduk termenung, terlalu gugup untuk beranjak keluar. Pikirannya kosong, namun juga penuh spekulasi, perasaannya pun bergejolak. Lagu yang sama pelahan melantun dari saluran radio yang sama. John memandang jauh ke dalam bangunan kafe, kalau-kalau sosok itu muncul. Sosok yang sudah lama ingin ia lupakan namun gagal. Saat ini alam nampaknya berkonspirasi supaya John semakin mengingat semua detailnya kembali.

John membuka pintu mobil bersamaan dengan hujan deras datang. Segera ia membanting pintu mobilnya dan berlari. Lumpur bercipratan mengenai sepatunya dan air hujan mulai merusak penampilannya saat ini, cukup membuat John mengumpat berkali-kali dalam hati. Akhirnya ia menepikan langkahnya di teras kafe, bersamaan dengan seseorang yang memakai payung di sebelahnya. John sibuk merapikan rambutnya yang basah oleh air hujan sambil melihat bayangan dirinya di kaca jendela, hingga akhirnya ia sadar akan bayangan di sebelah bayangannya. Bayangan di balik pantulan payung jingga.

John menoleh, mata mereka bertemu dan saat itulah waktu seolah berhenti. Kaku sesaat, namun keduanya tidak sadar bahwa mereka tersenyum. Lingkungan tiba-tiba terasa hening sekali.

“Hai…,” Sherly menyapa dengan suara pelan dan mengulurkan tangannya di udara.

John menyambut tangan itu dan menyalaminya. Rasanya sedingin es. Karena cuacanya yang sedang dingin, atau Sherly sama gugupnya seperti dirinya?

“Ayo masuk,” John spontan mengajaknya ke dalam kafe.

Tidak ada yang spesial dari kafe yang sepi pengunjung ini. Kebanyakan pelanggannya hanya memesan satu cangkir kopi saja, lalu menikmati fasilitas wifi selama berjam-jam sembari mengerjakan tugas akhirnya. Atau pelanggannya adalah sekelompok mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kelompok sambil menikmati cemilan sore mereka. Ada deretan buku di ujung kafe yang bisa dibaca oleh pengunjung yang datang. Dekorasinya biasa saja seperti kebanyakan kafe minimalis pada umumnya. Tidak ada juga menu yang spesial dari makanan yang disuguhkan. Hanya kafe biasa kelas mahasiswa dari kampus terdekat.

Mereka duduk berhadapan di sudut ruangan. Keduanya langsung meraih buku menu dan membolak-balik halamannya, hanya untuk pereda kecanggungan, sekalian mencari-cari kata untuk memulai.

“Kita waktu itu duduk disini juga ya?” ujar Sherly tiba-tiba.

“Oh iya,” John menyetujui sambil tertawa kecil. Seorang pelayan datang menghampiri untuk menanyakan makanan yang hendak mereka pesan. Kemudian mereka berdua terdiam lagi. Ada hening yang cukup lama saat mereka berdua saling melihat keadaan satu sama lain. Hujaman kenangan mulai menyerang pikiran mereka masing-masing, baik yang indah maupun yang buruk. Terdiam antara menikmati atau benci karena teringat lagi. Tetapi kenyataannya selama ini mereka selalu menyenandungkan rindu. Mendung selalu mengingatkan akan angan dalam sendu.

Sherly memakai pakaian yang sama seperti saat mereka kencan pertama dulu. Kaos oblong berwarna salem dengan kardigan bermotif garis merah marun dan abu-abu. John ingat, sekilas Sherly seperti memakai kostum yang sama, namun ada sentuhan yang berbeda pada detailnya. Rambutnya kali ini terurai panjang, memakai anting kecil sederhana dan tanpa kacamata. Dia tidak memakai ransel butut kesayangannya kali ini, melainkan tas tangan sebagaimana layaknya wanita. John sedikit heran dengan pembawaannya yang nampak lebih dewasa. Sesungguhnya sudah berapa lama mereka tidak bertemu sampa ada perubahan yang nyata seperti ini?

“Kamu ternyata kurusan ya, John.” tanya Sherly akhirnya

Kata ‘kamu’ membuat hati John berdesir sedikit. John hanya tersenyum.

“Aku baru sadar, ternyata sekarang kamu beda ya sekarang, Sher, dibanding dengan lima tahun yang lalu,” John balik mengomentari.

“Aku udah jarang pake sepatu sneakers,” balasnya sambil menatap kakinya sendiri, “Kamu juga sekarang pake pantofel. Hmm…gaya rambut kamu juga beda, ganti kacamata juga ya? Kamu juga udah ga pake kal…”

“Gimana, Sherl?,” John memotong sambil menatap tajam. Sherly menopang dagunya dengan tatapan menunduk, seribu bahasa.

Sherly memberanikan diri menatap John dalam sunyi. Pandangannya penuh arti, berharap John bisa menerjemahkannya. John balik menatapnya dengan tatapan penasaran. Pelayan datang membawakan dua cangkir kopi panas pesanan mereka. Sherly segera menyeruputnya dalam-dalam

“Aku sebentar lagi mau nikah,” kata Shely lembut sekaligus tegas

Tangan John yang sedang mengangkat cangkir kopi tiba-tiba berhenti di udara beberapa detik, lalu ia meletakkannya kembali di atas tatakan cangkir. Terlalu cepat untuk mendengar kabar buruk. John berusaha untuk tenang.

John berdeham lemah.

“Kapan?”

“Bulan depan,”kata Sherly mantap ,”Ini undangannya,”

Sherly menyodorkan undangan berwarna emas. John meraihnya dengan enggan. Di atas undangan tersebut terukir nama sepasang calon pengantin : Sherly dan John.

“John juga?” tanya John sambil meletakkan undangan itu di atas meja

“Iya,”

“Sama atau beda?”

“Apanya?”

“Apapun. Sifatnya, penampilannya, fisiknya…,”

“Beda. Tetapi bukan berarti kamu atau dia lebih buruk. Setiap orang itu unik,”

“Kamu sayang sama dia?”

John bisa menangkap sekilas siluet keraguan dari mata Sherly sebelum ia menjawab ,”Tentu saja,”

“Nggak. Kamu nggak yakin,” John menyeringai sinis

“Dengar, John,” Sherly menghela nafas ,”Aku menikah bukan atas dasar perasaan aja. Aku nikah di atas fundamental, visi, dan komitmen yang sama. Itu yang membuat aku yakin,”

“Tapi kamu ga punya perasaan yang sama dengan dia!”

“John, kita berdua pernah menjalani satu waktu atas dasar perasaan yang sama dan kemudian hancur. Itu bukti konkrit kalau suatu hubungan hanya berlandaskan perasaan itu ga akan pernah berhasil! Kamu ngerti kan?”

“Kamu udah ga percaya lagi sama perasaan?” John bertanya balik ,”Liat mata aku, Sherl,”

Sesaat Sherly menatap lukisan di belakang John, enggan menatapnya balik. Namun berikutnya ia memberanikan diri menatap mata John. John menatapnya tajam hingga jauh ke dalam, seolah menantang, apakah ada sesuatu yang disembunyikan.

Sherly tertunduk duluan. Air mata terjatuh ke pangkuannya.

“Aku kurang percaya apa John dengan yang namanya ‘perasaan’,” kata Sherly tersendat ,”Pikiranku ga pernah putus untuk ingat sama kamu sejak kita berpisah. Berbagai cara aku coba buat ngelupain kamu, tapi aku ga bisa. Kamu harus tahu, betapa aku hancur hati pada satu waktu kamu sama orang lain. Aku lari kemana-mana, John, tapi nyatanya aku hanya lari di tempat. Ga ada yang kaya kamu John, ga ada,”

Sherly menahan dirinya sesaat. Air matanya terus mengalir. Ia kembali menatap John.

“Aku selalu sayang sama kamu, John. Sampai saat ini, sampai detik ini. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk menyerah pada logika, karena ngga ada jaminan untuk bergantung pada perasaan.”

John terdiam seribu bahasa dan bersandar lemas pada kursinya. Ia memandang Sherly dengan tatapan layu.

“Suatu waktu dia datang,” lanjut Sherly mengusap air matanya sendiri sambil melirik pada undangannya yang berwarna emas, “Dia datang dengan semua figur yang aku inginkan—kamu tau kan, John, tipeku seperti apa—baik itu secara fisik maupun karakter. Semakin aku kenal dia, semakin aku tahu bahwa dia punya kepercayaan dan visi hidup yang sama. Aku pikir dia benar-benar sempurna untuk mendampingi hidup aku sampai mati. Dia tau apa yang dia mau. Aku yakin dia bisa menjadi imam dan pemimpin untuk aku dan anak-anakku. Kami bisa bertumbuh bersama hingga tua dan mencapai tujuan hidup bersama. Keluarga dan sahabat kami sangat setuju. Akhirnya aku mau berkomitmen dengan dia seumur hidup, John. Aku mau belajar menyayangi dia, John.”

“Kata orang sebelum nikah pasti ada cobaannya. Dan kamu tiba-tiba saja muncul, John. Aku heran kenapa aku sangat senang ketika akhirnya kamu ada lagi di hidup aku. Aku tahu, ternyata ini belum selesai,” Sherly menunjuk dadanya sendiri.

“Maaf John, aku nggak jujur dari awal. Aku biarin semuanya mengalir begitu aja. Aku ngga bisa menahan diri karena aku nyatanya sangat rindu sama kamu. Rindu sekali. Kehadiran kamu itu seperti doa yang dijawab.”

“Sampai akhirnya kamu melamarku. Jujur aku goyah waktu kamu akhirnya mengutarakan niatmu. Saking goyahnya sampai-sampai aku semakin merasa tidak antusias akan pernikahanku yang semakin dekat,”

“Akhirnya aku sadar, bahwa kamu bukan pilihan. Kenyataannya meski kamu banyak berubah, tetapi kita tetap berbeda. Ga ada satu pun kesamaan di antara kita, kecuali tentang perasaan. Sekali lagi, aku menyerah pada logika dan aku setia dengan komitmenku.”

“Aku ga mau kita mengulang kesalahan yang sama. Sepasang kaki ga akan bisa berjalan kalau masing-masing kaki punya tujuan yang berbeda, yang ada mereka akan saling menginjak karena memaksakan kehendak satu sama lain. Mungkin perasaan adalah alasan untuk kita tetap bertahan, kita mungkin ikhlas kalau akhirnya kita disakiti. Lama kelamaan kita akan senang disakiti. Aku gamau kita masing-masing jadi seorang masokis. Aku gamau kamu jadi seorang masokis kalau nanti aku terus-terusan nyakitin kamu.”

John memandang Sherly dengan tatapan nanar.

“Ga ada kesempatan sama sekali untuk aku, Sherl? Apa ngga ada harapan sama sekali?” tanyanya serak.

“Kamu tahu kita sangat berbeda, John. Kita hidup di dunia yang menuntut alasan yang kongkrit untuk suatu keputusan yang terbaik. Pernikahan adalah keputusan yang sangat besar dan berimbas seumur hidup. Kita ga bisa main-main.”

John merasa kalah telak. Kepala John tertunduk dalam-dalam, lalu ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

“Aku pecundang, Sherl, dia memang pantas buat kamu,”

Sherly memandang John sambil menggeleng pelan.

“Kadang-kadang aku bertanya sama Tuhan, kenapa ia datang setelah kamu, John. Tapi kalau benar perasaan itu ada hanya karena anugerah dan bukan dibuat-buat dan dicari-cari, mungkin kalaupun kamu datang setelah dia, tetap saja perasaan aku memang untuk kamu.”

Sekarang giliran John yang hendak menangis. Pikirannya seperti dilingkupi fatamorgana. Melihat harapan yang indah tetapi nyatanya itu harapan kosong. Sherly menahan diri untuk menggenggam tangan John.

“Maaf aku mengajak kamu bertemu di tempat ini. Kalau saat ini adalah pertemuan kita yang terakhir, aku ini mengakhirinya dengan bernostalgia kenangan kita. Karena hari esok kita sebaiknya tidak tidak mengingat-ingat lagi dan melangkah maju dengan hidup kita yang baru. Kita akan selalu ingat, tapi jangan diingat-ingat lagi,”

Tiba-tiba John teringat akan sosok Sherly yang dulu. Semuanya. Apapun yang dikenakan Sherly sekarang, John tetap menganggapnya sama seperti lima tahun yang lalu. Ia juga tetap seorang gadis yang tangguh dan tahu betul apa yang ia inginkan. Betapa dia senang berkencan dengan wanita ini saat lima tahun yang lalu. Wanita cantik yang tulus mencintainya dan yang sangat ia cintai, namun takdir nampaknya tidak akan pernah mempersatukan mereka. Atas nama realita.

Akhirnya John meneguk kopi hitamnya yang sudah mendingin.

“Aku ngga pernah ketemu lagi seseorang kaya kamu, Sherl, makanya aku memutuskan untuk kembali. Aku tau kita susah untuk lanjut, tapi aku pikir harapan itu selalu ada sepanjang kita berusaha. Maka hanya dengan beralaskan perasaan yang sama, aku nekat melamar kamu. Aku bukan pria yang baik, aku nggak akan bisa membahagiakan kamu, tapi hanya perasaan ini yang aku punya. Hanya itu kesamaan yang kita punya,”

“Aku selalu sayang sama kamu, Sherly, tapi aku berjanji akan belajar menyayangi kamu dengan cara lain. Aku sangat ikhlas karena aku tahu kamu berada di tangan pria yang tepat. Kita pasti bisa menjadi teman yang baik.”

Sherly tersenyum.

“Aku kagum sama kamu, John, kamu banyak berubah. Kamu nggak akan bereaksi seperti ini seandainya saat ini kita masih di empat tahun yang lalu. Kamu sangat dewasa. Aku yakin, nggak lama kamu akan bertemu wanita yang baik, wanita yang tepat untuk kamu, dan tentu saja yang lebih baik dari aku. Aku pasti mendoakan,”

“Terimakasih,”

“Terimakasih juga karena kamu sangat dewasa,”

Lagu yang sama seperti saat lima tahun yang lalu kembali melantun di tempat ini, membuat John semakin mabuk akan bayangan fatamorgana yang dialaminya.

“Ayo, aku antar kamu pulang,”

Mereka beranjak pelan dari sana dan menuju mobil John di parkiran. Hujan masih turun, mereka berjalan dalam satu naungan payung jingga. Sherly tersenyum melihat mobil itu, masih mobil yang sama sejak lima tahun yang lalu. Bahkan aroma dalam mobil pun rasanya masih sama.

Sherly mengamati John yang sedang menyupir. Melihatnya seolah besok tidak ada kesempatan untuk bertemu lagi. Rasanya ingin berlama-lama di dalam sana.

Akhirnya mobil John berhenti tepat di depan rumah Sherly. Di luar hujan semakin lebat.

John menghela nafas. Sherly belum juga beranjak keluar.

“Boleh aku peluk kamu, Sherl? Untuk terakhir kali.”

“John…”

John dan Sherly menikmati aroma dan hangatnya tubuh mereka dalam rengkuhan, rasanya sungguh masih sama seperti waktu itu. Satu pelukan untuk mengungkapkan kejujuran atas kerinduan mereka. Tidak akan mengobati, namun setidaknya perasaan mereka akhirnya boleh tersampaikan.

Sherly melepas pelukan singkat itu. Takut kalau semakin lama akan semakin menyakitkan.

“Sampai ketemu lagi, John,” ujar Sherly seraya ia keluar dari mobil.

Sherly menunggu mobil John menghilang dari pandangannya. Ia membiarkan dirinya berdiri di tengah hujan yang lebat. Kalau saja perasaannya bisa seketika larut dalam tetesan air hujan.

Seseorang dari belakang meneduhinya dengan payung dan menyambut Sherly dengan senyuman. Pangeran sesungguhnya yang akan mendampingi dan menjaganyanya untuk seterusnya.

Ya, untuk selamanya.

Bandung, 10 Agustus 2014

Menulis sambil diiringi lagu :
– Always In My Head – Coldplay
– O – Coldplay
– Peluk – Dewi Lestari feat. Aqi Alexa

Di Depan Mentari

Kuhirup cita rasa tembakau dalam-dalam dan meniupnya ke arah langit. Langit gelap cerah, ribuan bintang menampakkan keindahannya tanpa terhalang awan. Suara jangkrik seolah memainkan orkestra alam di malam hari.

Sudah jam tiga pagi. Cahaya api unggun mulai redup karena kehabisan kayu bakar. Perkemahan sunyi, padahal dua jam yang lalu gunung ini terguncang dengan suara senda gurau sahabat-sahabatku sambil bermain kartu di dalam tenda. Aku memilih di luar tenda sambil mengobrol sesekali dengan temanku, merokok, atau menyeruput kopi. Tapi kebanyakan aku memilih melamun dan bermain gitar. Ada kalanya seseorang ingin sendiri, jauh dari keramaian.

“Ga tidur lo?” tanya sobatku, Toni, dengan nada mengantuk, mendorong punggungku. Aku menggeleng.

“Terlalu puitis lo Bri, gw perhatiin lo ngeliatin langit mulu. Ngarepin bintang jatoh ?,” kelakarnya sambil tertawa, lalu masuk ke dalam tenda. Aku hanya tersenyum saja.

Tinggalah aku seorang diri di luar, di tengah dinginnya pegunungan yang luar biasa. Insomniaku kambuh. Sedikit iri juga ketika mendengar suara dengkuran teman-temanku.

Entah insomnia, atau penyakit rindu yang membuat sensasi menyenangkan di perutku, aku tidak bisa membedakan. Aku tersenyum sendiri lagi, lalu melempar puntung rokok ke arah bara api unggun.

Ke sana gak ya?

Aku menoleh kanan kiri. Dua tenda di belakangku sunyi senyap.

Tiba-tiba saja aku sudah menyambar senter dan termos, lalu melangkah di jalan setapak. Mekipun suhu sedingin es, tetapi cahaya bulan terang sempurna, sehingga langit malam kalau diperhatikan sama sekali tidak hitam kelam. Kanan kiriku sebenarnya adalah kebun teh, namun yang ada di hadapanku sekarang adalah hamparan lautan bintang di atas tanah, kunang-kunang, yang dimana sama indahnya dengan lautan bintang di langit. Aku bersiul, dan entah kenapa ada perasaan yang hidup di dada ini dan merasa tidak sabar. Tidak sabar untuk bertemu. Aku sedikit berharap dia belum tidur.

Kumatikan senterku. Sampai juga di area perkemahan siswa diklat. Di tempat api unggun hanya tinggal tersisa bara api yang hampir padam dan ada beberapa siswa yang tidur di luar tenda dalam sleeping bag mereka. Sangat sunyi. Aku hampir yakin sudah demikian sejak jam sebelas malam tadi. Pendakian tadi siang pasti sangat melelahkan untuk pemula.

Kasihan. Padahal aku sangat berharap dia masih bangun. Aku menertawai diri sendiri, bertanya-tanya apa yang sudah kulakukan dan menyadari ketololanku.

Belum aku berbalik 180 derajat, ada bunyi gemerisik di belakangku. Spontan kunyalakan senterku, mencari sumber suara. Ternyata dari buntelan sleeping bag di depan tenda. Resletingnya terbuka dan seseorang terduduk.. Ia menyibak rambut panjang yang menutupi mukanya dan menyipit karena sinar senter halogenku.

Tanpa sadar aku tersenyum.

“Tolong matiin, silau,” katanya serak. Aku langsung mematikan dan berjalan menghampirinya.

“Siapa ya?”

“Sssshhh, ini gue, Ra…,”kataku berjongkok dan menyalakan pematik di depan wajahnya. Tampak ekspresinya lega.

“Huh, Brian, kirain siapa,” bisiknya tersenyum, “Jaga malem ya?’

“Iya,” kataku berbohong, “Ko kebangun?”

Dia menatapku sebentar.

“Tadi sekilas gue ngeliat sinar senter,” ujarnya, kembali masuk ke dalam sleeping bag, menarik resletingnya hingga ujung maksimal, lalu ia kembali merungkut.

Kuraih termos yang kubawa tadi, lalu kubuka dan kutuang isinya ke tutup termos luar. Kuseruput kopi susu panas itu. Nikmat sekali.

Aku menoleh ke arah sleeping bag. Ada sepasang mata yang mengintip ke arahku—ke arah kopi yang dipegangku sepertinya—terpantul indah oleh cahaya rembulan.

“Nih, kalau mau bilang dong,” godaku seraya menyerahkan gelas termos. Dia terduduk dan menyambut gelas itu. Tersentuh olehku tangannya yang dingin dan dia memegang gelasnya dengan gemetar.

“Makasih,”

Aku menuju tumpukan kayu bakar dan membawanya pada bara bekas api unggun tadi. Kupancing dengan minyak tanah, lalu kunyalakan dengan pematikku. Dengan begini akan jauh lebih hangat. Aku terduduk kembali di sebelahnya.

“Kalau mau tidur di luar, bikin api unggun, jadi ga kedinginan kaya gini, ga bisa tidur kan?” nasihatku sambil melihatnya asyik menyeruput kopi dalam-dalam. Dia mendelik, tapi tetap terdiam.

“Memangnya tenda penuh banget ya sampe lu harus tidur di luar?”

Dia mengangguk.

“Padahal suruh aja adik kelas yang di luar. Lagian kan lu cewe, Ra”

Matanya sekarang terpantul cahaya api, termenung, semakin terlihat sifat keras kepalanya. Dia bukan tipe orang yang langsung berbicara mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam. Kutemani dia terdiam sampai bicara, tanpa harus kutanya.

Aurora, yang dipanggil Rara, dia perempuan ter-pantang menyerah yang pernah kutemui. Tingkat satu kemarin sebenarnya kami diklat bersama, hanya saja karena fisiknya dinilai kurang kuat jika di lapangan. Rara langsung tidak lulus seleksi pertama. Sempat kulihat matanya berkaca-kaca sebentar, lalu langsung dikamuflase dengan tertawa di hadapan teman seperjuangan yang lain. “Gue nyusul taun depan!” katanya hanya begitu

Aku tahu dia sedih. Aku tahu dari sahabat se-fakultasnya, yang tanpa sepengetahuannya adalah teman SMA-ku, bagaimana dia menangis karena kehilangan keluarga barunya di Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam ini, belum lagi nilainya yang terlanjur buruk gara-gara ikut unit kegiatan mahasiswa ini. Dan dia bertekad menyusul kami di tingkat dua. Sungguh menjadi pemandangan yang miris, ketika kulihat tanpa sengaja, dia selalu melatih fisiknya dengan berlari pagi setiap tiga hari sekali, berkeliling lapangan sejauh empat kilometer, demi mengejar kembali keluarganya ini. Atau kepergok belajar sendiri di perpustakaan ketika istirahat untuk mengejar ketertinggalan nilainya di semester satu.

Lalu tiba saatnya tahun ajaran baru. Sudah lama tidak bertemu, ia menjadi sosok Aurora yang lebih dewasa, lebih diam, walaupun dia sedikit terlihat canggung karena hanya dua orang seangkatannya di tingkat dua yang hendak mengikuti diklat, sisanya para mahasiswa tingkat satu. Kebetulan aku yang menyerahkan slayernya ketika pembukaan diklat. Saat itulah, aku betul-betul melihat sisi lain darinya, ketika dia sempat mengunci mataku tajam ketika kuikat slayer di lehernya.

Belum pernah kulihat mata yang seindah itu…

Hari-hari diklat berlalu. Rara mengikutinya dengan lebih serius dan antusias, tanpa mengeluh sama sekali, nyaris tanpa kesalahan yang dibuatnya. Teman-teman seangkatanku sebagai tim pendiklat mulai membuat dia jadi buah bibir. Semuanya rata-rata sama: merindukan sosok Aurora yang dulu ketika masih berjuang bersama. Seorang Aurora yang kekanak-anakan, sering bercanda dan dibercandain, ga ada serius-seriusnya, usil, sekaligus perhatian. Sekarang entah kenapa dia jadi lain sekali sekarang.

Mungkin karena saking inginnya ia lulus seleksi, atau mungkin jaga gengsi depan adik kelas. Bisa dimaklumi.

Sejak mengikat slayer di lehernya, entah kenapa kami sering bertemu secara tidak sengaja di banyak tempat. Di depan laboratorium, di depan kampus, di kantin, di perpustakaan, atau bahkan di bawah pohon dekat parkiran ketika hujan. Lambat laun, setiap pertemuan kami semakin dekat. Awalnya hanya ngomong basa-basi, tapi lama-lama keluar juga sifat asli kami masing-masing. Tertawa lepas seperti dulu, belum pernah mengobrol dengannya seterbuka itu. Terkadang sampai lupa waktu, sampai-sampai aku pernah sampai terlambat masuk kelas. Jujur saja, semakin hari aku semakin menikmati setiap pertemuan kami. Semakin nyaman, bahkan ketika hanya duduk di sebelahnya. Hanya di luar kegiatan diklat aku melihat sosok dia yang sebenarnya. Beberapa bulan berlalu, aku merasa hubungan kami semakin dekat.

Duduk di sebelahku sekarang, seorang Aurora yang tampak tegar, tapi sebenarnya sangat rapuh di dalam. Kedinginan dan bibirnya kelu. Aku tahu dia lelah betul juga. Wajahnya pucat tadi siang ketika sampai di puncak, tampak mati-matian untuk tidak menyerah. Tahun lalu ketika kami diklat bersama, dia harus ‘diseret-seret’ senior supaya kuat ke puncak., Karena itulah para senior akhirnya mempertimbangkan dia supaya tidak lolos seleksi.

Sudah satu jam berlalu, kita berdua sepertinya tetap bersikeras untuk terjaga. Rara tetap menyeruput kopinya dalam diam dan menatap langit, seperti sedang menghitung bintangnya. Isi termosku habis sepertinya.

“Jujur aja deh sama gue, Ra,”

“Jujur apa?” kepalanya menoleh dan alisnya berkerut

“Jangan sok kuat depan gue,”

Dia meletakkan gelas termos di rerumputan dan menghela nafas panjang. Ada hening yang cukup lama.

“Oke…,” katanya sedikit keras, “Oke, gue nyerah untuk diam. Jujur aja gue capek Bri, cape hati, cape badan,”

“Kalau bukan karena gue sayang kalian, gue gamau susah-susah kaya begini.Gue sadar, fisik gue ga terlalu mampu olahraga alam kaya begini. Gue berjuang supaya gue jadi bagian dari keluarga kalian. Dan sebenarnya, sedih banget hati gue waktu ga lulus tahun lalu, rasanya seperti kehilangan saudara seperjuangan. Lu tau ngga perasaan gue waktu ngeliat kalian bareng-bareng bawa carrier tanpa gue dia antara kalian?”
Rara tidak mampu melanjutkan lagi, matanya penuh air. Dia sama sekali belum pernah cerita padaku bagian ini. Raut wajahnya menunjukkan kelemahannya sekarang.

Aku jadi ikut-ikutan diam. Memang aku pendengar yang baik, tapi bukan penghibur yang ulung. Ingin merangkulnya tapi aku canggung. Maka selanjutnya aku mengajaknya membicarakan hal yang lain. Kami berdua mengobrol dan tertawa pelan di hadapan api unggun.

Ada sebercak kemerahan di sayap timur langit. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

“Ikut gue,” kataku memaksanya berdiri dan menyambar senter halogenku.

“Mau kemana?”

“Ikut aja,”

Aku dan Rara menyusuri perkebunan teh di depan area perkemahan peserta diklat. Berjalan cepat. Rara meronta tangannya ditarik, tetapi kami terus berjalan.

Aku berhenti di tepi lembah yang curam dan menunjukkan baginya ufuk timur. Tepat waktu, mentari menampakkan wajahnya, merobek pekatnya langit malam, bertabur awan kemerahan. Lukisan agung di pagi hari.

“Brian…,”katanya tergagum dan terpaku melihat pemandangan bak lukisan itu, “Betapa Tuhan luar biasa…ini indah,”
Aku menoleh. Kelihatan di mataku wajahnya sangat manis tertimpa semburat cahaya mentari pagi. Ya, betapa sempurna Tuhan juga menciptakan kamu, Aurora. Perlahan, pasti, dan gugup…kugenggam jemarinya.

Rara tersenyum dan lagi-lagi mengunci mataku, mengencangkan genggamannya yang membuatku merasa semakin dekat dengan langit. Kami seolah berbicara dengan bahasa hati. Saling menatap, lama tanpa bicara. Tapi lama-lama aku menyerah, karena malu.

Aurora menoleh ke arah sunrise dan menutup mata, seperti sedang berdoa. Terdiam lagi sesaat.

“Tau ga Bri?” bisiknya, “Aku nunggu sekian lama buat waktu emas seperti ini. Dan aku sangat bersyukur,”

Aku mendengarnya tidak percaya.

“Sebenernya, yang paling aku sesali waktu ga lulus seleksi adalah…sedih karena pasti ga akan pernah ketemu kamu lagi. Aku baru menyadari arti hadirnya kamu waktu itu,”

Aku memeluknya erat, menghirup wangi rambutnya. Rara memelukku balik dengan sama eratnya, membenamkan wajahnya di dadaku.

“Maaf, udah bikin kamu menunggu.”

“Kita jangan pisah lagi ya, Bri,” Rara memelukku lebih erat lagi.

“Tidak akan pernah,” sumpahku. Di depan mentari.

Bandung, 30 December 2009
Untuk kamu : selamat ulang tahun.