childhood

Akhirnya menemukan Roald Dahl, Kenapa ga dari dulu?

Membaca buku adalah hobi pertama yang gw punya, dan gw terus melakukannya sedari kecil hingga sekarang.

Kebiasaan ini dikenalkan oleh nyokap gw. Dulu waktu gw belum bersekolah, beliau seringkali membacakan cerita dengan versinya sendiri di atas tepat tidur yang membuat gw tertarik untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Gw percaya, dari situlah awal mulanya gw menjadi anak imajinatif. Beliau juga yang mengenalkan gw dengan perpustakaan sekolah. Pada awalnya dia yang memilihkan buku buat gw untuk dipinjam, tapi lama-lama tanpa disuruh pun gw jadinya sering untuk meminjam buku dari sana. Gw ingat dulu gw berkali-kali mengganti kartu perpustakaan karena terlalu sering meminjam. Saking gw tergila-gilanya dalam membaca buku, gw kadang menyelipkan buku tertentu di tempat rahasia supaya bukunya ga dipinjam sama murid-murid yang lain (saat itu ada batas jumlah buku yang dipinjam, tapi sayangnya pilihan gw terlalu banyak). Kesempatan meminjam buku perpustakaan ini juga sangat menguntungkan karena waktu itu keluarga gw ga punya banyak uang untuk sering membeli buku yang baru.

Gw dan kakak gw pada dasarnya suka membaca. Pada waktu SD, komik apapun yang kakak gw baca, pasti gw baca juga, seperti Doraemon, Detektif Conan, Kungfu Boy, Kobo-Chan, dll. Kami sering bertukar dalam membaca buku yang kami pinjam dari teman-teman kami. Sebenernya apapun yang kakak gw suka, pasti gw juga suka, termasuk dalam selera musik. Tapi semenjak kakak gw masuk SMP/SMA, nampaknya kebiasaan ini mulai dia tinggalkan, tapi gw masih fanatik dalam membaca. Tapi jujur aja, kakak gw adalah salah satu figur yang kuat dalam hidup gw sampe sekarang. Dari gw kecil sampe sekarang banyak hal dari dirinya yang gw tiru, hingga akhirnya sulit bagi gw untuk menemukan pria yang seperti kakak gw. Brother-complex problem.

Novel pertama yang gw baca adalah serial Goosebumps, cerita misteri karangan R.L. Stine. Waktu kecil kayanya serem banget kalo baca Goosebump, tapi kalo dipikir-pikir saat ini sebenernya ceritanya ga serem-serem amat, cenderung konyol malah. Tapi serial tersebut sukses membuat gw gabisa tidur atau merasakan sensasi seramnya berhari-hari atau bahkan bikin gw ga berani buat melihat covernya lagi, tapi anehnya gw terus ketagihan untuk membaca Goosebumps. Kakak gw hanya punya sekitar enam buku serial Goosebumps, serial sisanya kebanyakan gw meminjam dari perpustakaan sekolah. Dari Goosebumps, gw beralih ke Fear Street. Masih karangan R.L. Stine, tapi untuk remaja sebenarnya.

Namun di tengah-tengah bacaan gw yang serius, gw juga meminjam cerita yang ringan-ringan dari perpustakaan sekolah. Gw teringat, waktu itu gw banyak terkesan oleh buku-buku karangan Enid Blyton. Buku dari Enid Blyton yang gw baca adalah Noody. Ilustrasinya lucu banget, ceritanya tentang dunia mainan gitu kalo ga salah. Setelah serial “Noody” gw lalap habis, gw mencari buku-buku karangan Enid Blyton yang lain, banyak serial mini novel yang beliau buat untuk anak-anak. Kebanyakan ceritanya menyentuh. Gw lupa ceritanya, tapi gw inget gw suka menangis dengan cerita-ceritanya. Pokonya berkesan banget.

Tapi ga ada yang bikin gw sangat terkesan seperti serial Harry Potter karangan J.K. Rowling. Pertama kali gw tersentuh dengan cerita Harry Potter adalah justru dari buku seri yang ke tiga. Gw sangat terkesan dengan Bab 1 nya! Namun gw ga sanggup untuk meneruskan ke bab 2 karena ga ngerti dengan ceritanya.  Setelah film Harry Potter menjadi booming waktu itu, gw mulai meminjam teman buku Harry Potter jilid yang pertama. Dan gw langsung gabisa berhenti membaca hingga halaman terakhir. Novel terjemahan ini sangat mempengaruhi gaya berbahasa gw pada awal-awal gw mulai menulis cerita.

Kalau dipikir-pikir, gw beruntung bisa bersekolah di sekolah dasar dengan perpustakaan yang sangat lengkap. Ditambah lagi di rumah Eyang banyak buku ensiklopedia atau buku majalah Hai yang penuh dengan cerpen-cerpen dan komik menarik (beda jauh deh sama buku Hai jaman sekarang yang isinya melulu ngomongin gaya hidup yang glamor). Kedua faktor inilah secara tidak sadar membuat standar tinggi dalam diri gw dalam memilah-milih bacaan. Akhirnya gw menyadari sekarang, kenapa gw terheran-heran novel “Dealova” bisa terkenal banget di kalangan anak-anak SMP padahal ceritanya kacangan, malahan di saat itu gw menilai Cintapuccino adalah novel drama yang sangat membawa imajiasi pembacanya! Gw sepertinya kecepetan dewasa. Namun sejak SMA hingga kuliah, gw paling anti baca serial teenlit atau chicklit. Gw memilih untuk membaca serial Supernova dari Dee untuk jenis novel drama yang lebih berbobot.

Ketika gw menemukan perpustakaan gw di SMP mengecewakan, gw mencari bacaan yang ter-update di Taman Bacaan di deket sekolah. Perpustakaan di SMA lumayan, tapi karena masih kurang puas akhirnya gw menjadi anggota Taman Bacaan “Pity Moss” sampe sekarang. Kalo ga sempet ke taman bacaan, gw juga masih suka minjem novel dari temen.

Hobi ini sempat terhenti ketika kesibukan melanda, atau mungkin semakin dewasa gw semakin malas dalam membaca novel yang berat, entahlah. Dunia jaman sekarang membuat orang-orang semakin malas. Niatnya mau baca buku ini, eh udah ada filmnya, ya udah, mendingan nonton filmnya deh daripada cape-cape membaca. Padahal tanpa disadari hal inilah yang mebuat orang bodoh dan malas, bikin pikiran jadi mentok. Akhir-akhir ini gw kembali mengusahakan waktu gw untuk membaca supaya kemampuan imajinasi dan berbahasa gw ga menurun. Membaca novel lagi setelah sekian lama tidak membaca itu rasanya kesiksa karena sulit untuk membayangkan.

Gw udah cerita kan? Kalau tahun ini gw memutuskan untuk memprioritaskan pelayanan anak di Sekolah Minggu Gereja Kristen Jawa Bandung. Di ruang sekolah minggu, tentu saja ada perpustakaan. Perpustakaan, dimanapun, adalah tempat yang menarik bagi gw untuk melihat-lihat. Hmmm…buku-buku di sana lumayan update juga, hasil dari sumbangan orang tua anak-anak sekolah minggu. Don’t judge the book by it’s cover, but honestly, first impression comes from it’s cover, so people want to read it.

Mata gw tertuju kepada buku-buku cetakan baru dengan ilustrasi menarik. Ada nama ROALD DAHL dengan huruf besar-besar tertera pada beberapa buku. Kemudian pada setiap bukunya ada label yang bertuliskan sebaga berikut :

“Roald Dahl tidak hanya hebat dalam soal cerita…Tahukah kamu bahwa 10% royalti penulis buku ini disumbangkan kepada berbagai kegiatan amal Roald Dahl?”

Siapa sih Roald Dahl? Kok gw ga tau ya?

Benar saja, ceritanya seru semua, ga ada yang jelek apalagi membosankan! Gw suka dengan cara penulisannya yang detail, namun dengan gaya bahasa yang sederhana untuk anak-anak. Selain itu, caranya menulis sama seperti halnya seseorang mendongeng, sehingga banyak penekanan-penekanan yang menyentuh. Segala sesuatunya seperti nyata, tidak dibuat-buat, apalagi dilebih-lebihkan. Gw yang sudah dewasa aja tersentuh apalagi anak kecil.

Seperti biasa, orang yang menghasilkan karya inspiratif selalu membuat gw penasaran akan kisah nyata hidupnya.

Orang bisa berbagi kalau dia sendiri mendapatkan sesuatu sehingga dia bisa memberikannya kepada orang lain. Ini dalam konteks menghasilkan karya seni loh ya. Makanya seringkali seorang penulis, sutradara atau bahkan seniman berkelana untuk “mencari inspirasi” katanya.

Bagi Roahl Dahl, inspirasi nampaknya bukan sesuatu hal yang dicari, karena inspirasi itu datang sendiri dan ia menangkapnya baik-baik dalam ingatannya. Dia memiliki masa kecil yang hebat. Setahun sekali ia berlibur di Norwegia dengan pemandangan yang indah. Setelah lulus SMA, dia bekerja di Shell dan menetap di Afrika Timur (Di sanalah ia memiliki pengalaman bertemu dengan binatang-binatang eksotis), pernah menjadi pilot tempur Angkatan Udara Inggris pada Perang Dunia II, pernah juga manjadi atase Angkatan Udara. Pengalaman-pengalaman hidupnya sudah lebih dari cukup untuk memberikan inspirasi. Dia adalah penulis segala bisa. Pintar, seorang atlit alamiah yang mahir dan seorang fotografer yang andal. Kebanyakan dari kisah-kisah yang diceritakannya adalah berdasarkan kisah atau pengalaman nyata yang Roald Dahl alami semasa hidupnya. Pelajaran berharga bagi para penulis untuk jeli dalam menangkap momen yang bisa dijadikan inspirasi dalam menulis.

MTE5NDg0MDU0OTM4MDI3NTM1

Roald Dahl

 

Karyanya yang terkenal adalah “Charlie and The Chocolate Factory”. So far, buku-bukunya yang udah pernah gw baca adalah Boy : Tales of Childhood (Cerita tentang masa kecil Roald Dahl yang menyenangkan), Charlie and The Great Glass Elevator, Matilda, James and The Giant Peach, Danny and The Champion of The World, The Enormous Crocodile, Fantastic Mr. Fox, The Girrafe The Pelly and Me, The Magic Finger, Esio Trot : Aruk-Aruk. Sepertinya gw masih sangat haus untuk membaca karangan Roald Dahl yang lain.

unduhan

Buku favorit gw dari Roald Dahl, menggambarkan hubungan yang super asik antara ayah dan anak

Empat jempol untuk Roald Dahl! Terlepas dari kisah hidupnya yang ga sempurna, dia mampu bercerita kepada anak-anak mengenai indahnya alam dan indahnya suatu hubungan dengan orang lain.

Berikut adalah tips menulis dari Roald Dahl, seperti yang dilansir dari http://www.roalddahl.com :

Tips

Mengunjungi museum Roald Dahl di Buckinghamshare masuk ke dalam bucket list gw. Suatu hari gw pasti akan kesana 🙂

Sekian tulisan gw kali ini. Selamat menikmati long weekend yang menyenangkan untuk para pembaca sekalian.

Teruslah membaca. Tidak mungkin tidak ada hal yang baru yang bisa kita dapatkan dari membaca.

Bye!