friends

Saturday Fun Day at Taman Mangrove, PIK

Ini adalah postingan keempat gw di minggu ini, wow! Rajin amat ya nulis, ketauan banget gw lagi kurang kerjaan, hahaha. Btw, I’m in a very good mood 🙂

Kali ini gw mau cerita lagi tentang tempat baru yang gw kunjungi bersama temen-temen gw : Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Gw ke sana bersama sohib kuliah gw : Della dan Fetty pada tanggal 9 Januari 2016.

Sebenernya kami waktu itu ga ada rencana sama sekali untuk mengunjungi tempat tersebut. Bener-bener random aja gitu. Awalnya kita bertiga ketemuan di mall Grand Indonesia Jakara Pusat, niatnya hanya nongkrong2 cantik aja disana. Della udah dandan total, Fetty udah cantik banget, gw yah…udah mentok segini aja, berusaha berpakaian yang sewajar mungkin, haha. Setelah kami “update status” tentang kehidupan kehidupan kami (dicampur sama ngegosip, haha), tiba2 gw nanya,”Udah gini aja nih? Cuman disini aja?”. Lalu Della jadi ngomongin tempat yang lagi ngehits di Jakarta, namanya Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Dan berhubung di Fetty udah punya mobil sendiri, ya sudah, tanpa berpikir panjang kami langsung cabut ke PIK like a boss B)

Tiket masuk Taman Mangrove ternyata hanya Rp. 25.000,00 per orang (lumayan murah juga). Setiba di sana cuacanya kelewat cerah, bikin kami sadar kalo kami salah kostum. Untung aja gw pake sepatu kets. Yang paling kasian tuh si Della. Doi jadi susah jalan di jembatan kayu bakau lantaran pake sepatu hak tinggi. Belum lagi doi disepet sama orang yang disana “Salah kostum kali tante,” BOOM! Sabar yaa Della, hehehe.

Sebagai anak yang suka banget sama wisata alam, gw sangat menikmati Taman Mangrove. Suasananya jelas sangat asri. Biarpun cuaca panas, tapi teduh karena dedaunan bakau di sepanjang jalan setepaknya. Tapi berhubung kalo foto bagusnya di tempat yang terbuka, kami rela panas-panasan demi dapet foto selfie yang terbaik. Alhasil kulit gw gosong dengan sukses!

20160109_150746

Gw (kiri), Fetty (tengah) dan Della (kanan)

Walaupun hanya berbekal kamera HP, sebisa mungkin gw abadikan pemandangan indah di Taman Mangrove. Dedaunan yang hijau dan langit biru yang bersih adalah kombinasi sempurna untuk foto landscape. Sayang, di sudut-sudutnya masih ada aja orang Indonesia yang norak buang sampah sembarangan.

IMG_20160109_151148

IMG_20160109_153323

20160109_162905

Serasa di Kyoto!

Tidak hanya melihat-lihat muara sungai yang ditutupi tanaman bakau, gw juga sempet liat satwa yang berhabitat disana seperti burung dan biawak. Gw memandangnya dengan penuh kagum. Senang, ternyata masih ada tempat seperti ini di Jakarta yang lekat dengan pencitraan “Hutan Beton”

IMG_20160109_165858

IMG_20160109_171255

Pemandangan burung putih besar (gw gatau namanya) yang hinggap di pohon mangrove, terlihat dari menara pengamat. Kontras dengan pemandangan crane dan jembatan di belakangnya.

Itu aja cerita singkat dari gw pas pergi ke Taman Mangrove. Ayo kesini, ga bakalan nyesel deh! Wawasan kalian akan bertambah tentang ekosistem Mangrove. Jangan ke mall mulu guys, hehe.

Sampai bertemu di post selanjutnya ya! 😀

Ngopi-Ngopi Cantik Di Bandung

Halo readers! Piye kabare??

Kali ini gw mau cerita tentang momen ngopi-ngopi cantik di kafe bernuansa alam di kawasan dago pakar, Bandung (ga usah sebut nama yeee, ntar dikira promosi lagi, haha). Gw, bersama temen-temen naik gunung gw yaitu Mba Saras, Dega, Adit, Ester, dan Andre (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) berkunjung ke kafe ini pada tanggal 26 Desember 2015, tepat sehari setelah Natal. Setelah ngomongin beberapa wacana ini-itu (pernah kita ngomongin muluk-muluk mau naik Gunung Cikurai tapi ga jadi, hiks), akhirnya wacana ke natural cafe ini yang kesampean. Kita ga mau cape, suasana alamnya dapet, refreshingnya dapet, yang penting bisa makan, ngobrol, ketawa-ketawa dan foto-foto, haha. Maklum, sebagian besar dari kami bekerja di ibukota, jadi udah muak dengan suasana perkotaan dan pengen melihat yang hijau-hijau, tapi ga mau cape lantaran energi kami sudah terkuras habis di kantor.

Dasar gw dodol ga nyimak diskusi grup Whatsapp dengan baik, bayangan gw tuh kita harus hiking dulu untuk mencapai café itu. Maka gw dengan santainya pakai kaos dagadu, sepatu kets dan ransel. Dan ternyata gw salah kostum banget!! Si Ester dan Mba Saras pake baju cantik (pake dandan segala lagi), Si Adit udah kaya cover boy, si Andre pake poloshit. Sedangkan gw rambut aja lepek banget (sengaja ga keramas, kirain mau hiking). Haduuhh, kalo gagal fokus jadinya begitu kan. Untung gw ga pake baju gembel ala-ala anak lapangan gitu.

Tapi gapapa, gw tetep ikutan foto-foto cantik. Epriting is gonna bi olllrait! 😀

Kami mencapai lokasi  dengan mobil pribadi pada pukul 08.30 (padahal kafenya buka jam 9, haha, kerajinan ). Ternyata ada untungnya juga dating kepagian, soalnya kalo datengnya lewat dari jam 9 langsung masuk waiting list!

Ketika masuk ke dalam kafenya, ternyata gw baru nyadar kalau gw kangen sama suasana alam seperti itu. Udaranya sejuk, sekaligus hangat oleh sinar matahari pagi. Meja kami langsung menghadap hutan pinus di perbukitan. Wangi rerumputan yang sedap terhirup oleh hidung gw. Ditambah lagi bersama teman-teman yang seru dan sarapan yang hangat. Perfect.

DSCN0661

DSC_6563IMG_20151226_095501DSC_6597IMG-20151227-WA0012IMG_20151226_104827

Tapi menit-menit surgawi itu hanya bisa dirasakan hingga jam 10, setelah itu panasnya minta ampuunn.

DSC_6656

Dandanan udah tomboy, tapi tetep aja pake payung. Manja ga tahan panas. Dasar Kristyarin!

Oya, gw sempet juga belajar pake kamera DSLR, tutorial sebentar sama mba Saras. Hasilnya lumayan juga, terbukti dengan dipakainya hasil jepretan gw itu di profpic-nya Mba Saras dan Si Ester (parameter keberhasilan yang aneh). Berikut jepretan gw hasil tutorial singkat ga nyampe 10 menit bareng Mba Saras :

DSC_6624

DSC_6631

Segitu aja cerita gw refreshing sebentar sambal temu kangen dengan temen-temen gw di natural cafe. Semoga bisa jadi referensi buat pembaca sekalian yang pengen liburan ke Bandung namun dengan suasana yang berbeda.

See you again, readers!

 

Kangen Geodin

Saat ini jam menunjukkan pukul 15:16, waktu Indonesia bagian Ciledug Raya, haha. Jakarta sedang dirundung mendung. Malem minggu, hujan, bisa ditebak lah ujung-ujungnya…macet. Untung gw bukan anak gaul, yang menganggap pergi ke mall adalah suatu kebutuhan primer. Lebih baik gw diem di kosan. Tapi bukan berarti gw anti mall loh. Gw sebenernya kangen untuk pergi ke mall untuk belanja sama nyokap gw. Mom, wherever you are right now, i miss you badly.

Sejak gw pindah ke Jakarta, gw semacam membuat komitmen ke diri sendiri untuk pulang ke Bandung hanya sebulan sekali. Gw ingin beradaptasi dengan lingkungan disini. Gw ingin menjelajahi kota ini, syukur-syukur kalau ada teman yang bisa diajak ikut serta, tapi kalau sendirian pun ga masalah. Gw kedepannya ingin berbuat sesuatu disini, ingin menghasilkan sesuatu dari hobi gw, juga  ingin gabung dengan suatu komunitas. Gw haus akan pengalaman baru dan gw harus mendapatkannya, lebih dari hanya sekedar bekerja di kantor.

Karena ga dipungkiri rasa bosan perlahan mulai perlahan merasuki gw. Gw akui, sampai saat ini selama gw di Jakarta gw masih belum menggunakan waktu dengan baik dan hanya terfokus bekerja di kantor. Segala rencana yang ingin gw lakukan disini masih berbentuk wacana. Bisa dibayangkan, gw masuk pukul 07.30, pulang pukul 16.00. Sebagian besar waktu gw dihabiskan dengan “mengintip” mikroskop untuk mendeterminasi fosil, membaca literatur, terkadang juga membantu pekerjaan senior. Ketika kejenuhan melanda, paling-paling gw browsing atau streaming sesuatu via internet. Ketika pulang ke kosan, gw biasanya beres-beres dulu sebentar, mandi, lalu tidur. Kalau kebangun tengah malam palingan chatting sama teman. Besoknya gw menjalani rutinitas yang sama, dengan sedikit perasaan menyesal kenapa sepanjang malam sebelumnya gw habiskan dengan tidur dan tidur.

Bagi gw, ada kenikmatan sendiri dalam tidur. Dan bahkan bagi gw tidur lebih penting daripada makan. Namun ternyata tidur hanya bisa melepas lelah dan tidak melepas penat. Bahayanya, kepenatan ini sesungguhnya berpengaruh pada kinerja gw di kantor. Seharusnya setiap malam gw sempatkan untuk menjalani hobi yang sudah lama tidak gw lakukan atau belajar sesuatu. Dan kalau perlu, gw jalan keluar dari dunia Ciledug Raya supaya ga “kuper”. Hmmm…baiklah, mulai hari ini akan gw usahakan untuk melakukan sesuatu selain tidur. Beneran deh, tidur ketika pulang kerja dan ketika weekend itu godaan yang besar buat gw, butuh usaha yang lumayan untuk melakukan hal yang produktif dan pergi ke tempat baru. Sebenenya gw suka banget untuk melakukannya, cuman untuk memulainya itu loh…hhe. Ayo bergerak, pemalas!

Ketika rasa jenuh datang ketika di kantor, gw suka teringat Geodin. Kerja di Lemigas itu asik kok. Lingkungan disini hijau, teduh dan sepi, tempat yang enak untuk belajar, seniornya ramah-ramah dan terbuka untuk ditanya-tanya, banyak makanan, dll. Hanya saja ada beberapa hal yang gw rindu dari Geodin dan tidak bisa gw dapatkan disini.

1

Difoto sama Ramade waktu tidur di jam kerja, hehe

Gw kangen sama anak-anak. Biasanya kita sempetin buat nonton film di Ciwalk seenggaknya sebulan sekali. Kayanya ga ada hari yang terlewat tanpa tertawa, setiap makhluk yang ada di Geodin gila-gila, apalagi para penghuni The Green Ciumbuluit kav. 14. Biar dikata santai, tapi anak-anaknya serius kalau nyelesein kerjaan. Gw kangen berdiskusi tentang geologi bersama anak Geodin yang cerdas-cerdas. Gw kangen begadang bareng, dimana kita sampe di suatu titik “jam bodoh”, yaitu waktu yang sebenarnya otak udah gabisa mikir tapi dipaksa untuk berpikir, maka disitu kita stress bareng dengan ketawa-ketawa kaya orang teler atau terdiam seribu bahasa dalam ketegangan menunggu detik-detik menuju rapat bersama klien. Gw kangen juga dengan lingkungan rumah Ciumbuluit yang segar, bersih dan asri, serta masakan Bu Diman yang enak banget! Gw kangen saat-saat dimana kalau salah satu anak Geodin berulang tahun atau syukuran pindah kerjaan biasanya mentraktir pizza, seperti sudah menjadi suatu budaya disana. Gw kangen Vian dan Ramade yang gw anggep kakak sendiri, yang suka nganterin gw kemana-mana, gw dulu sering main dan curhat sama mereka. Gw kangen sama Pak Mino, yang mempresentasikan hasil project di hadapan klien dengan kharisma kecerdasannya yang luar biasa dan mengajarkan kami untuk terpacu dalam standar kerja yang tinggi, dan tentu saja—rindu dengan logika geologinya yang luar biasa, nampaknya masalah geologi apa saja bisa dijawab oleh beliau.

2

Para penghuni Geodin Ciumbuluit (1)

3

Para pernghuni Geodin Ciumbuluit (2)

4

Para penghuni Geodin yang tersisa, terakhir sebelum gw pergi

5

Ramade (kiri), gue (tengah), dan Vian (kanan). How I miss you both guys!

8

Hanya di Geodin traktiran pizza bisa sampai setinggi ini!

Bagi gw, Geodin tidak terganti dan selalu ada di hati. Terimakasih Pak Mino, kalau bapak memberi kesempatan kepada saya untuk menimba ilmu dan pengalaman kerja disana, sebagai batu loncatan bagi saya untuk berkarir sebagai geologist, padahal waktu itu saya adalah seorang fresh graduate dengan pengalaman nol. Terimakasih untuk kepercayaannya, Pak.Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda. Amin.

7

Pemandangan Jeep Wrangler merah milik Pak Mino dari jendela lantai 1 rumah Ciumbuluit, tanda kedatangan bapak. Kangen dengan paniknya kami ketika bapak sudah datang untuk memimpin rapat internal, hehe

Cukup nostalgianya. Sekarang gw harus memikirkan bagaimana caranya gw melakukan yang terbaik di pekerjaan gw, bagaimana caranya gw bertahan hidup di tengah kerasnya jakarta, bagaimana caranya  menjalani rutinitas yang rawan akan kejenuhan setiap harinya. I have to do something productive everyday in my new place, I want to challenge myself!

See you at the next post and have a nice weekend everybody 🙂

In The Wednesday Morning

Halo guys…udah lama banget yaa gw ga nulis…

Saat ini gw lagi di kafe ‘Herb and Spice’ (Jl. Pasir Kaliki 163, Bandung), menunggu sobat2 gw yang penyakit jam karetnya ngga sembuh2 dari jaman SMA. Pagi-pagi disini, di dalam kafe dengan interior bernuansa cokelat natural yang teduh, ditemani segelas healthy juice yang seger banget dan lagu akustik serta memandang langit mendung di luar sana…sempurna 🙂

Gw sangat bersyukur sama Tuhan yang selalu menghibur gw di tengah segala kejenuhan yang ada akibat banyaknya kerjaan kantor yang harus diselesaikan dan padatnya jadwal pelayanan yang ada. Seperti Sabtu di minggu lalu, gw bisa rehat sejenak dengan menginap di hotel (yang menurut gw cukup mewah) lantaran ditawarin temen gw buat nemenin dia sementara menginap di Bandung. Saat ini gw janjian sama sobat2 SMA gw, bahkan setelah ini pun gw masih harus ketemu sama temen gw yang dari Bali. Minggu depan, gw mau ke Jakarta buat nonton dua film indie yang gw tunggu2 selama ini (Someone’s Wife In The Boat of Someone’s Husband sama Postcard In The Zoo) ,dan kebetulan juga di hari yang sama tiket kereta lagi promo jadi gw bisa kesana dengan murah meriah!!

Tuhan Yesus baik banget 🙂

Dipikir-pikir,kalo menghitung berkat Tuhan setiap harinya tuh bakalan ga ada habisnya. Untuk masalah bersyukur, gw mengaku kalau hal itu masih jauh dari kata gampang. Gw masih suka ngeluh saat mengerjakan apa yang harus gw kerjakan, iri hati akan pencapaian orang lain, dan misah-misuh tentang gw sendiri sama Tuhan. Intinya gw tuh seringkali sulit untuk bersyukur, padahal Ia layak mendapatkan pujian dan hormat akan kasih-Nya atas hidup gw, dimulai dari hal yang terkecil Ia mengerti.

Sekian postingan gw kali ini (dan temen gw pada belom nyampe juga, hufft).

I have amazing life because I have marvellous Lord 🙂

See you at the next post about my wonderful life! 😀