Jakarta

Jambore Sahabat Anak XX 2016 (Pengalaman sebagai PJ Area)

Okay…Inhale…exhale…Take a deep breath…

HELLO EVERYBODYYYYYYY!!!

Astaga…gw sadar betul kalau gw udah terlalu lama tidak menulis. Terlalu banyak kejadian yang gw alami selama 3 bulan terakhir, dan sayangnya gw blm punya waktu untuk merekamnya dalam waktu tulisan. Untung ada sosmed yang bernama Path dan Instagram, jadi gw sempat mengabadikan momen di saat event sedang berlangsung. Makin hari makin terasa, bahwa gw membutuhkan lebih dari 24 jam sehari.

Hmm…dimulai darimana ya?

Oya, gw akan menulis tentang satu event besar tanggal 30-31 Juli 2016 : Jambore Sahabat Anak XX 2016.

Suatu kehormatan tersendiri bagi gw ketika Ketua Tim Pelayanan Adik Asuh yang bernama Kak Anna, di saat bulan April kemarin, meminta gw untuk menjadi PJ Area Panglima Polim untuk Jambore Sahabat Anak 2016. Gw bingung, yang terlintas di kepala gw adalah apa itu PJ Area? Apa itu Jambore Sahabat Anak? Gw kan baru 3 bulan pelayanan disini, kok udah dipercayakan hal yang nampaknya besar? Kak Anna meminta gw dengan santainya ketika sedang rame-rame makan pecel lele di depan Gereja seusai latihan nyanyi untuk pernikahan Kak Afri, meninggalkan gw dengan tanda tanya. Kak Arend, yang saat itu ikut makan malam bersama kami, sangat menyarankan gw untuk ikut. Deadline S2 masih lama kan? Ikutan aja, Rin, siapa tau ketemu jodoh. Sialan.

Gw dengan berani langsung mengiyakan untuk mengemban tanggung jawab sebagai PJ Area. Karena gw yakin, gw akan mendapat banyak pengalaman dan teman baru melalui kegiatan ini. Kalo masalah ketemu jodoh, yah saat itu gw ga berharap banyak deh, hehe. Itu gw anggep sebagai bonus dari Tuhan aja kalau memang dipertemukan.

Btw, yang mau tau lebih banyak tentang Jambore Sahabat Anak, bisa mengunjungi websitenya  disini

IMG-20160801-WA0184

PJ Area Panglima Polim dari kiri ke kanan : Kristyarin a.k.a gw sendiri (2016), Anung (2015), Gisel (2014), Hegel (2013 & 2012)

Benar saja, setelah itu gw mengalami rentetan momen-momen yang baru dan menyegarkan. Briefing Jambore membuat gw tahu tempat-tempat baru seperti base camp Sahabat Anak Tumbak, dan kantor Microsoft (bersyukur banget gw dapet kesempatan bisa masuk dan melihat2 kantor Microsoft!). Gw juga bisa kenalan dengan teman2 dari komunitas serupa, yang membuat gw ingin mengunjungi anak-anak di komunitas mereka.

IMG-20160724-WA0008

Berkunjung ke SKM (Street Kids Ministry) Tomang. Adik-adik belajar bersama di bawah jembatan Tomang. Suatu saat gw pasti kesini lagi 🙂

Dan satu hal yang tidak kalah menyenangkan adalah membuat video bersama adik2 dan video tersebut mendapat juara 1 berdasarkan penilaian juri!! Cerita tentang pembuatan video bisa dilihat di sini

Terlibat dalam Jambore Sahabat Anak 2016 membuat gw sangat-sangat bersyukur. Betapapun capenya gw selama persiapan, semuanya itu hilang ketika berhadapan dengan anak-anak. Betapa gw mencintai anak-anak dengan segala kejujurannya. Gw sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memberikan apa yang gw punya, sebisa mungkin, setulus mungkin.

IMG_20160730_095629

Semangat jambore siang-siang panas-panas pake merah-merah. Bumi Perkemahan Ragunan, bakaaarrrr!!!

IMG-20160801-WA0000

Foto bersama adik-adik dan kakak-kakak SKM Tomang dan Tim Pelayanan Adik Asuh Panglima Polim.

IMG-20160801-WA0002

Edisi kakak-kakaknya aja 😀

IMG-20160816-WA0009

Terimakasi Slamet dan Via untuk gelangnya 🙂

As a bonus, melalui momen ini juga gw bisa mengenal seorang Yohannes Loui Pattinama lebih dekat. We are in a relationship now. Rasa syukur gw berlimpah-limpah ketika mengingat cara Tuhan mendekatkan kita secara ajaib. Bersyukur memiliki kekasih yang bisa diajak untuk berdoa dan melayani bersama. Seringkali juga kita berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan. Terimakasih Tuhan Yesus yang baik 🙂

IMG-20160817-WA0010

No caption needed 🙂 ❤

Maaf kalo gw ga cerita tentang acara Jambore Sahabat Anak secara detail. Melalui blog ini gw hanya ingin menceritakan apa saja yang membuat gw merasa bersyukur selama persiapan hingga menjelang hari-H Jambore. Dengan Jambore ini gw juga semakin dikuatkan dan diteguhkan, untuk terus membagikan waktu, ilmu dan kasih kepada anak-anak yang membutuhkan.

That’s all, reader. I hope you’re doing well, and also as happy as me 🙂

God bless us!

 

Forever 25

Satu jam lagi gw akan menapaki usia tepat 25 tahun

Sedikit sentimentil, karena gw akan menjalani ulang tahun sendiri tanpa keluarga…tapi mereka berhasil membuat gw tersenyum dengan mengirimkan gw kado ke kantor (kadonya nyampe kecepetan sehari)…Oh, How I miss you Mom and Dad :*

wp-1463707719414.jpgwp-1463707730143.jpgwp-1463707746352.jpg

Sebagai keluarga yang tidak romantis, mama papa bukan tipe orang tua yang memberi kado setiap gw ulang tahun. Yah, kalo dulu2 mungkin alasannya lebih ke karena ga punya duit aja sih, hehe. But it’s not a problem. Gw ga menuntut mereka harus membuat gw bahagia, justru gw berpikir keras bagaimana caranya membuat mereka senang menjalani hari tua mereka.

Saat ini gw menulis sambal diiringi “The Weepies – Not Your Year”. Lagu yang mengingatkan gw masa-masa kelam tahun lalu, dimana gw merasa masa depan gw sangat sangat gelap. Sama sekali ga terbayang 2016 itu seperti apa.

Lagi, lagi, dan lagi…karena Tuhan baik, gw ada di Jakarta sekarang. Gw bisa belajar banyak di LEMIGAS, gw bisa gabung jadi pengajar di Pelayanan Adik Asuh Panglima Polim, gw dipercaya jadi PJ Area di Jambore Sahabat Anak 2016…dan sebagainya…dan sebagainya. Gw bersyukur bisa bergabung di beberapa komunitas yang mendukung perkembangan diri gw.

Gw jatuh cinta dengan kota ini. Ini dia puisi yang gw buat tentang Jakarta.

 

Jakarta

 

Akar ragaku mulai merambat di bumi kota ini

Mataku terikat oleh temaram lampu jalanan

Kakiku menari-nari menyusuri trotoar tua

Kuresapi nikmat panas dan asapnya yang kejam

Kota baru…rumah baru

 

Hingar bingar ibukota bukanlah mimpi

Adalah bocah dekil dengan mata nanar

Bangunan lawas

Buku-buku bekas

Pengamen sumbang

Tenda-tenda usang

Bis-bis renta

Rel kereta

 

Kan ku gali terus cerita kota seribu wajah ini

Seperti seorang gadis gigih mencari tahu masa lalu bujangnya

Mari tanganku

Kita sulam kenangan di tempat ini

 

Gw bersyukur gw tinggal di Jakarta pinggiran, bukan di jantung ibukota yang hingar bingar. Dari sini gw bisa tinggal tenang dengan sederhana di ibukota, punya banyak teman baru dan ilmu yang baru. Bahkan kantor gw pun adalah bangunan tua dengan taman yang luas di sekelilingnya, betapa Tuhan mengerti dengan pribadi gw yang senang dengan hal-hal yang berbau “vintage”. Kosan gw pun sangat nyaman dan murah. Mumpung di Jakarta, gw ga akan menyia-nyiakan waktu gw untuk belajar dan berteman. Betapa, betapa, betapa gw sangat sangat sangat penasaran dengan kota ini. Setiap sudut kota ini menarik. Baik dan buruknya adalah dinamis dan romantis. Ah, betapa gw cinta dengan kota ini!!

Bagi gw, tinggal di Jakarta dengan segala hal yang gw dapet dari kota ini adalah kado yang terindah dari Tuhan di ulang tahun gw kali ini. Terimakasih ya Tuhan, bagaimana caranya aku harus berterimakasih kepada-Mu 🙂

Di umur gw yang baru ini gw bertekad untuk menggunakan waktu gw dengan baik. Mengurangi rasa malas dan jam tidur kalau bisa. Dan satu lagi : NO WACANA PLEASE! 😦

Gw masih harus belajar banyak mengenai kerja keras. Dimulai dari belajar bangun pagi dan tidur secukupnya. Gw ingin bekerja segiat-giatnya untuk memenuhi Tujuan Tuhan dalam hidup gw. Gw ingin berprestasi. Siapapun akan bisa dibuat bungkam dengan prestasimu. Prestasi akan berbicara lantang dibandingkan kelemahanmu, prestasi akan bersuara lantang dibandingkan masa lalumu, prestasi akan berteriak lebih lantang daripada kegagalanmu. #quoteofthe day

Sekali lagi, terimakasih Tuhan, akhirnya aku sampai juga di umur seperempat abad. Ga sabar untuk melihat keajaiban-keajaiban berikutnya yang akan menjadi kado tahun depan 😀

All glory to Him!

Gbus 😀

 

Menikmati Indonesia

Hari ini (mumpung mood), gw merampungkan tiga blog gw sekaligus. Atau mungkin lebih, haha.

Tanggal 26 Maret 2016, gw pulang dari Bandung menggunakan kereta ekonomi. Berbeda dengan kereta kelas bisnis yang bertolak dari Stasiun Hall Bandung ke Stasiun Gambir, kereta ekonomi berangkat dari Stasiun Kiaracondong dan berakhir di Stasiun Pasar Senen. Harganya tiketnya cukup terjangkau, yaitu Rp 70.000,00.

IMG_20160327_123148

Stasiun KA Kiaracondong

Sambil menunggu keberangkatan kereta, gw duduk di ruang tunggu. Dan entah kenapa gw sangat-sangat ingin mengobrol dengan ibu-ibu paruh baya di sebelah gw. Gw lupa nama ibunya siapa, beliau bilang mau pulang kampung ke Sukoharjo. Sebenernya sang ibu ga pengen pulang kampung karena masih ingin terus bekerja di Jawa Barat, namun karena beliau terkena penyakit hepatitis B, maka dia harus pulang untuk beristirahat (sang majikan juga kurang berkenan menerima beliau untuk bekerja di rumahnya lagi). Ibu ini terkena penyakit hepatitis B gara-gara transfusi darah beberapa bulan lalu. Transfusi ini waktu itu dilakukan karena ibu ini menderita anemia yang parah sehingga pengobatannya harus dengan jalan transfusi. Majikannya kurang memperhatikan apa yang beliau makan, dan parahnya lagi ga dikasih uang makan juga.

Sedih banget ya ceritanya? Tuhan memberkatimu ya buu…dimanapun anda berada sekarang

Akhirnya gw masuk juga ke kereta untuk berangkat. Satu hal yang tidak gw suka dari kereta ekonomi : posisi kursinya permanen berhadap-hadapan. Untuunggg banget di depan gw waktu itu anak kecil. Kalau orang dewasa, cowo, trus ganteng kan salah tingkah gw, haha *apasih. Tapi overall gw merasa nyaman karena full AC. Terimakasih PT. KAI yang memperhatikan kereta kelas ekonomi.

IMG_20160327_140728

Pulas.

Pemandangan hijau dari balik jendela menyambut gw di awal perjalanan. Deretan sengkedan persawahan, perbukitan, perkebunan, sungai, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi dengan Indonesia. Walaupun saat itu gw ngantuk, walaupun gw sudah melihat pemandangan yang sama berkali-kali, gw ga rela untuk memejamkan mata, seakan takut ada pemandangan indah yang terlewat.

Sekitar dua jam kemudian, kereta berhenti sejenak di sekitar Stasiun Purwakarta. Ada tempat yang sangat unik dan menarik : tumpukan gerbong kereta api tua, entah itu kereta tahun berapa. Entah kenapa gw merasa tempat itu romantis, cocok untuk mengambil gambar dengan efek dramatis, atau efek horor kalau mau, hehe. Sayang sekali, gw ga bisa keluar dari gerbong karena pintunya dikunci, padahal gw bawa kamera DSLR.

Ada hal unik lain lagi yang gw liat dalam perjalanan : komplek perumahan dengan antena yang mencuat. Antena ini dipasang di ujung bambu yang panjang supaya bisa menangkap sinyal televisi yang lebih baik. Gw ga yakin orang-orang di luar negeri akan sekreatif itu dalam mencari sinyal televisi yang lebih baik. Orang Indonesia memang kreatif! Hehehe.

IMG_20160327_160042

Ketika kereta mendekati Stasiun Pasar Senen, gw malah melihat pemandangan yang miris. Kanan kiri kereta dipenuhi oleh pemukiman kumuh masyarakat pinggiran. Tempatnya jauh dari bersih dan gw heran mereka bisa bertahan hidup. Segera gw merekam keadaan ini dan upload di Instagram untuk melapor ke Bapak Ahok. Namun katanya wilayah ini merupakan ranahnya PT. KAI dan gubernur kurang berperan disana. Gw udah mention juga PT. KAI-nya, semoga mereka baca.

IMG_20160327_171037

Tempat tinggal kumuh di pinggir rel kereta

Dari Pasar Senen, gw kembali menggunakan kereta KRL untuk menuju kostan gw. Senja di Stasiun Manggarai ternyata indah juga.

IMG_20160327_181153

Senja di Stasiun Manggarai

Yah, beginilah pengalaman gw naik kereta ekonomi kemarin, yang bagi gw menyenangkan. Ada sensasi  tersendiri dalam melihat Indonesia dari balik kaca jendela kereta (sambil makan pop mie, mantap!). Buat kamu yang pengen sekali-kali mencoba, pesanlah tempat duduk di dekat jendela, sebelah kanan menurut arah jalannya kereta. Sampai di Jakarta pasti kamu memiliki pandangan yang baru tentang Indonesia.

Udah dulu deh ceritanya. Terimakasih sudah membaca dan melihat-lihat fotonya. Bye!

Pentas Seni Adik Asuh

Hello guys, udah lama ya ga nulis. Entah kenapa setelah pindah ke Jakarta mood gw untuk menulis jadi memburuk. Mungkin karena cuaca disini terlalu panasss, jadi males aja buat nulis (beliin AC dong buat di kosan, hehe). Atau mungkin gw kenyataannya merindukan Bandung ya? Hmm…bisa jadi, hehe.

Kali ini gw mau cerita tentang kegiatan rutin gw setiap malam minggu. FYI, gw setiap sabtu melayani menjadi kakak asuh untuk adik-adik SMP di Pelayanan Adik Asuh GKI Kebayoran Baru, Jalan Panglima Polim 1. Gw tertarik untuk melayani disini setelah membaca pengumuman di berita gereja (dan sebenernya dari dulu gw mencari ladang pelayanan serupa, tapi belum dapet aja). Dan sejak hari pertama gw bergabung disini, mudah bagi gw untuk beradaptasi mengajar, berkenalan dengan adik-adik asuh dan mendapatkan teman-teman baru, and then I fell in love with this community :). Gw bersyukur ditempatkan mengajar adik-adik SMP yang lincah-lincah, bersama para senior yang seru-seru.

Berminat? Ayo dateng aja ke Sekolah PSKD, Jl. Panglima Polim 1, pukul 14.00-17.00. Website : https://adikasuh.wordpress.com/

And how lucky I am…setelah tiga minggu gw mengajar disini ternyata ada kegiatan pentas seni adik asuh, dalam rangka memperingati berdirinya pelayanan adik asuh tanggal 20 Februari. Mulai dari adik asuh tingkat TK hingga SMA diberi kesempatan untuk menampilkan pertunjukkan seni mereka sendiri. Meskipun acaranya sederhana, namun semuanya antusias 🙂

IMG_8548

Pertunjukkan tari adik-adik TK

IMG_8599

Pertunjukkan menyanyi oleh anak-anak kelas 1-2 SD

IMG_8652

Pertunjukkan Seni Tari Betawi oleh ana-anak kelas 5-6 SD

IMG_8552

Paduan suara anak-anak SMP, yang paling kiri bukan anak asuh ya *alias gw*, hehehe

IMG_20160220_154035

Pertunjukkan tari TOR-TOR oleh adik asuh SMA

IMG_8695

Tiup lilin peringatan ulang tahun adik asuh ke 17. Wahhh…17 tahun lho! 

IMG_8756

Foto bersama adik-adik asuhkuuu 🙂

IMG_8782

Foto bersama kakak-kakak asuh

Gw pribadi senang bisa berkumpul dengan para adik, juga beserta para orangtua. Kami bisa berbagi sukacita, tanpa memandang perbedaan agama dan status sosial di antara kami.

Segitu dulu aja tulisan gw tentang Pentas Seni Adik Asuh 2016. Kapan-kapan gw pasti bakal tulis lagi post tentang pelayanan ini lebih dalam lagi, mengenal adik-adik, kakak-kakak dan kegiatan yang ada di dalamnya.

See you!

 

Another Solo Trip :Pulau Kelor, Onrust dan Cipir

Untuk kedua kalinya gw melakukan travelling sendirian. Ga jauh-jauh kok, masih dekat dari Jakarta, tepatnya ke wilayah Kepulauan Seribu. Cerita perjalanan solo trip gw  yang pertama bisa dibaca di sini. Sebenernya gw pengen melakukan solo trip ini sejak Desember 2015, namun karena satu dan lain hal akhirnya gw bisa melakukannya pada 10 Januari 2016.

Open trip yang gw ikutin ini sebenernya gabungan dari beberapa agen yang tergabung di Backpacker Indonesia. Gw pribadi mendaftar lewat agen Kili-Kili Adventure. Peserta lain ada yang dari Mahalang Wisata. Sekali-kali cobain travelling sendirian deh, ikutan open trip, lumayan dapet kenalan temen baru, syukur2 kenal sama yang ganteng *lho.

Semua peserta berumpul di pelabuhan nelayan kecil di teluk utara Jakarta yang bernama Muara Kamal. Suasananya kurang lebih sama dengan pelabuhan Muara Angke, banyak kios pedagang ikan segar. Kalo gw udah jadi ibu-ibu kayanya gw bakalan borong ikan dan udang dari sana, haha. Gw tiba disana tepat pukul 07.30 menggunakan ojek. Sambil menunggu pemberangkatan, gw menyempatkan diri untuk sarapan dan berkenalan dengan peserta lain.

IMG_20160110_080128

Pelabuhan Muara Kamal di pagi hari.

Sebenernya sempet ngerasa agak bete karena peserta dibikin nunggu selama satu jam di atas kapal karena adanya kesalahan teknis mesin kapal. Tapi ya sudahlah, dinikmatin aja (padahal sempet sewot dikit pas nanya sama nelayannya, haha, maap ya pak). Akhirnya pukul 9 kami bertolak dari pelabuhan Muara Kamal menuju Pulau Kelor. Perjalanan menuju pulau tersebut hanya setengah jam lebih, cukup dekat ternyata.

IMG_20160110_104419

Selamat datang di Pulau Kelor! Tiny but beautiful.

Pulau Kelor adalah pulau yang sangat kecil, dengan sedikit pohon pula. Kita bisa melihat seluruh tepi pulau cukup dengan berdiri di tengahnya. Namun yang membuat pulau ini unik adalah adanya bangunan bersejarah berupa benteng kecil yang dibangun dari batu bata merah, peninggalan dari zaman penjajahan Belanda. Sejarah lengkapnya baca aja sendiri di Wikipedia yee! hehe.

IMG_20160110_101527

Pemandangan di dalam benteng

DSCN0780

Mati gaya banget. Yang lain angkat tangan, gw enggak! haha

Setelah puas berfoto-foto di Pulau Kelor selama kurang lebih satu jam, kami kembali berlayar menuju Pulau Onrust. Pulau ini tiga kali lebih besar daripada Pulau Kelor dan lebih kerasa “Belandanya”. Suasana di tengah pulau agak kelam, ternyata rupanya ada kompleks kuburan orang Belanda dan juga ada pondasi bangunan yang dahulunya adalah tempat karantina haji. Hmm…bukan objek foto yang menarik, hehe. Tetapi gw senang mendapati objek sejarah di pulau ini cukup terawat dengan baik. Gw sangat menikmati suasana pulau ini dengan meminum es kelapa muda di tengah teduhnya pepohonan, ditiup angin laut sepoi-sepoi di siang hari. Mantap!

IMG_20160110_115613

IMG_20160110_123936     IMG_20160110_122607    DSCN0800

Saat itu di pulau ini ada sekumpulan fotografer professional yang sedang melakukan fotografi dengan objek beberapa model yang memakai baju bikini dengan perut selurus papan. Cukup membuat banyak cowo di antara kami menjadi betah berlama-lama di pulau ini, haha.

Sekitar pukul 13.00, kami mengunjungi destinasi terakhir, yaitu Pulau Cipir. Dibandingkan Pulau Onrust, suasana pulau ini jauh lebih kelam lagi. Hmmm…wajar saja, ternyata di tengah-tengahnya terdapat bekas bangunan rumah sakit pada waktu zaman penjajahan Belanda. Gw sempat melintas sebentar saja di tengah-tengah bangunan tak beratap itu, lalu gw berfoto-foto di tepian pulau. Pemandangan pantai nya cukup indah, kalau saja airnya jernih (maklum, konsentrasi polutan di Teluk Jakarta sangat tinggi). Sebetulnya ada jembatan peninggalan zaman Belanda yang menghubungkan pulau Onrust dan pulau Cipir, hanya saja jembatan tersebut ditutup karena terpengaruh abrasi sehingga dikhawatirkan membahayakan siapapun yang berjalan di atasnya. Tapi gw bersama Vidia dan Laila tetap saja berjalan-jalan di atas jembatan itu (dasar bandel! hehe). Pemandangannya indah banget!

IMG_20160110_133211

Jembatan penghubung Pulau Cipir – Onrust

IMG_20160110_144020

DSCN0815   DSCN0809

Cuaca saat itu cerah luar biasa, padahal masih di bulan Januari. Kepulauan Seribu sepi pengunjung berhubung kebanyakan orang memperkirakan khawatir ombak akan pasang di musim penghujan. Tapi bagi gw sangat sangat sangat menyenangkan. Cuaca yang cerah membuat pencahayaan fotografi yang sangat bagus dan memanjakan mata gw sendiri ketika menikmati pemandangan yang ada disana.  Pulau Cipir jadinya berasa pulau sendiri, hehe.

Oya, tour guide kami adalah penduduk lokal dari kepulauan seribu, namanya Ibu Ayu. Kulitnya yang gelap mencerminkan ketangguhannya dalam mencari nafkah sehari-hari di pantai atau di tengah laut. Dia bercerita, selama ini dia bertahan hidup hingga membiayai sekolah anak-anaknya dengan menjalani usaha catering untuk para wisatawan seperti kami, menyewakan perahu dan menjadi pemandu dari pulau ke pulau. Seorang ibu yang luar biasa!

IMG_20160110_145806

Ibu Ayu

Akhirnya menit-menit berlibur di Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust berakhir juga. Dalam perjalanan pulang di atas kapal, gw mengamati banyak bambu yang ditancap di tengah air (mungkin airnya cukup dangkal). Ternyata bamboo-bambu yang malang melintang itu berguna untuk budidaya kerang hijau. Hmmm…kalau kerang hijau dibudidayakan di Teluk Jakarta yang sarat polutan seperti itu, apakah kerang hijau tersebut layak untuk dikonsumsi?

DSCN0833

Kumpulan bambu, tempat budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta.

Kawanan burung putih besar yang gw lihat di Taman Mangrove (ceritanya bisa dibaca di sini), juga gw lihat di perairan Teluk Jakarta. Teruslah bertahan kawan, di tengah lingkungan yang semakin rusak.

DSCN0837

Pemandangan langka kawanan burung putih di Teluk Utara Jakarta. 

Akhirnya kami berpisah satu sama lain di Muara Kamal, kembali ke realita bahwa kami harus bekerja di keesokan harinya. Terimakasih Tuhan untuk cuaca yang baik, dan bersama teman-teman baru yang baik juga.

IMG_20160110_104916

Selfie sama temen baru, Vidia (tengah) dan Laila (kanan)

Sampai jumpa di solo trip berikutnya!

Saturday Fun Day at Taman Mangrove, PIK

Ini adalah postingan keempat gw di minggu ini, wow! Rajin amat ya nulis, ketauan banget gw lagi kurang kerjaan, hahaha. Btw, I’m in a very good mood 🙂

Kali ini gw mau cerita lagi tentang tempat baru yang gw kunjungi bersama temen-temen gw : Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Gw ke sana bersama sohib kuliah gw : Della dan Fetty pada tanggal 9 Januari 2016.

Sebenernya kami waktu itu ga ada rencana sama sekali untuk mengunjungi tempat tersebut. Bener-bener random aja gitu. Awalnya kita bertiga ketemuan di mall Grand Indonesia Jakara Pusat, niatnya hanya nongkrong2 cantik aja disana. Della udah dandan total, Fetty udah cantik banget, gw yah…udah mentok segini aja, berusaha berpakaian yang sewajar mungkin, haha. Setelah kami “update status” tentang kehidupan kehidupan kami (dicampur sama ngegosip, haha), tiba2 gw nanya,”Udah gini aja nih? Cuman disini aja?”. Lalu Della jadi ngomongin tempat yang lagi ngehits di Jakarta, namanya Taman Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Dan berhubung di Fetty udah punya mobil sendiri, ya sudah, tanpa berpikir panjang kami langsung cabut ke PIK like a boss B)

Tiket masuk Taman Mangrove ternyata hanya Rp. 25.000,00 per orang (lumayan murah juga). Setiba di sana cuacanya kelewat cerah, bikin kami sadar kalo kami salah kostum. Untung aja gw pake sepatu kets. Yang paling kasian tuh si Della. Doi jadi susah jalan di jembatan kayu bakau lantaran pake sepatu hak tinggi. Belum lagi doi disepet sama orang yang disana “Salah kostum kali tante,” BOOM! Sabar yaa Della, hehehe.

Sebagai anak yang suka banget sama wisata alam, gw sangat menikmati Taman Mangrove. Suasananya jelas sangat asri. Biarpun cuaca panas, tapi teduh karena dedaunan bakau di sepanjang jalan setepaknya. Tapi berhubung kalo foto bagusnya di tempat yang terbuka, kami rela panas-panasan demi dapet foto selfie yang terbaik. Alhasil kulit gw gosong dengan sukses!

20160109_150746

Gw (kiri), Fetty (tengah) dan Della (kanan)

Walaupun hanya berbekal kamera HP, sebisa mungkin gw abadikan pemandangan indah di Taman Mangrove. Dedaunan yang hijau dan langit biru yang bersih adalah kombinasi sempurna untuk foto landscape. Sayang, di sudut-sudutnya masih ada aja orang Indonesia yang norak buang sampah sembarangan.

IMG_20160109_151148

IMG_20160109_153323

20160109_162905

Serasa di Kyoto!

Tidak hanya melihat-lihat muara sungai yang ditutupi tanaman bakau, gw juga sempet liat satwa yang berhabitat disana seperti burung dan biawak. Gw memandangnya dengan penuh kagum. Senang, ternyata masih ada tempat seperti ini di Jakarta yang lekat dengan pencitraan “Hutan Beton”

IMG_20160109_165858

IMG_20160109_171255

Pemandangan burung putih besar (gw gatau namanya) yang hinggap di pohon mangrove, terlihat dari menara pengamat. Kontras dengan pemandangan crane dan jembatan di belakangnya.

Itu aja cerita singkat dari gw pas pergi ke Taman Mangrove. Ayo kesini, ga bakalan nyesel deh! Wawasan kalian akan bertambah tentang ekosistem Mangrove. Jangan ke mall mulu guys, hehe.

Sampai bertemu di post selanjutnya ya! 😀

New Job, New Life

Hai readers! Hello friends! How’s ur life? I hope no news means good news, like me 🙂

Saat ini gw sedang berada di daerah Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Diperkirakan gw akan nge-kost di sini dalam waktu yang cukup lama, karena gw mendapatkan pekerjaan yang baru sebagai peneliti analisis palinologi di LEMIGAS. Baru dua hari yang lalu gw pindah ke sini, diantar kakak dan ipar tercinta dengan sedikit tatapan khawatir dan tidak tega melepas adiknya yang harus tinggal sendirian di ibu kota, mencicipi kerasnya Jakarta.

Sejak bulan lalu gw mulai membiasakan diri untuk menjelajahi ibukota. Demi mendapatkan pekerjaan disini, gw harus berdesak-desakkan di KRL bersama ribuan manusia lain saat pagi hari dan sore hari, harus beradaptasi dengan suhu lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan Bandung, harus naik ojek kesana-kemari di saat matahari sedang tinggi-tingginya, harus jadi wanita tangguh yang waspada akan sekitar gw dan harus mandiri dalam mencari petunjuk jalan. Gw menjalani semua itu sendirian, tanpa keluarga, apalagi pacar. Kakak gw yang berdomisili di Depok dan bekerja di daerah Pluit, Jakarta Utara hanya memantau gw via Whats App. Temen gw ga habis pikir kalau gw bisa keliling Jakarta sendiran, karena menurut dia itu menyeramkan. Keras memang, tapi percaya ata tidak, gw sungguh menikmatinya. Sesederhana gw menikmati stasiun demi stasiun yang gw lewati selama menaiki KRL. Sebagai orang Bandung, gw sama sekali tidak kaget menghadapi hal-hal yang seperti itu, hampir sama sekali tidak mengeluh. Atau mungkin faktanya gw sudah melewati hidup yang jauh lebih keras daripada itu? Mungkin juga. Haha.

Bukannya gw tidak suka tinggal di Bandung. Gw sangat mencintai Bandung dengan segala kenyamanannya. Banyak orang yang saklek hanya ingin kerja dan tinggal di Bandung dan sebisa mungkin menghidari Jakarta. Bahkan temen gw yang sedang tinggal di Jerman bilang kalau “Bandung is the most comfortable place in the world,”. Tidak perlu taksi apalagi limosin, kota Bandung bisa dijelajahi dengan nikmat bahkan dengan menggunakan angkutan umum. Hanya saja untuk seorang yang lahir dan besar di Bandung seperti gw, segala hal yang ada di dalamnya tidak spesial lagi. Gw ada di suatu titik gw jenuh dengan segala kenikmatan hidup di Bandung dan ingin keluar dari zona nyaman itu. Selama dua tahun kemarin gw kerja di konsultan eks dosen gw dengan gaji lumayan, tinggal bersama orang tua dan menikmati setiap titik di kota Bandung bersama teman-teman dekat setiap minggunya. Tapi cukup sudah, gw butuh tinggal dan kerja di tempat yang lebih menantang. Gw haus pengalaman baru. Gw khawatir, keterlenaan gw akan kenikmatan hidup tidak akan memecut gw untuk menggapai impian yang lebih tinggi lagi. Gw sadar, masih banyak yang harus gw kejar dan lakukan di hidup ini. Itu semua tidak akan terjadi kalau hidup gw stagnan di tempat yang sama. Iya gw tau gw perempuan, trus kenapa? Duduk manis di tengah hidup yang nyaman bukan tujuan hidup seorang perempuan. Dan bukan juga ,”Ah, kita kan perempuan, santai aja lah.”

Perempuan, meskipun pada akhirnya ia harus di rumah penuh waktu demi mengurus anak dan suaminya, bukan berarti dia menjadi pemalas. Menjadi ibu rumah tangga juga harus dilakukan dengan kerja keras. Bukan hanya mikirin diri sendiri, buang-buang duit suami dan jadi pengawas pembantu.

Maaf keluar topik, hehe. Lanjut. Titik jenuh gw akan kenyamanan itu bertepatan dengan gw harus berhenti dari tempat kerja gw sebelumnya karena proyek lagi sepi. Sedih? Tentu saja. Asal kau tahu, menjadi pengangguran itu mengerikan, karena harus menghadang belati yang berbentuk pertanyaan orang-orang, yang melukai lubuk hati. Kuping ini rasanya trauma ngedenger pertanyaan, “Sekarang kerja dimana, Rin?”. BOOM! Tapi gw berusaha untuk tetap berpengharapan dalam Tuhan. I’m pretty sure He has a master plan for me. Meskipun sebagai manusia seringkali gw khawatir dan hampir putus asa. Kali ini gw sangat berharap untuk bekerja atau melanjutkan sekolah di luar kota Bandung. Maka gw mengirimkan lamaran kemana-mana dan sebulan kemarin gw melakukan beberapa interview dengan beberapa perusahaan. Karena sulitnya mencari pekerjaan (akibat faktor harga minyak yang menurun drastis), gw melebarkan sayap tidak hanya sebagai geologis, namun juga sebagai tenaga pengajar (gw ga mau melamar sebagai pegawai bank atau management trainee, bukannya apa-apa, gw ngerasa ga bakat sama sekali di ranah tersebut). Puji Tuhan, gw kemarin sempat diterima menjadi pengajar fisika di sebuah bimbel yang cukup terkenal di Jabodetabek. Ceritanya cukup ajaib, karena campur tangan Tuhan di dalam proses penerimaannya. Ada senengnya, ada sedihnya. Senengnya karena disana gw langsung menjadi pengajar tetap dengan gaji yang cukup dan tunjangan yang lengkap. Sedihnya, berarti gw harus “gantung palu” alias tidak menjadi geologis dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. 😦

Ajaibnya lagi, di hari-hari terakhir, sesaat sebelum gw tanda-tangan kontrak sebagai pengajar bimbel, senior gw pas kuliah menghubungi gw bahwa ada lowongan di LEMIGAS sebagai peneliti analis palinologi. Gambling, gw memutuskan untuk tidak jadi tanda-tangan kontrak bimbel dan mengirimkan lamaran pekerjaan ke LEMIGAS walaupun belum tentu diterima (HRD di tempat bimbel itu bersedia untuk menerima gw lagi kalau gw gagal, tanpa harus tes lagi, baik banget!). Gw sangat mengharapkan pekerjaan ini, karena sesuai dengan ilmu yang gw pelajari selama kuliah, dan juga membuka kesempatan bagi gw untuk berkarir menjadi seorang geologis-mikropaleontologis—sebuah cita-cita yang sempat gw ucapkan dahulu kala. Lalu setelah menyampaikan berkas, gw menunggu dengan harap-harap cemas—salah—LUAR BIASA CEMAS! Di saat itulah gw belajar untuk berserah kepada Tuhan walaupun rasanya sangat amat sulit.

And finally, Praise The Lord! Gw diterima bekerja disana. Seneng banget rasanya. Seneng juga bikin orang tua seneng. 🙂

Gw mensyukuri, bahkan setiap hal yang sederhana yang ada di dalam sana. Cubicle gw yang baru di kantor berada tepat di samping jendela dengan pemandangan pohon yang besar, cukup untuk meredam kejenuhan ketika jenuh bekerja. Ada meja, kursi, poster gambar polen di tembok dan mikroskop (lemari segera menyusul). Ada minuman hangat setiap pagi yang diantarkan oleh office boy setiap pagi. Selain itu, gw sangat menyukai kompleks perkantoran LEMIGAS. Areanya asri dan luas sekali. Sekeras apapun kondisi jalan Ciledug Raya di luar sana dengan kemacetan yang semakin hari semakin menjadi, atmosfirnya langsung berganti menjadi teduh ketika memasuki area LEMIGAS. Dan yang paling penting adalah, senior-senior gw di sana ramah-ramah sekali dan mau menjawab segala pertanyaan gw. So far, I get very good first impression, Let’s see another suprise next 😀

DSCN0229

Maap ya meja gw berantakan banget, hehehe

Snapshot_20151118Snapshot_20151118_3

DSCN0138

Now here I am. Di kamar kost yang pengap, dimana kipas angin harus menyala terus tanpa henti. Kelaparan tengah malam, dan tiba-tiba rindu dengan masakan mama. Tapi gw belum ingin pulang untuk sementara waktu. Gw ingin menikmati Jakarta dengan segala hal yang ada di dalamnya dengan rasa syukur yang berlimpah 🙂

Terimakasih Tuhan, Engkau sungguh baik. 🙂

Bye Bandung. See you when I see you! Until Christmas then!

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 3 : 18)

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana (Amsal 19 : 21)