Photography

Menunggu di Bonbin Tamansari Bandung

Apa? Nungguin di kebon binatang? Ngapain??

Hahaha…iya, kebon binatang. Tanggal 25 Maret 2016 gw mengunjungi tempat yang tepat berada di sebelah kampus tercinta gw, ITB. Sebenernya gw pengen banget maen-maen kesini waktu jaman kuliah, tapi bagi gw waktu itu tiket masuk sebesar 15ribu tuh kayanya mahaalll banget, alhasil waktu itu gw gajadi masuk deh. *sedih amat ya*

Sebenernya gw tanggal 25 Maret itu ga ada rencana kesini juga sih, random aja gitu masuk sini gara-gara kelamaan nungguin temen gw. Karena gw tau galat ketepatan waktu temen gw itu minimal 2 jam, maka dari itu gw memutuskan untuk killing time disana. Sekalian belajar fotografi juga, hehe.

Gw selalu merindukan udara pagi daerah Dago yang dingin, bonus aroma daun dan tanah basah. Gw selalu mencium ini dulu ketika jam kuliah pagi. Kebun binatang Tamansari Bandung saat itu pun seperti itu. Banyak anak-anak yang melihat-lihat binatang bersama ayah ibunya. Gw pengen banget memotret ekspresi mereka yang lucu dan polos, hanya saja gw ga ga enak hati sama orang tua mereka, nanti gw disangka oknum penculik anak lagi, hehe.

DSC_0072

Berikut objek binatang yang gw tangkap dengan kamera, dengan ilmu fotografi seadanya yang gw punya. Hope you enjoy these B)

DSC_0109

DSC_0113

DSC_0119DSC_0152DSC_0141

 

DSC_0160

 

Entah gw salah liat atau gimana, tapi entah kenapa gw merasa binatang disini kaya kurang perhatian. Badannya kurang gemuk, lesu, sebagai pengunjung gw merasa kebun binatang disini suram dan perlu pembaruan disana-sini. Misalnya, jalan setapaknya nampaknya harus diganti konblok yang baru karena sudah ditumbuhi lumut yang sangat licin, sangat bahaya untuk anak-anak, ibu hamil dan orangtua yang rawan terpeleset. Sayang sekali, padahal kebun binatang ini bisa dijadikan potensi wisata yang bagus bagi masyarakat kota Bandung.

DSC_0154

Suatu saat gw pasti akan ke kebun binatang Ragunan Jakarta, kebun binatang Gembiraloka Jogjakarta dan kebun binatang Surabaya, untuk membandingkan keadaan kebun binatang populer yang ada di negeri ini. Gw sangat berharap apa yang gw yang liat nanti sesuai dengan harapan gw, negeri ini butuh peran pemerintah dalam perawatan kebun binatang yang perkepribinatangan (yang memperhatikan nasib binatang maksudnya, ga hanya sekedar ekploitasi untuk menambah pemasukan kas pemda aja). Taman Safari jangan ditanya karena pengelolaannya oleh pihak swasta (yang tentunya hasilnya jauh lebih keren).

DSC_0128

Karena gw jalan sendirian disana (hanya ditemani kamera, jadi hanya fokus foto-foto tanpa mengobrol), gw mengelilingi area kebun binatang sekitar 2 jam. Lumayan, olahraga pagi, hehe.

Segitu dulu aja cerita gw di kebun binatang tamansari Bandung. Nantikan cerita gw di kebun binatang yang lain (di luar negeri juga, maybe? Amen!)

See you!

*All picture in this post was taken with Nikon DSLR D3200

Ngopi-Ngopi Cantik Di Bandung

Halo readers! Piye kabare??

Kali ini gw mau cerita tentang momen ngopi-ngopi cantik di kafe bernuansa alam di kawasan dago pakar, Bandung (ga usah sebut nama yeee, ntar dikira promosi lagi, haha). Gw, bersama temen-temen naik gunung gw yaitu Mba Saras, Dega, Adit, Ester, dan Andre (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) berkunjung ke kafe ini pada tanggal 26 Desember 2015, tepat sehari setelah Natal. Setelah ngomongin beberapa wacana ini-itu (pernah kita ngomongin muluk-muluk mau naik Gunung Cikurai tapi ga jadi, hiks), akhirnya wacana ke natural cafe ini yang kesampean. Kita ga mau cape, suasana alamnya dapet, refreshingnya dapet, yang penting bisa makan, ngobrol, ketawa-ketawa dan foto-foto, haha. Maklum, sebagian besar dari kami bekerja di ibukota, jadi udah muak dengan suasana perkotaan dan pengen melihat yang hijau-hijau, tapi ga mau cape lantaran energi kami sudah terkuras habis di kantor.

Dasar gw dodol ga nyimak diskusi grup Whatsapp dengan baik, bayangan gw tuh kita harus hiking dulu untuk mencapai café itu. Maka gw dengan santainya pakai kaos dagadu, sepatu kets dan ransel. Dan ternyata gw salah kostum banget!! Si Ester dan Mba Saras pake baju cantik (pake dandan segala lagi), Si Adit udah kaya cover boy, si Andre pake poloshit. Sedangkan gw rambut aja lepek banget (sengaja ga keramas, kirain mau hiking). Haduuhh, kalo gagal fokus jadinya begitu kan. Untung gw ga pake baju gembel ala-ala anak lapangan gitu.

Tapi gapapa, gw tetep ikutan foto-foto cantik. Epriting is gonna bi olllrait! 😀

Kami mencapai lokasi  dengan mobil pribadi pada pukul 08.30 (padahal kafenya buka jam 9, haha, kerajinan ). Ternyata ada untungnya juga dating kepagian, soalnya kalo datengnya lewat dari jam 9 langsung masuk waiting list!

Ketika masuk ke dalam kafenya, ternyata gw baru nyadar kalau gw kangen sama suasana alam seperti itu. Udaranya sejuk, sekaligus hangat oleh sinar matahari pagi. Meja kami langsung menghadap hutan pinus di perbukitan. Wangi rerumputan yang sedap terhirup oleh hidung gw. Ditambah lagi bersama teman-teman yang seru dan sarapan yang hangat. Perfect.

DSCN0661

DSC_6563IMG_20151226_095501DSC_6597IMG-20151227-WA0012IMG_20151226_104827

Tapi menit-menit surgawi itu hanya bisa dirasakan hingga jam 10, setelah itu panasnya minta ampuunn.

DSC_6656

Dandanan udah tomboy, tapi tetep aja pake payung. Manja ga tahan panas. Dasar Kristyarin!

Oya, gw sempet juga belajar pake kamera DSLR, tutorial sebentar sama mba Saras. Hasilnya lumayan juga, terbukti dengan dipakainya hasil jepretan gw itu di profpic-nya Mba Saras dan Si Ester (parameter keberhasilan yang aneh). Berikut jepretan gw hasil tutorial singkat ga nyampe 10 menit bareng Mba Saras :

DSC_6624

DSC_6631

Segitu aja cerita gw refreshing sebentar sambal temu kangen dengan temen-temen gw di natural cafe. Semoga bisa jadi referensi buat pembaca sekalian yang pengen liburan ke Bandung namun dengan suasana yang berbeda.

See you again, readers!

 

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 7-8)

Day 7, 2 Januari 2015

Hari ini adalah hari pertama gw berjalan-jalan lagi di tahun 2015. Di hari ini gw, nyokap dan bokap memisahkan diri dari rombongan keluarga besar karena mau menghadiri acara pernikahan sepupu jauh gw yang diadakan esok harinya tanggal 3 Januari 2015. Maka gw, nyokap dan bokap memutuskan untuk menginap sehari di rumah teman nyokap gw, Tante Wiwin, yang berada di area Ambarukmo, Kabupaten Yogyakarta.

Pagi hari kami nge-drop tas di rumah Tante Wiwin, lalu dua jam kemudian langsung cabut lagi ke kota buat jalan-jalan. Hari itu gw langsung putuskan untuk berkujung ke situs Tamansari lantaran gw udah lama penasaran dengan tempat tersebut. Katanya sih tempatnya bagus.

Dari Ambarukmo kami berangkat menuju ke daerah Malioboro (again!), lalu dari sana kami bertiga naik becak untuk menuju ke Pasar Ngasem yang merupakan pasar tradisional.

Gw berdoa supaya Tuhan memberkati tukang becak itu lantaran kami bertiga cuman pake satu becak, trus tukang becaknya mau aja dibayar cuman Rp. 10.000,00 (Maaf ya paak). Dari Pasar Ngasem, kami berjalan melalu gang untuk menuju Situs Tamansari. Gang yang berada di antara pemukiman padat penduduk dan terkesan agak kumuh juga. Bokap gw cerita, terakhir dia kesini pas jaman kuliah, daerah pemukiman ini jauh lebih kumuh lagi.

Jpeg

Lorong menuju Situs Tamansari, Yogyakarta, yang berbentuk kubah melengkung

Ternyata tempatnya memang indah banget! Pintu gerbangnya penuh dengan ornamen ukiran yang antik, cukup membuat para pengunjung seperti gw jatuh hati pada langkah pertama. Tiket masuknya sangat murah, cukup Rp. 5000,00 saja (tanpa tour guide). Gw percaya, kepopuleran situs ini sudah mendunia, terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang mengunjungi tempat ini.

Jpeg

Pintu gerbang luar bagian timur Situs Tamansari, Yogyakarta. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Saat itu cuaca panas terik luar biasa, sukses membuat kulit gw menjadi gosong (padahal besoknya mau ke kondangan, hiks). Tapi hal itu ga menghentikan penasaran gw untuk berkeliling situs, mengamati setiap detailnya dan mengambil foto dari sudut pandang yang tepat. Langit biru cerah saat itu semakin mempercantik Situs Tamansari.

Jpeg

Gerbang dalam barat Situs Tamansari. Kamera : Android Asus Zenfone 4

 Jpeg

Jpeg

Kompleks pemandian Tamansari menghadap utara. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg

Jpeg

Menara di bagian tengah, konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara (Sorce : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114214_PN

“Umbul Binangun”, sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja (Source : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114017_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, berlatarkan langit biru. Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114048_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, terfokus pada kolamnya. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg Jpeg

Gerbang luar bagian timur. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Layaklah tempat ini disebut “Istana Air” karena pada situs ini terdapat beberapa kolam yang berfungsi sebagai tempat pemandian para raja keraton. Ketika memasuki gerbangnya, mata kita disegarkan oleh pemandangan air di kolam beserta suara gemericik airnya.

Dalam berwisata kali ini gw lebih menikmati keindahan, keantikan dan keunikan arsitektur bangunannya, tanpa menyewa jasa tour guide untuk mengetahui sejarahnya. Mungkin ini kebiasaan jelek yang harus gw rubah, seharusnya  kalau bisa berfokus pada cerita sejarahnya juga dalam setiap tempat wisata yang gw kunjungi. Buat yang pengen tahu sejarah Situs Tamansari lebih lengkap dapat mengunjungi website ini http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta.

Gw lega melihat bahwa situs bersejarah ini boleh terawat dengan baik oleh pemerintah setempat. Kalau tempatnya bersih, kan semakin enak diliat, semakin menambah daya tarik bagi para wisatawan.

Oiya, di sekitar situs ini dapat kita jumpai pohon yang menghasilkan Buah Kepel. Gw dikenalkan buah ini pertama kalinya oleh Pak A. T. Rahardjo a.k.a dosen pembimbing gw sendiri sekitar dua tahun yang lalu. Beliau yang tertarik dengan ilmu Biologi (karena ia adalah seorang ahli Palinologi) memperkenalkan buah itu sebagi “Buah Keraton”. Menurut Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepel), tumbuhan kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Dahulu penggunaannya secara tradisional terbatas di Kesultanan Yogyakarta. Hmm, mengingat khasiatnya yang unik, nampaknya gw akan menanam buah ini di halaman rumah gw sendiri nantinya.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Pada Hari Ke-7, gw, nyokap dan bokap menghadiri resepsi Mba Yemima, sepupu jauh gw. Kisah gw menjadi Pager Ayu disana diulas pada potingan blog gw yang berikut ini https://kristyarin.wordpress.com/2015/02/03/make-up-and-hair-do-november-2014-januari-2014/

Jpeg

Gereja tempat resepsi pernikahan Mba Yemima. Gw kapan yaa 😦

Nantikan postingan selanjutnya, travelling report terakhirn gw hari ke-9 di Yogyakarta. See you! 🙂

Short Fun Trip : Pulau Harapan

Hello everybody! How are you? Do you miss me?

Sudah2, hari ini gw mo nulis kaga usah pake English dulu. Gw pengen kegiatan menulis gw hari ini bener2 untuk menyalurkan hasrat menulis gw, hehe.

Gw memutuskan untuk membuat rubrik “Pastime” di blog gw ini, untuk diisi pengalaman gw di saat berwisata di waktu senggang. Apa aja, baik itu travelling ke luar kota, wisata dalam kota, atau tempat2 unik yang baru gw kunjungi. Gw pengen berbagi info dan foto yang gw dapet dari kegiatan jalan2 yang gw lakukan. Smoga gw bisa terus mengisi rubrik ini setiap gw pulang dari bepergian. Dan semoga gw juga mulai mengisi rubrik “Geology” yang masih kosong, hiks.

Gw suka banget sama yang namanya jalan-jalan kemanapun, kecuali ke cafe, mall dan bioskop yang sering dilakukan anak labil jaman sekarang, yang isinya cuman foto selfie sama foto makanan. Oke, gw kadang suka ke tiga tempat itu dalam konteks ketemuan sama temen lama atau temen yang jarang ketemu atau pas temen traktiran atau sama keluarga untuk buat cari quality time untuk ngobrol, bukan buat sengaja untuk makan doang. Gw suka banget pergi ke tempat2 unik di luar kota, di luar pulau, di tempat sepi, di museum, di tempat bersejarah atau di tempat yang mengandung unsur seni. Kalau gw egois, kemungkinan besar gaji gw akan dihabiskan untuk beli kamera DSLR, sering travelling untuk berburu foto atau untuk beli peralatan outdoor. Tapi untuk saat ini prioritas gw untuk keluarga dan yang lain-lain yang ga kalah penting. No problem. All I have to do just wait. Gw rela banget membahagiakan keluarga gw dulu, mereka adalah segala-galanya di hidup gw, setelah Tuhan Yesus. Gw percaya, ada satu waktu gw akan jalan2 semau gw sepuas-puasnya hingga bosan, bersyukur kalau gw bisa melakukan kegiatan itu bersama suami gw. Gw suka banget travelling ala backpacker. Jadi kalau lu mau nemenin gw jalan-jalan, tapi gamau hidup susah, rempong, gamau ribet, cape atau kotor, trus merengek2 minta ke mall ato cafe yang ber-AC, DAN APALAGI KALAU FAKTANYA LU ITU COWO, mending lu ke laut aja deh. Mending gw jalan2 sendiri daripada bareng sama orang manja. Gw bahkan bisa membaca karakter orang itu manja atau ngga dari ekspresi mukanya. Kalau pas panas2an, kotor2an, basah2an, cape2an, trus mukanya ngeluh mulu, mending lu pulang aja, lemah banget jadi orang (GEA banget ya gw, hahaha). Gw sangat menikmati liburan dengan pemandangan indah, dengan pencapaian yang ga mudah tapi gw ga harus ngeluarin duit banyak2. Itu baru yang namanya seni travelling.

Ada yang tersinggung? Haha, maaf ya, no offense. Gw sering dianggap anak sulung karena orang mungkin gw terlihat mandiri. Oke, kalau lu udah deket sama gw mungkin lu akan melihat sisi manja dari diri gw. Tapi at least gw bisa menjamin diri gw tangguh ketika berada di luar zona nyaman.

Gw kemaren libur hari raya Lebaran seminggu. Kakak gw dan keluarganya nginep seminggu di rumah. Ponakan gw super lucu banget, perawakannya gemesin. Namanya Sigi. Konon katanya sih doi mirip kakak gw kecil (emang iya sih, gw bandingin ponakan gw itu sama foto kakak gw kecil), tapi bedanya si Sigi ini putih banget kaya roti berjalan (apa coba). Sebagian besar waktu liburan gw kemarin diisi dengan nonton Game of Throne, bermain dengan ponakan gw yang lucu banget banget itu, serta sedikit mengerjakan project (iya iya gw tau kerjaan gw masih buanyakk). Saking gw menikmatinya, gw ngerasa waktu liburan kemaren tuh berasa cepet banget. Dua hari terakhir, gw menutup liburan gw bersama sahabat gw dari SMA, Tri dan Sari di Pulau Harapan di Kep. Seribu. Here the story goes…

Jadi rencana liburan ini tuh udah ada dari lama, tapi berhubung baru punya waktu dan ehm, duit yang pas, maka gw, Tri dan Sari memutuskan untuk jalan-jalan. Si Tri pas browsing ke backpackerindonesia.com, trus di share ke grup Line. Oke, gw dan Sari langsung setuju : Trip ke Pulau Harapan tanggal 2-3 Agustus, hanya 370ribu saja, all in accomodation.
Kita bertiga pergi dari Bandung pake bis Primajasa (tiket per orang 90ribu) ke arah Bandara Soekarno-Hatta. Kenapa harus ke bandara? Soalnya kita disuruh ngumpul di Muara Angke jam 6 pagi, dan satu-satunya travel ke arah Jakarta pas subuh2 ya cuman ke arah bandara. Kita bertiga kehabisan tiket yang jam 1 malem, jadinya kita berangkat dari Bandung jam 11 malem. Berhubung perjalanan sangat lancar, kita bertiga sampai bandara jam stengah 3 subuh. Tumben-tumbenan saat itu Jakarta lagi dingin.

Gw suka banget sensasinya ketika berada di bandara, seakan gw mau bepergian jauh banget. Gw ngebayangin, betapa bahagianya kalau gw saat itu langsung cabut ke Norway. Yes, I will! Selain di bandara, gw juga sangat suka sensasi ketika berada di stasiun, seolah-olah gw mau pergi ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Selain itu stasiun itu tempatnya sangat berkesan dan memorable banget.

Balik lagi ke dunia nyata, kita bertiga ngantuk sempoyongan nyari tempat buat ngelanjutin tidur nungguin pagi. Mushola bandara tutup, sialan, kayanya petugas bandara tau, kalau mushola dibuka alamat jadi tempat tidur buat para penumpang. Akhirnya kita bertiga hanya rebahan di di kursi panjang di depan kantor Lion Air macem gelandangan, haha. Gw berhasil tidur 1 jam, si Tri nampaknya bisa tidur pulas, tapi si Sari gabisa tidur gara2 berisik.

Setelah sikat gigi dan cuci muka (ga lupa kamuflase pake parfum yang banyak, haha), kita bertiga langsung nyari taksi ke Muara Angke. Akhirnya kita sampai di pom bensin Muara Angke dalam waktu setengah jam (argo taksi 95ribu), langsung disambut oleh bau anyir yang menyengat yang bersumber dari pasar ikan. Dari sana kita ketemuan sama mas Otoy dan kita digiring ke perahu untuk menuju Pulau Harapan. Gw terkesan dengan pemandangan pagi hari di pelabuan Muara Angke. Sayang, baterai kamera gw lagi abis, jadi gw gabisa ambil foto langit pagi dan deretan perahu yang ada disana :(. Gw juga sedih banget ngeliat banyak sampah yang mengambang di atas air yang kotor. 😦

Perahu berangkat dari Muara Angke sekitar pkl. 08.30. Gw bersyukur gw bisa tidur di kapal selama 2 jam di kapal, lumayan untuk membayar hutang tidur dan menghilangkan pusing di kepala gw. Penumpangnya saat itu lumayan banyak, tapi bersyukur ga berdesak2an jadi kita bertiga bisa tidur telentang. Cuman ada beberapa penumpang yang ngerokok dalem kapal, mereka minta banget dilempar pake ransel. Akhirnya kita berlabuh di Pulau Harapan pkl. 10.30. Ajegile, pas kita turun kita diserbu rombongan orang2 yang mau balik ke Muara Angke. Banyak banget manusia, udah kaya cendol lah pokonya. Tapi gw seneng liat air disana, beniiiinggg banget!!! Langit biru, awan putih, air biru, pasir putih, mataharinya mentrang-mentring…waini, baru namanya wisata pantai! Abis itu kita ketemuan sama Mahfud, trus kita dianterin ke homestay. Rumahnya lumayan bagus dan ber-AC. Makanannya juga lumayan kok, kaya makanan rumah. Saat itu gw langsung sempetin ngecas batre kamera dan hape.

P1070334

Kita bertiga satu kamar dengan Ka Sophie dan Aulia, dimana hubungan kedua orang ini adalah antara tante dan ponakan. Ka Sophie kenampakannya tomboy dan asik banget. Dia memang punya hobi travelling, katanya dia udah banyak mendaki banyak gunung di Pulau Jawa dan akhir bulan ini dia mau ke Gn. Rinjani. Biasanya dia kemana2 sendirian, tapi kali ini dia ngajak keponakannya biar keponakannya berani. Dia ga ngaku kerja dimana dan profesinya apa, tapi gw menaksir mungkin usianya hampir 30an, belum menikah dan bekerja di bidang desain. Dia menyarankan, kalau mau travelling harus menabung dari jauh-jauh hari. Selain itu juga harus nyicil sedikit demi sedikit untuk membeli peralatan outdoor. Hmm, nice advice. Gw langsung minta nomer hapenya, siapa tau kita bertemu lagi di traveling selanjutnya.

Setelah itu kita naik kapal kecil buat menuju spot snorkeling. Gw tadinya centil banget gamau snorkeling gara-gara takut kulit gosong, tapi pas ngeliat beningnya air di bawah kapal gw jadi pengen nyebur. Setelah memakai fin, life jacket dan google, kita dapet beberapa instruksi yang harus diperhatikan sebelum snorkeling. Setelah nyebur, gw agak bingung buat adaptasi nafas lewat mulut. Selanjutnya gw berenang sambil ngeliat terumbu karang di bawah air. Rasanya bebas banget berenang pake peralatan snorkeling, gw sama sekali ga takut tenggelam. Tapi sayang sekali, terumbu karangnya buruk. Hampir semuanya sudah mati. Mungkin gara2 sering terinjak oleh para wisatawan yang lagi snorkeling, atau mungkin mati gara2 polusi air. Atau mungkin mata gw siwer gara2 kaga pake kacamata jadi terumbu yang masih idup ga keliatan, hahaha. Yasudahlah, seenggaknya masih banyak ikan warna-warni yang berseliweran dan bintang laut. Pokonya snorkeling itu mantap abis! Naga2nya olahraga air ini jadi the next hobby gw nih. Awal2nya gw gamau masuk air, eh pas masuk air gw malah gamau naik, hahaha.

P1070413

IMGP1101

Setelah ke dua spot snorkeling, kita dibawa ke Pulau Perak. Disana pasir pantainya putih dan tempat yang bagus tepat melihat pemandangan sunset. Tapi sayang (lagi-lagi) banyak sampah. Ayolah orang Indonesiaaaa…stop buang sampah ke pantai dan ke laut!

P1070693
Liat deh gambar di atas. Pantainya indah, tapi bertebaran banyak sampah 😦

P1070471

Camera : Panasonic Lumix DMC- FS3

P1070481

Camera : Panasonic Lumix DMC- FS3

P1070510

Camera : Panasonic Lumix DMC- FS3

Besoknya, kita bertiga bangun jam 06.45, sungguh teramat wacana mau liat pemandangan sunrise. Setelah siap2, kita berangkat pake kapal kecil ke Pulau Bulat. Pulaunya kecil, tapi indah. Recommended lah kalau mau foto pre wedding disana. Setelah itu kita cabut ke Pulau Kelapa Dua untuk melihat penyu di penangkaran. Sedih sih, keadaan tempat penangkarannya kurang layak untuk penyu bersisik bisa berkembang dengan baik. 😦

P1070642

P1070651

P1070688

Abis itu, kita bertiga balik lagi ke Pulau Harapan buat siap2 pulang. Sedih, karena akhirnya harus pulang ke Bandung dan kembali bekerja. Berbanding terbalik dengan perjalanan pergi, kita bertiga harus desak-desakan dengan penumpang yang lain di dalam kapal pas perjalanan pulang. Mana panas banget pula. Akhirnya kita dapet spot duduk di ujung buritan kapal. Pas kapalnya jalan, goyangannya kerasa banget. Ibarat wahana kora-kora di dufan, spot kita bertiga tuh ada di ujungnya kora-kora, dan kita haru naik wahana itu selam tiga jam! Sumpah gw takut muntah. Kita bertiga berusaha tidur biar ga mual. Makasih Tuhan, akhirnya kita bertiga sampai Muara Angke dengan selamat dan sehat walafiat, tanpa mengeluarkan isi perut 😀

Yang paling sedih, kita bertiga akhirnya berpencar ke tempat tinggal masing-masing. Sari naik ojek menuju Stasiun Gambir untuk naik kereta ke Semarang, Tri naik Trans Jakarta menuju ke Pancoran trus ke Tebet, dan gw naik Trans Jakarta menuju terminal Tanjung Priok untuk naik bis Primajasa ke Bandung. Makasi sahabat2 sejatiku yang menemani perjalanan berlibur di Pulau Harapan 😀

Btw, Tiket Bus Trans Jakarta 3500 perak dan tiket bis Primajasa 70ribu saja.

See you at the next trip!

P1070355