Poem

Lara 

Sinar cerah menyibak fajar

Awan kelam menggelayuti  siang

Rintik hujan memayungi petang

Secepat itu nyatanya dinamika angan-angan

Meninggalkan pilu yang membekas

Aku butuh sendiri

Waktu itu pun aku ingin menyendiri

Mengapa kau datang hingga kubawa dalam doa tinggi-tinggi?

Aku tahu, salahkan ekspektasi

Jangan datang-datang lagi

Jika pada akhirnya aku ditinggal pergi

Aku lara

Tentang Biru

Mawar birumu tak kunjung layu

Seolah tidak menyerah mengingatkan aku tentang kamu

Maaf aku belum pernah menuliskan puisi untukmu

Bagiku, dirimulah perwujudan puisi terindah yang selama ini kutahu

Matamu seperti bisa menangkap arti gerak-gerikku

Senyummu selalu mampu meredam segala kegamanganku

Kehangatan, perlindungan, wangimu, akan selalu aku rindu

Siapapun yang bersama kamu kelak, ia akan beruntung

Karena aku tahu betul rasanya dijaga kamu

Terimakasih telah memperlakukanku bak seorang ratu

 

Percayalah, hidup tak selamanya biru

Kita akan terharu dengan yang baru

Bising

Hati dan pikiran berseteru
Kebimbangan berada di antaranya
Ketika jauh aku bisa berpikir jernih
Ketika dekat maka aku lupa dengan apa yang kupikirkan kemarin

Lelah
Aku ingin terlelap
Keraguan melayang-layang dalam mimpi
Menggempur dada hingga meringis

Letih
Aku ingin bersandar
Aku butuh tidur
Namun bantalku balik menindihku hingga ku sesak

Mimpi adalah kenyataan, kenyataan adalah mimpi
Rasanya aku ingin membelah diri
Itu lebih baik daripada terpaku pada dimensi bising
Yang membongkar kepalaku semalam-malaman

Posted from WordPress for Android

Forever 25

Satu jam lagi gw akan menapaki usia tepat 25 tahun

Sedikit sentimentil, karena gw akan menjalani ulang tahun sendiri tanpa keluarga…tapi mereka berhasil membuat gw tersenyum dengan mengirimkan gw kado ke kantor (kadonya nyampe kecepetan sehari)…Oh, How I miss you Mom and Dad :*

wp-1463707719414.jpgwp-1463707730143.jpgwp-1463707746352.jpg

Sebagai keluarga yang tidak romantis, mama papa bukan tipe orang tua yang memberi kado setiap gw ulang tahun. Yah, kalo dulu2 mungkin alasannya lebih ke karena ga punya duit aja sih, hehe. But it’s not a problem. Gw ga menuntut mereka harus membuat gw bahagia, justru gw berpikir keras bagaimana caranya membuat mereka senang menjalani hari tua mereka.

Saat ini gw menulis sambal diiringi “The Weepies – Not Your Year”. Lagu yang mengingatkan gw masa-masa kelam tahun lalu, dimana gw merasa masa depan gw sangat sangat gelap. Sama sekali ga terbayang 2016 itu seperti apa.

Lagi, lagi, dan lagi…karena Tuhan baik, gw ada di Jakarta sekarang. Gw bisa belajar banyak di LEMIGAS, gw bisa gabung jadi pengajar di Pelayanan Adik Asuh Panglima Polim, gw dipercaya jadi PJ Area di Jambore Sahabat Anak 2016…dan sebagainya…dan sebagainya. Gw bersyukur bisa bergabung di beberapa komunitas yang mendukung perkembangan diri gw.

Gw jatuh cinta dengan kota ini. Ini dia puisi yang gw buat tentang Jakarta.

 

Jakarta

 

Akar ragaku mulai merambat di bumi kota ini

Mataku terikat oleh temaram lampu jalanan

Kakiku menari-nari menyusuri trotoar tua

Kuresapi nikmat panas dan asapnya yang kejam

Kota baru…rumah baru

 

Hingar bingar ibukota bukanlah mimpi

Adalah bocah dekil dengan mata nanar

Bangunan lawas

Buku-buku bekas

Pengamen sumbang

Tenda-tenda usang

Bis-bis renta

Rel kereta

 

Kan ku gali terus cerita kota seribu wajah ini

Seperti seorang gadis gigih mencari tahu masa lalu bujangnya

Mari tanganku

Kita sulam kenangan di tempat ini

 

Gw bersyukur gw tinggal di Jakarta pinggiran, bukan di jantung ibukota yang hingar bingar. Dari sini gw bisa tinggal tenang dengan sederhana di ibukota, punya banyak teman baru dan ilmu yang baru. Bahkan kantor gw pun adalah bangunan tua dengan taman yang luas di sekelilingnya, betapa Tuhan mengerti dengan pribadi gw yang senang dengan hal-hal yang berbau “vintage”. Kosan gw pun sangat nyaman dan murah. Mumpung di Jakarta, gw ga akan menyia-nyiakan waktu gw untuk belajar dan berteman. Betapa, betapa, betapa gw sangat sangat sangat penasaran dengan kota ini. Setiap sudut kota ini menarik. Baik dan buruknya adalah dinamis dan romantis. Ah, betapa gw cinta dengan kota ini!!

Bagi gw, tinggal di Jakarta dengan segala hal yang gw dapet dari kota ini adalah kado yang terindah dari Tuhan di ulang tahun gw kali ini. Terimakasih ya Tuhan, bagaimana caranya aku harus berterimakasih kepada-Mu 🙂

Di umur gw yang baru ini gw bertekad untuk menggunakan waktu gw dengan baik. Mengurangi rasa malas dan jam tidur kalau bisa. Dan satu lagi : NO WACANA PLEASE! 😦

Gw masih harus belajar banyak mengenai kerja keras. Dimulai dari belajar bangun pagi dan tidur secukupnya. Gw ingin bekerja segiat-giatnya untuk memenuhi Tujuan Tuhan dalam hidup gw. Gw ingin berprestasi. Siapapun akan bisa dibuat bungkam dengan prestasimu. Prestasi akan berbicara lantang dibandingkan kelemahanmu, prestasi akan bersuara lantang dibandingkan masa lalumu, prestasi akan berteriak lebih lantang daripada kegagalanmu. #quoteofthe day

Sekali lagi, terimakasih Tuhan, akhirnya aku sampai juga di umur seperempat abad. Ga sabar untuk melihat keajaiban-keajaiban berikutnya yang akan menjadi kado tahun depan 😀

All glory to Him!

Gbus 😀

 

Banda Neira New Album Lyrics

Matahari Pagi
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik : Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Bilur embun di punggung rerumputan
Langit biru, kapas awan
Sapa burung berbalasan
Bisik daun dihembus angin nan pelan
Senandungkan lagu alam
Menyambutmu tiap hari menjelang

Matahari pagi
Hangat dan menerangi
Dunia yang gelap
Hati yang dingin
Perlahan berganti menjadi bahagia

Sebagai Kawan
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Disampaikan di sebuah orasi oleh Adhito Harinugroho. Konon kutipan tersebut pertama kali diucapkan oleh Albert Camus)

Jangan berdiri di depanku
karena ku bukan pengikut yang baik
Jangan berdiri di belakangku
karena ku bukan pemimpin yang baik
Berdirilah di sampingku sebagai kawan

Pangeran Kecil
(lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)
Tidur, tidurlah sayang
Esok kan segera datang
Tutup buku kesayanganmu itu
Esok atau lusa kita buka kembali

Tidur, tidurlah sayang
Malam terlalu larut untukmu
Simpan buku kesukaanmu itu
Tarik selimutmu coba pejamkan mata
Beri tanda pada gambar yang kau suka
Rubah dalam gua, atau mawar dalam kaca
Beri tanda pada lembar yang kau suka
Pangeran kecil kabur terbang bersama kita

Tidur, tidurlah sayang
Lelah kan menidurkan matamu
Singgahlah ke tempat teman-temanmu
yang menyapamu di dalam lelap dan tidurmu

Pelukis Langit
(Lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Teringat akan sebuah kisah di balik kelabu
Ketika langit tak secerah dulu
Sepekan sudah tak hadir ia menemuiku
Mungkinkah matahari sedang sendu?
Menunggang bumi, sang pelukis bergegas menuju
Mencari matahari namun tak temu
Melihat itu kupu-kupu memanggil sang angin
Titipkan warna pada setiap hembus

Pelukis langit lari terburu-buru
Hingga dia lupa warna kuning dan biru
Pelukis langit lari terburu-buru
hingga yang ada hanya kelabu

Utarakan
(Lagu dan Lirik : Ananda Badudu)
Lihatlah bunga di sana bersemi
Mekar meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari badai menghampiri
Kau cari ke mana, dia masih di sana

Walau tak semua tanya datang beserta jawab
Dan tak semua harap terpenuhi
Ketika bicara juga sesulit diam
Utarakan, utarakan, utarakan.

Dengarlah kawan di sana bercerita
Pelan ia berbisik, pelan ia berkata-kata
Dan hari ini, tak akan dimenangkan
Bila kau tak berani mempertaruhkan

Biru
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Ananda Badudu dan Bramantya Basuki)
Biru, tuk segala yang jauh
Biru, tuk semua yang luruh
Bayang resah tak kan lesap
segala pekat, kan niscaya

Biru, tuk segala yang jauh
Biru, tuk semua yang luruh
Singgah saja, kita nanti
Harap terang, kan menjelang

Bunga
(Lagu dan Lirik: Rara Sekar)

Pada akar kita tanamkan bersama, harapan
Tumbuh kembang berbagi tanah udara
Hingga ruang mulai beradu
Hingga waktu tak lagi mampu
Hari ini bukan tuk kita miliki
Tapi menjadi

Bersemilah di taman
Kawan jadilah bunga
Bunga yang mekar
Temani daun-daun
Dan terangi hidupnya
Jadilah bunga

Pada awan kita sering berumpama, berandai
Bila daun dan tangkai ini dewasa
Lahir rasa yang tak menentu
Usah melangkah dan berlalu
Tak semua yang kita tanam kita tuai bersama

Sampai Jadi Debu
(Lagu: Ananda Badudu dan Gardika Gigih; Lirik: Ananda Badudu)
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu,
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

Langit dan Laut
(Lagu dan Lirik: Ananda Badudu; Aransemen dawai: Gardika Gigih)
Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu
Dan dengarkan arus yang datang nyatakan

Langit dan laut
dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesakkan jiwa

Re: Langit dan Laut
(Lagu dan Lirik: Rara Sekar)
Biarkan saja alam yang membahasa
Biarlah saja tak akan ubahnya yang ada
Dengarkan saja pasang gelombang yang bersahutan
Rasakan getar dari kedalaman samudera

Di ambang gelap dan terang
Di batas indah dan perih
Ada, sunyi

Mewangi
(Lagu dan Lirik: Ananda Badudu)

Riuh rasa diembannya
Melewati hari
Menyeruak
Mengumbar wewangi
Menuruti rindu yang tiada habis
Mewangi
Ke mana kau menuju, anakku?
Kalah atau menang kita kan jadi
Arang dan abu
Arang dan abu
Mewangi

Derai-derai Cemara (1949) – Musikalisasi Puisi Chairil Anwar
(Lagu: Ananda Badudu; Aransemen dawai: Gardika Gigih; puisi : Chairil Anwar)

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada berapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar pertimbangan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Tini dan Yanti
(lirik: Ida Bagus Santosa; lagu: Amirudin Tjiptaprawira; Aransemen ulang : Ananda Badudu dan Rara Sekar)

Tini dan Yanti, kepergianku
buat kehadiran di hari esok yang gemilang
Jangan kecewa meski derita menantang
Itu adalah mulia
Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang
La historia me absolvera!
La historia me absolvera!

Benderang
(lagu dan lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar)
Benderang jalan telah terang
Dan lapang jalan terbentang
Tuk kau dan ku lalui
Tuk berserah pada waktu

Terentang jejak di belakang
Dan hilang yang kelak di depan
Tak kau dan ku lalui
Tak menyerah pada waktu

Terang benderang

Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti
(Lagu: Ananda Badudu; Lirik: Ananda Badudu dan Rara Sekar; Aransemen dawai: Gardika Gigih)

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Terang di ujung sana

Cukup

Dunia kita berbeda katamu
Mimpi kita juga ujarku
Membisu tidak akan mampu membuat itu menjadi sama

Aku disini merapuh
Menggenggam ingatan akan janji-janjimu
Tentang jalan itu dan senja itu
Wajahku lesu dan ragaku layu karena menunggu
Pinta saja aku untuk menanti,maka aku akan berdiri
Nyatanya kau tidak peduli, ketika seiring waktu aku lemah disini

Cukup sudah angan-angan ini,aku sudah terlalu sakit
Ketika aku melangkah pergi tanpa pamit
Baru kusadari bahwa selama ini aku memang seorang diri

Dan entah kau ingat janjimu atau tidak

Sepertinya tidak.