Quotes

Siraman Kata

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri” – R.A. Kartini


Dua garis rel itu seperti kau dan aku

Hanya bersama-sama, tapi tak bertemu

Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan

Terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain

Begitu pula aku

Kau akan jadi kemarin

Kukenang sebagai pengantar siangku

– KERETA – Sitok Strengenge


Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri, menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka car. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri

Menikmati Akhir Pekan, M. Aan Mansyur


“Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” – Sujiwo Tedjo


Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Sia-Sia, Chairil Anwar


Jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih
sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara
sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah
lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut
“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”
demikian senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab
juga taring waktu yang runcing

kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar
dan aku hanya melukismu di tebing batu-batu
kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai
ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi petang
“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”
sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau seakan berlari
di antara ilalang dan batang-batang

sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih
meski ceritanya selalu saja tentang perih

Percintaan Hulu dan Muara, Iyut Fitra


Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan dan membuatnya berwarna-warni. Mereka memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap jadi mata air di halaman.

Orang-orang melintas membawa kendaraan. Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba tepat waktu.

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu. Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan mengenang orang-orang yang hilang.

Sudah tanggal berapa sekarang?

Menyaksikan Pagi Dari Beranda, M. Aan Mansyur


Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku akan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka
yang berusaha mendekatiku
seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku
Pulanglah ke dirimu
aku tak kemana mana

Cintamu, Mustofa Bisri