Yogyakarta

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 9)

Ketika dua hari kemarin gw jalan-jalan di Jakarta sendirian dan hari ini gw mengistirahatkan fisik gw (dengan tidur) dan mental gw (dengan ke gereja) di Bandung, rasa-rasanya seperti mimpi. Rasanya pengen langsung aja nulis tentang perjalanan gw ke Jakarta, tapi hati gw masih terbeban dengan travelling report sebelumnya yang nyatanya belum rampung juga.

Oke, ditemani oleh lagu-lagu yang super keren dari Gugun and The Blues Shelter, malam ini juga gw akan menuntaskan travelling report di hari terakhir liburan gw di Jogja pas liburan akhir tahun kemarin :

Day 9 : Minggu, 4 Januari 2015

Gw inget banget, minggu pagi di hari itu berat banget bagi gw untuk membuka mata karena sehari sebelumnya gw jadi pager ayu seharian. Capenya bukan kepalang. Rasanya hari itu gw ga pengen kemana-mana selain di tempat tidur. Tapi sayang, hari itu adalah hari terakhir gw di Jogja dan sorenya gw harus pulang. Maka dengan berat hari gw mandi dan kembali packing. Seperti biasa, bawaan pergi selalu lebih ringan daripada bawaan yang dibawa pulang.

Sebelum kemnali ke Bandung, gw dan keluarga gw sempatkan untuk berkunjung ke Candi Boko. Tiket masuknya mahal (sekitar 100 ribuan bagi kami berempat plus satu mobil), namun tak seberapa untuk keindahannya yang tak ternilai. Tak heran (lagi-lagi) gw melihat beberapa turis mancanegara yang berkunjung kesana. Tapi anehnya di sana suasananya cukup sepi, kontras dengan keadaan Jogja saat itu yang padat oleh manusia karena sedang waktu liburan.

Cuaca hari itu panas terik sekali (lebih terik daripada dua hari sebelumnya saat gw di Situs Taman Sari). Matahari bersinar tanpa penghalang di atas sana, di tengah langit biru dan awan putih. Saking terpesonanya, untuk kali ini gw tidak terlalu banyak mengambil foto. Gw bener-bener menikmati segala hal yang ada disana.

Jpeg

Istana di atas bukit. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Kenampakan kompleks Situs Candi Boko dari atas. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Speechless. Kamera : Asus Zenfone 4

Jpeg

Scenery look from the highest place at Candi Boko Site. Camera : Asus Zenfone 4


Khusus post kali ini, gw ga harus berkata-kata banyak tentang Situs Cadi Boko. Silakan menikmati keindahannya melalui foto yang gw ambil 🙂

Saran gw, jangan lupa bawa minum yang banyak kalau mau kesini. Selain karena tempatnya panas banget, beli air di sini harganya bisa sampe dua kali lipat. Jangan lupa juga bawa payung atau topi untuk kalian yang ga kuat panas matahari.

Sayang, gw hanya punya sedikit waktu yang tersisa buat menikmati candi-candi yang ada di daerah Prambanan sana, padahal disana ada banyak candi-candi yang bertebaran. Kayanya asik banget buat menjelajah dari satu candi ke candi yang lain dengan bersepeda melintasi jalan dengan pemandangan persawahan dan perbukitan yang luas. Ok, I’ll throw it into my bucket list 🙂

Meninggalkan Jogja di sore itu membawa suasana sendu karena hati gw sudah mulai melekat disana, sehingga melangkahkan kaki untuk keluar dari sana terasa berat sekali. Seminggu pertama di Bandung semenjak kepulangan gw rasanya masih terbayang-bayang dengan Jogja. Sepertinya ada bagian hati gw yang ketinggalan di sana.

Biarlah hati itu terus tertinggal hingga nanti ku kembali lagi, di hari yang lebih baik 🙂

Saat itu gw pulang ke Bandung dengan menggunakan bis malam (karena tiket kereta pasti sudah habis dan kalau ada pun harganya pasti mahal banget). Tiket per orangnya sebesar Rp. 270.000,00. Perjalanan ditempuh dari pkl. 16.00 hingga pkl. 06.00. Puji Tuhan, tidak seperti supir yang lainnya, supir bis yang kami tumpangi bisa membawakan bis dengan sangat baik. Langit Bandung pagi beserta udara dinginnya menyambut kedatangan kami.

Tuntas sudah travelling report gw di Yogyakarta, semoga bisa memberi sedikit gambaran bagi para traveller yang mau kesana.

Bye! 🙂

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 7-8)

Day 7, 2 Januari 2015

Hari ini adalah hari pertama gw berjalan-jalan lagi di tahun 2015. Di hari ini gw, nyokap dan bokap memisahkan diri dari rombongan keluarga besar karena mau menghadiri acara pernikahan sepupu jauh gw yang diadakan esok harinya tanggal 3 Januari 2015. Maka gw, nyokap dan bokap memutuskan untuk menginap sehari di rumah teman nyokap gw, Tante Wiwin, yang berada di area Ambarukmo, Kabupaten Yogyakarta.

Pagi hari kami nge-drop tas di rumah Tante Wiwin, lalu dua jam kemudian langsung cabut lagi ke kota buat jalan-jalan. Hari itu gw langsung putuskan untuk berkujung ke situs Tamansari lantaran gw udah lama penasaran dengan tempat tersebut. Katanya sih tempatnya bagus.

Dari Ambarukmo kami berangkat menuju ke daerah Malioboro (again!), lalu dari sana kami bertiga naik becak untuk menuju ke Pasar Ngasem yang merupakan pasar tradisional.

Gw berdoa supaya Tuhan memberkati tukang becak itu lantaran kami bertiga cuman pake satu becak, trus tukang becaknya mau aja dibayar cuman Rp. 10.000,00 (Maaf ya paak). Dari Pasar Ngasem, kami berjalan melalu gang untuk menuju Situs Tamansari. Gang yang berada di antara pemukiman padat penduduk dan terkesan agak kumuh juga. Bokap gw cerita, terakhir dia kesini pas jaman kuliah, daerah pemukiman ini jauh lebih kumuh lagi.

Jpeg

Lorong menuju Situs Tamansari, Yogyakarta, yang berbentuk kubah melengkung

Ternyata tempatnya memang indah banget! Pintu gerbangnya penuh dengan ornamen ukiran yang antik, cukup membuat para pengunjung seperti gw jatuh hati pada langkah pertama. Tiket masuknya sangat murah, cukup Rp. 5000,00 saja (tanpa tour guide). Gw percaya, kepopuleran situs ini sudah mendunia, terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang mengunjungi tempat ini.

Jpeg

Pintu gerbang luar bagian timur Situs Tamansari, Yogyakarta. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Saat itu cuaca panas terik luar biasa, sukses membuat kulit gw menjadi gosong (padahal besoknya mau ke kondangan, hiks). Tapi hal itu ga menghentikan penasaran gw untuk berkeliling situs, mengamati setiap detailnya dan mengambil foto dari sudut pandang yang tepat. Langit biru cerah saat itu semakin mempercantik Situs Tamansari.

Jpeg

Gerbang dalam barat Situs Tamansari. Kamera : Android Asus Zenfone 4

 Jpeg

Jpeg

Kompleks pemandian Tamansari menghadap utara. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg

Jpeg

Menara di bagian tengah, konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara (Sorce : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114214_PN

“Umbul Binangun”, sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja (Source : Wikipedia) Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114017_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, berlatarkan langit biru. Kamera : Android Asus Zenfon 4

P_20150102_114048_PN

Panorama Situs Tamansari menghadap barat, terfokus pada kolamnya. Kamera : Android Asus Zenfon 4

Jpeg Jpeg

Gerbang luar bagian timur. Kamera : Android Asus Zenfone 4

Layaklah tempat ini disebut “Istana Air” karena pada situs ini terdapat beberapa kolam yang berfungsi sebagai tempat pemandian para raja keraton. Ketika memasuki gerbangnya, mata kita disegarkan oleh pemandangan air di kolam beserta suara gemericik airnya.

Dalam berwisata kali ini gw lebih menikmati keindahan, keantikan dan keunikan arsitektur bangunannya, tanpa menyewa jasa tour guide untuk mengetahui sejarahnya. Mungkin ini kebiasaan jelek yang harus gw rubah, seharusnya  kalau bisa berfokus pada cerita sejarahnya juga dalam setiap tempat wisata yang gw kunjungi. Buat yang pengen tahu sejarah Situs Tamansari lebih lengkap dapat mengunjungi website ini http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta.

Gw lega melihat bahwa situs bersejarah ini boleh terawat dengan baik oleh pemerintah setempat. Kalau tempatnya bersih, kan semakin enak diliat, semakin menambah daya tarik bagi para wisatawan.

Oiya, di sekitar situs ini dapat kita jumpai pohon yang menghasilkan Buah Kepel. Gw dikenalkan buah ini pertama kalinya oleh Pak A. T. Rahardjo a.k.a dosen pembimbing gw sendiri sekitar dua tahun yang lalu. Beliau yang tertarik dengan ilmu Biologi (karena ia adalah seorang ahli Palinologi) memperkenalkan buah itu sebagi “Buah Keraton”. Menurut Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepel), tumbuhan kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buah hidangan meja yang menjadi flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Dahulu penggunaannya secara tradisional terbatas di Kesultanan Yogyakarta. Hmm, mengingat khasiatnya yang unik, nampaknya gw akan menanam buah ini di halaman rumah gw sendiri nantinya.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Buah Kepel, dahulu penggunaannya terbatas di Kesultanan Yogyakarta.

Pada Hari Ke-7, gw, nyokap dan bokap menghadiri resepsi Mba Yemima, sepupu jauh gw. Kisah gw menjadi Pager Ayu disana diulas pada potingan blog gw yang berikut ini https://kristyarin.wordpress.com/2015/02/03/make-up-and-hair-do-november-2014-januari-2014/

Jpeg

Gereja tempat resepsi pernikahan Mba Yemima. Gw kapan yaa 😦

Nantikan postingan selanjutnya, travelling report terakhirn gw hari ke-9 di Yogyakarta. See you! 🙂

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 5-6)

Day 5, 31 Desember 2014

Di hari malam tahun baru ini keluarga gw lebih memilih untuk menikmati daerah Kaliurang dan sekitarnya, karena kalau mau turun ke kota dikhawatirkan bakalan macet banget. Keluarga besar gw terpecah dua. Yang muda-muda memilih untuk menikmati keindahan Gunung Merapi, yang tua-tua lebih memilih duduk-duduk saja di restoran menikmati makan siang.

Gue? Tadinya pengen ikutan naik ke puncak Merapi dengan menyewa mobil Jeep. Tapi karena harga untuk menyewa Jeep terlalu mahal (Rp. 300 ribu per mobil), gw memutuskan untuk mengalah dengan sepupu gw yang lain. Berfoto di depan Jeep-nya saja sudah cukup. 😀

IMG_1752

Yogyakarta itu kota seni. Kuat akan aroma kreativitasnya.

Setelah menginap selama 5 hari di Kaliurang, sebenernya gw setiap hari terkagum-kagum melihat replika berbagai wayang yang dipajang di pinggir jalan, hasil karya penduduk setempat, kemungkinan besar per-RW membuat satu replika. Daripada bosen diem di wisma, gw memutuskan untuk foto-foto di depan replika patung yang ada saat menjelang malam hari.

Jpeg JpegJpeg Jpeg Jpeg Jpeg

Gambar di atas dari kiri ke kanan : 1. Hanoman 2. Arjuna 3. Srikandi 4. Gatot Kaca 5. Wayang Punakawan 6. Bagong

Dalam rangka menyambut Tahun baru, penduduk Kaliurang memasang sekitar 2500 obor di sepanjang kanan kiri Jalan Kaliurang, juga ratusan lampion, seperti yang nampak pada foto di bawah ini :

Jpeg  Jpeg

Tidak hanya hal-hal di atas, penduduk Kaliurang juga melakukan Kirab Budaya, semacam arak-arakan atau pawai, sambil menyanyi dan mengenakan baju daerah atau kostum tertentu. Mereka berjalan sepanjang Jalan Kaliurang, hingga sampai puncak Merapi, lalu melakukan Orkes Melayu disana. Sayang, gw tidak menyaksikan Orkes Melayunya karena ada acara keluarga. Kira-kira beginilan suasana Kirab Budaya Kaliurang yang tertangkap oleh kamera bokap gw, Android Asus Zenfone 4 (Maaf ya kurang jelas) :

Jpeg JpegJpeg  Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg Jpeg

Sekitar satu jam menjelang tutup tahun, seperti biasa keluarga besar gw melakukan kebaktian keluarga. Kami semua menyanyikan lagu rohani dan ada sedikit renungan yang dibawakan oleh Pakde Onggo mengenai “Kewaspadaan”yang diambil dari injil Lukas 12. Setelah itu, tentu saja, fireworks ! 🙂

Jpeg IMG_1856 IMG_1862

Setelah itu kami semua bertoto bersama di depan wisma :

IMG_1848 IMG_1850

Untuk hari ke-6, kami beristirahat di wisma seharian karena tidurnya terlalu malam 😀

Sampai ketemu di postingan selanjutnya ! 😀

Short Fun Trip : Yogyakarta (Day 4)

Day 4, 30 Desember 2014

Yogyakarta itu kota yang unik. Dan sangat menarik.

Di hari yang ke-empat ini gw pertama-tama berkunjung ke Malioboro tentunya untuk berbelanja. Kayanya dari semua pasar yang gw pernah gw kunjungi selama ini, Malioboro is the best :). Mau nyari apa aja ada. Ada jajanan pasar dan oleh-oleh khas Jogja yang enak-enak (bakpia, jenang, klanting, pecel, yangko, dll), ada berbagai macam batik, ada berbagai accesoris (gelang, kalung, anting, dll), ada jamu-jamuan dan lulur-luluran, ada barang antik, ada hiasan dinding dengan ornamen Jawa, ada banyak kaos dengan tulisan yang unik, ada berbagai macam kerajinan tangan (tas, sepatu, dll). Ada aja yang unik di setiap detail pinggir jalannya dan seperti menemukan harta karun yang tidak terbuka kalau kamu mencoba untuk memasuki gang yang ada di Malioboro. Ditambah dengan adanya delman dan becak serta lesehan angkringan ketika malam hari, itulah yang membuat gw selalu ingin kembali ke Malioboro, lagi dan lagi, ga pernah bosan 🙂

Sayangnya, saat gw kesana Malioboro kacau semrawut banget. Rame penuh orang dimana-mana, padet banget, ditambah lagi matahari mentrang-mentring di atas sana. Buat jalan di trotoarnya susah banget, harus pake otot buat terus berjalan di tengah keramaian. Tapi hal itu gak membuat gw trauma dan kapok untuk kembali lagi kesana :).

Setiap ke Malioboro, benda yang selalu gw beli adalah gelang dan kalung, walaupun koleksi di rumah udah banyak banget. Gw selalu cinta dengan kreatifitas orang Jogja, salah satunya dalam membuat accesoris. Selain itu gw belanja Kaos Dagadu asli, baju batik, dll. Dan entah berapa duit kemarin gw habiskan untuk berbelanja di Malioboro karena gw dan nyokap gw laper mata banget!

Dear all readers, mau jatuh cinta dengan produk asli Indonesia? Datanglah ke Malioboro, kamu akan jatuh cinta dengan benda-benda hasil karya anak bangsa 🙂

Jam Antik di jalan masuk Malioboro (2013). Gw gendut bangett. Maklum, beban hidupnya saat itu lagi berat juga :p

Jam antik di jalan masuk Malioboro (2013). Gw terlihat gendut bangett. Maklum, beban hidupnya saat itu lagi berat juga :p

Setelah kurang puas berbelanja di Malioboro (karena terlalu penuh manusia, jadi gw dan nyokap memutuskan untuk tidak berlama-lama di Malioboro untuk berbelanja), kami bertolak ke Rumah Makan Soto Kadipiro di jalan Kadipiro. Di jalan tersebut ada beberapa restoran yang juga menamai dirinya sebagai Soto Kadipiro 2, Soto Kadipiro 3, Soto Kadipiro Plus, dll. Mungkin karena kenikmatan Soto Kadipiro ini, maka ada beberapa orang, entah itu yang pernah bekerja di Soto Kadipiro atau mungkin tukang cucinya, yang tertarik untuk menjual soto dengan nama yang sama. Tapi Soto Kadipiro yang asli yang melegenda itu konon rasanya tetap tidak terkalahkan. Kenapa gw bilang konon? Karena saat itu gw ga bisa makan di Rumah Makan Soto Kadipiro yang asli karena sotonya sudah ludes dibeli, padahal baru aja jam 2 siang :(. Akhirnya gw dan keluarga gw makan di Soto Kadipiro 2. Hmm…lumayan enak sih, but not really reccomended, because you can even find it anywhere in Java. Gw masih penasaran akan rasa Soto Kadipiro yang asli. Nanti deh gw rasain kalo ke Jogja lagi.

Setelah sambung nyowo di RM. Soto Kadipiro, Bude Tiwi menyarankan untuk mencari makanan pencuci mulut di alun-alun Keraton Puro Pakualaman. Disana ada desert unik yang namanya Rujak Es Krim. Sebenernya itu rujak cuka biasa, cuman bedanya rujak itu ditambah es puter rasa kelapa. Cocok banget dimakan di siang hari yang gerah, angin sepoi-sepoi basa dan di bawah pohon rindang (sayang pohon beringin besar di Keraton Pakualaman kini sudah ditebang). Sebagai penggemar rujak cuka, gw sebenernya pengen banget makan tuh rujak pake kerupuk, tapi yakali gw makan kerupuk sama eskrim, ga match banget. Untuk desert murah meriah seharga 5000 rupiah, rasa Rujak Es Krim Pakualaman boleh lah 🙂

Rujak Es Krim Pakualaman

Rujak Es Krim Pakualaman, slurrppp.

Di tengah padatnya Yogyakarta di saat liburan akhir tahun, pergi ke area Keraton Puro Pakualaman yang sepi adalah pelarian yang tepat. Sambil makan rujak eskrim, gw memandang ke arah bangunan keraton dan dalam hati bertanya-tanya, kontras dengan Keraton Yogyakarta, kok ga ada satupun orang yang masuk ke komplek Keraton Pakualaman ya. Apa dilarang buat masuk kesana? Tapi di halaman depannya ga ada satpam atau penjaganya juga. Ato jangan-jangan orang-orang pada ga tau tempat ini (abisnya sepi banget, padahal alun-alunnya lumayan rame, aneh banget!). Ato memang cuman gw yang emang ga pernah kesana, sedangkan orang-orang itu udah pada bosen. Penasaran, akhirnya gw ngajak keluarga gw buat masuk ke dalamnya. Awalnya celingak-celinguk canggung, tapi pas kami masuk, kami santai saja menjelajah dan berfoto-foto ria di dalamnya.

Gaya dulu di depan pendopo Keraton Puro Pakualaman :)

Gaya dulu di depan pendopo Keraton Puro Pakualaman 🙂

P1060437

Komplek Keraton Puro Pakualaman ini luaaaasssss banget. Gw suka setiap detil yang ada di kompleks ini, mulai dari pintu gerbangnya yang antik, pendoponya, rumahnya, alat-alat gamelannya, patung Ganesha-nya, jam kunonya, cerminnya, pokonya semuanya gw suka! Cuaca saat itu juga bersahabat, mendung dengan sedikit angin, jadi gw bisa berjalan mengelilingi komplek sesuka hati. Sayangnya saat itu museumnya sedang tutup, jadi gw kurang mengerti tentang bangunan Keraton Puro Pakualaman ini. Kalau ada yang penasaran dengan sejarah bangunan ini, bisa klik ke link ini http://jogjatrip.com/id/193/Pura-Pakualaman atau ini https://pakualamanyogya.wordpress.com/

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Memandang Komplek Keraton Pura Pakualaman yang luas banget

Pendopo Puro Pakualaman

Pendopo Keraton Puro Pakualaman

Bangunan antik bergaya Eropa yang ada di kompleks Keraton Pura Pakualaman.

Bangunan antik bergaya Eropa yang ada di kompleks Keraton Puro Pakualaman.

Seperangkat alat gamelan Puro Pakualaman

Seperangkat alat gamelan Keraton Puro Pakualaman

Di depan Patung Ganesha

Di depan Patung Ganesha

Gw selalu suka dengan jam kuno yang antik :D

Gw selalu suka dengan jam kuno yang antik 😀

Selfie di depan cermin Keraton Puro Pakualaman. Di belakang tampak bokap gw sedang berbincang dengan seorang abdi dalam keraton.

Selfie di depan cermin Keraton Puro Pakualaman. Di belakang tampak bokap gw sedang berbincang dengan seorang abdi dalam keraton.

Ketika gw sedang asyik berfoto-foto dan mengagumi keindahan arsitektur dan ornamen Keraton Puro Pakualaman, di sudut sana dekat pintu gerbang, bokap gw terlihat sedang berbincang seru dengan seorang bapak yang umurnya mungkin sekitar 60an. Penampilan orangnya lusuh sekali, hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana pendek, dan (maaf) gw agak nggak tahan dengan bau badannya. Tapi tidak disangka bahwa beliau adalah seorang Abdi Dalem keraton. Dari sana gw jadi tahu bahwa gaji seorang Abdi Dalem tidak seberapa (hanya 50000 sebulan), tapi mereka sangat setia dengan pekerjaannya itu dan sanggup menguliahkan anak-anaknya (wow!). Beliau menceritakan kisah yang terkesan mistis menyangkut uang yang ia dapatkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk menyekolahkan anaknya. Konon katanya, setiap ia berebut gunungan tumpeng di iring-iringan kirab pada saat Malam Satu Suro, rejekinya menjadi berlipat ganda. Cerita yang aneh dan ga masuk akal memang, tapi mengingat begitu banyaknya Abdi Dalem yang setia mengabdi bagi Raja Yogyakarta, sepertinya cerita itu benar. Yah, percaya tidak percaya silakan saja. Sebelum pulang, sang Abdi Dalem berkata ke sepupu gw, Asi, kalau dia bakalan masuk ITB. Amiinn. Tapi kamu tetep harus belajar dan berdoa yah dek, karena rejeki datengnya tetep dari Tuhan, bukan ramalan seseorang.

Bingung lagi mau kemana dari Keraton Puro Pakualaman, akhinya kami bernostalgia di Jalan Kotagede, pusat pengrajin perak di Yogyakarta. Nostalgia ini dilakukan hanya sekedar melewati jalannya dan memandang Kotagede melalui kaca jendela mobil. Gw ngga mengambil foto sama sekali karena memang sengaja ingin menikmati suasana Kotagede (lagian susah juga ngambil foto dari dalem mobil). Entah kenapa gw merasa Kotagede masa kini tidak semenarik dulu karena kondisinya kurang terawat. Sebenernya disana banyak bangunan antik yang menarik, tapi ada aja orang-orang yang tega menodai tembok putihnya dengan tulisan yang kurang bermakna dan efeknya tentu saja mengurangi keindahan bangunannya. For vandals who read this post, please stop that bad habbit. Express yourself in the right way, not on city’s wall. Don’t make people blame on you because of your creativity. In the name of art, vandalism is humiliating!

Beranjak dari Kotagede, kami melewati toko baru Dagadu, merk kaos terkenal di Yogyakarta, yang terletak di Jalan Gedongkuning Selatan. Sebagai penggemar kaos Dagadu asli, gw tergoda untuk turun kesana dan langsung beli dua potong kaos disana (padahal gw udah beli satu potong di Malioboro). Rata-rata harga kaos Dagadu asli per potongnya adalah Rp. 80.000,00. Dengan gaya bangunan yang minimalis, modern dan kontemporer serta desain interior yang menarik, gw yakin hal ini dapat memicu wisatawan untuk berkunjung ke sana dan tergoda untuk membeli kaosnya yang dari dulu terkenal khas oleh kata-katanya  *kok gw jadi promosi, hehe. Pokonya yang mau nyari oleh-oleh khas Yogya, dateng aja kesini, tempatnya seru banget! Yang punya anak kecil pasti anaknya hepi.

Cuman Dagadu yang kepikiran memodifikasi vespa supaya membuat suatu ruangan menjadi menarik !

Cuman Dagadu yang kepikiran memodifikasi vespa supaya membuat suatu ruangan menjadi menarik !

Ga kerasa jalan-jalan seharian bikin laper lagi. Atas rekomendasi Bude Tiwi (FYI, bude gw yang satu ini gaul banget karena tahu hal-hal yang terkenal dari Yogyakarta), kami semua sambung nyowo lagi. Kali ini kita makan di Mie Nyemek Pak Rebo di Jalan Brigjen Katamso yang juga legendaris. Saat itu kami beruntung karena tidak kehabisan dan bisa menikmati masakannya. Menunggu pesanan mie nyemek ini agak lama karena cara pembuatannya dengan menggunakan anglo dan satu wajan per porsi. Yang menjadi khas dari mie nyemek ini dibandingkan dengan mie nyemek yang lain adalah bahwa mie ini menggunakan telur bebek. Selain itu ditambah taburan bawang dan potongan daging di atasnya. Rasanya gurih dan enak banget! Tapi hati-hati, yang enak-enak biasanya lemaknya tinggi, hehe. Diakhiri dengan teh tawar panas, perfect.

Bakmi-Pak-Rebo-Cita-Rasa-Spesial-Racikan-Pak-Rebo--artikel49

Setelah full tank, kami bergegas ke Alun-Alun Selatan Yogyakarta untuk menikmati malam disana. Pada awalnya gw ga terlalu berminat, karena kebayang macetnya disana, gw pikir pasti para wisatawan melimpah ruah disana. Dan…bener aja, saat itu yang namanya alun-alun tuh penuh banget! Gw hanya bisa pasrah aja. Tetapi kemudian gw lagi-lagi menemukan hal yang menarik.

Layaknya anak kecil, gw bersama sepupu dan keponakan gw naik mobil-mobilan yang berhiaskan lampu berwarna-warni yang terang benderang dan mengelilingi jalan di sekitaran Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Untuk menjalankan mobil, kami mengayuh pedal sepeda yang ada di dalamnya. Mobil yang kami naiki memiliki empat pedal, dimana masing-masing pedal pararel dengan pedal orang lain yang berada dalam satu baris. Mobil ini dilengkapi dengan sound system yang dapt memutarkan berbagai lagu. Hampir seluruh playlist mp3 di mobil kami berisi lagu-lagu yang norak, maka terpaksa kami memutarkan lagu “Animal” dari Maroon 5 berulang-ulang sampai bosan. Seru juga, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak :). Untuk mengendarai mobil ini dalam satu putaran, kami harus merogoh kocek sebesar Rp.60.000,00 per mobil.

IMG_1709

IMG_1694

Selfie itu hukumnya wajib 😀

 IMG_1680 IMG_1682

Senyum manis nyokap gw yang tercantik sedunia :D

Senyum manis nyokap gw yang tercantik sedunia 😀

IMG_1714

Cuaca malam itu cerah, Puji Tuhan tidak hujan. Konon katanya cerahnya malam itu karena peran pawang hujan, soalnya saat itu ada acara tahunan Sekatenan (semacam pasar malam) di Alun-Alun Utara Yogakarta (believe it or not!). Selesai bermain mobil-mobilan, kami duduk secara lesehan di gerobak yang menjajakan berbagai macam makanan. Ada yang menjual sate, wedang ronde, minuman hangat, mie ayam, dll.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA IMG_1736

Gw tipe orang yang selalu penasaran dan rasa ingin tahunya amat tinggi. Sambil duduk di lesehan, dari kejauhan gw melihat dua pohon beringin kembar yang sering disebut banyak orang. Katanya, kalau bisa berjalan lurus dari titik tertentu dan berhasil melewati jalan di antara dua pohon beringin tersebut, berarti hati orang tersebut bersih dan permohonannya dapat terkabul. Gw merasa tertantang buat mencoba (sebenernya agak sedikit takut juga sih, hehe). Maka, lagi-lagi gw mengajak sepupu gw buat nyobain bareng-bareng. Mereka mau, asal gw nyobain tantangan itu duluan *sialan. Untuk menyewa tutup mata dikenakan biaya sebesar Rp. 1000,00.

Di depan beringin kembar Alun-Alun Selatan Yogyakarta

Di depan beringin kembar Alun-Alun Selatan Yogyakarta

Gw yang ga tau aturan dalam menjalani tantangan ini, menjadi sasaran empuk sodara-sodara sepupu gw. Setelah menutup mata gw sendiri dengan kain, badan gw diputer-puter, lalu disuruh jalan. Kalo gini caranya sih sampe kiamat juga jalan gw ga bakalan lurus sampe pohon beringin 😦

IMG_1748 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sekian catatan perjalanan gw yang menyenangkan di hari ke empat di Jogja. Bye! 🙂

SHORT FUN TRIP : YOGYAKARTA (DAY 3)

Hai readers! Gimana liburannya?

Dalam rangka menenangkan fisik, hati, dan pikiran, gw memutuskan memanfaatkan long weekend kemaren (18 Februari 2015-22 Februari 2015) untuk berlibur (sebenernya tanggal 19 Februari kemaren harusnya gw masuk kantor, tapi gw bolos, haha). Selain secara fisik dilanda flu yang ga sembuh-sembuh, secara batin gw juga agak muak dengan kehidupan Bandung. Gw butuh udara segar dari luar kota sebelum kembali bertempur dengan kehidupan Bandung lagi. Gw tinggalin sementara semua urusan pekerjaan, pelayanan, atau urusan yang lain-lain (tadinya mau sekalian matiin hape, tapi teryata gw masih punya hati nurani, haha). Susahnya menjadi seorang yang berkarakter melankolis adalah harus mengalokasikan wantu untuk me-time lebih banyak dibandingkan karakter yang lain (sanguinis, koleris, plegmatis) untuk men-charge mood. Jangan ganggu macan yang lagi tidur, jangan ganggu orang melankolis yang lagi pengen sendirian, haha. Liburan kemarin hanya diisi oleh makan yang teratur, tidur, jalan-jalan, dan main sama ponakan gw yang super lucu. Puji Tuhan, gw pulang ke Bandung dengan keadaan sehat walafiat dan semangat bekerja. Oh yeah, I love Monday like never before!

Btw, kalo kelamaan ga nulis tuh bikin gw jadi kaku buat nulis lagi. Rasanya pengen banget deh nulis teratur setiap hari walaupun hanya tulisan pendek untuk mengasah kemampuan menulis. Atau menyempatkan diri untuk membaca novel buat menambah perbendaharaan kata dan gaya tulisan. Menjadi seorang penulis yang handal itu tentu butuh kedisiplinan. Tapi ternyata meluangkan waktu untuk membaca dan menulis itu ngga mudah karena atas nama prioritas, mood dan stamina. Alhasil akhirnya gw selama ini hanya mencatat buah-buah pikiran yang menjadi cikal-bakal tulisan gw, khususnya untuk mengisi rubrik di blog ini. Dan pas gw buka lagi catetannya, gw hanya bisa melongo ngeliatin deretan ide-ide yang ternyata sudah menumpuk, tapi entah kapan untuk dikembangkan menjadi suatu postingan yang utuh.

Yang paling membebani pikiran gw untuk menulis adalah gw belum menyelesaikan travelling report gw selama di Jogja pas akhir tahun kemarin! Gw takut keburu lupa akan momen-momen yang bagus selama disana akibat ditimpa oleh memori pengalaman liburan yang baru. Oh iya, btw saat ini gw lagi mencanangkan program untuk liburan setidaknya sekali sebulan untuk berkunjung ke tempat yang baru, apalagi persebaran tanggal merah sepanjang tahun ini memungkinkan bagi gw untuk berburu harpitnas (mumpung masih kerja di konsultan, jadi jam kerjanya fleksibel, hehe :p). Liburannya bukan liburan sembarang lburan, tapi lebih terfokus untuk berwisata alam, seni dan sejarah karena secara pribadi gw sangat tertarik dengan ketiga hal tersebut. Well, tentu saja dengan biaya yang seirit mungkin, hehe. Gw butuh inspirasi baru dari tempat-tempat yang baru sambil menyegarkan pikiran yang suntuk. Selain itu gw juga gamau hari tua gw menyesal gara-gara pas mudanya jarang liburan dan menikmati hidup.

Pokonya, gw bertekad untuk menyelesaikan travelling report gw selama seminggu ini. Masa iya Februari udah mau beres tapi report-nya belom kelar-kelar. Hufft.

Oke, di postingan kali ini gw akan melanjutkan travelling report gw di Jogja selama hari ke-tiga. Siap-siap, readers, bakalan banyak banget foto yang di upload di postingan ini.

Day 3, 29 Desember 2015

Karena banyak desas-desus yang mengatakan kalau daerah Wonosari, Guning Kidul, Yogyakarta, saat ini nggak gersang kaya dahulu kala dan ada tempat wisata yang menarik disana, maka keluarga besar gw memutuskan untuk berlibur kesana. Kami menyewa satu bis kecil supaya satu rombongan keluarga besar ini bisa terangkut semua dan menikmati suasana kebersamaan di dalamnya.

Pagi itu kami berangkat pkl 07.30 pagi dan perjalanan menuju gerbang daerah Wonosari mencapai dua jam lebih. Berhubung waktu perjalanan memakan waktu yang cukup lama, apa boleh buat, selama di dalem bis kami groufie (alesan banget yak, haha).

IMG_1646

Tampang gw masih keliatan kaya anak SMA kan? Sebelas dua belas lah mukanya sama sepupu-sepupu gw yang masih bau kencur itu, hehehe 😛

Para pakde, bude dan eyang berkaraoke ria lagu-lagu Dewi Yoel, Bruri Marantika, dll, ga ketinggalan berkaraoke lagu-lagu Jawa. Kocak juga sih, semuanya mau tua atau muda nyanyi sambil angkat tangan segala. 😀

Selama perjalanan gw memandang kanan kiri jalan melalui kaca jendela. Gw luar biasa kagum akan kesuksesan penghijauan daerah Wonosari, pepohonan bisa tumbuh di atas tanah yang penuh akan bebatuan gamping (Maaf ya gw lupa ambil fotonya). FYI, secara geologi sebagian besar daerah Wonosari terdiri dari perbukitan batuan gamping (karst). Mencari akuifer sebagai sumber air tanah di daerah yang berlitologi gamping susah-susah gampang. Susah untuk orang awam dan gampang bagi orang hidrogeologi. Karena kesulitan akan air inilah dahulu daerah Wonosari identik dengan keadaan yang susah dan melarat karena kondisi daerahnya yang kering dan tandus. Tetapi sejak ditemukannya underground river pada daerah tersebut (akuifer khas daerah karst), maka saat ini penduduk Wonosari tidak lagi kesulitan mencari air dan penghijauan sukses dilakukan. Lambat laun pergerakan ekonomi bagi orang Wonosari bisa beranjak naik. Kesuksesan penghijauan Wonosari tidak terlepas dari jasa orang tertentu seperti yang bisa dibaca pada link ini http://aolialova.blogspot.com/2011/10/masjid-aolia-khr-ibnu-hajar-sholeh.html

Pergerakan ekonomi untuk menuju kehidupan yang lebih baik ini terlihat juga dari pergerakan masyarakatnya untuk menjalankan usaha wisata daerah Wonosari secara swadaya. Seperti Wisata Goa Pindul yang gw kunjungi bersama keluarga besar gw juga adalah hasil dari swadaya masyarakat sekitarnya. Komplek wisata ini terdiri dari gabungan berbagai usaha yang ditata secara apik seperti usaha wisata outdoor (Cave Tubing, River Tubing, Goa Gelatik, dll) , usaha penjualan makanan, usaha penjualan baju (untuk oleh-oleh atau untuk wisatawan yang kebasahan setelah berwisata outdoor), bahkan gw melihat para sesepuh yang turut berkontribusi dengan memainkan alat musik gamelan sehingga menambah suasana ayem alam pedesaan. Gw juga menilai tempat ini bersih dan terawat. Untuk suatu tempat wisata yang baru berumur dua tahun, perkembangan wisata Goa Pindul ini bisa dibilang cukup pesat, cukup rapi, ditambah lagi dengan marketingnya yang sudah modern menggunakan website (http://goapindul.com/). Tempat wisata ini patut diacungi 4 jempol, recommended!

Setiba disana, gw bersama para sepupu sepakat pengen nyobain River Tubing, semacam wisata telusur gua atau menikmati pemandangan dalam gua dengan terapung di atas sungai dalam gua. Dengan alasan safety, kami diwajibkan memakai pelampung dan sepatu karet (no sandals). Gw sedari awal udah pake sendal gunung, jadi ga masalah. Tiket masuknya cukup murah, hanya Rp. 40.000,00 saja.

Oiya, maaf banget kalau foto-foto yang diambil agak jelek, kabur di sudut-sudutnya. Gw bingung kenapa bisa kaya begitu, hmmm…nampaknya udah saatnya kakak gw beli kamera yang baru

P1060290

Gaya dulu setelah memakai pelampung 😀

P1060293P1060300

Untuk bermain di wahana ini, kami masing-masing menggunakan ban karet yang besar supaya badan kami bisa terapung di atasnya selama di permukaan air nanti.

P1060304

Foto gaya bersama papa tercinta 🙂

P1060309

P1060310

Foto depan singkapan batugamping dulu 😀

Untuk penggemar olahraga air yang ekstrim, sebenernya wisata river tubing ini ga ada apa-apanya, tapi wisata ini cocok banget untuk menikmati tempat wisata bersama keluarga. Sayangnya, saat gw dan keluarga besar menikmati river tubing ini keadaannya over crowded banget :(. Maklum, lagi masa liburan akhir tahun.P1060318 P1060326

Untuk pertama kaliny gw melihat banyak kampret alias kelelawar yang bergantungan di langit-langit gua. Hmm…skarang gw tau darimana aroma khas gua berasal. Kotoran kelelawar dikenal dengan kandungan urea yang tinggi.

Keliatan ngga kampretnya?

Keliatan ngga kampretnya?

Kalo geologist diajak ke tempat wisata yang kaya gini, pasti terfokus sama singkapannya. Bawaannya pengen observasi singkapan batuan melulu, entah dengan singkapan batu gamping klastik dengan perlapisannya, dengan bentukan-bentukan stalaktit yang ada di dalamnya,  ataupun dengan lubang-lubang pada gua sebagai hasil presipitasi air selama ratusan tahun.

P1060355 P1060377 P1060379

Bye-bye Goa Pindul, sampe ketemu lagi di lain waktu!

P1060397 P1060404

Untuk kembali ke tempat semula, kami harus naik pick-up terbuka atau bahasa jadulnya kol buntung. Gw tiba-tiba inget masa-masa kuliah lapangan Karang Sambung, yang dimana kalau setiap pulang dari lapangan, gw sama temen-temen sebisa mungkin nyari truk buat pulang ke asrama (kalau nunggu bisa jemputan dari asrama kelamaan, ntar bisa-bisa dapet giliran mandi terakhir).

Sensasi naik truk di Karsam setelah pulang melapang di sore hari  itu ga tergantikan! :D

Sensasi naik truk di Karsam setelah pulang melapang di sore hari itu ga tergantikan! 😀

Dari goa pindul,kami bertolak ke pantai Drini yang dapat ditempuh selama 2 jam dari goa pindul. Pantainya kecil, bersih dan tidak terlalu ramai (mungkin karena terlalu jauh dari kota). Uniknya,tidak jauh dari pantai ini terdapat pulau kecil yang bisa kami sebrangi dengan berenang karena air lautnya yang berada di antaranya tergolong dangkal. Entah kenapa pantai ini mengingatkan gw dengan pantai di Tanah Lot, Bali, ya meskipun keindahan Pantai Tanah Lot tetap tidak tergantikan.

Panorama Pantai Drini

Panorama Pantai Drini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw ga sempet bermain di pantai karena keasikan ngobrol sama sepupu gw, Mas Wen. Kami saat itu ngobrolin tentang konservasi paus (mas Wen sedang merintis semacam konsultan konservasi satwa). Fokus konservasi dia saat ini adalah di daerah laut Timor. Ternyata di sana adalah jalur migrasi paus dunia. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah ternyata paus-paus tersebut mengalami disoriented arah migrasi akibat sonar yang dipancarkan oleh kapal-kapal dari perusahaan minyak demi kepentingan mengambil data seismik. Paus-paus itu mengira bahwa sonar tersebut berasal dari kawanan paus yang lain. Betapa menyedihkan ya 😦

Meskipun ga sempet berenang disana, gw udah cukup puas dengan mengamati pemandangan pantai Drini selama menikmati makan siang disana. Makan nasi hangat beserta lauk gorengan sea food dan cah kangkung, ditutup dengan minum teh manis panas. Sederhana namun sempurna 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari pantai Drini, kami kembali ke Wisma Millenium di Kaliurang. Sebenernya masih kurang puas, tapi gw bersyukur untuk hari yang boleh gw nikmati bersama keluarga besar.

Sekian postingan travelling report di Jogja selama hari ke tiga ini. Tunggu travelling report di hari berikutnya ya ! 🙂